LOGIN🙂🙂 deg2an
Pemandangan yang tidak biasa terlihat pagi itu. Semua penghuni apartemen Ivy berkumpul di depan televisi, padahal hari masih sangat pagi. Bahkan Mauro yang hanya tahu sedikit saja soal apa yang terjadi, ikut bersemangat dan menanti di depan televisi.Baik Ivy maupun Matteo hanya tidur mungkin sekitar 3 jam, karena Matteo pulang lewat dini hari. Namun saat alarm dari ponsel berbunyi pukul tujuh tiga puluh, mereka bangun dengan sigap.Ivy langsung menyiapkan kopi untuk semua pria yang ada di apartemen itu, agar terjaga sepenuhnya.Kini beberapa detik lagi pukul delapan akan tiba, dan mereka semua sudah siap, memandang layar televisi yang menyala menayangkan iklan properti."Sebenarnya aku harus menunggu apa?" Ivy tak tahan lagi menunggu dalam ketegangan, meletakkan teh, sambil menghembuskan nafas yang sedari tadi seolah tertahan."Bersabarlah, sebentar lagi kau akan tahu." Matteo menarik Ivy mendekat, tapi tidak sampai dalam batas yang membuat Luigi dan Mauro harus keluar.Matteo tentu
"Akan aku lakukan." Claris akhirnya menjawab dengan kata setuju.Matteo menyeringai puas."Bagus. Aku ingin berita ini dimuat besok pagi. Terserah kau mau membuat berita itu dalam skala sebesar apa. Kau boleh mengontak semua kenalanmu, pastikan saja berita itu membesar dengan cepat. Mengerti?!" Matteo menjelaskan dengan lebih detail."Aku mengerti.""Good. Dan kau sekarang mempunyai alasan untuk tidak tidur, selain berpikir soal masa depanmu." Matteo mengakhiri panggilan itu dengan hinaan, lalu menyerahkan ponsel pada Luigi."Kirimkan video itu padanya. Juga katakan untuk mengirim narasi berita yang dibuat sebelum mengedarkannya. Aku ingin tahu apa yang dikatakannya.""Baik, Mr. Ranallo." Luigi melaksanakan perintah itu, dengan gerakan jempol cepat.Memanfaatkan Claris untuk mengatasi pembangkangan Greenwood sudah masuk dalam rencana B Matteo.Penolakan Greenwood sudah masuk dalam perkiraan. Rencananya masih berjalan tanpa terganggu. Hanya akan ada sedikit penyesuaian. Penyesuaian unt
Matteo menutup mata dan mendesis jengkel. Dia malas mengulang-ulang penjelasan.Luigi yang melihat itu, akhirnya mengambil alih. "Mr. DeFranco ingin agar anda mencabut pernyataan soal Ivy Adams adalah penipu, setan nafsu, dan lain sebagainya."Mata Greenwood mengedip dengan sangat cepat, menandakan dia akhirnya sedang berpikir. "Apa kalian gila?! Untuk apa aku melakukannya?! Ivy Adams sudah tamat. Dia bahkan tidak ada lagi di New York!"Matteo menahan keinginannya untuk menendang mulut busuk itu, karena teringat janji soal tidak ada darah. Tendangannya, paling tidak akan mematahkan hidung Greenwood, dan menumpahkan darah."Anda harus mempertimbangkan kemungkinan, jika apa yang terjadi sore hari ini tadi adalah sengaja." Luigi mengangkat ponsel dan menunjukkan video yang tadi dikirim ke ponselnya. Jika tadi hanya ada satu video, kini ada dua video bukti. Pria yang disewa Luigi, mengirim sisa adegan mereka yang dilakukan tanpa baju.Greenwood mengeluarkan suara seperti orang tercekik, s
"Apa kita harus membuat bar yang seperti ini, menjadi bagian dari Notte?" tanya Matteo, kepada ada Luigi yang sibuk memeriksa ponsel, menunggu kabar soal keadaan sasaran mereka.Saat ini mereka berada di bar. Tapi bukan bar biasa. Tapi gay bar, yang ada di salah satu pusat keramaian malam kota New York.Matteo sedang mempertimbangkan untuk membuka gay bar, karena melihat keramaian yang cukup lumayan sejak tadi. Dia hanya mempertimbangkan dari segi bisnis, bar itu tidak pernah sepi sejak tadi, dikunjungi oleh kaum pelangi, yang hampir semuanya pria.Matteo termasuk orang yang konservatif, jadi tidak menyangka jika tempat seperti itu bisa cukup ramai. Pribadinya sendiri tidak keberatan dengan gay. Hanya kadang dia kesal dengan sebutan itu, karena sering dipakai Leone untuk mengejeknya, sejak dulu."Notte sudah mempunyai dua bar seperti ini. Ada dibawah kekuasaan Leone saat ini, karena keluarga Leroy memutuskan untuk berpihak padanya," jelas Luigi."Oh? Kalau begitu tidak perlu. Aku mala
"Aku DeFranco. Kau sudah mendengar namaku tadi," jawab Matteo santai. Dia sedikit senang melihat Claris akhirnya merasa kesal."Aku tidak bertanya soal namamu, aku...""Aku tahu!" potong Matteo. "Dan nama memang bukan masalah utama saat ini. Yang menjadi masalah, adalah apa yang aku ketahui tentang dirimu.""Apa maksudmu?" Claris kini bingung."Aku tahu siapa yang kau tiduri untuk mendapatkan posisimu yang sekarang," ujar Matteo. Lugas dan jelas.Bibir Claris terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar. Terlalu terkejut."Kau dulu membuat sebaris kalimat berita jika Ivy tidur dengan seseorang yang memiliki jabatan penting di studio, sampai bisa mendapatkan posisi MC utama. Tapi bukan dia yang melakukannya, kau yang melakukannya. Kau sedang mengakui keburukanmu di hadapan umum dengan memakai nama Ivy," urai Matteo. Kini dengan menampilkan wajah jijik secara terang-terangan."What kind of bullshit is that?" (Omong kosong macam apa itu?)Claris memaki kasar. Menampakkan sedikit kepribadian
Matteo membaca detail file yang ada di ponsel Luigi sekali lagi. File wanita yang bernama McLaren itu.Matteo malas menyimpan info wanita semacam itu terlalu lama di dalam ingatan. Jadi sebisa mungkin, dia mengingat sesaat sebelum membutuhkannya saja. Karena itu Matteo datang sebelum waktu perjanjian. Ingin memastikan dia mengingat semua data.Matteo menyesap kopi cangkir keduanya dengan nikmat. Cafe itu menyajikan kopi yang nikmat. dan kudapan croissant yang dipesan Luigi juga cukup nikmat. Matteo menikmati keduanya, diantara kesibukannya mengingat.Luigi sengaja memilih lokasi cafe yang cukup terkenal dan mewah, di salah satu jalan besar New York sebagai tempat bertemu. Agar Claris lebih mudah terpancing. Cafe tempat yang akrab untuknya. Tingkat kewaspadaan target mereka akan menurun. Detail yang tidak perlu lagi diperintahkan Matteo. Luigi sudah menghafal dan memilih dengan tepat."Sepertinya dia akan sedikit terlambat," kata Luigi, sambil memeriksa arloji pada pergelangan tangannya







