MasukLantai kayu jati di bawah telapak kaki Clara berderit tipis saat ia melangkah mundur tanpa sengaja.
Hanya bunyi gesekan halus yang nyaris tak terdengar. Namun bagi pria seperti Rayyan Pratama, suara itu sudah lebih dari cukup.
Dalam sekejap mata, Rayyan menutup map cokelat itu dengan gerakan kilat, menyembunyikannya ke dalam brankas dinding, lalu memutar tubuhnya menghadap pintu.
Sepasang mata elang pria itu menatap lurus menembus celah pintu yang terbuka.
"Masuk, Clara," suara Rayyan terdengar rendah dan dingin, tidak menyisakan ruang untuk berpura-pura. "Menguping di balik pintu bukan bagian dari reputasi seorang direktur keuangan Daniswara."
Clara tertegun sesaat. Ia tahu melarikan diri ke kamarnya sekarang hanya akan membuatnya tampak bersalah dan lemah.
Dengan menarik napas panjang untuk menegakkan kembali punggungnya, Clara mendorong daun pintu kayu jati itu hingga terbuka lebar, lalu melangkah masuk ke dalam ruang kerja Rayyan.
Aroma kertas tua, kayu cendana, dan kopi hitam yang telah mendingin memenuhi ruangan.
"Aku tidak berniat menguping," kata Clara, menjaga agar suaranya tidak bergetar. "Aku hanya lewat untuk mengambil air minum. Tapi kau tidak bisa menyalahkanku jika pandanganku menangkap lambang burung merak emas milik kakekku di mejamu."
Rayyan melangkah perlahan ke balik meja kerjanya, memutar kunci brankas baja di dinding, lalu menggeser kembali lukisan kanvas abstrak ke tempat semula hingga brankas itu tersembunyi sempurna.
"Itu urusan masa lalu yang tidak ada hubungannya dengan aliansi kita saat ini," sahut Rayyan datar seraya menyandarkan tubuhnya ke tepi meja.
"Jangan memperlakukanku seperti orang bodoh, Rayyan!"
Clara melangkah mendekat hingga jarak di antara mereka tersisa kurang dari dua meter. Sorot matanya menyala menantang.
"Cap segel merak emas itu hanya dipakai Kakek untuk dokumen rahasia tingkat tertinggi. Dan aku melihat tulisan tangannya di lembar pertama. Untuk Rayyan Pratama, saat waktu pembalasan tiba. Pembalasan apa yang kau rencanakan di balik pernikahan kontrak ini?"
Rayyan menatap Clara dalam diam. Keheningan di antara mereka terasa begitu tegang, seolah percikan kecil saja sanggup meledakkan seisi ruangan.
"Kau pikir kakekmu adalah pria tua bijak yang tanpa cela, Clara?" Rayyan akhirnya bersuara.
Nada bicaranya begitu tenang, namun sarat kepahitan yang teramat pekat.
"Daniswara Wiranata membangun imperium bisnisnya bukan hanya dengan strategi dan modal. Ada darah, ada pengorbanan, dan ada keluarga yang ia hancurkan dalam prosesnya. Termasuk mendiang ibuku."
Kata-kata itu menghantam Clara bagai tamparan keras di udara dingin. "Apa maksudmu?"
"Ibumu dan kakekmu... mereka tahu apa yang sebenarnya terjadi pada perusahaan pelayaran Pratama Group tiga puluh tahun lalu," Rayyan menatap Clara lekat-lekat, menelanjangi rasa bingung di wajah wanita itu.
"Hendra bukan satu-satunya monster di keluargamu. Hendra hanyalah pion rakus yang meniru kekejaman para pendahulunya. Dan kakekmu menyerahkan map itu padaku sebelum ia meninggal, bukan sebagai hadiah, melainkan sebagai bentuk penebusan dosa yang terlambat."
Napas Clara tercekat. Selama ini ia mengira Kakek adalah satu-satunya pelindung yang ia miliki di keluarga Daniswara.
Mendengar tuduhan itu meluncur dari bibir Rayyan membuat fondasi keyakinan yang ia pegang seumur hidup goyah seketika.
"Lalu kenapa kau menikahiku?" Suara Clara bergetar pelan. "Jika kau membenci keluargaku, kenapa kau menolongku di ruang rapat tadi? Apakah pernikahan ini cara halusmu untuk menghancurkan apa yang tersisa dari nama Daniswara?"
Rayyan melangkah maju satu langkah. Jarak mereka kini begitu dekat hingga Clara bisa merasakan hembusan napas hangat pria itu di keningnya.
"Karena kau tidak bersalah atas dosa kakekmu," bisik Rayyan dengan suara yang mendadak melembut, meski sorot matanya tetap membakar.
"Dan karena ayahmu, Arya Daniswara, adalah satu-satunya orang di keluarga itu yang pernah mencoba menghentikan konspirasi tersebut sebelum ia sendiri dibungkam oleh Hendra."
Clara terpaku. Sebelum ia sempat mencerna pengakuan mengejutkan itu, dering ponsel bernada khusus berbunyi nyaring dari atas meja kerja.
Bukan dering telepon biasa. Itu nada dering darurat dengan frekuensi tinggi yang memekakkan telinga.
Rayyan langsung berbalik dan menyambar ponselnya. Ia menekan tombol panggilan dan menempelkannya ke telinga. "Bicara, Bagas."
Suara panik kepala keamanan operasional pelabuhan terdengar jelas dari seberang sambungan, diiringi suara sirene pemadam kebakaran yang meraung-raung di latar belakang:
"Tuan Rayyan, situasi darurat! Gudang logistik ekspor Daniswara di Pelabuhan Tanjung Priok meledak dan terbakar hebat sepuluh menit lalu! Jalur pipa gas sengaja dirusak dan sistem pemadam otomatis disabotase dari ruang kontrol pusat! Tiga belas kontainer kargo bahan kimia sudah dilalap api dan sekarang merambat ke dermaga utama!"
Wajah Rayyan berubah mengeras bagai batu karang. Rahangnya mengatup rapat, dan sepasang matanya memancarkan amarah yang mematikan.
"Bagaimana dengan korban jiwa?" potong Rayyan tajam.
"Dua petugas keamanan kita luka parah terkena pecahan kaca, Tuan. Pelaku menyiramkan bensin ke ruang server pengawas sebelum melarikan diri dengan perahu cepat. Polisi dan tim damkar sedang berusaha melokalisasi api, tapi berita ini sudah bocor ke media massa. Besok pagi bursa saham pasti panik total!"
Rayyan mematikan sambungan telepon dengan satu sentuhan kasar.
Ia menyambar mantel hitamnya yang tergantung di dekat pintu, lalu berbalik menatap Clara yang berdiri mematung pucat mendengar kabar ledakan itu.
Gudang pelabuhan tersebut adalah aset inti yang menjadi jaminan obligasi keluarga dan masa depan Daniswara Corp.
Hendra dan faksi asingnya tidak berniat menunggu proses hukum atau pemungutan suara berikutnya. Mereka memilih membakar segalanya hingga menjadi abu daripada membiarkan Clara dan Rayyan mengendalikannya.
Rayyan melangkah cepat ke arah Clara, lalu mencengkeram pergelangan tangan wanita itu dengan mantap dan hangat, menariknya ikut melangkah ke arah pintu.
"Ganti pakaianmu sekarang juga, Clara," perintah Rayyan dengan tatapan yang menyala penuh tekad pertempuran.
"Hendra baru saja membakar jembatan damai di antara kita. Perang terbuka sudah dimulai, dan mulai detik ini, jangan pernah sedetik pun kau berada jauh dari sisiku."
Aroma parfum mawar Prancis yang pekat dan mahal mendadak memenuhi lorong lantai tiga puluh lima gedung Daniswara Holding.Dua daun pintu kayu jati ruang kerja Direktur Utama terdorong terbuka. Dua pengawal bertubuh tegap dalam setelan jas hitam melangkah masuk lebih dulu, berdiri di kedua sisi pintu dengan sikap siaga.Di belakang mereka, Elena Vance melangkah masuk dengan keanggunan yang dingin.Mantel kasmir putih gading yang tersampir di bahunya bergerak anggun seirama dengan langkah sepatu hak tingginya. Wanita berambut pirang tembaga itu melepas kacamata hitam berbingkai emas miliknya, menampakkan sepasang mata abu-abu terang yang memancarkan arogansi seorang pewaris dinasti perbankan Eropa.Pandangan Elena langsung terkunci pada Rayyan yang berdiri tegak di dekat meja marmer."Sudah lama sekali tidak melihatmu dari dekat, Rayyan," suara Elena terdengar begitu halus, namun sarat nada posesif yang tajam."Kau tampak sangat lelah bermain rumah-rumahan di kota yang bising ini. Padah
Gemerlap panorama gedung-gedung pencakar langit Jakarta dari balik dinding kaca mendadak terasa hampa bagi Clara.Ponsel di tangannya bergetar pelan saat sambungan telepon internasional itu terputus. Kata-kata wanita beraksen dingin itu terus berdenging di telinganya, meremukkan rasa lega yang baru saja ia rasakan di ruang rapat tadi.Rayyan berdiri mematung di samping meja marmer. Sorot matanya yang beberapa detik lalu sempat menghangat kini kembali membeku bagai baja dingin."Siapa dia, Rayyan?" suara Clara jernih memecah kesunyian, menuntut jawaban tanpa basa-basi."Dan apa maksudnya dengan akta pembatalan pernikahan di Mahkamah Sipil Singapura tiga hari sebelum kakekku meninggal?"Rayyan tidak langsung menjawab. Pria itu melangkah ke tepi dinding kaca, menatap arus lalu lintas di bawah dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana panjangnya."Suara itu milik Elena Vance," ucap Rayyan perlahan. Nada bicaranya begitu berat, menyiratkan beban masa lalu yang selama ini terkunci rapat
Bunyi bip digital berkecepatan tinggi bergema di dinding seng aula kargo yang berlubang.Layar merah di tangan Richard berkedip cepat, memperlihatkan angka yang merosot tanpa ampun: empat puluh lima detik."Semua tim, evakuasi!" teriak Rayyan memberi komando mutlak.Dua anggota pasukan taktis langsung menyeret anak buah Richard yang pingsan ke arah lubang dinding kendaraan lapis baja. Tangan kanan Rayyan menyambar lengan Clara, berusaha menariknya keluar dari aula."Lari ke kendaraan taktis sekarang, Clara!" seru Rayyan di antara deru angin laut yang menerobos masuk."Tidak!" Clara menahan langkahnya sekuat tenaga, menolak ditarik.Napas wanita itu memburu, namun matanya menatap tajam ke arah lantai panggung kayu tempat Richard mencoba merangkak kabur menuju pintu palka rahasia."Dua puluh kilogram bahan peledak akan meruntuhkan seluruh dermaga ini ke laut dalam hitungan detik!" bentak Rayyan, suaranya sarat kepanikan yang belum pernah ia perlihatkan sebelumnya."Richard tidak berniat
Bau anyir darah segar dari jaket taktis yang teronggok di depan sepatunya membuat perut Clara bergejolak mual.Namun wanita itu menolak menunjukkan rasa gentar sedikit pun. Ia menegakkan punggungnya, menatap ujung tongkat berkepala rajawali perak milik Richard yang mengarah tepat ke dadanya."Kau membunuh saudaramu sendiri, membunuh keponakanmu, dan sekarang kau ingin membunuhku?" suara Clara jernih memecah kesunyian aula kargo yang lembap."Kau bukan pebisnis, Richard. Kau hanya parasit pengecut yang bersembunyi di balik kematian palsu."Wajah keriput Richard berkedut menahan amarah. Sepasang matanya yang cekung memancarkan kebencian murni."Pengecut?" desis Richard serak seraya melangkah maju satu langkah."Aku mengorbankan sepuluh tahun hidupku di pengasingan untuk membangun Vanguard Phoenix! Aku yang mengendalikan jalur penyelundupan bahan kimia dari Shanghai hingga Rotterdam! Dan seluruh kekayaan itu butuh legitimasi Daniswara Holding untuk dicuci menjadi uang bersih!"Richard me
Hujan gerimis membungkus kawasan pergudangan tua di pesisir Kalibaru dengan hawa lembap yang dingin.Lampu jalanan yang remang-remang memantulkan bayangan genangan air bercampur oli di atas aspal retak. Di hadapan Clara, sebuah gedung kargo era kolonial berdinding seng berkarat berdiri angkuh menghadap deburan ombak laut utara.Di dalam mobil Maybach yang terparkir dua ratus meter di balik deretan kontainer kosong, Rayyan memeriksa alat penyadap berukuran kancing baju yang terpasang di balik kerah jaket Clara."Begitu kau masuk, jangan pernah menyentuh apa pun," suara Rayyan terdengar begitu rendah dan tajam.Jemarinya yang kokoh merapikan kerah jaket Clara, lalu menatap lurus ke dalam manik mata wanita itu."Tim taktisku sudah mengepung perimeter dermaga belakang. Sinyal audio ini terhubung langsung ke frekuensi telingaku. Jika ada pergerakan mencurigakan, aku akan mendobrak masuk dalam sepuluh detik."Clara mengangguk pelan. Di tangannya, ia mendekap map kulit hitam berisi dokumen s
Hening di dalam kabin Maybach yang melaju meninggalkan bandara terasa lebih dingin daripada es.Clara duduk mematung di sudut kursi belakang, memeluk kedua lengannya sendiri. Suara Hendra di landasan pacu tadi terus bergema di kepalanya bagai dengung lebah yang menyiksa.Di sebelahnya, Rayyan menatap lurus ke depan. Rahang pria itu mengeras kaku, tidak menoleh sedikit pun ke arah Clara."Katakan padaku itu bohong, Rayyan," suara Clara akhirnya memecah kesunyian. Suaranya rendah dan bergetar, menahan sesak yang membakar tenggorokannya.Rayyan tidak langsung menjawab. Jemarinya yang bertumpu di atas lutut mengepal erat."Katakan padaku paman bajinganku itu hanya mengarang cerita untuk mengadu domba kita!" desak Clara, kini menolehkan kepalanya menatap Rayyan dengan mata yang mulai berkaca-kaca."Bukan di sini, Clara," sahut Rayyan datar tanpa menoleh. "Kita bicara setelah sampai di rumah.""Aku ingin jawaban sekarang!""Aku bilang setelah sampai di rumah!" potong Rayyan dengan n







