MasukWARNING 21+ Banyak adegan dewasa ⚠️ Tiga tahun pernikahan Althea hanya diisi dengan penolakan dan sikap dingin suaminya setiap kali mereka berada di atas ranjang. Althea harus menanggung malu mama mertuanya karena tak kunjung hamil. Namun sebuah pemeriksaan medis membuat Althea menemukan sebuah rahasia besar yang sengaja ditanam di dalam rahimnya tanpa izin. Rasa dikhianati dan haus akan sentuhan yang tulus membuat pertahanan Althea mulai runtuh saat sahabat suaminya hadir memberikan perhatian yang berbeda. Kael tidak hanya menawarkan telinga untuk mendengar, tapi juga sentuhan yang membangkitkan gairah Althea yang selama ini dipadamkan oleh suaminya. Kini Althea terjebak dalam pilihan sulit untuk tetap setia pada suami yang memanipulasi tubuhnya atau menyerahkan diri sepenuhnya pada gairah terlarang bersama sahabat suaminya sendiri.
Lihat lebih banyak“Kenapa ada IUD di dalam rahim kamu?”
Suara Dokter Sarah membuat tubuh Althea membeku di atas ranjang periksa. “IUD?” bibirnya bergetar. “Alat kontrasepsi itu?” “Iya,” jawab dokter itu serius. “Dan posisinya sangat rapi. Jelas dipasang oleh tenaga profesional.” Jantung Althea berdetak kacau. Kepalanya terasa kosong, seolah tubuhnya menolak memahami apa yang baru saja ia dengar. “Dok, ini bercanda ya?” tanyanya lagi, “Maksudnya gimana? Aku tidak pernah pasang apa pun.” Dokter Sarah tidak tersenyum. Wajahnya tetap serius. “Pemasangan IUD adalah prosedur medis yang harus dilakukan dengan persetujuan tertulis, penjelasan risiko, dan kesadaran pasien. Kamu benar-benar tidak tahu ada benda ini di dalam tubuh kamu?” Napas Althea tercekat. Jemarinya mencengkeram seprai kuat-kuat seolah tubuhnya nyaris kehilangan keseimbangan. “Tidak, Dok. Seperti yang Dokter tahu, saya dan suami mengharapkan anak. Jadi, mana mungkin aku pasang kontrasepsi…” lirihnya gemetar. Dokter Sarah mengangguk pelan. “Prosedur seperti ini biasanya melibatkan persetujuan dari pasangan, terutama jika ada riwayat kesehatan. Saya lihat di catatan medis kamu ada bekas operasi usus buntu setahun lalu. Mungkin saat itu ada prosedur tambahan. Kamu bisa konfirmasikan lagi dengan suami, ya.” Althea hanya bisa mengangguk pelan, meski dunia terasa runtuh. Setelah pemeriksaan selesai, Althea berjalan keluar dari ruang dokter dengan langkah gontai dan pikiran kosong. Di dalam tasnya, tersimpan foto USG yang menunjukkan benda berbentuk T di dalam rahimnya. Ia ingat operasi usus buntu itu. Suaminya yang mengurus semuanya. Zayyan yang memilihkan rumah sakitnya, Zayyan yang mengurus semua dokumen, dan Althea dalam kondisi bius total saat itu. Althea ingat ia bangun dengan luka kecil di perut. Tapi IUD? Ia tidak ingat pernah setuju melakukannya. Tak lama, ponselnya bergetar di dalam tas. Nama Mama Mertua muncul di layar. Althea menatap nama itu beberapa detik, jari-jarinya gemetar. Akhirnya ia menekan tombol terima dengan napas tertahan. “Gimana, Thea? Sudah diperiksa total kan? Dokter bilang apa? Rahim kamu aman, kan?” Suara Mama Mertua langsung menyerbu tanpa jeda. Althea berusaha menjawab dengan suara normal, tapi lidahnya terasa kelu. “Sudah, Ma. Masih observasi,” katanya pelan. “Jangan santai-santai begitu, Thea. Ini sudah berulang kali Mama ingatkan,” lanjut Mama di seberang telepon. “Bulan depan ulang tahun pernikahan kalian yang ketiga. Mama malu terus ditanya saudara-saudara soal cucu. Kalau memang ada masalah, bilang sekarang. Jangan sampai Zayyan yang rugi punya istri tidak bisa kasih keturunan. Mama capek nunggu, tahu?” Althea menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga terasa sakit. Emosi kemarahan, sedih, dan kebingungan berdesak-desakan di dada. Tapi ia menahannya rapat-rapat. Kepalanya masih penuh dengan bayangan IUD di layar USG. “Iya, Ma. Aku mengerti,” jawabnya pelan, suaranya hampir hampa. “Mengerti saja tidak cukup, Thea. Harus ada hasilnya. Mama sudah bilang berkali-kali. Zayyan butuh pewaris. Keluarga ini butuh cucu laki-laki. Atau mau Mama bicara langsung sama Zayyan supaya dia lebih tegas?” Althea merasakan dada semakin sesak. Air mata menggenang di mata, tapi ia cepat-cepat mengedipkannya. “Nggak usah, Ma. Aku diskusikan sama Zayyan berdua. Kita usahakan yang terbaik,” jawabnya lagi. “Mama tunggu kabar baiknya, Thea. Jangan bikin Mama kecewa lagi,” kata Mama Mertua sebelum menutup telepon dengan nada puas. Althea mematikan sambungan itu tanpa kata. Ponselnya ia pegang erat di tangan yang gemetar. Di balik kebingungan yang masih menyelimuti, kemarahan mulai menyala pelan. Ia tahu persis siapa pelakunya. Hanya satu orang yang selama ini punya akses penuh dan kendali atas tubuhnya. Yang selalu mengatur segalanya di belakangnya. “Zayyan…” suara Althea pecah pelan. Dadanya terasa sesak hanya dengan menyebut nama suaminya sendiri. “Untuk apa kamu melakukan ini semua padaku?” Jemarinya gemetar menggenggam hasil USG itu erat-erat. Ia tidak mengerti bagaimana pria yang selalu terlihat begitu tenang dan perhatian di depannya ternyata bisa menyembunyikan sesuatu sebesar ini. “Kamu sengaja mencegah aku punya anak?” Althea menghapus air matanya dengan kasar. Ia tidak boleh terlihat hancur di pinggir jalan. Begitu sampai di depan gerbang rumahnya yang megah namun terasa dingin, sebuah mobil yang sangat ia kenali terparkir di sana. Itu bukan mobil Zayyan. Ada tamu? Althea mengusap kasar air mata di wajahnya lalu memaksa diri berjalan tegak. Meski begitu, dadanya masih berdebar tidak karuan seolah emosinya bisa runtuh kapan saja. Saat ia berjalan ke depan pintu rumah, dunia terasa berputar. Althea oleng, tubuhnya hampir jatuh, tapi sepasang lengan yang kuat segera mendekapnya. Saat mendongak, ia melihat wajah seorang pria dengan garis wajah tegas, tampak ekspresi khawatir di wajahnya yang rupawan. “Thea…” pria itu menahan tubuhnya agar tidak jatuh, tatapannya penuh khawatir. “Kamu tidak apa-apa? Wajahmu pucat sekali.” Althea buru-buru berdiri menyadari pria ini bukan Zayyan, melainkan sahabat dekat suaminya yang sudah ia kenal sejak lama. “Kael?”Ruang kerja itu kembali dipenuhi suasana tegang setelah Kael membaca laporan lanjutan dari investigatornya. Om Krisna yang baru selesai menerima panggilan dari pihak penyidik langsung meminta salinan data tersebut dikirim ke laptopnya, sementara Althea masih berdiri di dekat meja sambil mencoba mencerna nama yang baru saja muncul. Damar Prasetyo. Asisten pribadi Zayyan selama hampir delapan tahun. Pria itu bukan sekadar sekretaris biasa. Damar dikenal sebagai orang yang selalu mengurus jadwal pribadi Zayyan, transaksi tertutup, hingga berbagai urusan yang tidak pernah disentuh staf perusahaan lain. Bahkan beberapa direksi lama pernah bercanda kalau Damar lebih tahu isi kepala Zayyan dibanding keluarganya sendiri. Dan sekarang namanya justru muncul dalam penyelidikan manipulasi medis Althea. Om Krisna membaca laporan itu perlahan sebelum mengembuskan napas panjang. “Kalau staf administrasi rumah sakit berani menyebut nama Damar, berarti penyidik mulai punya jalur yang jelas.” Ka
Malam mulai turun ketika ruang kerja Om Krisna akhirnya sedikit lebih sepi. Tumpukan dokumen masih memenuhi meja besar di tengah ruangan, lampu-lampu gedung dari balik dinding kaca memantulkan cahaya samar ke wajah Kael yang sejak tadi belum juga berpindah dari kursinya. Beberapa file digital terbuka di layar laptopnya. Timeline operasi usus buntu Althea. Riwayat akses internal rumah sakit. Nama dokter jaga malam itu. Sampai daftar staf administrasi yang bertugas bertahun-tahun lalu. Semuanya sedang disusun ulang satu per satu. Dan semakin Kael membaca, semakin rasa muak itu muncul. Karena semuanya terlalu rapi untuk disebut kebetulan. Suara langkah pelan membuat Kael mengangkat kepala. Althea masuk sambil membawa dua cangkir kopi hangat sebelum meletakkan salah satunya di dekat laptop Kael. “Kamu belum berhenti juga?” Kael menarik napas pendek lalu menyandarkan tubuh ke kursi. “Aku hampir dapat polanya.” Althea mengernyit kecil. “Pola apa?” Kael memutar layar laptop ke arah
Pagi itu ruang kerja pribadi Om Krisna jauh lebih sibuk dibanding biasanya. Beberapa map dokumen memenuhi meja rapat, layar televisi di sudut ruangan menampilkan berita terbaru tentang pemeriksaan lanjutan kasus manipulasi medis Althea, sementara dua pengacara senior terus berdiskusi mengenai kemungkinan pasal tambahan yang bisa menjerat Zayyan. Namun di tengah semua kesibukan itu, Kael justru lebih fokus memperhatikan Althea. Wanita itu duduk di sampingnya sambil membaca salinan dokumen pemeriksaan dengan wajah tenang yang terlalu tenang. Sejak pagi Althea hampir tidak bicara banyak, tetapi Kael tahu pikirannya bekerja keras menyusun kembali potongan-potongan kejadian yang selama ini terasa janggal. Tatapan Althea berhenti pada satu halaman cukup lama sebelum akhirnya ia mengembuskan napas pelan. “Jadi prosedur itu benar-benar tercatat,” gumamnya lirih. Salah satu pengacara Om Krisna mengangguk. “Masalahnya justru ada di bagian persetujuan tindakan medis, Bu. Penyidik menduga ad
Ruang kunjungan tahanan itu langsung gempar begitu pengacara Inara selesai bicara. Wanita itu menghantam map di tangannya ke meja dengan keras sampai gelas air di depannya bergetar dan salah satu petugas di luar refleks menoleh ke arah ruangan. “Ditolak lagi?” suaranya meninggi penuh amarah. “Kalian semua sebenarnya kerja atau cuma makan uang saya?” Pengacaranya menahan napas sebelum mencoba bicara hati-hati. “Bu Inara, hakim menganggap Ibu masih berpotensi memengaruhi saksi dan—” “Diam!” bentak Inara tajam sambil menunjuk wajah pria itu. “Saya muak dengar alasan! Dari awal kalian bilang kasus ini masih bisa dikendalikan, tapi lihat sekarang!” Dadanya naik turun menahan emosi. “Nama saya dihancurkan di mana-mana, media terus menyeret keluarga saya, dan kalian masih datang membawa kabar gagal?” Suasana ruangan langsung menegang. Inara bukan tipe perempuan yang terbiasa dipermalukan. Selama puluhan tahun ia hidup di lingkaran elite yang selalu menunduk hormat padanya. Orang-orang b


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak