Menikahi Milyader Lumpuh
"Putri bungsu rasa anak pungut! Ini adalah diksi paling tepat untuk menggambarkan situasiku di Keluarga Wibisono. Orang tuaku mempunyai dua putri, tapi kami berdua diperlakukan berbeda, bagaikan langit dan bumi. Kendati aku sudah memikirkan alasannya berjuta kali, tapi aku tidak berhasil menemukan alasan masuk akal, kenapa ibuku, wanita yang melahirkanku demikian memanjakan Eliana, pada saat bersamaan dia membuangku. Jika Eliana menginginkan milikku, aku harus dengan senang hati memberikan padanya. Sebaliknya, jika dia menolak sesuatu, dia pasti akan memberikannya padaku. Aku harus menerimanya, bahkan harus menganggapnya sebagai berkah tertinggi. Aku harus berlapang dada dijadikan tumbal di keluarga ini."
Itulah kenapa, Vivian merasa perlu memperkuat diri untuk belajar karate sejak kecil.
Ketika keluarganya menghadapi masalah kebangkrutan, dia dipaksa menggantikan kakaknya menikahi pria lumpuh demi menyelamatkan perusahaan keluarga.
Pokoknya El nggak mau menikah dengan cowok lumpuh itu, Pi!” pekik seorang gadis cantik yang tengah berdiri dengan wajah merah padam.
“Di rumah ini, Papi mempunyai dua putri. Bagaimana kalau Vivian yang menikah dengan pria lumpuh itu, apa pendapatmu, Vi?" Vivian yang hendak menuang air dingin untuk melepas dahaga sontak kaget. Belum sempat Vivian memberi jawaban, tatapan Lusi dan Hendrawan menghujam, membuatnya makin linglung.
Tidak ada angin, tidak ada hujan. Tiba-tiba badai datang dalam kehidupan Vivian. Dia harus menggantikan sang Kakak untuk menikahi seorang pria lumpuh.