로그인Kematian mendadak sang kakek mengubah hidup Clara Daniswara dalam semalam. Di hadapan keluarga besar yang haus harta, ia mewarisi dua puluh persen hak suara kunci Daniswara Corp, sekaligus menjadi target konspirasi keji pamannya yang berencana menyingkirkannya dengan tuduhan palsu. Terpojok tanpa sekutu, Clara mengambil keputusan paling berisiko: menerima tawaran pernikahan kontrak selama satu tahun dari Rayyan Pratama, miliarder muda pendiri Pratama Capital sekaligus rival bebuyutan keluarganya yang terkenal dingin dan tanpa ampun. Kesepakatannya sederhana di atas kertas: tanpa perasaan, tanpa campur tangan fisik, demi mengamankan tahta dan membersihkan nama keluarga. Namun, tinggal seatap di bawah satu atap dengan pria paling berbahaya di dunia bisnis perlahan meruntuhkan batas-batas dingin yang mereka buat. Ketika sebuah berkas rahasia masa lalu ditemukan di brankas Rayyan, Clara menyadari bahwa jeratan cincin di jarinya bukan sekadar aliansi bisnis, melainkan awal dari pengkhianatan masa lalu yang siap membakar mereka berdua.
더 보기Pendingin ruangan di lantai dua puluh delapan gedung Adiwidya & Partners berdesing rendah. Namun, hawa di dalam ruang rapat utama terasa mencekik.
Clara Daniswara merapatkan jemarinya di atas pangkuan. Blazer hitam berpotongan pas badan yang ia kenakan membungkus tubuhnya yang duduk tegak sempurna di ujung meja marmer.
Di seberangnya, aroma cerutu mahal dan parfum maskulin yang menyengat menguar dari arah Hendra Daniswara. Pamannya itu selama tiga tahun terakhir bertingkah seolah seluruh imperium bisnis Daniswara Corp sudah mutlak berada di bawah telapak kakinya.
Di sebelah Hendra, Julian, sepupu Clara, sibuk memainkan pena berlapis emas dengan seringai meremehkan.
"Bambang, kita sudah membuang waktu empat puluh lima menit," Hendra bersuara memecah keheningan dengan nada berat yang menuntut kepatuhan. Matanya melirik arloji di pergelangan tangannya.
"Kakek sudah dimakamkan sebulan lalu. Semua orang di ruangan ini tahu ke mana arah sisa aset keluarga harus dikonsolidasikan. Buka saja berkas intinya."
Notaris senior Bambang melepas kacamata berbingkai perak, mengelap lensanya perlahan, lalu menatap seluruh anggota keluarga yang hadir. Pria paruh baya itu telah mengabdi pada mendiang Daniswara Wiranata selama lebih dari tiga dekade.
"Sesuai amanat tertulis almarhum Bapak Daniswara Wiranata," Bambang membuka map beludru merah marun di hadapannya, "pembagian aset likuid, tanah perkebunan di Jawa Barat, dan kepemilikan saham portofolio anak perusahaan telah dialokasikan kepada faksi keluarga inti sebagaimana tertera pada lampiran B."
Julian terkekeh pelan seraya menyandarkan punggungnya dengan congkak. "Tentu saja. Ayahku yang mengendalikan seluruh divisi logistik dan perkapalan. Tidak ada kejutan."
"Namun," suara Bambang meninggi, menghentikan gumaman Julian seketika, "mengenai dua puluh persen sisa saham induk di Daniswara Holding, yang memegang hak veto tunggal atas keputusan merger, akuisisi, dan pelepasan aset strategis, almarhum menetapkan klausul mutlak."
Clara menahan napas. Jantungnya berdegup melawan rusuk.
Bambang menatap lurus ke arah Clara. "Dua puluh persen saham induk berserta hak suara istimewa tersebut... tidak dialihkan kepada Saudara Hendra Daniswara maupun Saudara Julian Daniswara."
Hening merayap seketika. Ruangan itu mendadak begitu senyap hingga suara tarikan napas pun terdengar jelas.
"Apa maksudmu?" Nada suara Hendra merosot tajam, dingin dan berbahaya.
"Seluruh dua puluh persen hak suara kunci tersebut, efektif terhitung sejak akta ini dibacakan, diwasiatkan sepenuhnya atas nama Nona Clara Daniswara."
Brak!
Julian menghempaskan kedua telapak tangannya ke atas meja marmer hingga cangkir porselen di hadapannya berdenting keras.
"Gila! Ini pasti rekayasa!" seru Julian berang. "Clara bahkan bukan darah murni keluarga ini! Dia hanya anak dari istri kedua almarhum Paman Arya yang sudah meninggal! Kakek pasti sudah pikun saat menandatangani itu!"
"Jaga mulutmu, Julian," Clara akhirnya bersuara. Suaranya tenang, dingin, dan tidak bergetar sedikit pun, meski telapak tangannya di bawah meja terasa sedingin es.
"Notaris Bambang bekerja di bawah sumpah hukum. Kakek tidak pernah pikun bahkan di detik terakhir hidupnya."
"Tutup mulutmu, Clara!" Hendra berdiri. Wajah pria paruh baya itu merah padam dengan urat-urat leher yang menonjol tegang.
"Kau tidak tahu apa-apa tentang mengelola holding bernilai triliunan rupiah. Kau pikir memegang dokumen ini membuatmu aman di perusahaan? Saham ini adalah darah keluarga Daniswara. Anak pungut sepertimu tidak akan pernah menyentuh hak veto itu."
Clara bangkit dari kursinya, menyandang tas kulit hitamnya dengan anggun.
"Aku tidak meminta wasiat ini, Paman," balas Clara tegas. "Tetapi jika Kakek mempercayakan hak suara itu padaku, maka tidak ada satu jengkal pun tanah Daniswara yang boleh kalian jual ke investor asing tanpa persetujuanku."
Tanpa menunggu balasan, Clara berbalik dan melangkah keluar dari ruang rapat.
Langkah sepatu hak tingginya berdentang tegas di lantai lobi, mengabaikan tatapan para staf legal yang membisu.
Namun, ketegaran itu runtuh perlahan begitu pintu lift membawanya turun menuju lantai parkir bawah tanah.
Di area parkir VIP yang temaram dan dingin, napas Clara memburu. Ia merogoh kunci mobil di dalam tasnya dengan tangan yang sedikit gemetar.
Bayangan ancaman di mata Hendra bukan gertakan kosong. Pamannya adalah tipe orang yang sanggup melenyapkan siapa saja yang menghalangi ambisinya. Dan sekarang, Clara benar-benar sendirian.
Baru saja ia mendekati mobil sedan putih miliknya, suara derap langkah berat terdengar dari balik pilar beton.
Dua pria bertubuh kekar dengan jaket kulit gelap tiba-tiba melangkah menghadang jalannya. Di belakang mereka, Hendra muncul dengan langkah santai dan seringai bengis.
"Kau terlalu terburu-buru pergi, Clara," ucap Hendra dingin seraya memberi isyarat pada kedua anak buahnya.
"Kita belum selesai bicara. Tanda tangani surat pelimpahan hak kuasa sekarang juga, atau kau tidak akan pernah keluar dari basement ini dalam keadaan utuh."
Clara melangkah mundur hingga punggungnya membentur pintu mobilnya sendiri. "Menjauh dariku, Hendra! Ini area publik, kamera pengawas—"
"Kamera pengawas di lantai ini sedang mati untuk perawatan selama satu jam ke depan," potong Hendra sinis. "Menyerahlah. Kau tidak punya siapa-siapa lagi untuk melindungimu."
Kedua pria kekar itu maju selangkah hendak mencengkeram lengan Clara.
Tiba-tiba, sorot lampu putih yang menyilaukan membelah kegelapan parkiran bawah tanah.
Deru mesin bertenaga besar menggelegar di lorong beton. Sebuah Mercedes-Maybach hitam pekat meluncur kencang, lalu mengerem mendadak tepat di samping mereka, menghalangi kedua anak buah Hendra hanya dalam jarak beberapa sentimeter.
Decitan ban beradu tajam dengan lantai semen.
Hendra terkesiap, mundur dua langkah dengan wajah tegang. "Siapa bajingan yang berani ikut campur—"
Kalimat Hendra terputus saat kaca jendela belakang Maybach itu turun perlahan.
Di balik kaca gelap, duduk seorang pria mengenakan setelan jas arang bergaris halus tanpa cela. Garis rahangnya tegas, rambut hitamnya tersisir rapi, dan sepasang mata elang yang dingin menatap lurus menembus keremangan.
Auranya memancarkan otoritas mutlak yang sanggup membungkam ruangan dalam sekejap.
Rayyan Pratama.
Pendiri Pratama Capital. Rival bisnis Daniswara Corp paling berbahaya di seluruh negeri, pria yang selama lima tahun terakhir menghancurkan setiap anak perusahaan Daniswara di bursa efek tanpa ampun.
Rayyan sama sekali tidak melirik ke arah Hendra yang kini mematung pucat. Tatapannya terkunci sepenuhnya pada Clara yang berdiri kaku di samping pintu mobil.
"Masuklah, Clara," suara Rayyan terdengar rendah, tenang, namun tidak menerima bantahan. "Atau kau ingin kehilangan saham itu malam ini?"
Gemerlap panorama gedung-gedung pencakar langit Jakarta dari balik dinding kaca mendadak terasa hampa bagi Clara.Ponsel di tangannya bergetar pelan saat sambungan telepon internasional itu terputus. Kata-kata wanita beraksen dingin itu terus berdenging di telinganya, meremukkan rasa lega yang baru saja ia rasakan di ruang rapat tadi.Rayyan berdiri mematung di samping meja marmer. Sorot matanya yang beberapa detik lalu sempat menghangat kini kembali membeku bagai baja dingin."Siapa dia, Rayyan?" suara Clara jernih memecah kesunyian, menuntut jawaban tanpa basa-basi."Dan apa maksudnya dengan akta pembatalan pernikahan di Mahkamah Sipil Singapura tiga hari sebelum kakekku meninggal?"Rayyan tidak langsung menjawab. Pria itu melangkah ke tepi dinding kaca, menatap arus lalu lintas di bawah dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana panjangnya."Suara itu milik Elena Vance," ucap Rayyan perlahan. Nada bicaranya begitu berat, menyiratkan beban masa lalu yang selama ini terkunci rapat
Bunyi bip digital berkecepatan tinggi bergema di dinding seng aula kargo yang berlubang.Layar merah di tangan Richard berkedip cepat, memperlihatkan angka yang merosot tanpa ampun: empat puluh lima detik."Semua tim, evakuasi!" teriak Rayyan memberi komando mutlak.Dua anggota pasukan taktis langsung menyeret anak buah Richard yang pingsan ke arah lubang dinding kendaraan lapis baja. Tangan kanan Rayyan menyambar lengan Clara, berusaha menariknya keluar dari aula."Lari ke kendaraan taktis sekarang, Clara!" seru Rayyan di antara deru angin laut yang menerobos masuk."Tidak!" Clara menahan langkahnya sekuat tenaga, menolak ditarik.Napas wanita itu memburu, namun matanya menatap tajam ke arah lantai panggung kayu tempat Richard mencoba merangkak kabur menuju pintu palka rahasia."Dua puluh kilogram bahan peledak akan meruntuhkan seluruh dermaga ini ke laut dalam hitungan detik!" bentak Rayyan, suaranya sarat kepanikan yang belum pernah ia perlihatkan sebelumnya."Richard tidak berniat
Bau anyir darah segar dari jaket taktis yang teronggok di depan sepatunya membuat perut Clara bergejolak mual.Namun wanita itu menolak menunjukkan rasa gentar sedikit pun. Ia menegakkan punggungnya, menatap ujung tongkat berkepala rajawali perak milik Richard yang mengarah tepat ke dadanya."Kau membunuh saudaramu sendiri, membunuh keponakanmu, dan sekarang kau ingin membunuhku?" suara Clara jernih memecah kesunyian aula kargo yang lembap."Kau bukan pebisnis, Richard. Kau hanya parasit pengecut yang bersembunyi di balik kematian palsu."Wajah keriput Richard berkedut menahan amarah. Sepasang matanya yang cekung memancarkan kebencian murni."Pengecut?" desis Richard serak seraya melangkah maju satu langkah."Aku mengorbankan sepuluh tahun hidupku di pengasingan untuk membangun Vanguard Phoenix! Aku yang mengendalikan jalur penyelundupan bahan kimia dari Shanghai hingga Rotterdam! Dan seluruh kekayaan itu butuh legitimasi Daniswara Holding untuk dicuci menjadi uang bersih!"Richard me
Hujan gerimis membungkus kawasan pergudangan tua di pesisir Kalibaru dengan hawa lembap yang dingin.Lampu jalanan yang remang-remang memantulkan bayangan genangan air bercampur oli di atas aspal retak. Di hadapan Clara, sebuah gedung kargo era kolonial berdinding seng berkarat berdiri angkuh menghadap deburan ombak laut utara.Di dalam mobil Maybach yang terparkir dua ratus meter di balik deretan kontainer kosong, Rayyan memeriksa alat penyadap berukuran kancing baju yang terpasang di balik kerah jaket Clara."Begitu kau masuk, jangan pernah menyentuh apa pun," suara Rayyan terdengar begitu rendah dan tajam.Jemarinya yang kokoh merapikan kerah jaket Clara, lalu menatap lurus ke dalam manik mata wanita itu."Tim taktisku sudah mengepung perimeter dermaga belakang. Sinyal audio ini terhubung langsung ke frekuensi telingaku. Jika ada pergerakan mencurigakan, aku akan mendobrak masuk dalam sepuluh detik."Clara mengangguk pelan. Di tangannya, ia mendekap map kulit hitam berisi dokumen s
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.