Mag-log inSiksaan datang silih berganti dari suami sahku hingga aku tidak tahan lagi dan terlelap. Aku terbangun sudah di tempat yang tidak aku kenal. Apa yang terjadi tidak membuatku takut, pria yang menjadi tunanganku kali ini adalah seorang pengusaha kaya dengan segala perhatian yang nyata tidak seperti suamiku dalam dunia kerajaan. Akan tetapi satu rahasia yang belum terungkap pada masa itu, ternyata ikut terbawa dalam duniaku saat ini bahkan kebisuanku pun terbawa. Masalah yang sama harus kuhadapi dan berjuang untuk mendapatkan informasi mengenai kematian ibu dari pemilik tubuh ini. Semua yang terjadi tidak bisa aku hindari. Kebisuanku masih membelengguku di dunia modern. Mungkinkah dengan kebisuanku ini semua bisa kuungkap?
view more"Dasar wanita tak tau diuntung. Sudah bisu tidak mampu melayani suami. Apa yang kau bisa, Gendhis?" Suara keras pangeran menggema di telingaku.
Angin sore yang sejuk seakan tidak mampu menolongku dari setiap hinaan dan cacian suami sah yang baru sebulan. Aku tidak bisa menjawab setiap amarah yang terucap dari bibir itu. "Jangan salahkan aku jika kau kumadu, andai semua tidak terjadi mungkin hidupku tidak akan se-sial ini." Pangeran Anusapati terus mengeluh tentang hidupnya setelah menikahi aku. "Tak peduli apa identitasmu, esok atau nanti kau hanya pelayanku yang setia menemani aku dalam segala hal." Seketika aku terhenyak kaget saat lengannya terulur meraih daguku, kemudian ditarik ke atas. Tatapannya begitu tajam menekanku. "Aku jijik dengan tubuhmu yang sudah ternoda itu." Hardik nya sambil menghempaskan daguku. Aku menggeleng menolak apa yang dituduhkan oleh suamiku, tanganku bergerak menggunakan bahasa isyarat menyatakan jika kejadian malam pengantin itu bukan kehendakku. Namun, Pangeran Anusapati tidak terima. Dengan kasar lenganku ditarik hingga merobek jubah tidurku menampilkan tulang selangkaku, sekilas kulihat pria ini menelan air liurnya. Ini kesempatan bagiku. Dengan kasar kusingkap jubah tipis hingga memperlihatkan lengan atas, seketika wajah suamiku memerah. Ia mendengus kasar, kemudian menghentak tubuhku cukup keras. "Aku tidak peduli!" Usai berkata kasar pria itu melangkah meninggalkan aku dalam keadaan terkoyak, sungguh kejadian yang tidak pernah kuinginkan saat itu. Aku seorang putri bisu bisa-bisanya masuk ke dalam kamar pengantin yang salah. Seolah keadaanku dimanfaatkan oleh seseorang, entah aku sendiri tidak mengerti. Saat itu, aku dibawa dayang masuk ke kamar yang diatur sebagai kamar pengantin. Aku diam duduk di tepi ranjang. Beberapa saat kemudian pintu terbuka tergesa seakan seseorang sedang dalam pengejaran. Napasnya terdengar terengah, mungkinkah seseorang itu habis berlari jauh, aku pun tidak mengerti. "Jangan bersuara!" Suaranya begitu kuat dan dingin sedingin benda tajam yang menempel di leherku. Malam itu, dengan segala upayaku akhirnya bahaya terlewat. Namun, sungguh disayangkan kejadian yang tidak kumengerti justru membuat pernikahanku hancur. Setitik noda merah yang kuanggap sepele menjadi bumerang dalam hidupku. Hingga malam tiba, Pangeran Anusapati tidak kembali ke kamar membuatku duduk diam menunggu kepulangannya. Walau bagaimanapun pria itu adalah suamiku yang harus kujaga kehormatannya. Pintu terbuka menampilkan Pangeran Anusapati masuk dengan dipapah seorang wanita cantik. Kejadian seperti ini sudah biasa terjadi tiap malam, bahkan selalu berganti wanita dan pulang dalam keadaan mabuk. Aku hanya mendengus lirih. Pintu pun kubuka perlahan, suamiku memeluk posesif wanita baru yang kutahu bernama Zakia. Wanita yang kesekian menemani pangeran pulang, aku tersenyum ringan. "Jangan tinggalkan aku, Zakia!" Suara Pangeran Anusapati terdengar begitu memohon membuat pandangan wanita itu berpaling ke arahku. Aku tersenyum miris, suami sah ku sendiri meminta wanita lain di depanku seakan aku tidak ada harganya. Namun, dengan tegas kuanggukkan kepala membuat mata Zakia membulat tidak mengerti. "Aku harus kembali ke tempat Nyai Dasima, Pangeran. Di sini sudah ada Putri Gendhis yang akan menemani Anda," kata Wanita itu. "Jangan pedulikan wanita sialan itu, malam ini kau layani aku sampai pagi. Paham?" Sekali lagi wanita itu menatapku, sorot matanya penuh tanya meminta ijinku. Aku tak berdaya, terpaksa kuanggukkan lagi sambil mengulum senyum paksa untuk menyetujui permintaan suamiku. Usai membantu Zakia membawa tubuh Pangeran, aku berbalik hendak melangkah keluar kamar. Namun, suara pria itu menghentikan langkahku. "Berhenti!" "Apa yang Anda inginkan, Pangeran?' tanyaku dengan kemampuanku yang bisu setelah menghadapnya. Bukannya aku tak menghormati posisi Pangeran yang menempel pada nama pria itu, melainkan mata ini tak sanggup melihat kemesraan yang terjadi antara mereka berdua. Namun, semua harus kutelan paksa demi satu tujuan. "Duduk di sana, jangan pergi! Kau harus lihat apa yang kulakukan dengan wanitaku." Perintahnya bersifat mutlak buatku, jika semua tak kulakukan maka hukuman pasti mendarat pada punggungku. Sakit ini terus aku tahan, meskipun kedua mata terasa pedih harus tetap terjaga hingga semua selesai. Desahan demi desahan kenikmatan penyatuan dua raga berbeda jenis itu menggaung di telingaku. Ranjang kayu bergoyang terkadang mengeluarkan suara derit yang keras membuatku menutup telinga. "Hai, buka telingamu!" bentaknya sambil mencumbu leher jenjang Zakia Seketika aku terhenyak kaget, kedua mataku terbuka kembali melihat pernyatuan mereka berdua. Sakit, ini lebih sakit daripada dicambuk, tetapi aku tak bisa berbuat lebih hanya melihat pergerakan lembut mereka berdua. Wanita itu terlihat berkeringat, sesekali jemari panjangnya mengusap peluh yang mengalir di pelipisnya. Aku menunduk dalam. Satu bulan tubuh pria itu sama sekali tidak kusentuh, kini aku harus melihat wanita lain bermain liar di atas tubuh itu. "Pangeran, ini lebihi nikmat daripada di paviliun Nyai Dasima. Sungguh Anda sangat hebat," kata Zakia membuat tanganku mengepal kuat mencengkeram sandaran lengan pada kursi kayu. "Putri, kau harus merasakan ini. Ough. Nikmat sekali, Putri." Gila, kegilaan yang hampir setiap malam aku lihat dan dengar. Ingin aku berteriak, menebaskan pedangku pada leher pria tersebut tetapi semua dendamku belum tuntas. Seketika kututup lagi telingaku saat lengkingan yang kedua kali kembali melengkung kuat. Sungguh ini sangat membuatku gila, suamiku sendiri menggauli wanita lain tepat di depanku. Entah mengapa semua begitu cepat terjadi, hingga tanpa sadar keduanya telah berdiri di depanku menatapku penuh dengan kepuasan terutama Pangeran Anusapati. Bibir tipisnya begitu menggoda menebar racun yang menempel pada setiap kulit Zakia dan meninggalkan jejak disana. "Apakah kau puas, Zakia?" tanya suamiku sambil mencium bibir merah delima wanita itu. "Pangeran, Anda sangat buas hingga tak kau biarkan tubuhku terlepas dari senjatamu. Lihatlah, hampir setiap jengkal tubuh ini kau beri tanda," papar Zakia dengan melihat ke arahku seakan ia memamerkan hasil karya suamiku. "Tuangkan minuman itu untukku dan Zakia, Gendhis!" Aku termangu, menatap tidak percaya pada kalimat yang meluncur dari mulut suamiku sendiri. Aku yang istri sah bahkan calon permaisuri harus melayani wanita penghibur. Sungguh keadaan yang membuatku ingin memberontak. "Hai, cepat!" Dengan gemetaran kulakukan saja perintah gila itu, lalu kuhidangkan dengan kasar. Aku kembali duduk di kursi menghadap keduanya. Rasanya kepalaku ingin pecah, mataku ingin buta agar aku terbebas dari siksaan ini. Mereka berdua kembali menyatu meskipun dengan posisi duduk. Aku tidak sanggup lagi, tubuhku tak mampu lagi menahan semua gejolak rasa yang menghantam seluruh raga dan rohani. Akhirnya aku terkulai di atas meja. Udara hangat menerpa wajahku membuat kesadaranku kembali, aku bangun dan duduk di tepian ranjang yang lain. Ini membuatku berpikir apa yang sebenarnya terjadi hingga aku berada di tempat yang berbeda. "Bukankah semalam aku masih berada di kamar itu, lalu mengapa bisa sampai di sini?" lirihku. Perlahan aku bangkit dan berjalan menuju ke jendela, "Ini bukan istana Balai Kambang, lalu dimana aku?" "Kau sudah bangun?"Dayang pribadiku telah kembali dan menyentuh lenganku lembut. Aku menoleh melihat ke arahnya dan dia mengulurkan beberapa buku padaku. Kuanggukkan kepala ringan, aku membungkuk sesaat sebelum melangkah menuju ke hadapan ibu suri.Sebelum mengucapkan sepatah kata, aku tersenyum lebih dulu. Kemudian, tanganku kusodorkan apa yang ada di tanganku. "Silakan Ibu Suri baca sendiri apa yang aku temukan selama ini!"Sudut mata ibu Suri menyipit memberi kode pada pelayan setianya untuk mengambil benda yang aku sodorkan itu. Kulihat wajahnya berubah saat membaca lembar demi lembar catatan tersebut. Hingga beberapa saat tidak ada suara dari bibirnya sampai pada lipatan ke empat barulah kepalanya terangkat dan menatapku menyipit."Bagaimana, Ibu Suri?" tanyaku."Darimana kau dapatkan semua ini, tidak mungkin putraku yang berbuat semua kesalahan. Pasti kau yang merekayasa," kilah Ibu Suri.Aku tertawa ringan, "Mana ada aku yang berbuat seperti itu. Semua sudah terbukti jelas di sana, itu bukan rek
Sesaat aku melupakan jika di istana ini suaraku belum terungkap, tetapi tanpa sadar bibirku bergerak h hingga menghasilkan suara itu. Untung mereka masih Belum sadar bahwa aku tadi mengeluarkan suara. Aku sedikit lega. Namun, hanya sesaat. Ibu Suri tiba-tiba berpaling menatapku tajam dengan kerumitan di dahinya."Sejak kapan kau bisa bersuara, Putri Gendhis?''Pertanyaan permaisuri membuatku termangu seperti orang bingung, tetapi dengan cepat pelayanku menyenggol lenganku hingga akhirnya suaraku kembali keluar terbata. "Ini kebetulan saja, I-ibu Su-suri.""Ada apa dengan suaramu? bukankah tadi begitu lancar bertanya. Apa sebenarnya yang sedang klau rencanakan, Putri?"Aku mendengus lirih, lalu menarik napas panjang. Kutatap lagi permaisuri itu, baru aku tersenyum simpul."Apa kau tahu mengapa kau dihadirkan di sini?"Aku menggeleng, "Tidak."Dengan jelas permaisuri menjelaskan semua padaku. Di sini aku dihadirkan karena beberapa hal yang terjadi selama aku berada di istana. Ada bukti
Udara terasa sangat dingin menyentuh kulitku hingga memaksaku untuk membuka mata. Ada yang aneh pada tubuhku, dada terasa berat seakan sedang ditimpa oleh benda. Kualihkan pandanganku ke dadaku, saat itu juga kedua mataku membola.Kupejamkan mata kembali untuk mengingat kejadian semalam. Kubungkam mulutku saat ingatan itu kembali memutar kejadian pagi tadi hingga malam. "Kau menggodaku?"Seketika tubuhku sudah berada dalam kungkungan Samuel Ortega, pria itu tidak melepaskanku hingga aku terpaksa menggigit bibirnya.Bukannya melepaskan tubuhku, dia justru makin menggila. Kepalanya bergerak turun ke leher dengan salah satu tangannya mencengkeram kedua pergelangan tanganku ke atas kepala.Aku terkunci tidak dapat bergerak leluasa, tetapi setiap sentuhan bibirnya mampu membuat tubuhku bereaksi lebih. Bak cacing kepanasan, tubuhku menggeliat ke samping kanan dan kiri.Gerakan ini makin membuat Ortega bergairah."Teruslah bergerak, Gendhis, maka aku akan menggila bersama tubuhmu," kata Ort
Perlahan aku berbalik arah, kembali masuk ke dalam tetapi sebelumnya kulayangkan tatapan tajam ke arah Sandiago. Pria berwajah datar itu hanya mengangguk kecil tanpa kata. Ku acungkan jari tengahku ke arahnya dengan decihan kuat, barulah aku melangkah masuk.Pandanganku langsung tertangkap oleh dua mata elang milik Ortega, rupanya pria itu sudah menungguku dengan sebatang rokok terjepit di sela jarinya. Aku mengulum senyum santai dengan langkah yang sengaja kubuat seanggun mungkin."Duduk!" perintahnya dingin dan datar.Dari tatapannya sudah bisa kutebak bahwa hatinya sedang dalam keadaan tidak baik. Aku mendengus kasar, lalu kuhempaskan berat tubuhku di tepi ranjang yang menghadap ke arahnya. "Ada apa lagi, Paman?"Kedua mata pria itu seketika membulat saat kata paman kusebut dengan nada datar. Dahiku berkerut melihat reaksinya itu."Siapa yang kau sebut paman di sini, Hem?"Aku seketika terkikik sambil menutup mulutku, sungguh aneh. Hanya ada aku dan dia yang ada di kamar ini, rasan
Sial, wanita tua itu mulai berani menekanku. Apakah dia lupa bahwa tanpa ku tidak akan ada status permaisuri yang tersemat di belakang namanya. Sungguh ini bukan seperti inginku saat pertama kali memasuki istana Balai Kambang, apalagi saat ini suami yang seharusnya membelaku justru membawaku dalam
Akhirnya senopati itu duduk satu meja denganku, dia ingin ikut aku sarapan dan bodohnya dayangku justru mempersilakan pria itu untuk sarapan bersamaku. Aku melotot ringan pada pelayanku itu.'Maaf, Putri,' kata pelayanku dengan nada sangat rendah.Aku hanya menyeringai tipis, "Tinggalkan kami!"Day
"Kau gila, bagaimana bisa aku berbagi peluh dengan wanita jalang itu," decakku tajam dengan kedua mata melotot pada Siska.Wanita itu tidak ada rasa takut sama sekali dengan sikapku, tetapi justru tertawa terbahak melihatku seperti kebakaran jenggot."Apa kau lupa, semua harta yang didapatnya hasi
Seketika kedua mata Sagara membulat sambil kepalanya menggeleng menolak tuduhanku itu, tetapi aku tidak percaya dengan sanggahannya. Kucoba melawan gerakannya yang makin kuat mencengkeram pergelangan tanganku. Namun, apapun yang kucoba tetap tidak berhasil.Sementara di depanku Aurel terus berbicar






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.