Mag-log inDi dalam pesawat, Vivian masih memasang wajah tak bersahabat. Arsenio beberapa kali mengajak bicara, tapi diacuhkan. Ketika Vivian merasa ada yang salah dengan sikapnya, rasa kesal justru makin besar. Dia mengutuk kenyataan. Kenapa dia harus terjebak dalam pernikahan konyol ini. Arsenio telah mengajaknya mereguk manisnya madu pernikahan. Kenikmatan mengarungi malam-malam penuh kehangatan membuat Vivian lupa diri. Pernikahan ini hanyalah fatamorgana. “Damn!” bisiknya pelan. Bisa-bisanya dia marah dan cemburu. Arsenio mengacak rambut istri kecilnya. Tertawa kecil, “there is so much jealousy. Nice, i like it,” bisiknya bangga.“Siapa yang cemburu? GR!” Vivian membuang wajah, tak nyaman. Malu karena ketahuan.Hubungan ini terasa begitu canggung. Diakui atau tidak, pengalaman beberapa hari terakhir ini meninggalkan bekas dalam hatinya. Ada rasa nyaman mulai tumbuh. Ternyata hal yang paling sulit dilakukan adalah mencegah hati untuk jatuh cinta.Padahal dalam pernikahan ini, satu-satunya
Mobil Buggati chiron berwarna merah itu telah terparkir dengan jumawa di luar bandara. Seorang pria berambut pirang duduk di atas kap mobil sambil memainkan ponselnya. Bibirnya melengkungkan senyuman ketika Arsenio mengajaknya bergegas.“Apatis banget sih lu! Bantuin kek!” semprotnya sembari mengeluarkan koper dari mobil lain. Arion hanya nyengir mendapati kemarahan Arsenio. Kali ini mungkin kesempatan terakhir Arion melayani Arsenio di Yunani. Alih-alih menjadi sopir, dia memilih mengendarai mobil sendiri. Sementara Arsenio dan Vivian diantarkan sopir lain. “Kan udah dibantuin,” sahutnya sembari mengangkat dagunya menunjuk sopir yang membantu Arsenio mengeluarkan koper dari bagasi.Arsenio memutar mata. Arion sengaja pamer mobil barunya pada Arsenio hari ini. Betapa menyebalkan.“Elu yakin balik hari ini ke Jakarta? Buru-buru amat, ada apaan sih?!” Arsenio tidak sudi menjawab. Bibirnya manyun, kesal. Melihat Arsenio tak merespon, Arion melirik Vivian. "Masalah serius di kantor?" t
Empat jam berlalu, pria bertubuh tegap tanpa senyum itu masih setia duduk di bangku coffee shop. Mengambil tempat di pojokan yang jauh dari jangkauan pengunjung lain. Aura dingin dan penyendiri. Bahkan seekor nyamuk pun merasa enggan untuk mendekat. Rahardian menyesap secangkir espresso double shot kesukaannya.Tumpukan buku tebal menambah aura tak ingin diganggu yang tertulis di dahinya. Kurang lebih dua pekan berlalu Rahardian menghabiskan waktu seperti ini. Sepulang dari kampus, dia akan membaca buku di tempat ini sampai kedai tutup. "Cangkir keempat, Yan?" Enrico tersenyum cerah saat mengantar secangkir espresso double shot untuk yang keempat kalinya.Enrico adalah pemilik kedai kopi merangkap tugas sebagai baristanya. Mereka berteman sejak sekolah menengah, dulu."Mau dibuatkan nasi goreng, Yan?" tanyanya lagi.Rahardian menggeleng."Nggak lapar? Dari tadi elo cuman makan waffle loh." Rahardian tak menjawab. Bahkan tidak menoleh. Matanya masih sibuk menelusuri barisan huruf di
Sore itu, Pantai Perissa tampak semakin memesona. Matahari mulai condong ke barat, memantulkan warna keemasan di atas permukaan Laut Aegea. Angin Mediterania bertiup lembut, memainkan helai rambut Vivian yang tergerai di balik topi pantainya.Vivian duduk di kursi santai sambil memeriksa ponselnya. Hari ini akan menjadi hari terakhir di Santorini. Arsenio bersedia mengembalikan ponsel. Begitu Vivian menyalakannya, ada begitu banyak pesan telah mengantre masuk. Sudah lima hari sejak hari itu. Sesekali bibirnya melengkung membaca pesan yang masuk.Arsenio yang duduk di sebelahnya sejak tadi memperhatikan gerak-gerik perempuan itu."Siapa yang bisa bikin elu senyum kek gitu?"Vivian tidak mengangkat wajah. "Teman.""Teman yang mana?"Vivian akhirnya menoleh. "Memangnya gue juga harus melaporkan semua orang yang chat gue?” "Nggak juga. Gue cuma nanya.""Kalau hanya bertanya, kenapa nadanya seperti sedang menginterogasi tersangka?"Arsenio mendengus pelan. Ia menyandarkan punggungnya, ber
"Sialan.” Natasya menggertakkan gigi. Langkahnya gontai menyusuri lorong menuju ruang HRD. Harusnya dia bersikap lebih hormat pada leluhur wanita itu. Tapi mana dia tahu, kalau Penelope adalah orang penting di perusahaan ini.Sebanyak apapun penyesalan, hari ini dia telah kehilangan pekerjaan yang telah susah payah didapatkan.“Nyalinya cukup besar sampai berani mengusir Nyonya Penelope, ckck.” Berita itu cepat menyebar di antara karyawan. “Padahal Presdir Arsenio sendiri rela ditindas Nyonya Penelope. Dia hanya seorang sekretaris begitu tidak tahu diri.”Di bawah tatapan karyawan yang ada di kanan kiri lorong yang dipenuhi kubikel. Beberapa bulan ini, Natasya selalu bersikap tinggi hati di depan karyawan lain. Memandang rendah, seakan dialah bos di kantor ini."Ngapain lihat-lihat?" bentak Natasya dengan mata mendelik. “Dih, udah dipecat masih belagu!” “Dikira bisa jadi Nyonya Kertanegara jalur ranjang. Padahal dia nggak tahu sekejam apa keluarga Kertanegara pada wanita kek elu.”
Suasana hati Natasya sangat buruk. Dua pekan berlalu Arsenio absen dari kantor, Natasya merasa bosan. Baginya, wajah tampan Arsenio telah menjadi semacam penyemangat. Asalkan bisa melihat Arsenio tiap hari meski hanya dari jauh, dia rela.“Kapan bulan madu sialan itu usai?!” sungutnya pelan, melirik berkas yang menumpuk di meja, antri menunggu tanda tangan Arsenio. Segala sesuatunya terasa membosankan.Natasya menatap layar ponselnya dengan sorot mata penuh kebencian. Arsenio baru saja mengunggah foto profil WhatsApp. Dalam foto itu, Arsenio terlihat berdiri di samping Vivian dengan latar belakang laut biru Santorini. Pria yang selama ini bersikap dingin padanya itu tampak begitu bahagia. Bahkan, satu tangannya melingkar di pinggang sang istri.Natasya memperbesar foto tersebut. Dadanya makin sesak.Wajah pria itu makin tampan saat tersenyum lebar. Senyuman yang begitu sulit didapatkannya, kini justru diberikan kepada perempuan lain."Dasar perempuan jalang tidak tahu diri!" desisnya







