LOGINSiksaan datang silih berganti dari suami sahku hingga aku tidak tahan lagi dan terlelap. Aku terbangun sudah di tempat yang tidak aku kenal. Apa yang terjadi tidak membuatku takut, pria yang menjadi tunanganku kali ini adalah seorang pengusaha kaya dengan segala perhatian yang nyata tidak seperti suamiku dalam dunia kerajaan. Akan tetapi satu rahasia yang belum terungkap pada masa itu, ternyata ikut terbawa dalam duniaku saat ini bahkan kebisuanku pun terbawa. Masalah yang sama harus kuhadapi dan berjuang untuk mendapatkan informasi mengenai kematian ibu dari pemilik tubuh ini. Semua yang terjadi tidak bisa aku hindari. Kebisuanku masih membelengguku di dunia modern. Mungkinkah dengan kebisuanku ini semua bisa kuungkap?
View MoreAku menatap dingin dan datar pada kedua pria itu, tanganku mengepal kuat, lalu menghempaskan kanvas yang telah selesai. Mereka tidak heran, tetapi justru tertawa puas. Tubuhku bergetar akibat menahan emosi yang berlebih."Apakah seorang bisu bisa marah? Semakin kau emosi maka akan semakin seru," kata Andrean, "Benarkan, Kawan?""Aku masih ingat jelas, kulitmu begitu lembut dan halus. Saat mendapat sentuhan begitu liar, dengan cepat belajar.""Bangsat!" Suaraku keluar, serak dan terluka.Apa yang terjadi membuat mereka berempat saling tatap, "Apa kalian mendengar suaranya?" "Ini makin menggairahkan, Stepan."Mereka terus melangkah maju, aku melangkah mundur mencari celah dan tempat sedikit luas agar memudahkan aku bergerak."Mau kemana, Bisu. Ayo, keluarkan suara merdumu itu!"Mereka terus menekanku, mendekat lalu mengulurkan tangannya bersamaan meraih lenganku untuk mengunci. Dengan sigap kutangkis gerakan itu lalu membuat tendangan ringan mempertahankan diri. Mereka terhenyak kaget,
Sejak kejadian di Mall itu, aku sering menghindar untuk bertemu Ortega. Identitas yang tidak biasa sedikit terungkap, dia adalah paman dari Sagara. Namun, sentuhan malam itu sangat membekas dalam ingatanku."Apa aku salah jika mereguk manisnya cinta pria senja? Dia begitu lembut dan penuh perhatian.""Apa dosa senantiasa hadir untuk cinta beda usia? Ya Tuhan," ujarku lirih sambil menatap riak air danau tersapu angin.Cukup lama aku berdiri di tepi danau, suasana yang sejuk mampu melupakan kisahku meskipun sesaat. Di sini kuberanikan diri untuk memulai melukis, satu kebiasaan masa silam sebagai seorang putri kerajaan.Dengan melukis, sedikit banyak bisa mengurangi rasa rinduku pada duniaku yang dulu. Iya, meskipun aku terlempar ke dunia lain tidak merubah ingatan dan keahlianku masa itu.Dunia ini terasa lebih panas dari kota Blambangan, berdiri di sini hanya beberapa saat saja sudah membuat kulitku terbakar. Namun, ingatan pemilik tubuh mengharuskan aku datang ke tempat ini. Mungkinka
Tubuhku dihentak dengan kasar oleh wanita itu, aku hanya melotot tidak terima dengan perlakuannya. Dengan berani kubalas mendorongnya tetapi lebih keras hingga membuat tubuhnya jatuh. Tiba-tiba ia menangis seolah teraniaya olehku."Gendhis, apa-apaan kau ini." Suara ini seperti milik Sagara, aku mengulum senyum tipis. Sekarang aku paham, mengapa Aurel mencebikkan bibirnya. Ternyata ia telah melihat kehadiran Sagara. Dengan cepat pria itu menolong Aurel untuk bangkit lalu memeriksa keadaannya dan berbalik menghadap ."Apa?'' tanyaku sesuai keadaanku."Mengapa kau jadi kasar seperti ini. Mana Gendhis ku dulu yang lembut dan bersahaja?" tanyanya sambil menatapku tajam.Aku menyeringai sinis, kukibaskan tanganku seolah tidak mau mengerti dengan kalimatnya itu. Dengan malas kutinggalkan kedua pengkhianat itu. Namun, baru beberapa langkah namaku dipanggil keras oleh Sagara. Ini membuatku berbalik badan."Ayolah, Gendhis. Sebaiknya kau kembali padaku, lihatlah penampilanmu itu?"Aku menga
"Hem, sudah bangun? Selamat pagi, Nyonya Ortega," sapanya saat kubuka mata.Aku tersenyum dan tentunya pipiku pasti berubah warna. Kugeser tubuhku sedikit menjauh melepaskan dari pelukannya, tetapi lengannya kembali menarik tubuhku masuk dalam pelukannya."Tunggu lima menit lagi, diamlah dalam pelukku. Jangan bergerak!"Aku terpaku, merasakan kehangatan tubuhnya yang polos. Akhirnya kubenamkan kepala ini dalam dekap dada bidang itu. Detak jantungnya terdengar begitu teratur bagai musik yang menenangkan pikiranku."Maafkan aku yang telah membawa Anda dalam masalah hidupku, Tuan Ortega," kataku saat kedua matanya menatapku hangat.Pria itu tersenyum padaku, ia membenarkan surai rambutku yang berantakan hingga menutupi sebagian wajahku. Lalu wajahnya mendekat, perlahan kurasakan hangat dan lembut bibirnya menyentuh bibirku. Deru napasnya yang panas kembali membangunkan gairahku."Baiklah, aku akan bersiap ke kantor lebih dulu. Jangan lupa sarapan sebelum kau pergi," katanya tiba-tiba sam






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.