Compartilhar

Di Balik Pintu Tertutup

Autor: Colle
last update Data de publicação: 2026-09-14 23:26:14

Pemberitaan mengenai pernikahan mendadak antara Clara Daniswara dan Rayyan Pratama meledak di seluruh kanal berita finansial ibu kota hanya dalam hitungan jam.

Di lantai bursa, pergerakan saham Daniswara Holding yang sempat merosot tajam tiba-tiba melonjak naik tujuh persen sebelum penutupan sesi sore.

Namun di dalam mobil yang membawa mereka menuju kediaman pribadi Rayyan di kawasan Menteng, suasana di antara mereka kembali membeku.

Mobil berbelok memasuki gerbang besi tempa hitam yang terbuka otomatis. Kompleks hunian itu tersembunyi di balik barisan pohon trembesi rindang, jauh dari jangkauan wartawan.

Rumah utama berarsitektur modern tropis dengan dominasi dinding kaca, batu andesit abu-abu, dan tata cahaya temaram menyambut kedatangan mereka.

Seorang wanita paruh baya berseragam abu-abu rapi berdiri di pintu depan, membungkuk takzim saat Rayyan melangkah turun.

"Selamat malam, Tuan Rayyan. Selamat datang, Nyonya Clara. Seluruh barang bawaan Nyonya sudah dipindahkan ke sayap barat lantai dua sesuai perintah," ucap wanita itu santun.

Clara mengangguk canggung mendengar panggilan baru yang disematkan padanya. "Terima kasih, Bi."

"Ini Bi Sumi, kepala pengurus rumah ini," kata Rayyan singkat seraya melangkah masuk tanpa menoleh.

"Kecuali Bi Sumi dan tim keamanan di pos depan, tidak ada staf lain yang tinggal di dalam rumah. Privasimu aman di sini."

Clara mengikuti langkah pria itu menaiki tangga marmer melayang menuju lantai dua.

Interior rumah itu mencerminkan kepribadian pemiliknya secara sempurna: teratur, steril, dan nyaris tanpa kehangatan. Tidak ada foto keluarga di dinding, hanya ada lukisan abstrak monokrom dan patung-patung perunggu bergaris tegas.

Rayyan berhenti di depan sebuah pintu kayu jati setinggi langit-langit.

"Ini kamarmu," Rayyan menunjuk pintu tersebut, lalu beralih menunjuk pintu ganda berjarak lima meter di seberang lorong. "Kamar dan ruang kerjaku ada di sana. Seperti yang kau minta di kontrak, tidak ada yang boleh saling memasuki wilayah pribadi tanpa izin."

Clara menatap pintu kamarnya, lalu kembali menatap Rayyan. Jas pria itu sudah dibuka, menyisakan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku. Tatapan matanya masih setajam dan sedingin biasanya.

"Tentang apa yang terjadi di ruang rapat tadi pagi," Clara bersuara pelan memecah keheningan lorong. "Saat Julian menyerangku... terima kasih."

Rayyan menatapnya sejenak. Sorot matanya tidak bergeming sedikit pun.

"Jangan salah paham, Clara. Aku membela posisiku sendiri di hadapan dewan komisaris. Julian menghina istri sahku di depan publik, dan itu merusak kredibilitas aliansi kita di pasar modal. Aku hanya melindungi investasiku."

Kata-kata itu terucap begitu lugas, tanpa basa-basi, menusuk langsung ke rasa lega yang sempat tumbuh di benak Clara.

"Tentu saja," balas Clara seraya menarik senyum kaku di bibirnya. "Aku hampir lupa kalau ini semua hanya angka-angka di atas kertas kalkulasimu."

Tanpa menunggu tanggapan Rayyan, Clara mendorong pintu kamarnya dan menutupnya rapat-rapat.

Ruangan itu sangat luas, lengkap dengan ruang ganti pribadi, kamar mandi marmer berpemanas, dan balkon yang menghadap taman belakang. Dua koper besar miliknya sudah tertata rapi di dekat lemari pakaian.

Clara menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa beludru, menatap langit-langit kamar dengan napas berat.

Hanya dalam waktu dua puluh empat jam, hidupnya terlempar dari status cucu terbuang menjadi bidak utama dalam perang korporasi terbesar di negeri ini.

Dan yang paling menakutkan bukan ancaman Hendra, melainkan kenyataan bahwa ia kini terikat pada pria berbahaya yang motif aslinya belum tertebak sama sekali.

Waktu merangkak hingga melewati tengah malam. Rasa haus dan pikiran yang bising membuat Clara tidak bisa memejamkan mata.

Ia mengganti pakaiannya dengan celana kain santai dan kardigan rajut tipis, lalu melangkah keluar kamar tanpa alas kaki untuk mengambil segelas air hangat di lantai bawah.

Namun saat melintasi lorong, seberkas cahaya keemasan dari pintu ruang kerja Rayyan yang sedikit terbuka menarik perhatiannya.

Pintu ganda itu tidak tertutup rapat, menyisakan celah selebar beberapa sentimeter. Suara gemerisik kertas dan ketukan pelan di atas kayu terdengar dari dalam.

Clara berniat terus berjalan, tetapi sekilas pandang melalui celah pintu membuat langkah kakinya membeku seketika.

Rayyan sedang berdiri membelakangi pintu di depan lukisan kanvas besar yang telah digeser ke samping, menampakkan sebuah brankas baja dinding yang terbuka.

Di tangan pria itu, terdapat sebuah map kulit kuno berwarna cokelat tua yang ujung-ujungnya sudah mengelupas dimakan usia.

Di sudut kanan atas map itu, tercetak jelas lambang burung merak emas yang sangat Clara kenali: cap segel wasiat pribadi milik mendiang kakeknya, Daniswara Wiranata.

Jantung Clara berdegup kencang seperti genderang perang.

Itu bukan berkas hukum biasa. Lambang merak emas itu hanya digunakan kakeknya untuk dokumen paling rahasia yang tidak pernah diserahkan bahkan kepada notaris keluarga.

Rayyan meletakkan map tua itu di atas meja kerjanya yang tersorot lampu baca temaram.

Pria itu menatap lembaran di dalamnya dengan ekspresi yang belum pernah Clara lihat sebelumnya: bukan ekspresi dingin seorang pengusaha kejam, melainkan tatapan pedih dan penuh amarah yang terpendam sangat dalam.

Ketika Rayyan membalik lembar pertama dokumen itu, Clara bisa melihat sebaris tulisan tangan bertinta hitam pekat di halaman pembuka. Tulisan tangan dengan guratan miring dan tegas yang begitu akrab di ingatan masa kecilnya.

Tulisan tangan sang kakek, berbunyi:

Untuk Rayyan Pratama, saat waktu pembalasan tiba..

Clara menahan napasnya, menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan yang gemetar hebat di balik bayang-bayang pintu.

Kakeknya dan Rayyan Pratama tidak sekadar rival bisnis. Ada perjanjian berdarah di masa lalu yang sengaja disembunyikan dari semua orang, dan Clara menyadari bahwa dirinya telah melangkah tepat ke tengah pusaran rahasia itu.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Menikahi CEO Rival Demi Warisanku   Konfrontasi Dua Pewaris

    Aroma parfum mawar Prancis yang pekat dan mahal mendadak memenuhi lorong lantai tiga puluh lima gedung Daniswara Holding.Dua daun pintu kayu jati ruang kerja Direktur Utama terdorong terbuka. Dua pengawal bertubuh tegap dalam setelan jas hitam melangkah masuk lebih dulu, berdiri di kedua sisi pintu dengan sikap siaga.Di belakang mereka, Elena Vance melangkah masuk dengan keanggunan yang dingin.Mantel kasmir putih gading yang tersampir di bahunya bergerak anggun seirama dengan langkah sepatu hak tingginya. Wanita berambut pirang tembaga itu melepas kacamata hitam berbingkai emas miliknya, menampakkan sepasang mata abu-abu terang yang memancarkan arogansi seorang pewaris dinasti perbankan Eropa.Pandangan Elena langsung terkunci pada Rayyan yang berdiri tegak di dekat meja marmer."Sudah lama sekali tidak melihatmu dari dekat, Rayyan," suara Elena terdengar begitu halus, namun sarat nada posesif yang tajam."Kau tampak sangat lelah bermain rumah-rumahan di kota yang bising ini. Padah

  • Menikahi CEO Rival Demi Warisanku   Bayang-Bayang dari Jenewa

    Gemerlap panorama gedung-gedung pencakar langit Jakarta dari balik dinding kaca mendadak terasa hampa bagi Clara.Ponsel di tangannya bergetar pelan saat sambungan telepon internasional itu terputus. Kata-kata wanita beraksen dingin itu terus berdenging di telinganya, meremukkan rasa lega yang baru saja ia rasakan di ruang rapat tadi.Rayyan berdiri mematung di samping meja marmer. Sorot matanya yang beberapa detik lalu sempat menghangat kini kembali membeku bagai baja dingin."Siapa dia, Rayyan?" suara Clara jernih memecah kesunyian, menuntut jawaban tanpa basa-basi."Dan apa maksudnya dengan akta pembatalan pernikahan di Mahkamah Sipil Singapura tiga hari sebelum kakekku meninggal?"Rayyan tidak langsung menjawab. Pria itu melangkah ke tepi dinding kaca, menatap arus lalu lintas di bawah dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana panjangnya."Suara itu milik Elena Vance," ucap Rayyan perlahan. Nada bicaranya begitu berat, menyiratkan beban masa lalu yang selama ini terkunci rapat

  • Menikahi CEO Rival Demi Warisanku   Detik-Detik di Ujung Dermaga

    Bunyi bip digital berkecepatan tinggi bergema di dinding seng aula kargo yang berlubang.Layar merah di tangan Richard berkedip cepat, memperlihatkan angka yang merosot tanpa ampun: empat puluh lima detik."Semua tim, evakuasi!" teriak Rayyan memberi komando mutlak.Dua anggota pasukan taktis langsung menyeret anak buah Richard yang pingsan ke arah lubang dinding kendaraan lapis baja. Tangan kanan Rayyan menyambar lengan Clara, berusaha menariknya keluar dari aula."Lari ke kendaraan taktis sekarang, Clara!" seru Rayyan di antara deru angin laut yang menerobos masuk."Tidak!" Clara menahan langkahnya sekuat tenaga, menolak ditarik.Napas wanita itu memburu, namun matanya menatap tajam ke arah lantai panggung kayu tempat Richard mencoba merangkak kabur menuju pintu palka rahasia."Dua puluh kilogram bahan peledak akan meruntuhkan seluruh dermaga ini ke laut dalam hitungan detik!" bentak Rayyan, suaranya sarat kepanikan yang belum pernah ia perlihatkan sebelumnya."Richard tidak berniat

  • Menikahi CEO Rival Demi Warisanku   Badai di Pesisir Kalibaru

    Bau anyir darah segar dari jaket taktis yang teronggok di depan sepatunya membuat perut Clara bergejolak mual.Namun wanita itu menolak menunjukkan rasa gentar sedikit pun. Ia menegakkan punggungnya, menatap ujung tongkat berkepala rajawali perak milik Richard yang mengarah tepat ke dadanya."Kau membunuh saudaramu sendiri, membunuh keponakanmu, dan sekarang kau ingin membunuhku?" suara Clara jernih memecah kesunyian aula kargo yang lembap."Kau bukan pebisnis, Richard. Kau hanya parasit pengecut yang bersembunyi di balik kematian palsu."Wajah keriput Richard berkedut menahan amarah. Sepasang matanya yang cekung memancarkan kebencian murni."Pengecut?" desis Richard serak seraya melangkah maju satu langkah."Aku mengorbankan sepuluh tahun hidupku di pengasingan untuk membangun Vanguard Phoenix! Aku yang mengendalikan jalur penyelundupan bahan kimia dari Shanghai hingga Rotterdam! Dan seluruh kekayaan itu butuh legitimasi Daniswara Holding untuk dicuci menjadi uang bersih!"Richard me

  • Menikahi CEO Rival Demi Warisanku   Jebakan di Gedung Kargo Lama

    Hujan gerimis membungkus kawasan pergudangan tua di pesisir Kalibaru dengan hawa lembap yang dingin.Lampu jalanan yang remang-remang memantulkan bayangan genangan air bercampur oli di atas aspal retak. Di hadapan Clara, sebuah gedung kargo era kolonial berdinding seng berkarat berdiri angkuh menghadap deburan ombak laut utara.Di dalam mobil Maybach yang terparkir dua ratus meter di balik deretan kontainer kosong, Rayyan memeriksa alat penyadap berukuran kancing baju yang terpasang di balik kerah jaket Clara."Begitu kau masuk, jangan pernah menyentuh apa pun," suara Rayyan terdengar begitu rendah dan tajam.Jemarinya yang kokoh merapikan kerah jaket Clara, lalu menatap lurus ke dalam manik mata wanita itu."Tim taktisku sudah mengepung perimeter dermaga belakang. Sinyal audio ini terhubung langsung ke frekuensi telingaku. Jika ada pergerakan mencurigakan, aku akan mendobrak masuk dalam sepuluh detik."Clara mengangguk pelan. Di tangannya, ia mendekap map kulit hitam berisi dokumen s

  • Menikahi CEO Rival Demi Warisanku   Retakan di Antara Sunyi

    Hening di dalam kabin Maybach yang melaju meninggalkan bandara terasa lebih dingin daripada es.​Clara duduk mematung di sudut kursi belakang, memeluk kedua lengannya sendiri. Suara Hendra di landasan pacu tadi terus bergema di kepalanya bagai dengung lebah yang menyiksa.​Di sebelahnya, Rayyan menatap lurus ke depan. Rahang pria itu mengeras kaku, tidak menoleh sedikit pun ke arah Clara.​"Katakan padaku itu bohong, Rayyan," suara Clara akhirnya memecah kesunyian. Suaranya rendah dan bergetar, menahan sesak yang membakar tenggorokannya.​Rayyan tidak langsung menjawab. Jemarinya yang bertumpu di atas lutut mengepal erat.​"Katakan padaku paman bajinganku itu hanya mengarang cerita untuk mengadu domba kita!" desak Clara, kini menolehkan kepalanya menatap Rayyan dengan mata yang mulai berkaca-kaca.​"Bukan di sini, Clara," sahut Rayyan datar tanpa menoleh. "Kita bicara setelah sampai di rumah."​"Aku ingin jawaban sekarang!"​"Aku bilang setelah sampai di rumah!" potong Rayyan dengan n

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status