INICIAR SESIÓNDengan satu gerakan keras dan cepat, kutancapkan milikku masuk, namun....
"Aakkhh!!" Aku mendesis keras tertahan, keringat dingin langsung keluar di dahi. Susah sekali masuknya. Di sana terasa ada hambatan yang tebal dan sangat ketat, seolah ada dinding yang menolakku masuk dengan kasar. Pikiranku langsung bertanya-tanya. Jangan-jangan apa yang Zahra katakan itu benar? Tapi tidak mungkin..Satu bulan kemudian… Waktu berlalu begitu cepat. Sudah sebulan lamanya Papa berjuang melawan maut dan menjalani perawatan intensif di ruang ICU. Dan hari ini, kabar gembira itu akhirnya datang juga. Kondisi kesehatan Papa perlahan namun membaik, hingga dokter memutuskan beliau sudah cukup kuat untuk dipindahkan ke kamar rawat inap biasa. Rasa bahagia dan lega begitu besar memenuhi dadaku, seolah beban berat yang selama ini menindihku perlahan terangkat. Harapanku kini hanya satu: melihat Papa pulih sepenuhnya, agar kami bisa kembali berkumpul dan hidup bersama seperti dulu. Karena bagiku, di dunia ini sekarang, hanya dia satu-satunya keluarga yang aku miliki. Aku duduk di samping ranjang rumah sakit, sesekali membaca buku untuk mengisi waktu, sambil terus mengawasi setiap pergerakan kecil pada diri Papa yang masih berbaring lemah. Ruangan itu hening, hanya terdengar suara detak jantung dari alat pemantau di s
"Halo, Tio, tolong kamu ambilkan semua pakaian dan barang-barang milik Zahra di rumahku besok, bawa dan antarkan padanya ke rumah sakit. Sekalian dengan tas miliknya, yang dari awal aku simpan. Minta Bi Leha ambilkan, ada di dalam laci lemariku yang paling besar," ucapku berbicara dengan Tio dari sambungan telepon. Hening sejenak terdengar dari seberang sana, sebelum suara Tio terdengar. "Kok diambil semua? Kenapa memangnya, Pak?" Aku menghela napas panjang, memejamkan mata sejenak. "Aku akan menyudahi hubunganku dengan Zahra." "Menyudahi??" Suara Tio meninggi tak percaya, kaget yang dirasakannya begitu jelas terdengar. "Maksudnya, Bapak dan Nona Zahra ingin bercerai?" "Iya." Jawabku singkat dan tegas, tak ada keraguan sedikit pun. "Kenapa??" tanyanya lagi, seolah belum bisa menerima keputusan itu. Aku diam sejenak, menatap kosong ke arah dinding di hadapanku, pikiranku melayang kembali pada semua fakta
"Apa ... Apa setelah ini kamu akan melaporkanku ke polisi? Kamu ingin memenjarakan aku?" tanyaku dengan suara bergetar. Rasa cemas dan keraguan seketika berkecamuk di dalam dada.Kemungkinan itu memang bisa saja terjadi, apalagi dia sudah menegaskan bahwa kami harus berpisah."Enggak, Mas." Zahra menggeleng pelan, tangannya terangkat untuk mengusap air mata yang masih menetes deras di pipinya. Tatapannya terlihat lemah. "Tenang aja, aku nggak akan melakukan apa pun yang akan membuat Mas Veer semakin tersakiti. Tolong ambil benda-benda ini, lalu pergilah dan tinggalkan aku sekarang. Aku ingin istirahat, Mas. Kepalaku sakit."Dengan rasa ragu, aku perlahan meraih ponsel serta kartu hitam yang disodorkannya itu dari genggaman tangannya. Tanganku terasa berat, seolah sedang mengambil bukan benda biasa, melainkan memutuskan sisa-sisa ikatan yang masih tersisa di antara kami."Apa perlu aku panggilkan dokter untuk memeriksamu lagi?" tanyaku lagi dengan nada khawatir."Nggak usah, Mas. Aku h
Zahra menoleh kembali ke arahku, matanya berkaca-kaca namun sorotnya penuh dengan kesedihan mendalam yang bercampur dengan api kemarahan yang meluap-luap dan terpendam. "Kenapa harus Bunda yang Mas bunuh? Kenapa nggak aku saja yang Mas bunuh?? Kenapa??" Dia tiba-tiba berteriak histeris.Aku sontak terkejut, tubuhku menegang. Dan seketika aku tersadar akan sesuatu yang menyakitkan. Bundanya Zahra telah meninggal dunia pagi tadi. Bagaimana bisa aku begitu lupa dan tak peka akan hal yang begitu menyakitkan baginya? "Aku sama sekali nggak berniat membunuh Bundamu, Zahra." Aku mencoba menenangkan, suaraku terdengar berat dan penuh penyesalan. "Tapi kenyataannya Bunda sudah meninggal, Mas! Dan Mas pasti seneng, kan?" tuduhnya lagi, air mata mulai menetes membasahi pipi pucatnya. "Enggak!" Aku menggelengkan kepala dengan cepat, menatapnya tajam namun berusaha tetap tenang dan meyakinkan. "Ohhh... jadi Mas belum puas, ya? Kalau begi
"Veer ... to-long Pa ...." Ucapan itu terputus-putus dengan susah payah, suaranya lemah dan hampir tak terdengar, sebelum akhirnya tubuh Papa terasa lemas di pelukanku dan dia langsung tak sadarkan diri seketika. "Pa! Bangun, Pa!!"Aku panik luar biasa, segera menggoyangkan tubuhnya perlahan agar sadar kembali. Namun melihat kondisi Papa yang begitu memprihatinkan, dengan kulit pucat pasi, tubuh yang kurus kering dan terlihat sangat rapuh, aku tak tega melakukannya terlalu keras. Aku takut setiap gerakan hanya akan menambah rasa sakit dan penderitaan yang dia rasakan."Cepat! Tolong bantu aku bawa Papa keluar dari ruangan ini sekarang juga!" perintahku dengan nada tegas, menatap anak buahku yang sejak tadi berdiri diam terpaku menyaksikan kejadian itu.Pria itu langsung mengangguk cepat. Tidak ada waktu untuk melepaskan ikatan dikaki dan tangan Papa, karena situasinya sudah cukup genting. Kami pun dengan sigap dan penuh kehati-hatian mengangkat t
"Pintu apa ini?" gumamku pelan, rasa penasaran seketika menguasai diri.Aku pun turun dari kursi besar itu, lalu berjongkok tepat di depan pintu kayu yang tersembunyi di sela-sela lantai marmer mengkilap.Jari-jariku meraba pinggiran kayu yang tampak tua namun kokoh, lalu berusaha menariknya ke atas dengan sekuat tenaga. Namun sayang, pintu itu terasa sangat keras dan berat, seolah telah lama tertutup dan tak pernah disentuh siapa pun.Aku segera bangkit dan bergegas berjalan cepat menuju gudang penyimpanan di sisi lain gedung. Tanganku menyambar sebuah linggis besi yang cukup kuat, serta palu besi yang masih tersimpan rapi di sana. Aku pun memanggil salah satu anak buahku yang sedang sibuk mengangkut barang, memintanya ikut membantuku.Kami kembali ke ruangan itu dan segera memulai usaha membuka pintu tersebut. Ujung linggis kumasukkan perlahan ke celah sempit di pinggiran pintu kayu itu."Dorong pelan tapi mantap," perintahku.Kami berdua menumpukan berat badan ke batang linggis itu







