LOGINArthur menghampiri tubuh Alena yang mulai terhuyung. Mengabaikan teriakan Alan yang histeris karena darah Alena telah muncrat kemana-mana. Keheranan setengah menggeranyangi keadaan itu. Tidak mengerti bagaimana bisa kertas jiwa ataupun tameng Raja Surgawi tidak melindunginya. Tetapi, Arthur tak terlalu mempedulikan semuanya. Pria dengan julukan Dewa Iblis itu memilih untuk segera merengkuh tubuh Alena. Menariknya dalam pelukannya. Menculiknya, membawanya lari dari hutan obat itu. Alan menatap setengah dengan mata yang masih sadar. Arthur sudah terbang sambil membawa Alena yang baru saja ditombak tepat di jantungnya oleh suaminya sendiri. Meskipun, ada perasaan sakit yang mendera. Harap yang lupus karena dirinya mendadak kehilangan Alena. Tetapi, Alan berusaha untuk bangkit berdiri. Meski dengan tertatih-tatih tetap berusaha untuk merelakan Alena yang telah dibawa menjauh oleh Arthur. Bagaimanapun, Alan juga bukan siapa-siapa bagi Alena. Hanya saja, mungkin dia harus memberikan pe
Pindai mata Alena bergerak kekanan kiri dengan cepat. Memeriksa dengan seksama, sorot mata Arthur yang tampak sangat marah terhadap dirinya. Cerita yang dikatakan oleh Arthur cukup menohok dadanya.Sejak melakukan pelarian ini, Alan telah mengatakan bahwa dia memiliki kekuatan yang ajaib, lahir dari dirinya. Tapi fakta bahwa dirinya adalah seorang Putri Surgawi, anak dari Raja Surgawi baru diketahui hari ini, semenjak Arthur mengungkapkan itu padanya.Apalagi, saat ini Arthur memandangnya penuh dengan emosi dan kebencian. Seolah bagi Arthur, Alena adalah salah satu penyebab penderitaan laki-laki itu.Tapi? Bukankah, tidak hanya Arthur saja yang menderita?"Reinkarnasi? Lalu apa peduliku Arthur? Reinkarnasi atau tidak itu tidak berpengaruh padaku! Kesalahan Kerajaan Surgawi padamu tidak berhubungan denganku! Menjadikanku alat untuk mencapai tujuan balas dendam mu juga seharusnya tidak boleh!" tajam Alena.Tak hanya Arthur yang bisa memajukan langkah. Alena pun bisa. Rasa kuat di hatin
"Rupanya kau di sini penghianat," tedas Arthur, begitu melihat Alan datang dari balik batu.Arthur mengepalkan tangannya erat kala melihat Alan ternyata tidak sendiri. Mantan kaki tangannya itu bersama dengan orang yang seharusnya masih berstatus istri bagi dirinya. Pandang mereka sempat bertemu. Saling menatap satu sama lain. Seolah menghentikan waktu sejenak. Mengikat keduanya dengan rasa yang tidak bisa dijelaskan.Pikiran Dewa Iblis itu teringat sekali lagi akan fakta yang cukup menyakitkan jika diingat. Fakta bahwa Alena telah menghiris luka untuk dirinya."Kebetulan jika bertemu," suara Alena membuka, "barusan, para prajurit mu juga lewat Arthur. Apa, kau sedang memburuku?" kata Alena, suaranya sangat dingin.Tak ada sama sekali rasa lembut di sana.Meskipun, sejujurnya Arthur ingin dengar suara lembut Alena."Kalian cukup bahagia selama ini? Hidup sebagai orang kotor yang bangga dengan tindakan zina?" tuding Arthur, matanya memelotot tajam pada Alena dan Alan bergantian.Alan
Halooo... seluruh pembaca Menikahi Dewa Iblis, terima kasih ya sudah menyempatkan untuk singgah di buku ini. Dan aku mengucapkan sangat banyak terima kasih pada kalian pembaca lama yang masih setia hadir mendukung aku walaupun, aku sulit untuk menempatkan waktu agar bisa rutin update. Maafkan aku ya... :) In real life, aku ada something problem yang gabisa kuceritakan pada kalian. Dan untuk pembaca baru, tolong sukai cerita ini dengan tulus ya. Temani perjalanan Alena dan Arthur sampai akhir mungkin dalam waktu yang cukup lama! But, i'm promise... aku akan memberikan kisah yang indah kedepannya. Dan juga... bagi yang sudah mengikuti alur, aku mungkin akan melakukan beberapa revisi, penyesuaian dan pengubahan gaya penulisan agar cerita ini semakin nyaman dinikmati. Sungguh, aku sangat berterima kasih kepada kalian yang sudah menambahkan cerita ini ke pustaka dan membacanya dengan setia. Bukalah setiap bab hingga cerita ini tamat yaa!!! Dan jangan lupa berikan komentarmu apabil
Arthur akhirnya membuka mata. Tapi laki-laki itu diam. Mengitarkan pandang. Dia sadar bahwa sedang berada di ruang periksa di istana. Tak tahu sudah berapa lama dia tertidur. Ini pasti cukup lama. Sampai rasanya, tubuhnya amat lelah.Laki-laki itu, juga merasakan bahwa dirinya sedang amat tidak berdaya. Perlahan, dia bangkit. Menyadari fakta, bahwa sudah melewatkan ribuan waktu untuk menuntaskan tujuannya."Naga Shappire bedebah," rutuknya lemah, namun terdengar penuh dengan amarah. Arthur perlahan-lahan turun dari dipan yang menopang tubuhnya sendiri.Kakinya tertatih. Keluar dari ruang periksa. Yang didapatinya adalah suasana sepi. Ada satu ambisi yang tersisa untuk Arthur saat ini. Laki-laki itu memanggil tongkat Raff.Tongkat itu menuruti perintahnya dengan cermat. Tidak lagi menyerong menolak perintah dari sang tuan. Arthur akan membawa tongkat itu pergi menjauh. Ke tempat yang harus dituju.Sudah ada firasat kuat bagi Arthur. Kali ini, Alena pasti ada di sana. Pikirnya.Arthur
Tidak ada yang kontan menjawab pertanyaan Alena. Alan masih memicing dan mengintai gerombolan pasukan. Apalagi, saat mereka terlihat cukup akan dekat dengan pijakan permbunyian ini, Alan menahan napasnya, mendorong Alena untuk tetap menempel tegap dari balik pohon. Suara berisik dari para pasukan itu berhasil lewat. Mereka semua tak ada yang menyadari ada Alena dan Alan di balik batang pohon. Sudah terfokuskan untuk mengerjakan perintah dari sang Raja. Mereka melakukan pergerakan ini untuk mendapatkan obat di hutan tersebut. "Bagaimana, Alan? Apakah sudah aman kalau muncul?" tanya Alena berbisik. Membuat kepala Alan kontan melipir untuk mengintip lagi. Bola matanya bergerak mengedar ke kanan dan kiri. Telah hilang keberadaan segerombol pasukan itu. Membuat Alan menghembus legah. "Sudah aman, Alena." Laki-laki itu lantas membawa Alena untuk keluar dari persembunyian. "Alan. Kau belum jawab pertanyaanku. Kenapa tiba-tiba pasukan milik Arthur bisa ada di sini? Apa Arthur sedang







