LOGINLantai tiga puluh lima gedung Daniswara Holding di kawasan SCBD pagi itu dipenuhi aroma ketegangan yang pekat.
Di luar jendela, matahari pagi menyinari deretan gedung pencakar langit Jakarta. Namun, suasana di dalam ruang sidang direksi terasa kelam dan dingin.
Hendra Daniswara duduk di kursi pimpinan meja bundar marmer. Senyum puas tersungging tipis di sudut bibirnya saat ia merapikan dasi sutra merah marun miliknya.
Di sampingnya, Julian sibuk memeriksa tumpukan map bersampul biru yang baru saja dibagikan kepada lima anggota dewan komisaris dan perwakilan notaris publik.
"Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan lewat lima belas menit," Hendra berdeham keras menarik perhatian seluruh ruangan. Suaranya terdengar berwibawa dan penuh kepura-puraan prihatin.
"Keponakan saya, Nona Clara Daniswara, rupanya memilih mangkir dari panggilan resmi dewan direksi pagi ini."
Julian menyahut cepat dengan nada mencibir, "Tentu saja dia tidak berani datang, Ayah. Orang yang bersalah selalu melarikan diri."
Salah seorang komisaris senior berambut putih mengernyitkan dahi.
"Saudara Hendra, apakah bukti rekayasa pembukuan proyek pelabuhan ini sudah diverifikasi oleh auditor independen? Kita tidak bisa mencopot hak suara pemegang saham utama hanya berdasarkan laporan sepihak."
"Dokumen di hadapan Bapak Komisaris sudah ditandatangani oleh kantor akuntan publik mitra kami," potong Hendra dingin, tidak memberi ruang untuk perdebatan.
"Clara terbukti menyalahgunakan wewenang dan mengalirkan dana seratus dua puluh miliar ke rekening cangkang di luar negeri. Berdasarkan anggaran dasar perusahaan pasal dua puluh empat, pemegang saham yang tersangkut tindak pidana korporasi kehilangan hak veto dan hak suaranya dibekukan sementara."
Hendra mengangkat tangan kanannya, memberi isyarat kepada petugas keamanan yang berjaga di sudut pintu.
"Pihak kepolisian sudah menunggu di lobi bawah untuk memproses surat penangkapan. Mari kita lakukan pemungutan suara sekarang juga untuk mencabut hak veto Clara dan melimpahkan kendali proyek pelabuhan kepada konsorsium mitra baru kita."
Dua komisaris yang telah disuap oleh Hendra langsung mengangkat tangan setuju. Hendra tersenyum penuh kemenangan, bersiap mengetukkan palu di atas meja.
Tiba-tiba, kedua daun pintu ganda ruang sidang direksi terdorong terbuka lebar dengan suara benturan yang menggema keras.
Seluruh kepala di ruangan itu sontak menoleh.
Clara melangkah masuk dengan anggun. Gaun kerja berwarna hijau zamrud gelap yang ia kenakan berpadu sempurna dengan mantel wol hitam yang tersampir di bahunya.
Rambutnya disanggul rapi, dagunya terangkat tegak, dan sepasang matanya memancarkan ketenangan mutlak yang membuat senyum di wajah Hendra luntur seketika.
Namun, bukan kedatangan Clara yang membuat ruangan itu mendadak tercekat hingga tak ada seorang pun yang berani bernapas.
Melangkah tepat setengah langkah di samping Clara, seorang pria bertubuh tegap dalam setelan jas hitam pekat memancarkan aura dominasi yang luar biasa dingin.
Tatapan matanya tajam bagai elang, mengintimidasi setiap pasang mata yang berani memandangnya. Di belakang mereka, empat orang pengacara korporasi papan atas berbaris membawa koper dokumen berbahan logam.
Rayyan Pratama.
Julian terperangah hingga pena di tangannya terlepas dan menggelinding di atas meja.
Hendra langsung bangkit dari kursinya. Wajah pria paruh baya itu berubah pucat pasi sebelum kemudian memerah karena amarah yang meledak.
"Rayyan Pratama!" Hendra menggeram, suaranya bergetar antara kaget dan murka. "Apa urusan pimpinan Pratama Capital menginjakkan kaki di ruang rapat internal keluarga Daniswara? Satpam! Usir orang luar ini sekarang juga!"
Tidak ada satu pun petugas keamanan yang berani bergerak. Tatapan dingin Rayyan yang menyapu mereka sudah cukup untuk membuat siapa pun membeku di tempat.
"Orang luar?" Rayyan bersuara.
Nada suaranya rendah dan tenang, tetapi setiap katanya memotong ruangan seperti pisau bedah. "Rupanya pamanmu ini benar-benar tidak membaca perkembangan hukum keluarga terbarunya, Clara."
Kepala tim hukum Rayyan melangkah maju, meletakkan salinan berkas hukum berstempel basah Kementerian Hukum dan HAM serta akta notaris resmi tepat di hadapan notaris dewan direksi.
"Terhitung sejak pukul lima subuh tadi, Nona Clara Daniswara telah resmi menikah secara sah menurut hukum negara dengan Bapak Rayyan Pratama," pengacara senior itu berbicara lantang.
"Segala bentuk tuntutan hukum, audit internal, maupun pembekuan sepihak terhadap aset Nyonya Clara Pratama kini berada di bawah pengawasan langsung tim hukum Pratama Group."
Hendra terhuyung satu langkah ke belakang, menatap Clara dengan pandangan tak percaya. "Kau... kau menikah dengan bajingan ini?!"
Clara menatap pamannya tanpa berkedip.
"Dua puluh persen hak suaraku sah secara hukum, Paman. Dan mulai detik ini, hak veto Daniswara Holding resmi digabungkan dengan lima belas persen obligasi konversi milik Pratama Capital."
Rayyan melangkah mendekati meja bundar, meletakkan satu tangannya di sandaran kursi kosong di samping Clara.
"Total tiga puluh lima persen suara mayoritas mutlak di tangan kami. Artinya, agenda RUPS Luar Biasa bodoh ini resmi dibatalkan. Siapa pun yang berani mencoba mengutak-atik posisi Clara atau menyentuh proyek pelabuhan, akan berhadapan langsung dengan kebangkrutan total dari Pratama Capital."
Julian bangkit dengan napas memburu, menunjuk Clara dengan jari gemetar.
"Pelacur tidak tahu malu! Kau menjual dirimu sendiri kepada musuh keluarga demi menyelamatkan lehermu!"
Plak!
Sebelum kata berikutnya sempat keluar, berkas map tebal di tangan pengacara Rayyan terhempas keras tepat di depan dada Julian hingga pria muda itu terdorong mundur membentur dinding.
Rayyan menatap Julian dengan sorot mata yang begitu mematikan hingga Julian tercekat menelan ludahnya sendiri.
"Jaga mulut kotormu pada istriku," bisik Rayyan dengan desis yang membekukan darah. "Atau rekaman percakapan ayahmu dengan kantor akuntan palsu tadi malam akan kuserahkan ke meja jaksa penuntut umum sebelum tengah hari ini."
Hendra menatap Rayyan dengan mata terbelalak ketakutan, menyadari bahwa seluruh konspirasi kotornya telah terbongkar tanpa sisa.
Clara menarik napas dalam-dalam, merasakan untuk pertama kalinya beban berat di pundaknya terangkat.
Ia memutar tubuhnya perlahan, melangkah keluar dari ruang rapat itu dengan kepala tegak, didampingi Rayyan yang berjalan di sisinya seperti pelindung yang tak tergoyahkan.
Namun, saat mereka melintasi koridor menuju lift privat, Clara melirik tangan Rayyan yang menggenggam pergelangan tangannya.
Genggaman pria itu begitu kokoh, begitu dingin, dan Clara tiba-tiba tersadar bahwa keluar dari sarang serigala pamannya hanyalah membawanya masuk ke dalam sangkar emas seekor singa pemangsa.
Gemerlap panorama gedung-gedung pencakar langit Jakarta dari balik dinding kaca mendadak terasa hampa bagi Clara.Ponsel di tangannya bergetar pelan saat sambungan telepon internasional itu terputus. Kata-kata wanita beraksen dingin itu terus berdenging di telinganya, meremukkan rasa lega yang baru saja ia rasakan di ruang rapat tadi.Rayyan berdiri mematung di samping meja marmer. Sorot matanya yang beberapa detik lalu sempat menghangat kini kembali membeku bagai baja dingin."Siapa dia, Rayyan?" suara Clara jernih memecah kesunyian, menuntut jawaban tanpa basa-basi."Dan apa maksudnya dengan akta pembatalan pernikahan di Mahkamah Sipil Singapura tiga hari sebelum kakekku meninggal?"Rayyan tidak langsung menjawab. Pria itu melangkah ke tepi dinding kaca, menatap arus lalu lintas di bawah dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana panjangnya."Suara itu milik Elena Vance," ucap Rayyan perlahan. Nada bicaranya begitu berat, menyiratkan beban masa lalu yang selama ini terkunci rapat
Bunyi bip digital berkecepatan tinggi bergema di dinding seng aula kargo yang berlubang.Layar merah di tangan Richard berkedip cepat, memperlihatkan angka yang merosot tanpa ampun: empat puluh lima detik."Semua tim, evakuasi!" teriak Rayyan memberi komando mutlak.Dua anggota pasukan taktis langsung menyeret anak buah Richard yang pingsan ke arah lubang dinding kendaraan lapis baja. Tangan kanan Rayyan menyambar lengan Clara, berusaha menariknya keluar dari aula."Lari ke kendaraan taktis sekarang, Clara!" seru Rayyan di antara deru angin laut yang menerobos masuk."Tidak!" Clara menahan langkahnya sekuat tenaga, menolak ditarik.Napas wanita itu memburu, namun matanya menatap tajam ke arah lantai panggung kayu tempat Richard mencoba merangkak kabur menuju pintu palka rahasia."Dua puluh kilogram bahan peledak akan meruntuhkan seluruh dermaga ini ke laut dalam hitungan detik!" bentak Rayyan, suaranya sarat kepanikan yang belum pernah ia perlihatkan sebelumnya."Richard tidak berniat
Bau anyir darah segar dari jaket taktis yang teronggok di depan sepatunya membuat perut Clara bergejolak mual.Namun wanita itu menolak menunjukkan rasa gentar sedikit pun. Ia menegakkan punggungnya, menatap ujung tongkat berkepala rajawali perak milik Richard yang mengarah tepat ke dadanya."Kau membunuh saudaramu sendiri, membunuh keponakanmu, dan sekarang kau ingin membunuhku?" suara Clara jernih memecah kesunyian aula kargo yang lembap."Kau bukan pebisnis, Richard. Kau hanya parasit pengecut yang bersembunyi di balik kematian palsu."Wajah keriput Richard berkedut menahan amarah. Sepasang matanya yang cekung memancarkan kebencian murni."Pengecut?" desis Richard serak seraya melangkah maju satu langkah."Aku mengorbankan sepuluh tahun hidupku di pengasingan untuk membangun Vanguard Phoenix! Aku yang mengendalikan jalur penyelundupan bahan kimia dari Shanghai hingga Rotterdam! Dan seluruh kekayaan itu butuh legitimasi Daniswara Holding untuk dicuci menjadi uang bersih!"Richard me
Hujan gerimis membungkus kawasan pergudangan tua di pesisir Kalibaru dengan hawa lembap yang dingin.Lampu jalanan yang remang-remang memantulkan bayangan genangan air bercampur oli di atas aspal retak. Di hadapan Clara, sebuah gedung kargo era kolonial berdinding seng berkarat berdiri angkuh menghadap deburan ombak laut utara.Di dalam mobil Maybach yang terparkir dua ratus meter di balik deretan kontainer kosong, Rayyan memeriksa alat penyadap berukuran kancing baju yang terpasang di balik kerah jaket Clara."Begitu kau masuk, jangan pernah menyentuh apa pun," suara Rayyan terdengar begitu rendah dan tajam.Jemarinya yang kokoh merapikan kerah jaket Clara, lalu menatap lurus ke dalam manik mata wanita itu."Tim taktisku sudah mengepung perimeter dermaga belakang. Sinyal audio ini terhubung langsung ke frekuensi telingaku. Jika ada pergerakan mencurigakan, aku akan mendobrak masuk dalam sepuluh detik."Clara mengangguk pelan. Di tangannya, ia mendekap map kulit hitam berisi dokumen s
Hening di dalam kabin Maybach yang melaju meninggalkan bandara terasa lebih dingin daripada es.Clara duduk mematung di sudut kursi belakang, memeluk kedua lengannya sendiri. Suara Hendra di landasan pacu tadi terus bergema di kepalanya bagai dengung lebah yang menyiksa.Di sebelahnya, Rayyan menatap lurus ke depan. Rahang pria itu mengeras kaku, tidak menoleh sedikit pun ke arah Clara."Katakan padaku itu bohong, Rayyan," suara Clara akhirnya memecah kesunyian. Suaranya rendah dan bergetar, menahan sesak yang membakar tenggorokannya.Rayyan tidak langsung menjawab. Jemarinya yang bertumpu di atas lutut mengepal erat."Katakan padaku paman bajinganku itu hanya mengarang cerita untuk mengadu domba kita!" desak Clara, kini menolehkan kepalanya menatap Rayyan dengan mata yang mulai berkaca-kaca."Bukan di sini, Clara," sahut Rayyan datar tanpa menoleh. "Kita bicara setelah sampai di rumah.""Aku ingin jawaban sekarang!""Aku bilang setelah sampai di rumah!" potong Rayyan dengan n
Langit subuh di atas jalan tol bandara Profesor Sedyatmo perlahan memudar dari kepekatan malam menjadi kelabu keemasan.Maybach hitam yang ditumpangi Rayyan dan Clara melesat dengan kecepatan seratus empat puluh kilometer per jam di jalur cepat.Dua mobil pengawal bersirene darurat membuka jalan di depan mereka, membelah kabut tipis yang menyelimuti rawa-rawa pesisir barat Jakarta.Di kursi belakang, Clara membuka laptop ramping miliknya di atas pangkuan.Jemarinya menari lincah di atas papan ketik, menembus sistem jaringan perbankan korporasi Daniswara Holding menggunakan kode otorisasi darurat yang ia miliki sebagai direktur keuangan."Julian tidak berbohong," suara Clara bergetar tegang di antara deru mesin mobil.Layar laptopnya memancarkan grafik pergerakan dana valuta asing yang bergerak mencurigakan."Hendra sudah mendaftarkan pembukaan rekening penampungan di bank Swiss satu jam lalu. Nilai transaksinya enam ratus juta dolar. Pembelinya adalah Vanguard Phoenix Ltd, perusahaan







