Share

Masih Perawan

Penulis: Caramelly
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-19 17:07:08

Mata Moira melebar, dan cemas. Degup jantungnya seperti genderang yang akan perang. Tiba-tiba di mendapatkan tawaran yang menggiurkan di saat dia memang sangat butuh uang yang banyak.

“Akan kuberi uang sebanyak 200 juta. Puaskan aku, sekarang ... aku tidak bisa menahannya lagi!” bisiknya, yang kini sudah mengecup tengkuk Moira, rasa panas tiba-tiba menguasai tubuhnya. Matanya melebar dan mencoba melepaskan diri.

Namun, pria itu, dengan cepat memutar keadaan dan membuat tubuh Moira berada di bawah tubuhnya. Kedua tangannya terkunci. Pria asing itu menciumnya dengan sangat rakus, membuat Moira tidak bisa bernapas.

“Tuan ... tolong jangan begini,” kata Moira, matanya berkaca-kaca.

Pria di depannya melihat pakaian Moira yang sudah tersobek tepat bagian dada, memperlihatkan bagian yang terbentuk padat. Napas pria itu memburu, semakin kesakitan.

“Nona, aku mohon! Aku sudah tidak bisa menahannya lagi. 300 juta apa sudah cukup?” tanya pria itu hendak mencium bibir Moira. Moira membeku, 300 juta bukan uang yang sedikit. Karena tidak ada jawaban dari Moira akhirnya pria itu, kembali melanjutkan perkataannya. “500 juta, tidak ada penawaran lagi.”

Moira meneguk salivanya, matanya melebar. Sebelum dia menjawab, bibir pria itu sudah lebih dulu memagutnya dengan sangat lembut dan hangat. Merobek bagian depan pakaian Moira, memperlihatkan keindahannya yang belum pernah terjamah.

Cup! Tanpa basa-basi pria itu mengecupnya. Moira membelalak. Ia terjebak dalam belenggu pria asing itu. Mengingat nominal yang pria itu sebutkan, tanpa pikir panjang lagi Moira menyerahkan tubuhnya. Walaupun ada rasa tidak dalam hati kecilnya.

Pria itu melucuti pakaian Moira. Moira gelisah dan nyaris tidak percaya. Namun, pria itu sudah tidak dapat lagi menahan hasrat bercintanya yang menggebu.

“Jangan menolak, aku berjanji akan memberikan kamu uang. Tapi, kau harus memuaskan aku malam ini.”

Tubuh Moira gemetar. Ia tidak berontak, mengingat kembali bahwa dia memang membutuhkan uang yang sangat banyak. Terlebih lelaki itu menjanjikan uang sebanyak 500 juta. Moira kini, memejamkan matanya dan menyerahkan tubuhnya malam itu kepada lelaki yang bahkan tidak dia kenali.

Moira sama sekali tidak menyangka, setelah lolos dari pria hidung belang. Dia malah masuk ke kandang singa, di saat yang sama ada rasa cemas. Takut pria asing itu mengingkari janjinya.

Pria itu, menciumnya dengan kasar, menggigitnya dan menariknya. Ia mencium Moira semakin dalam, di waktu yang sama, ia semakin merasa kehausan, hasrat lelaki itu seperti percikan api yang semakin berkobar dan tidak bisa padam. Dia memberikan kecupan bertubi-tubi di dada Moira. Dia tidak tahan lagi, lalu mengecup lagi bibir Moira dan langsung membuka celananya hingga menyisakan pakaian bagian atas miliknya.

Tak ingin membuang waktu, lelaki itu juga langsung menekan miliknya, dengan kasar tak peduli orang di bawahnya merintih kesakitan! Moira memejamkan matanya, air matanya menetes malam itu. Lelaki itu, mengunci bibirnya bersama desahan yang hebat.

Moira merasakan seperti urat-urat di tubuhnya terputus.Pria itu sedikit kesulitan, tetapi ia terus menerus menekan miliknya dengan sangat kuat. Moira meremas seperai.

‘Sakit! Ini sangat menyakitkan!’ ucap hati Moira, dengan mulut yang telah dikunci oleh lelaki yang saat ini mendominasi tubuhnya.

Tidak ada kelembutan dari pria itu, dorongan kuat miliknya seperti gempa bumi yang hebat. Moira tidak tahan lagi, dia menjerit mendesah dan hanya bisa pasrah. Ketika melihat pria asing itu seperti kelaparan dan seakan ingin memakan tubuhnya hingga habis dan tidak tersisa.

‘Aaah! Ini, sangat enak!” desah pria itu, seraya menggoyangkan pinggulnya dengan cepat, sembari memainkan keindahan di depan matanya. Menariknya, menekannya membuat Moira mendesis kesakitan.

Moira tidak berani membuka matanya, bahkan saat ketika lelaki itu menjamah tubuhnya dengan brutal, juga membabi buta tubuhnya. Tidak peduli, ia kesakitan. Moira yang tidak punya pengalaman dalam hubungan sex, benar-benar terkesima.

Namun, seiring waktu, perlahan ia mendesah pelan. Wajahnya merah, ia merasa malu. Seumur hidupnya ini pertama kali baginya, merasakan perasaan seperti ini. Semua rasa yang ia rasakan begitu bercampur aduk.

“T—tolong pelan sedikit!” desahnya.

Namun, pria asing itu sama sekali tidak mengindahkan ucapannya. Ia semakin menggila, tubuh Moira gemetar Hebat bersama rasa yang asing yang bahkan sulit ia jelaskan.

“Aaaahhh!”

Pria itu semakin mempercepat lajunya, membuat Moira mengerang dalam perasaan hangat. Perlahan Moira akhirnya membuka matanya, melihat wajah tampan di depannya. Lalu di sambut dengan ciuman panas yang mampu mengguncangkan tubuhnya, terasa menarik ke akar-akar tubuhnya.

Di tengah kehangatan dan kelegaannya, pria itu yang masih berada dalam puncak gairah menyadari kalau Moira masih perawan. Lelaki itu, sempat menghentikan aksinya dan membelai wajah Moira.

Mata mereka saling bertemu, tangannya mengelus wajah yang sudah basah oleh air mata. Pria itu tidak berbicara, hanya menatapnya seakan lembut dan kembali menggoyangkan pinggulnya namun, tidak sekasar saat pertama. Pria itu melumat bibir Moira dengan lembut.

‘Ternyata dia masih perawan?!’

Pria itu menarik miliknya, lalu dan menarik tubuh Moira membuat tubuhnya memunggungi pria itu. Dengan kecepatan yang begitu kuat, pria asing itu menekan kembali miliknya seraya memegangi tangan Moira.

Tidak sampai di situ, dia juga meremas bokong Moira. Sesekali ia memukulnya, desah napasnya semakin membara. Moira dapat merasakan tubuh pria itu memanas, pria itu meraih wajah Moira seraya mengecup bibirnya lembut. Sementara tangannya menekan kuat pucuk bunga yang merekah di depan sana.

Kini tidak hanya napas pria itu yang menggebu. Napas Moira semakin ikut tidak beraturan, napas mereka perlahan seirama, dengan kecepatan yang semakin hebat membuat Moira hampir tidak bisa bertahan.

“Tuan, tolong berikan aku istirah---“

Pria asing itu mengunci bibirnya, di tengah-tengah puncak gairah bercampur rasa perih yang dirasakan oleh Moira. Ia mengerang, membuat wajahnya merah tak kuasa menahan malu. Sementara pria asing itu hanyut oleh panasnya gairah bercinta.

Setiap lekuk tubuh Moira dipenuhi oleh kecupan panas. Setiap inci tubuhnya, dihujani tanda merah yang indah. Hampir saja tidak ada tempat baru di bagian dadanya. Moira hampir ketakutan pria itu akan melahap seluruh tubuhnya.

***

Moira membuka matanya, dia melihat langit-langit kamar hotel. Entah sudah berapa lama ia tertidur, yang ia tahu saat ini lelah. Tubuhnya sakit, bahkan sulit sekali untuk menggerakkan tubuhnya.

Moira pun buru-buru bangun, ada rasa tidak nyaman pada bagian bawahnya. Terasa sakit dan perih, membuatnya merasa sulit saat berjalan.

Dilihatnya di sebuah nakas tergeletak sebuah amplop berwarna coklat. Lalu, di atasnya tergeletak di atasnya tergeletak sebuah cek sebesar 600 juta. Moira meraih cek itu. Dilihatnya lekat-lekat. Matanya melebar, ia nyaris tidak percaya dengan angka yang tercantum di kertas itu. Moira menghitungnya, matanya berkabut hampir tidak percaya. Jantungnya bergemuruh hebat.

Moira pun membuka amplop warna coklat. Saat dilihat, matanya melotot. Moira meneguk salivanya.

‘Uang lagi?’

Setelah terpaku cukup lama, akhirnya Moira melihatnya lagi dan membuka amplop coklat itu. Ia menghitung semua uang itu. Total dalam amplop coklat itu sebesar 500 juta. Tanpa permisi, air matanya jatuh membasahi pipi.

Moira bertanya-tanya orang kaya mana yang memberinya uang sebanyak ini. Dia  sempat melirik ke sekeliling kamar hotel itu, hanya ada dirinya. Lelaki itu sudah pergi, dan memberinya uang sebanyak ini. Uang yang tidak sedikit, cukup untuk pengobatan adiknya.

“Pria asing itu, menepati janjinya. Sekarang aku tidak perlu lagi ke rumah bordil itu,” ucapnya, namun ia juga merasa dirinya sangat hina. Demi sebuah uang, ia harus menjual tubuhnya.

Moira memeluk cek  dan amplop berisikan uang itu di dadanya. Di sisi lain, dia sedikit lega karena sudah mendapatkan uang. Di waktu yang sama, ia menerima pesan masuk.

[Ibu : Adikmu terkena Leukimia. Alena membutuhkan perawatan medis secepatnya!]

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Menjadi Candu Sang Penguasa   Kamu Sakit?

    Hari itu, tubuh Moira terasa lemas.Ia berjalan pelan, seperti kehilangan separuh tenaganya. Pikirannya terus berputar, mencari jalan keluar yang tidak ada. Dua miliar. Tiga hari. Ia tidak tahu harus mencari uang sebanyak itu dari mana.Kenapa masalah datang tanpa henti? Sejak kapan Ares membuntutinya? Bagaimana pria itu tahu ia tinggal di hotel ini? Bagaimana Ares tahu tentang Sebastian? Moira merasa diawasi. Tubuhnya bergidik membayangkan Ares menguntitnya dari kejauhan, menunggu waktu yang tepat untuk muncul.Moira resah. Namun, ia harus menyembunyikan kegelisahan itu. Moira turun dari taksi yang mengantarnya ke rumah sakit. Kakinya terasa berat saat melangkah menyusuri lorong rumah sakit. Ia menarik napas panjang, berusaha mengatur ekspresi wajahnya.Saat tiba di depan pintu kamar rawat Alena, ia berhenti sejenak. Menutup mata, menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Lalu ia menarik pintu. Ekspresi di wajahnya sudah berubah. Seolah tidak ada beban pikiran.Di dalam kam

  • Menjadi Candu Sang Penguasa   Dua Miliar Dalam Tiga Hari

    Siang itu, Moira berdiri di depan cermin kamar mandi. Jemarinya bergerak perlahan, mengoleskan concealer di lehernya. Menutupi tanda merah yang tersebar di sana. Lalu beralih ke dada, menutupi jejak yang sama. Moira menahan napas. Sebastian sangat ganas tadi malam. Jangan sampai ia melewatkannya dan akhirnya dilihat ibunya.“Sebastian, kamu sangat merepotkan.”Bayangan malam itu masih menguasai pikirannya. Sentuhan Sebastian, ciuman Sebastian, cara Sebastian memandangnya dengan mata penuh hasrat. Cara tubuhnya merespons setiap gerakan pria itu tanpa bisa ia tahan. Wajah Moira memerah.Ia harus mengakuinya. Ia menyukai setiap kali bercinta dengan Sebastian. Menyukai cara pria itu menyentuhnya, cara Sebastian membuatnya melupakan segalanya. Moira menggelengkan kepala pelan, berusaha mengusir pikiran itu. Ia harus pergi menjenguk ibu dan Alena. Tidak bisa terus-terusan memikirkan hal seperti ini.Setelah selesai bersolek, Moira mengenakan pakaiannya dari brand ternama. Ia meraih tas mewa

  • Menjadi Candu Sang Penguasa   Peringatan Sebastian untuk Viella

    Moira menatap Sebastian dengan tatapan teduh."Sayangnya," katanya pelan. "Aku tidak memiliki hasrat untuk melayanimu malam ini."Sebastian terdiam. Tangannya yang berada di pinggang Moira tidak bergerak.Moira melanjutkan ucapannya dengan tenang. "Potong saja dari hasil melayanimu nanti. Anggap aku tidak hadir malam ini."Wajah Sebastian berubah dingin. Lebih dingin dari es yang membeku di tengah musim salju.Moira merasakan perubahan itu. Udara di sekitar mereka berubah berat, mencekik. Tangan Sebastian yang tadinya hanya memegang kini menekan ke meja di samping tubuh Moira. Suara benturan pelan terdengar saat telapak tangannya mendarat dengan keras."Seperti inikah caramu menganggapku, Moira?"Moira membeku. Matanya menatap mata Sebastian yang kini menggelap, tidak ada lagi kehangatan di wajahnya. Sebastian meraih rahangnya, jemarinya kuat namun tidak menyakiti. Ia membuat Moira menengadah, memaksanya menatap matanya."Aku tidak tahu cara menyenangkanmu lagi," katanya, suaranya ter

  • Menjadi Candu Sang Penguasa   Ingin Memakanmu Moira

    Wajah Sebastian menggelap. Rahangnya mengeras, kesabarannya berada di ujung tanduk. Ia melangkah maju, mendekatkan wajahnya ke telinga Viella. Suaranya terdengar rendah, hampir tidak terdengar."Enyah!"Namun, Viella bergeming dan perlahan mengukir senyuman. Tangannya bergerak perlahan, jemarinya meraih kerah jas Sebastian dengan pelan."Aku tidak akan pergi sebelum kamu pulang bersamaku." Suara Viella terdengar lembut. "Jangan lupa, Sebastian. Aku tetap tunanganmu."Viella melirik sekilas ke arah Moira, lalu kembali menatap Sebastian."Aku bisa mengizinkanmu menikahi dia. Selama kamu membuat kesepakatan denganku. Aku janji, akan membantumu menutupi hubunganmu dengan Moira."Moira menatap keduanya dari tempatnya berdiri. Dadanya sesak, ia berusaha bersikap setenang mungkin dan berbicara. "Terima kasih," katanya datar. "Tidak perlu."Viella menoleh ke arahnya. Senyumnya tidak berubah. Moira berbalik, kakinya melangkah menuju pintu. "Aku tunggu di luar.""Tidak perlu,” kata Sebastian sa

  • Menjadi Candu Sang Penguasa   Mempercepat Tanggal Pernikahan

    Moira menatap mata Sebastian, ia melihat ketulusan. Sorot matanya terlihat berbeda, dari biasanya. Mengingat Sebastian selalu bersikap dingin dan penuh misteri itu.Moira menarik napas panjang, lalu mengangguk pelan."Aku memaafkanmu," bisiknya.Sebastian tersenyum tipis. Senyum yang jarang ia tunjukkan, senyum yang membuat wajahnya terlihat lebih lembut. Tangannya menggenggam tangan Moira sebentar, lalu melepaskannya."Terima kasih," katanya pelan. “Aku pergi dulu.”“Apa kamu akan lama di luar?” tanya Moira.Sebastian menggeleng. “Setelah kamu pulang, pasti aku akan segera di sana.”Setelah itu, Sebastian berbalik dan pergi meninggalkan koridor rumah sakit. Moira berdiri di tempatnya, menatap punggung Sebastian yang menjauh hingga hilang. Moira berpikir tidak seharusnya ia marah pada Sebastian, meskipun Sebastian menyebalkan. Tetapi dia sudah banyak menolong Moira dan keluarganya. Meskipun dengan cara menahan dirinya.***Malam itu, Moira kembali ke kamar hotel dengan perasaan lelah.

  • Menjadi Candu Sang Penguasa   Kamu Terlalu Posesif

    Malam itu, Moira tidak kembali menjenguk adiknya. Ia memilih tinggal di kamar hotel, berbaring dengan pikiran yang kacau. Sebastian masih duduk di sofa, menatap keluar jendela dengan wajah tanpa ekspresi.Ponsel Moira berdering. Ia meraihnya dari meja nakas, melihat nama panggilan berasal dari ibunya. Moira menarik napas, lalu mengangkat telepon."Halo, Bu.""Moira, Nak. Kamu sudah makan?" suara Mauren terdengar lembut di seberang sana."Sudah, Bu. Aku sudah makan." Moira terpaksa berbohong."Syukurlah. Ibu khawatir kamu belum makan karena terlalu lelah.""Ibu tidak perlu khawatir. Aku baik-baik saja.""Besok kamu akan datang lagi, kan?""Ya, Bu. Besok pagi aku akan ke rumah sakit."Mauren terdiam sebentar, lalu berkata lembut. "Ibu senang kamu datang, Nak. Tapi, jangan terlalu mencemaskan Ibu dan Alena. Kami baik-baik saja. Kamu juga harus menjaga kesehatanmu."Moira mengangguk pelan."Iya, Bu.""Kamu harus lebih memperhatikan Sebastian. Dia sudah banyak membantumu. Jangan sampai dia

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status