LOGIN😌😌 mabok itu tidak baik ya makanya
"Bagaimana?" tanya Ivy, saat mereka turun dari wahana.Matteo menghentakan kakinya, yang sesaat terasa lemas. Namun dengan cepat kembali normal, dan bisa berjalan normal. Saat kembali ke permukaan tanah, tubuhnya masih terasa mengambang. Masih perlu banyak latihan sebelum dia akan terbiasa dengan semua itu."Itu tadi...." Mateo tidak bisa menjelaskan apa yang dia rasakan."Aku rasa,.... aku menyukainya," kata MatteoIvy menggandeng tangan Matteo, dan tersenyum. "Selama waktu mengenalmu, baru kali ini aku melihatmu berteriak."Menurut ingatanku, baru kali ini aku berteriak sekeras dan selepas itu." Matteo sendiri terlihat takjub."Kalau begitu kita harus mencoba yang lain!" Ivy semakin bersemangat sekarang."Bagaimana dengan itu?" Matteo menunjuk permainan ekstrem yang lain, yaitu Astro Tower. Permainan yang menyajikan pacu jantung lebih cepat, karena tidak perlu menunggu belokan atau tikungan. Mereka akan diangkat tinggi pada tiang pancang, lalu akan diputar, dan dijatuhkan seketika. B
"Carousell?" Matteo langsung memberikan pandangan yang kemungkinan bisa membunuh, saat Ivy menyarankan mereka naik komidi putar sebagai wahana yang pertama mereka coba.Dia sudah sangat ragu dengan segala ide Ivy saat ini, komidi putar terlalu memaksakan.Ivy sendiri justru tertawa tergelak. Menikmati setiap detik bagaimana Matteo terlihat canggung. Suasana wahana bermain yang ceria dan penuh warna-warni kegembiraan, terasa begitu asing bagi Matteo. Dia belum pernah melihat tawa dan jeritan riang sebanyak itu berkumpul pada satu tempat.Alhasil, tawa yang biasanya otomatis terbentuk oleh pengunjung taman bermain saat melihat keriaan, hanya menghasilkan kerutan dan senyum kikuk."Itu yang aku cari!" Ivy tiba-tiba berseru senang saat melihat menunjuk sebuah toko aksesoris yang berjejer, tidak jauh dari bibir pantai."Mencari apa?" Matteo jelas panik mendengar seruan bersemangat itu. Semangat Ivy pada saat seperti ini, membuat Matteo waspad, karena ide Ivy biasanya liar."Ayo... Ayo!"Mat
"Kau memeluknya! Apa itu harus?!" protes Matteo, begitu Ivy sampai di depannya. Ivy dengan mudah menemukan Matteo karena dia sangat menonjol.Jika Ivy berusaha untuk menyamar, dengan memakai gaun yang membaur dengan gadis kampus di sekitarnya, Matteo tidak.Dia masih memakai bajunya yang biasa, celana kain dengan kaos polo rapi. Tidak sesuai dengan suasana kampus yang segar di sekitarnya. Dia terlihat seperti dosen tampan yang sedang memikirkan soal untuk ujian akhir nanti, karena wajahnya sangat serius. Kerutan di dahi Matteo lebih dalam dari biasanya."Aku memeluknya sebagai ucapan selamat tinggal, dan juga karena aku sangat bangga dengannya. Dia tumbuh menjadi pria hebat setelah masa muda yang berat. Itu membanggakan bukan? Hanya itu alasanku memeluknya, tidak ada yang lainnya," urai Ivy, dengan sabar.Dia sudah tahu Matteo akan bereaksi berlebihan, karena itu Ivy sudah menyiapkan jawaban."Kenapa kau harus bangga? Kau bukan ibunya!" Alasan Ivy masuk akal, tapi Matteo tidak akan men
"Aku ingin meminta bantuan." Jantung Ivy mulai sedikit terpacu."Bantuan apa?" Sean mungkin bijak, tapi sedikit lambat berpikir."Bantuan dukungan, karena aku ingin menghentikan segala fitnah tentang diriku yang menyebar itu."Aku bisa membantu apa?" Sean masih belum paham. Bukan sedikit, tapi memang lambat. Ivy harus lebih bersabar menjelaskan."Aku ingin kau menjadi saksi, bahwa aku tidak pernah melakukan apapun padamu. Tidak pernah melakukan tindakan senonoh pada klien di bawah umur.""Oh..." Akhirnya Sean mengerti."Jadi maksudmu, aku harus membuat pernyataan di depan wartawan seperti itu?""Benar. Dengan begitu namaku akan bersih. Dengan munculnya kau sebagai sumber awal fitnah itu maka pernyataan itu akan sangat kuat. Pernyataanmu akan berguna untuk menegaskan jika semua itu adalah fitnah, dan pencemaran nama baik."Sean menunduk sejenak. Dia terlihat berpikir lama dan panjang.Ivy menunggu, menyilangkan kaki, sambil memandang ke depan. Menyembunyikan fakta jika jantungnya tengah
"Jangan meneriakkan namaku sembarangan!" Ivy menarik tangan Sean, menyuruhnya duduk kembali, tapi tubuh tegap itu tidak bergerak, karena lemahnya tenaga Ivy.Teriakan Sean membuat beberapa kepala menoleh. Ivy bergegas memakai kacamata dan juga topinya lagi, sebelum ada salah satu dari mereka mengenali wajahnya."Jadi benar bukan? Ivy Adams yang dulu menjadi terapis di Westwood, juga adalah Ivy Adams yang aku lihat di televisi?"Setelah jelas siapa yang identitas Ivy, Sean langsung menunjukkan sifat yang sebenarnya. Dia menjadi lebih banyak bicara, seperti yang dulu Ivy ingat. Sean dulu sangat mudah membuka diri saat terapi, tidak seperti Matteo."Benar. Aku Ivy Adams yang kau lihat di televisi, dan juga dulu menjadi terapis di Westwood.""Aku ingin sekali membunuh mereka semua!" Sean tiba-tiba berseru mengangkat tangan ke udara."Siapa yang akan kau bunuh? Jangan sembarangan!" tegur Ivy, galak."Apa?!" Sean kaget menerima teguran itu."Lupakan!" Ivy mengibaskan tangan. Dia lupa jika ka
BRUAKK!Ivy melonjak dari tempat duduk, saat suara benturan keras terdengar dari lapangan. Meski hanya latihan, suara benturan antara pemain yang terjadi di lapangan bawah sana, sudah cukup untuk membuat efek kejut.Para pemain yang football itu, menubrukkan tubuh dengan keras, diiringi dengan teriakan, saling dorong dan membenturkan bahu. Memperebutkan bola berwarna kemerahan yang lonjong itu.Ivy sama sekali tidak mengerti bagaimana aturan permainan dalam American football. Dia bukan penggemar pertandingan olahraga apa pun.Sama seperti Matteo. Dia hanya memandang ke lapangan tanpa merasakan keseruan apapun. Olahraga yang dilakukan Matteo, hanya berkisar antara jogging dan mengangkat beban, untuk mempertahankan massa otot.Dia tidak menyukai olahraga berkelompok seperti itu. American football, sedikit kasar menurutnya, dengan segala macam teriakan dan tubrukan itu. Matteo lebih menyukai ketenangan, sesuai dengan jiwa seni yang ada dalam dirinya.Satu-satunya hal tidak tenang yang bis







