LOGIN“Saya akan transfer untuk biaya Kai dua minggu ke depan ya, Bu. Tapi tolong jaga dia, s-saya pasti akan menjemputnya… iya, iya… tolonglah…. Saya mengerti… terima kasih, Bu.”
Faya menahan napas. Siapa Kai? Apakah dia yang menyebabkan Revan menerima tawaran Alex untuk menghamilinya? Faya menelan ludah. Berarti benar, Revan melakukan ini demi uang, mungkin demi keluarganya.
Klek.
Suara pintu depan yang terbuka mengagetkan Faya. Dia pun gegas berdiri dan sedikit berlari ke arah koper, lalu berpura-pura baru saja masuk ke dalam kamar. Menenteng tas dan memegang koper.
Revan terlihat masuk sambil berdehem. Tatapan mata mereka bertemu. Saling pandang beberapa saat.
“Apa kamu sudah lapar, Re?” Akhirnya Faya memecah kecanggungan.
Revan terlihat mengambil kaosnya yang tergeletak di sandaran sofa. Kemudian memakainya s
Perempuan dengan setelan blazer dan rok selutut itu tampak tersenyum. Menutup pintu, lalu berjalan mendekati Alex.“Maaf, kalau saya mengejutkan Bapak.” Miranda terlihat berhenti sekitar dua meter dari tempat Alex duduk. Lalu membungkukkan punggung sekilas. “Mungkin Pak Alex bertanya-tanya, kenapa saya bisa ada di sini.”Alex diam. Hanya menatap tajam kepada perempuan yang dia tahu sebagai teman dekat Yasmin. Beberapa kali dia melihat Yasmin dan Miranda berdua di area kantor, maupun acara-acara resmi lainnya. Meski sebenarnya Alex lupa nama Miranda, kalau saja perempuan itu tidak menyebutkannya di awal tadi.Tangan Miranda tampak bertaut. Menunduk. “Mungkin Yasmin tidak akan datang, Pak Alex. Karena setelah saya baca pesan Anda, tadi saya langsung menghapusnya. Saya—”“Kamu saya pecat. Dan segera pergi dari sini.” Alex berkata dengan lirih, tetapi tegas. Dia membuang wajah ke arah berlawanan dari Miranda.“Baik, Pak. Saya terima, tapi Pak Alex harus dengar in—”“Kubilang, pergi!” Kini
“Oh, siapa perempuan yang beruntung itu?” Faya menampakkan senyum. Meski hatinya bergelombang tak karuan. Aneh juga sebenarnya kalau dia merasa cemburu. Namun rasa itu muncul tanpa bisa dia cegah.Revan tersenyum kecil. “Namanya Kai. Tapi dia bukan cewek, dia laki-laki kecil termanis di dunia. Jantung hatiku.”“Yang ada di wall paper hape-mu?” Faya spontan menyambar. Dengan keterkejutan dan rasa penasaran yang meledak. “Eh, maaf… waktu hape-mu jatuh tadi, aku nggak sengaja liat.”Bibir Revan kembali tersenyum seraya mengangguk, tetapi matanya mulai berkaca-kaca. “Kai, anak almarhum kakakku. Kakak yang sering aku ceritakan ke kamu itu.”“Almarhum? Jadi….” Faya menggigit bibir. Tak kuasa untuk meneruskan ucapannya. Sama sekali tidak menyangka kalau orang yang sering kali Revan bicarakan dengan nada ringan, ternyata sudah meninggal.“Ya. Kai adalah satu-satunya keluargaku yang tersisa, setelah kepergian kakakku. Tapi sekarang Kai ada di panti asuhan, sebab dinas sosial menilaiku nggak la
“Geli, ah kumisnyaaa….” Nada Faya sengaja bermanja, sambil melepaskan diri. Dia segera membalik badannya lagi, dan langsung merasakan tubuh Revan merapat.“Nakal ya,” bisik Revan gemas.Faya mulai terkikik ketika merasai sesuatu yang menempel di bokongnya mulai sedikit menekan. Kedua tangan Revan pun sudah mulai menyisir halus, membelai kulit perut, kemudian….Dert, dert. Ponsel Faya yang diletakkan di nakas bergetar-getar. Membuat kedua manusia itu otomatis menghentikan aktifitas mereka serempak.“Huff….” Faya justru menarik selimut. Membenamkan wajahnya ke lengan Revan. Napas perempuan itu menghembus panjang.“Faya, itu—”“Udah, ah, tidur aja yuk. Aku capek banget.” Faya memejamkan mata.“Telponnya… mungkin Pak Alex,” desis Revan.“Ya, sudah pasti dia. Selama ini nggak ada orang lain yang menghubungiku selain suamiku. Paling dia itu menelpon untuk memastikan kepentingannya berjalan lancar. Bukan karena ingin tau tentang keadaanku.” Faya mendadak memuntahkan kekesalan.Revan terden
Revan tampak tersenyum getir. “Orang miskin sepertiku memang mudah sekali ketebak masalahnya ya?”“O-oh, bukan gitu… jangan salah paham, Re. Aku….” Faya menghela napas. Menatap lelaki muda itu. Kebingungan mengeluarkan kalimat yang tepat, agar tidak menyinggung perasaan Revan.Lelaki itu justru berderai ringan. Wajahnya mendadak berubah, sudah tidak setegang beberapa detik lalu. “Aku sudah lapar. Boleh kita makan sekarang?”“O-oh, i-iya dong.” Faya meringis.“Wah, liat ini udangnya gendut banget. Mungkin pas di laut dulu dia terkenal sebagai si tukang rebahan,” celetuk Revan. Derainya kembali mengudara.Faya tertawa, sedikit dipaksakan, demi menghargai Revan.“Beneran enak makanannya.” Revan kembali bicara setelah suapan pertama. Tampak sekali dia ingin menghidupkan suasana.
“Fay, pakai piring ini saja…?” Revan terdengar berseru, tetapi di ujung kalimat nadanya menjadi samar. Sepertinya karena dia kaget memergoki Faya tengah menatap ponselnya.Faya meringis malu. Meletakkan gawai tersebut ke tempat semula. “Maaf, hape-mu barusan kesenggol, jadi jatuh… tapi, kayaknya nggak apa-apa sih.”Wajah Revan yang semula sedikit tegang, terlihat mulai mengendur. Lelaki itu mengangguk.Faya segera bergabung ke meja makan. Sedikit memberi instruksi, dan beberapa saat setelah itu, orang dari restoran pergi.“Ayo kita makan.” Faya mengambil piring duluan. “Eh, kamu nggak ada alergi makanan laut kan? Kok aku lupa tanya ya.”“Kan sudah kubilang, aku ini pemakan segala,” cetus Revan. Tertawa riang.“Aduh, ngeri. Nanti kalau aku tidur tau-tau aku dimakan juga.” Fay
“Saya akan transfer untuk biaya Kai dua minggu ke depan ya, Bu. Tapi tolong jaga dia, s-saya pasti akan menjemputnya… iya, iya… tolonglah…. Saya mengerti… terima kasih, Bu.”Faya menahan napas. Siapa Kai? Apakah dia yang menyebabkan Revan menerima tawaran Alex untuk menghamilinya? Faya menelan ludah. Berarti benar, Revan melakukan ini demi uang, mungkin demi keluarganya.Klek.Suara pintu depan yang terbuka mengagetkan Faya. Dia pun gegas berdiri dan sedikit berlari ke arah koper, lalu berpura-pura baru saja masuk ke dalam kamar. Menenteng tas dan memegang koper.Revan terlihat masuk sambil berdehem. Tatapan mata mereka bertemu. Saling pandang beberapa saat.“Apa kamu sudah lapar, Re?” Akhirnya Faya memecah kecanggungan.Revan terlihat mengambil kaosnya yang tergeletak di sandaran sofa. Kemudian memakainya s







