INICIAR SESIÓNElara, seorang mahasiswi arkeologi, secara tidak sengaja mengaktifkan relik kuno yang menyeretnya ke jantung Pandemonium, tepat di tengah pertemuan "Gencatan Senjata Berdarah" antara lima raja manusia binatang terbesar. Terjebak dalam Pakta Berbagi yang rapuh, Elara harus berpindah dari satu ranjang kekuasaan ke yang lain. Ia harus belajar memanipulasi nafsu dan persaingan kelima raja manusia binatang tersebut agar tidak hancur di tangan mereka, sambil mencari cara untuk pulang sebelum salah satu dari mereka memutuskan untuk mengurungnya selamanya dalam sangkar emas.
Ver más“Sial, jariku,” desis Elara saat ujung bingkai cermin yang tajam menyayat kulit telunjuknya.
Elara, seorang asisten kurator yang menghabiskan separuh hidupnya di antara debu sejarah, sedang menatap Cermin Obsidian yang baru tiba dari situs penggalian kuno. Permukaannya hitam pekat, seolah-olah menelan cahaya lampu di sekitarnya.
Dia segera menarik tangannya, tapi terlambat. Setitik darah merah segar mendarat di atas permukaan hitam pekat itu. Elara terpaku.
Darah itu tidak mengalir ke bawah, melainkan terserap ke dalam pori-pori batu obsidian seolah cermin itu sedang meminumnya.
“Apa yang terjadi?” Elara mundur selangkah dengan napas memburu karena panik.
Cermin itu bergetar. Permukaan padatnya mencair menjadi pusaran lubang hitam yang menghisap udara di dalam ruangan.
Suara bisikan ribuan wanita tiba-tiba memenuhi telinganya, suara yang memohon dan menjerit.
Sebelum Elara sempat berteriak, sebuah tarikan gravitasi yang maha kuat menyentak tubuhnya, menyeretnya masuk ke dalam kegelapan yang dingin dan hampa.
“Aaaaa! Tidaaaakkk!! Tolong aku siapa pun—"
BUK!
Elara mendarat di atas sesuatu yang empuk tapi berbau tajam. Napasnya terengah-engah, sementara matanya berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya remang dari obor lemak hewan yang menyala di dinding gua batu.
Bau tanah, bulu basah, dan aroma maskulin yang memuakkan sekaligus memabukkan memenuhi indra penciumannya.
Di bawahnya bukan lantai museum, melainkan tumpukan kulit harimau dan beruang raksasa yang masih terasa hangat.
“Di mana aku?” bisiknya pada kegelapan, lalu tangannya meraba-raba mencari ponsel atau alat pertahanan apa pun. Namun, kosong.
“Kau adalah makhluk paling berani, atau paling bodoh, karena jatuh tepat di sarangku saat insting membunuhku belum padam,” sebuah suara berat dan serak menyahut dari sudut ruangan.
Elara tersentak. Dari kegelapan, sesosok pria raksasa melangkah maju. Tingginya hampir dua meter, dengan tubuh yang dipenuhi otot-otot keras dan garis-garis luka cakar.
Di atas kepalanya, sepasang telinga serigala yang tajam bergerak, dan matanya berpendar keemasan.
“Siapa kau? Tolong, jangan mendekat!” teriak Elara, suaranya bergetar namun matanya tetap tajam mencari jalan keluar.
Pria itu, Lucian, berhenti di tepi ranjang. Hidungnya kembang kempis menghirup udara dengan rakus. Ekspresinya yang semula penuh kemarahan perlahan berubah menjadi keterkejutan yang murni.
“Kau tidak punya bulu ... dan kau sangat lembut,” ucap Lucian dengan nada yang nyaris tidak percaya.
Dia lalu merangkak naik ke atas tumpukan kulit itu dengan gerakan lincah seperti macan tutul yang sedang mengunci mangsa.
“Legenda itu benar. Betina, mereka memang masih ada.”
Elara berusaha mendorong dada Lucian saat pria itu mengurungnya di bawah tubuhnya yang panas.
“Manusia? Apa maksudmu? Aku dari museum! Ini pasti salah paham, aku bahkan tidak tahu bagaimana aku bisa sampai di sini!”
Lucian tidak peduli. Tangannya kini mencengkeram kedua pergelangan tangan Elara dan menekannya ke atas kepala wanita itu dengan satu tangan saja. sementara tangan lainnya naik, mencengkeram rahang Elara, dan memaksanya untuk mendongak.
“Dengarkan aku, Betina,” desis Lucian, dengan wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari Elara.
“Aku tidak peduli dari mana asalmu. Di dunia Wilderheim ini, kaum kami, kaum Shifter sudah ratusan tahun tidak melihat makhluk sepertimu. Betina kaum kami telah punah, dan tanpa kalian, kami semua akan menjadi binatang buas sepenuhnya.”
Elara terdiam, sementara jantungnya berdegup kencang. “Punah? Apa hubungannya denganku?” tanyanya bingung.
Lucian mendekatkan hidungnya ke leher Elara, menghirup aroma kulitnya dengan tarikan napas kasar.
“Darahmu ... baunya bisa menenangkan badai di dalam kepalaku. Kau adalah Penyeimbang. Tanpamu, aku dan seluruh raja di tanah ini akan kehilangan kewarasan kami dan saling mencabik hingga mati.”
“Kau menyakitiku!” Elara meronta sembari mencoba melepaskan cengkeraman tangan raksasa itu. “Aku bukan obat, aku bukan alat! Lepaskan!”
“Jangan bergerak,” ancam Lucian dengan suara beratnya.
“Kau tidak mengerti betapa berharganya kau saat ini. Jika aku membiarkanmu keluar dari ruangan ini sekarang, seribu jantan akan merobek tubuhku hanya untuk mendapatkan setetes aromamu.”
Elara berhenti meronta. Dia mulai menyadari situasi gila ini. Dia bukan sekadar tersesat di hutan; dia berada di dunia di mana keberadaannya adalah komoditas paling langka. Dia melihat jarinya yang terluka akibat cermin tadi, mulai berpikir bahwa darahnya yang membawanya kemari.
Pikirannya yang biasa bekerja dengan logika kurator mulai menyusun kepingan informasi. Jika dia sangat dibutuhkan, maka dia punya daya tawar.
“Jadi aku adalah kunci kewarasanmu?” tanya Elara dengan nada suara yang mulai stabil meski tubuhnya masih terhimpit. “Jika kau membunuhku atau menyakitiku hingga aku mati, kau akan menjadi binatang selamanya?”
Lucian menyipitkan mata, terkejut dengan kecepatan wanita ini memahami situasi. “Benar.”
“Kalau begitu, lepaskan tanganku,” ucap Elara dingin. “Seorang raja seharusnya tidak memperlakukan satu-satunya harapannya seperti hewan buruan. Jika kau ingin aku membantumu, kau harus memperlakukanku dengan hormat.”
Lucian menggeram rendah, namun cengkeramannya perlahan mengendur. Sebelum dia sempat membalas, pintu batu itu bergetar hebat.
BRAKKKK!
Pintu kayu gelondongan kamar itu didobrak paksa dari luar hingga hancur.
“Lucian! Kau pikir aku akan membiarkanmu menyimpan harta karun itu sendirian?” sebuah suara tajam dan penuh wibawa menginterupsi.
Malam kian merayap jauh di Wilderheim, meninggalkan Aula Utama istana belantara dalam keheningan yang mencekam. Lilin-lilin dinding yang menyala temaram seolah tidak mampu mengusir aura kelabu yang menggelayuti ruang takhta.Di dekat jendela besar, para kelima raja melamun sambil menangkup dagu mereka, menatap bulan yang sangat sempurna terlihat dari balik jendela istana mereka. Cahaya keperakan yang dipantulkan sang candra justru terasa hambar, mengingatkan mereka pada sosok jelita yang kini berada ribuan mil jauhnya di dataran es abadi.Vrax mengembuskan napas kasar, membiarkan jemarinya mengetuk-ngetuk meja batu dengan ritme yang gelisah."Betapa kesepian kita sekarang... Istana ini mendadak terasa begitu luas dan mati semenjak Ratu kita sedang dipinjam oleh raja beruang dari utara itu.""Jangan gunakan kata 'dipinjam', Vrax. Itu membuat daaku semakin panas," geram Kaelen, kuku-kuku panther-nya mencuat tipis, menggores permukaan meja hingga meninggalkan bekas dalam.Lucian yang sej
Bulu-bulu serigala salju yang tebal menjadi saksi ketika Bjorn merebahkan tubuh pualam Elara dengan kelembutan yang menyembunyikan kebuasan seekor predator puncak.Gaun sutra merah milik sang Ratu telah tersingkap, menampakkan keindahan raga polos yang berkilau di bawah temaram cahaya bintang kosmik dari balik atap kristal. Pendaran mawar emas di dada Elara berdenyut semakin cepat seiring dengan deru napas Bjorn yang kian memburu di atas wajahnya."Kau adalah keajaiban terdalam yang pernah menginjakkan kaki di atas lantai esku, Elara," geram Bjorn rendah, suaranya parau oleh berahi yang menuntut pelepasan."Maka ambil aku, Bjorn. Jadikan rahimku tempat berteduh bagi masa depan klanmu," balas Elara, jemarinya mencengkeram bahu kekar sang raja yang dipenuhi otot keras.Tanpa membuang waktu lagi, Sang Raja Beruang mengunci kedua tangan Elara di atas kepala dengan satu telapak tangannya yang besar. Gerakan dominannya begitu terasa saat ia menindih tubuh Elara, membiarkan bobot tubuh raksa
Getaran misterius di bawah lantai es perlahan mereda, menyisakan pendaran biru tua yang menenangkan di sepanjang dinding koridor saat Bjorn membimbing Elara menuju ruang pribadinya.Pintu kristal ganda setinggi tiga meter terbuka tanpa suara, menyambut langkah kaki keduanya masuk ke dalam tempat peristirahatan tertinggi sang penguasa utara.Elara seketika menghentikan langkahnya, matanya membelalak kecil karena sedikit tertegun. Ia dibawa ke kamar sang raja dan melihat betapa luas dan megahnya kamar tersebut.Langit-langit ruangan terbuat dari es kuarsa transparan yang menampilkan kerlip bintang malam kutub yang berkilauan. Di tengah ruangan, sebuah ranjang raksasa berbahan kayu kuno dilapisi bulu serigala salju putih bertumpuk-tumpuk, tampak begitu empuk, hangat, dan sangat mewah.Melihat istrinya masih terpaku di ambang pintu, Bjorn melangkah mendekat dengan gerakan yang sangat lembut. Sang raja membantu Elara menaruh jubah bulu tebalnya di sofa beludru yang terletak tak jauh dari r
Uap hangat mengepul dari piring-piring perak yang berjejer di atas meja panjang ruang makan istana es.Wangi rempah kering khas pegunungan salju bercampur dengan aroma kuah daging rusa kutub yang gurih, menciptakan atmosfer yang kontras dengan suhu beku di luar dinding kristal.Di kepala meja, Elara duduk berdampingan dengan Raja Bjorn. Di hadapan mereka, tiga sosok manusia binatang beruang dengan rambut keperakan dan jubah bulu yang tebal duduk dengan posisi tegap penuh hormat. Mereka adalah para tetua klan yang paling dihormati di dataran utara.Bjorn menuangkan madu hangat ke dalam cawan Elara sebelum membuka percakapan. "Elara, ini adalah tiga tetua tertinggi yang menjaga sisa-sisa sejarah klan kami. Tetua Torin, Tetua Borlok, dan Tetua Freya."Elara mengulas senyum manis, menganggukkan kepalanya dengan anggun ke arah ketiga paruh baya bertubuh kekar tersebut."Aku sangat terhormat bisa disambut dengan begitu baik di istana es yang megah ini. Keramahan kalian dan seluruh rakyat di
Angin kencang berhembus dari arah pegunungan Barat, membawa hawa dingin yang menusuk tulang, namun suasana di garis depan perbatasan justru terasa membara.Elara berdiri di atas bukit batu yang menjorok ke arah lembah, menatap hamparan Hutan Berduri yang selama berabad-abad menjadi benteng alam tak
Fajar menyingsing dengan warna merah tembaga yang merayap di dinding kamar, namun hawa panas di dalam ruangan itu belum juga memudar.Elara terkapar di tengah hamparan seprai sutra yang kini berantakan, basah oleh keringat dan sisa-sisa penyatuan liar semalam.Napasnya masih pendek-pendek, dadanya
Vrax tidak lagi berjalan; dia menyeret Elara dengan satu tangan besar yang mengunci pergelangan tangannya, sementara tangan lainnya merangkul pinggang Elara dengan kekuatan yang hampir mematahkan tulang.“Vrax, pelan sedikit! Kau menyakitiku!” seru Elara, kakinya tersandung-sandur mencoba mengimban
Zhen menarik bahu Elara, memaksanya berbalik. Tanpa aba-aba, ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Elara, memberikan ciuman-ciuman panas yang membuat Elara lemas.“Aromamu malam ini, kau tidak bisa menyembunyikannya dengan kain apa pun, Elara. Kau sedang menginginkan kami sama seperti kami menging












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reseñas