ログイン"MAJU!" seru para prajurit kekaisaran.Lima puluh tombak serentak diarahkan ke leher Kael."Tuan!" Lucas bergerak refleks hendak mengambil pisau yang ia sembunyikan di balik jubahnya. Inilah yang Lucas tidak suka. Ia sudah sangat yakin jika hal ini akan terjadi, dan ia tadinya ingin membawa pedang untuk berjaga-jaga, tapi Kael menahannya. Alhasil, Lucas hanya membawa senjata pisau secara diam-diam."JANGAN!" bentak Kael keras.Kael menahan tangan Lucas. "Jangan melawan, Lucas," bisik Kael cepat namun tegas. "Kalau kau menyerang, mereka punya alasan sah untuk membantai kita semua di sini. Mereka ingin kita melawan."Kael benar. Gosh dan Arthur tampak kecewa karena Kael tidak mengamuk. Mereka berharap Kael melawan supaya mereka bisa memerintahkan pengawal untuk membunuhnya di tempat dengan alasan "bela diri".Kael mengangkat kedua tangannya perlahan. Dan masih berusaha menahan Lucas. "Saya tidak membawa benda itu," ucap Kael lantang, suaranya tenang dan berwibawa, menembus kepanikan mas
Valeriana turun dari kereta dengan anggun. Gaun putih gadingnya berkibar lembut tertiup angin. Ia menegakkan kepala, memasang wajah tenang dan bermartabat, seolah-olah ia adalah seorang ratu yang tengah mengunjungi rakyatnya, bukan seorang terdakwa yang akan diadili.“Mereka semua melihat kita,” bisik Valeriana, sambil melemparkan senyum tipis kepada kerumunan bangsawan yang menatap mereka dengan campuran rasa takut dan kagum.“Biarkan mereka melihat,” jawab Kael tenang, seraya menggenggam tangan Valeriana. “Sebentar lagi, mereka akan melihat siapa pemenangnya.”Lucas, yang semula duduk di kursi kusir, segera turun dan berdiri sigap di samping kereta. Sesekali, ia melirik cemas ke arah bagasi belakang, berharap Petrus yang bersembunyi di dalam sana tidak bersin, bergerak, atau mengeluarkan suara sedikit pun.“Ayo,” ajak Kael.Namun, mereka baru melangkah beberapa jengkal dari kereta ketika sebuah teriakan keras terdengar dari arah samping.“TAHAN!”Itu bukan suara Kapten Hugo yang tad
“Apakah kami boleh membuka peti ini untuk memastikan isinya?” tanya salah satu prajurit.Lucas, yang duduk di kursi kusir, segera menyela dengan nada santai. “Oh, itu ayam kalkun,” katanya cepat. “Hadiah untuk koki istana. Nyonya Duchess membawa oleh-oleh dari desa.”Tentu saja, itu bohong.Kapten Hugo menatap Lucas dengan curiga, lalu melirik ke arah Kael. Kael hanya mengangkat bahu dengan wajah datar, seolah berkata, istriku memang kadang aneh.Untungnya, Kapten Hugo dan para prajuritnya tampak enggan membuka peti yang, menurut Lucas, berisi unggas berbau tajam. Perhatian mereka lebih tertuju pada pencarian senjata tajam, barang terlarang, lambang pemberontakan, atau benda apa pun yang dapat dijadikan bukti adanya niat makar.“Bagian dalam kereta bersih,” lapor salah satu prajurit penggeledah. “Tidak ada senjata tajam. Tidak ada lambang pemberontakan. Tidak ada benda mencurigakan.”Mendengar laporan itu, Hugo mengembuskan napas lega tanpa sadar.Jenderal yang selama ini ia kagumi te
Pintu kereta ditutup.Duk.Di dalam kereta yang tertutup rapat, suara dunia luar perlahan meredam. Valeriana langsung menghela napas panjang. Bahunya yang sejak tadi tegak perlahan merosot. Sosok Duchess anggun dan berwibawa yang ia tampilkan di hadapan para pelayan runtuh sejenak, menyisakan seorang wanita yang masih berusaha menenangkan debar jantungnya sendiri.“Jantungku rasanya hampir copot,” aku Valeriana jujur sambil memegang dadanya. “Kakiku gemetar di balik rok ini.”Kael duduk di sampingnya, lalu segera menggenggam tangan istrinya erat-erat. “Kau terlihat sangat tenang tadi,” puji Kael pelan.“Itu sandiwara, Suamiku. Sandiwara,” jawab Valeriana dengan senyum kecut.Ia menepuk pelan pahanya, tepat di tempat kantong rahasia berisi Stempel Ular Ungu dan dokumen asli disembunyikan. “Benda ini rasanya seperti bara yang menempel di kulitku.”Kereta mulai bergerak. Roda-rodanya berderak di atas jalan berbatu, membawa mereka meninggalkan halaman Kediaman Vallas yang aman menuju jala
Kael tertawa lepas. Untuk pertama kalinya malam itu, beban di pundaknya terasa sedikit lebih ringan.“Besok,” ucap Kael. Wajahnya berubah serius, tetapi keyakinan terpancar jelas dari matanya. “Besok kita akan mengakhiri semuanya. Kita akan membuat Gosh menyesal karena pernah terlahir di dunia ini.”“Dan setelah itu …” Kael berdiri, mensejajarkan wajahnya dengan Valeriana. “Kita akan pulang, makan malam enak, lalu tidur selama tiga hari berturut-turut tanpa gangguan.”“Setuju. Aku rindu tidur nyenyak tanpa mimpi dikejar Gosh,” jawab Valeriana sambil mengangguk.Mereka berdua berjalan menuju tempat tidur, lalu memadamkan beberapa lilin yang menerangi kamar. Cahaya di ruangan itu perlahan meredup, menyisakan suasana temaram yang hangat dan tenang.Malam itu, mereka tidak melakukan hal-hal dewasa. Mereka hanya berbaring bersisian di bawah selimut, saling menggenggam tangan dengan erat, seolah sedang menyalurkan kekuatan satu sama lain.“Suamiku,” bisik Valeriana dalam gelap.“Ya?”“Suami
Kael menghela napas panjang. “Tapi itu seragam kebesaranku, Sayang. Ada lambang serigala perak di bahunya.”“Ganti,” perintah Valeriana mutlak. “Pakai seragam biru laut. Yang ada selempang emasnya.”Kael menatapnya curiga. “Kenapa?”“Karena seragam itu membuatmu terlihat seperti pangeran dalam kisah lama, bukan penjagal medan perang.”Kael terdiam sebentar. Lalu, seperti biasa, ia menurut. Bagaimanapun, ia tidak berani membantah ahli siasatnya sendiri.Pria itu bangkit, lalu mengambil seragam biru laut yang jarang ia kenakan. Seragam itu terlalu rapi, terlalu bersih, dan terlalu anggun untuk seleranya. Tidak ada kesan brutal di sana. Tidak ada aura darah dan perang. Hanya wibawa seorang bangsawan tinggi yang lahir untuk memimpin.Saat Kael mengenakannya, sosok “Anjing Perang” yang selama ini melekat padanya perlahan meredup, digantikan oleh pesona seorang Duke yang tenang, berkarisma, dan berbahaya dengan cara yang lebih halus.Valeriana mendekat, lalu membantu mengancingkan kancing e
Valeriana mendengarkan semua itu tanpa perubahan ekspresi. Jadi … itu alasannya? Bukan sekadar iri, bukan pula sekadar benci, melainkan obsesi untuk selalu menjadi pusat perhatian, dengan cara apa pun.Senyum tipis terukir di bibirnya, dingin dan nyaris tanpa perasaan. “Jadi selama ini … semua air
Hening sejenak menyelimuti ruang kerja Duke Kael. Keluarga Baron Veridian. Keluarga dari Elena Veridian.Si pemeran utama wanita dalam novel itu akhirnya mulai menunjukkan sifat aslinya. Valeriana tidak pernah menyangka alur cerita akan melenceng sejauh ini.“Lady Elena,” ujar Valeriana.Ia duduk s
Ini adalah sebuah pertaruhan.Valeriana sebenarnya tidak berniat membunuh gadis itu. Ia hanya membutuhkan bukti yang tak terbantahkan bahwa teh tersebut telah diracuni-bukti yang bisa ia laporkan kepada Kael. Ia yakin Lina tidak akan benar-benar meminumnya. Jika gadis itu sadar bahwa isi cangkir te
Di malam hari di kediaman keluarga Vallas, Kael terlihat keluar dari kamar mandi hanya dengan sehelai handuk yang melilit di pinggangnya. Tubuhnya yang kekar dipenuhi bekas luka kering akibat sayatan pedang dan berbagai pertempuran yang telah ia lalui.Namun bagi Valeriana, pemandangan itu justru t







