Masuk
“Lepaskan aku!” berontak seorang perempuan bernama Moira, yang saat ini menolak pakaiannya dilucuti satu persatu dengan kasar, oleh seorang pria asing yang sama sekali tidak dikenalinya.
Lelaki bernama Julian, yang kini, sedang berusaha melancarkan aksinya di sebuah sofa di kamar hotel. Namun, Moira terus melakukan perlawanan.
“Jangan lakukan itu, aku mohon!” pinta Moira yang saat ini, masih menghindari Julian yang sedari tadi menatapnya dengan tatapan kotor.
“Wanita murahan sepertimu, tidak usah malu-malu. Ayo layani aku sekarang juga,” ucap Julian dengan tatapan mesum dan senyuman menjijikkan.
Moira merasa ditipu oleh Ares, ayah tirinya. Pria itu mengatakan, jika ingin melunasi hutang keluarga dan membiayai pengobatan keluarganya, yang kini telah mencapai ratusan juta. Ia harus bekerja di Kota.
Ares juga meyakinkan Moira, ia memiliki seorang teman yang bisa memberinya pekerjaan di Ibukota. Rupanya, teman yang dimaksud Ares, adalah seorang mucikari bernama Belinda.
Belinda awalnya mengatakan, akan memperkerjakan Moira sebagai pelayan di sebuah bar. Namun, kenyataannya dia ditipu dan malah diperkerjakan sebagai seorang wanita penghibur! Moira juga dipaksa memakai pakaian seksi, atas desakan Belinda yang kerap dipanggil Mamih oleh semua para penghibur di tempat itu.
Alasan Moira menerima tawaran pekerjaan itu, karena dia sedang membutuhkan uang yang sangat banyak, untuk biaya pengobatan adik perempuannya.
Moira yang merasa ditipu ketakutan dan sakit hati kepada ayah tiri dan Belinda. Sementara itu Julian menerkam tubuhnya, berusaha keras membawa ke pelukannya. Julian sangat liar dan berusaha mencium Moira. Namun, Moira bersikeras dan terus menerus melakukan penolakan. Karena Moira terus memberontak akhirnya Julian marah dan mengumpat dengan perkataan kasar.
“Dasar perempuan murahan! Beraninya kau menolakku. Aku sudah membayar mahal untuk malam ini,” bentak Julian marah. Dan tidak segan-segan menampar wajah Moira cukup keras “Kamu harus melayani aku, malam ini.”
Rasa takut saat ini berkecamuk di dalam benaknya. Selama ini, dia belum pernah bersentuhan dengan lelaki mana pun, dan ini adalah kali pertamanya. Yang ada di pikirannya saat ini, ia harus kabur bagaimanapun caranya. Moira ketakutan setengah mati. Keringat dinginnya kini sudah menyatu dengan tubuhnya.
“Lepaskan aku, aku mohon biarkan aku pergi!”
“Pergi katamu. Jangan mimpi, kamu harus membuatku puas.”
Alih-alih mendengarkan permohonan itu, Julian malah melepaskan kancing celananya. Saat Moira hendak berdiri dan berlari. Tangan Julian lebih cepat, menarik tubuh Moira dan membantingnya dengan kasar ke sofa.
“Perlihatkan padaku tubuhmu.” Julian menatapnya liar, membuat Moira semakin ketakutan.
Julian menarik paksa bagian depan pakaian Moira, dres seksi itu robek. Semakin memperlihatkan belahan dadanya yang indah. Moira terus melakukan perlawanan, dia membenturkan kepalanya ke kepala Julian. Mereka sama-sama merasakan kesakitan.
“Jalang sialan! Beraninya kau lakukan itu padaku.”
Manik mata Moira tertuju pada botol wine yang masih tersegel di atas meja, dengan cepat Moira berhasil meraih botol itu dan memukul kepala Julian sampai berdarah. Julian memegang kepalanya, kesakitan.
“Jalang sialan! Kemari, jangan kabur!” teriak Julian semakin marah, seraya memegangi kepala yang sudah berlumuran darah.
Moira berlari ke arah pintu, napasnya terengah-engah. Saat Moira hampir meraih tubuhnya kembali, di waktu yang sama pintu terbuka. Dan Julian, tergeletak tidak sadarkan diri. Moira sempat menoleh, dan memastikan Julian masih hidup atau sudah mati.
Saat tahu Julian masih bernapas, Moira merasa lega. Ia keluar dari kamar hotel, ketakutan. Peluh bercucuran bersama napas yang terengah-engah. Moira menutupi bagian dadanya, karena pakaiannya sobek.
Di waktu yang sama, kedua ajudan Julian yang berjaga tidak jauh dari kamar hotel, melihat Moira di lorong. Mereka pergi melihat Julian yang tidak sadarkan diri, dan langsung mengejar Moira.
“Hei, jangan lari!” teriak kedua ajudan itu.
Moira menoleh, lalu berlari menyusuri lorong kamar hotel, dengan napas terengah-engah, Moira berdiri di depan panel lift, menekan tombol turun. Lampu menyala merah.
Angka digital terus naik, 2,3,4,5,6, Moira yang ketakutan, akhirnya menekan tombol naik. Saat itu, suara dua orang ajudan itu terdengar semakin dekat dan menunjuk ke arah Moira.
“Cepat tangkap dia!”
Tepat saat itu, pintu lift terbuka di lantai 8, dengan langkah tergesa, Moira pun masuk dengan posisi mundur. Saat kedua pria itu berlari ke arah lift, lift sudah tertutup. Moira membungkuk lega.
“Syukurlah,” gumamnya pelan.
Namun, lift itu tidak membawa Moira turun, melainkan naik. Di waktu yang sama, ia mendengar suara seorang pria sedang mengerang seperti kesakitan. Moira yang terlambat menyadarinya menoleh.
Moira terkejut, ia menemukan sosok pria tampan terduduk lemas di lantai, napasnya tidak beraturan. Sementara itu angka digital terus naik dengan cepat ke atas.
“Nona, tolong aku!” ucap lelaki tampan itu, kesakitan.
“Tuan, apa Anda terluka?” tanya Moira mendekati hati-hati, mencoba melihat wajah pria yang kini menunduk merintih.
Di waktu yang sama, lift terbuka di lantai 18. Pria itu menyergap tangan Moira. Moira yang terkejut, masih dihantui perasaan takut. Berusaha melepaskan cekalannya, pria itu mengangkat wajahnya menatap Moira dari atas hingga ujung kaki.
“Nona, bantu aku keluar dari sini,” rintihnya. “Jangan takut! Tolong bantu aku.”
Suaranya, napasnya terdengar kesakitan. Tubuhnya terlihat lemah. Karena merasa kasihan, dan tidak berpikir panjang, akhirnya Moira membantu pria itu keluar dari lift.
“Pak, saya akan mencari bantuan.”
“Tidak. Jangan sampai orang lain melihatku dalam keadaan seperti ini.”
Sentuhan itu memercikkan api kehangatan pada tubuh pria tampan itu, tanpa Moira sadari, pria itu memperhatikan bagian tubuhnya yang terbuka, tepatnya di bagian dada. Pria asing itu berusaha keras menahan hasratnya, hingga mereka tiba di kamar 1820.
Moira membantunya masuk ke dalam kamar hotel. Tubuhnya tidak hanya lemah, napasnya semakin kacau. Pria itu menjatuhkan kepalanya kepada pundak Moira. Suhu tubuhnya tinggi.
‘Sebenarnya, dia kenapa? Kenapa tubuhnya, sangat panas,’ ucap Moira dalam hati.
Degan hati-hati Moira menurunkannya di atas tempat tidur. Pria tampan itu duduk di tempat tidur, ia sempat mengangkat wajahnya dan menatap wajah Moira yang kusut, tatapannya matanya seperti seorang predator! Kemolekan tubuh Moira yang berbalutkan pakaian seksi, serta bagian belahan dada yang terbuka. Membuat pria itu, semakin terangsang dan tidak bisa lagi menunggu lama.
Ia dapat merasakan miliknya semakin menegang, menyakitkan dan tidak tahan lagi.
“Pak, kalau begitu saya pamit!” kata Moira.
Tiba-tiba, pria asing itu, dengan cepat menarik tangan Moira. Hingga Moira terduduk di atas pangkuan pria itu. Pria itu berbisik pelan di telinga Moira.
“Tidur denganku, dan puaskan aku,” ucapnya, seraya melumat telinga Moira.
Permintaan Sebastian membuatnya terkejut.“Apa?”“Kenapa kamu tidak mau?”“Bisakah kamu meminta yang lain?”Sebastian tersenyum miring. “Apa sebegitu berharganya dia, sampai tidak ingin melepaskannya? Oh karena dia malaikat pelindungmu? Sedangkan aku iblis!”Moira tertegun. Suaranya tercekat.“Setiap bersamaku, kamu terlihat tidak senang. Berbeda sekali tidak seperti saat kamu berada di sisi Christopher, kamu tidak pernah tersenyum untukku Moira.”Moira hanya menatap Sebastian, ia enggan menjawabnya. “Atau jangan-jangan kamu memang menyukai Christopher?” tanyanya ketus.Moira mendesah pelan.“Saat bersamamu, aku merasa berada di dunia yang berbeda. Awalnya aku pikir aku memahamimu. Tetapi, semakin aku mengenalmu ... ternyata aku sama sekali tidak memahamimu. Jujur saja, terkadang aku tidak suka cara bicaramu yang terkesan merendahkanku.”Moira mengunci kedua tangannya. “Terkadang aku merasa takut saat bersamamu, Sebastian. Aku tidak bisa mengerti, kenapa kamu seperti ini terhadapku? K
Moira terkejut. Sebastian menurunkannya di atas tempat tidur dengan hati-hati.“Aku harus pulang. Aku tidak mau tinggal di sini.”“Jika kamu tetap di sini dan patuh, aku akan membayarmu.”Moira tercengang menatap tajam Sebastian. Ia memang sedang membutuhkan uang, tetapi tidak seperti ini caranya. Di satu sisi dirinya harus segera melunasi hutang. Hari ini tepat satu minggu, tetapi Moira tidak dapat melunasi hutang itu.Moira yang duduk di tempat tidur menangis secara tiba-tiba. Sebastian yang berdiri memperhatikannya menatap Moira heran. Ia belum pernah melihat Moira menangis seperti ini. Sebastian berjongkok tepat di depannya.“Ada apa, kenapa kamu menangis. Apa ada yang sakit?”Tangis Moira semakin pecah. Moira tidak tahu harus berbicara apa pada ibunya. Bagaimana kalau rentenir membuat masalah di rumah sakit. Sementara ayah tirinya sudah melarikan diri, bagaimana kalau ibunya kenapa-kenapa? Bagaimana kalau adiknya tidak terselamatkan?“Aku tidak tahu harus bagaimana lagi,” gumamny
“Belle,” panggil Chris memegang tangan Moira.Moira menoleh menatap Christopher.“Aku ingin istirahat, kamu juga harus banyak istirahat supaya cepat pulih.”Moira mengangguk. “Chris, kamu harus segera pulih. Aku akan menjengukmu lagi besok.”Setelah itu Moira kembali ke kamarnya diantar oleh perawat. Sebastian ikut pergi, dia sama sekali tidak menatap Sebastian. Wajahnya masih saja dingin, sedingin es.Saat Sebastian masuk ke dalam kamar rawat Moira, ia melihat Moira sedang berusaha naik ke atas ranjang dibantu suster. Sebastian menghampiri dan meminta perawat meninggalkan mereka berdua.“Aku ingin tidur.” Moira menundukkan wajahnya.“Kamu masih kesal soal yang kemarin?” tanya Sebastian tiba-tiba.Moira menatap Sebastian, kali ini tatapan Sebastian tidak lagi sedingin tadi.“Kamu membunuhnya Bastian. Meskipun dia sudah menculikku, tidak seharusnya kamu membunuh. Ini nyawa manusia, bukan nyawa binatang.”“Dia sudah mati,” balasnya. ”Sekarang kamu ingin aku bagaimana?”Sebastian menatap
Sebastian menghampiri, tanpa sepatah kata. Ia memeluk tubuh Moira yang gemetar.“Lepaskan aku, jangan sentuh aku.”Namun, Sebastian semakin memeluknya erat. Tidak peduli, meskipun Moira meronta-ronta dan takut padanya. Saat itu juga, Moira kehilangan kesadaran.Sebastian menatap wajah letih Moira, ia menyentuh dahi Moira yang berkeringat.“Maaf, membuatmu melihat semua ini.”Sementara itu, orang-orang Sebastian sudah berhasil mengalahkan orang-orang suruhan istri Julian. Sebastian meraih tubuh Moira dan memangkunya. Sebelum dia pergi, dia sempat melirik ke arah Christopher yang tergeletak di lantai.“Bawa dia ke rumah sakit,” ucap Sebastian kepada ajudannya. “Sisanya bereskan dengan rapi.”“Baik Tuan.”Sebastian mengayunkan kakinya membawa Moira keluar gedung. Dan dengan hati-hati menurunkan Moira di dalam mobil, saat itu juga Sebastian membawa Moira dan Christopher di mobil yang berbeda menuju rumah sakit untuk diperiksa lebih lanjut.***Dua hari berlalu begitu saja. Perlahan Moira
Istri Julian terkejut. Wajahnya mendadak pucat.“Apa dia datang sendiri?”“Saya melihatnya sendiri, dan sedang melawan orang kita di bawah.”“Cek lagi. Pastikan dia datang sendiri, tanpa bantuan.”Pria itu langsung pergi mengeceknya. Moira yang mendengar itu bertanya-tanya apakah seseorang datang menolong mereka?“Nyonya, tolong lepaskan kami,” pinta Moira terisak.BRUG!Pria yang sebelumnya diminta oleh istri Julian mengecek kondisi di luar, tersungkur ke belakang. Pria itu memegang perut dan hendak bangkit. Orang-orang yang semula memukul Christopher, kini menghentikan aksinya menatap lurus ke depan. Istri Julian cemas.Sosok Sebastian perlahan muncul. Sorot matanya dingin dan tajam. Mereka ketakutan, karena Sebastian benar-benar datang. Christopher menyentuh wajah Moira, tatapannya sendu.“Kamu baik-baik saja?”Air mata Moira semakin deras. “Maaf! Maafkan aku, Chris!”Christopher menggelengkan kepala. Memeluk Moira. “Jangan menangis, aku baik-baik saja.”Moira tahu itu bohong. Waja
Moira melihat istri Julian gugup. Jelas ia tahu, Christopher bukanlah orang biasa. Namun, tetap menantangnya. Istri Julian kembali menjambak rambut Moira, tanpa perasaan. Chris melihat wajah Moira pucat.“Beritahu orangmu untuk melepaskan Belle sekarang. Atau kamu menyesal!” seru Christopher marah. “Menyakiti dia, sama mencari masalah denganku!” bentak Chris.Istri Julian menarik semakin erat rambut Moira.“Aku sudah melangkah sejauh ini. Aku tidak bisa kembali, sekarang aku sudah tidak takut lagi menyinggungmu Tuan Christopher. Tidak peduli sekalipun kamu mengancamku, aku tidak akan melepaskan perempuan ini. Sekalipun harus berakhir di sini, kalian harus ikut bersamaku.”Tekad istri Julian sangat kuat. Christopher mengepal tangan karena marah“Aku pinta padamu sekali lagi, tolong lepaskan Belle sebelum kamu menyesal!”“Tidak akan pernah.”Moira melirik istri Julian. “Nyonya semua ini hanyalah kesalahpahaman. Tolong percaya padaku sekali saja.”Istri Julian mengabaikannya. Ia lebih t







