MasukDhara Eleena menjalin hubungan dengan Keenan yang belum selesai dengan masa lalunya, jadi dia sering mengabaikan Dhara dan menganggap cinta gadis itu hanya untuk hiburan sesaat. Di sisi lain, Langit selalu ada untuk Dhara. Mencintai gadis itu dengan tulus, mengorbankan waktunya dan semua yang dia miliki. Namun, Keenan adalah cinta pertama Dhara, sedangkan Langit adalah seorang sahabat yang sudah dianggap sebagai kakak. Jadi, siapa yang akhirnya dipilih Dhara apakah Keenan-lelaki yang dicintainya atau Langit-lelaki yang selalu mencintainya?
Lihat lebih banyak‘Aku mengenalmu lalu berjuang untukmu.
Namun, saat senja kepemilikan tiba,
kau ...
lenyap ditelan cakrawala tak terjamah
Perlahan kau ukir luka yang mengikis harapan,
menghancurkan benteng-benteng kenangan,
dan menyisakan jurang gelap tanpa dasar.
Di bibir samudera, ku cegah badai dalam dada.
Namun, debur ombak menelan jeritku.
Lantas, siapa yang masih bisa utuh
saat cintanya terenggut?’
Buku ditutup, seolah tak ada apapun lagi yang harus dituliskan. Atau-andaikan tetap memaksa menulis memakai tinta basah, itu hanya akan mengotori kertas putih.
“Keenan?” seru pilu seorang gadis di depan punggungnya.
Keenan menoleh dingin, ia hanya menatap lewat bahunya dengan suara datar. “Kenapa kesini? Saya tidak punya urusan sama kamu.” Sunyinya pemakaman tidak mampu mengalahkan kesepiannya.
Gadis cantik berwajah manis ini menunduk sendu. Bibirnya bergumam, “Maaf mengganggu, tapi ... bisakah kamu lupakan Syifa dan fokus pada saya, pacar kamu?”
Punggung Keenan sangat dingin, pun tatapannya dibuang. “Asyifa adalah Asyifa, kamu adalah kamu. Kalian berbeda.”
Dhara Eleena, mulai mengekspresikan jeritan di dadanya. “Syifa sudah tidak ada, kamu harus menerima kenyataan! Dan ... memangnya apa arti semua ini, kita, apa saya cuma salah paham ...?”
Sudut matanya mulai basah. Dhara Eleena ‘Terang setelah hujan’ itu yang selalu dikatakan ibunya sebelum wanita itu pergi karena terlalu mencintainya. Entah cinta seperti apa? Tapi itu sangat menyakitkan!
Kini, engsel-engsel ditulutnya goyah hingga Dhara runtuh di pangkuan bumi. Meringis, bergumam di atas perih, “Cinta seperti apa yang kamu rasakan? Jelaskan. Karena—saya tidak mengerti apa itu cinta. Yang saya tahu, cinta adalah luka.” Bumi, ia basah oleh perasaan yang tumpah.
Laki-laki berusia 23 tahun dengan stelan santai, t-shirt hitam yang dibalut kemeja. Ia tak bersuara, bahkan andai angin menggodanya, ia tetap tak tergoyahkan.
Jeritan Dhara tertahan hingga udara di sekitarnya terasa habis ditelan kepedihan.
Namun, tangan kekar itu menggapainya di saat Dhara hampir kehilangan napasnya. “Cinta adalah luka. Itu benar, El.” Suara berat Keenan berhasil menghancurkan harapan seorang gadis yang telah kehilangan cinta pertamanya. Ibu.
Keduanya beradu tatapan yang di setiap pupilnya hanya diisi dengan perih. Luka yang tak dapat dijelaskan karena terlalu menyakitkan hingga hampir memecah akal sehat.
Pelukan hangat Keenan kembali untuk Dhara, tetapi dibalut perih dan kenangan bersama masa lalunya yang kandas.
“Mungkin bukan saya orangnya—dan kamu tidak usah mencari cinta yang kamu inginkan di diri saya. Itu tidak pernah ada.”
Tangisan Dhara semakin pekat hingga kemeja Keenan mulai basah. Dia mengerti semuanya, alasan kenapa dirinya tidak pernah tinggal dalam mata Keenan. Dan tentu saja mustahil untuk menyentuh hatinya.
“Saya tidak membenci kamu, El. Tapi jangan menuntut apapun,” tambah Keenan dengan suara beratnya karena masa lalu tidak berhenti mencekiknya.
Suara Dhara hampir hilang. “Itu tidak adil, kan ....”
“Adil atau tidak, kamu cuma punya dua pilihan ....” Keenan menjeda, pelukannya mulai longgar. “Kamu, atau kita.”
Wajah Dhara ditenggelamkan masa lalu Keenan yang berhasil merenggut masa depan mereka. “Kenapa, kenapa harus saya yang menanggung luka kamu, padahal ... saya sedang terluka.”
Lengan kekar Keenan memeluk Dhara seolah ia adalah segalanya, tetapi kalimat-kalimatnya selalu berbeda. “Saya tidak pernah meminta kamu bertahan. Lagipula dari awal kamu sendiri yang memilih masuk ke kehidupan saya yang gelap. Karena itu pilihan kamu, harusnya kamu sudah siap hidup dalam kebimbangan, tanpa arah.”
“Apa saya tidak menjadi cahaya kamu ..., seperti saya yang menjadikan kamu matahari?” Jerit pilu itu semakin tidak terdengar.
“Eleena—bulan. Jika saya adalah matahari, memangnya kapan matahari dan bulan bertemu di waktu yang sama dan berdampingan.” Itu bukan pertanyaan, tetapi kenyataan pahit yang sengaja dilontarkan oleh Keenan.
Eleena bisa diartikan sebagai bulan, tetapi Dhara tidak pernah menyukai malam karena ibunya pergi ke dalam kegelapan yang tidak pernah bisa ia gapai, bahkan ia tidak pernah mendapatkan alasan dari kepergian Sang bunda.
Dhara mengangkat wajahnya perlahan, mendonggak ke arah wajah datar Keenan. “Saya selalu punya alasan, walau saya tidak pernah mendapatkan alasan. Dan ... kenapa kamu adalah matahari, itu karena bersama kamu saya melihat dunia tanpa kegelapan.”
Ujung bibir Keenan sedikit terangkat, tersenyum samar. “Dunia saya gelap, selalu gelap. Dari sisi mana kamu melihat matahari?” Kini, sebelah alisnya yang terangkat heran.
Tatapan Dhara tidak pernah beralih, bahkan kini lebih dalam. “Kalau ada malam, pasti ada siang, kan.”
Senyumnya mulai meninggi, sedikit. “Jangan disamakan.” Suaranya lembut, tetapi wajahnya dibuang.
“Kita punya masalalu yang kelam. Saya tidak pernah berhasil keluar dari sana, tapi dari lubang gelap, saya melihat cahaya. Kamu.” Senyuman di garis mata Dhara adalah bukti jika Keenan telah berhasil merobohkan kegelapan di hatinya, dan Dhara tidak ingin kembali ke lubang gelap tanpa dasar walau jika itu artinya ia harus bertahan di sisi gelap lainnya, menunggu hingga kegelapan berakhir.
Kini pelukan Keenan berakhir, ia bangkit tanpa meraih tangan Dhara. Dengan dingin, ia berkata, “Batalkan saja pertunangan kita besok karena saya tidak bisa menjadi matahari kamu.”
Retak di permukaan cermin telah luruh, butirannya berceceran. Lagi, Dhara kehilangan napasnya. Rasa sakit yang menghancurkan harapan demi harapan yang telah tumbuh subur.
“Maaf, El. Karena selama ini kamu berjuang sendiri.”
Sunyi. Hingga akhirnya Keenan menemukan Dhara tak sadarkan diri di atas tanah yang dingin dan tandus.
***
Pria berpangkat dokter menggiring Keenan ke ruangannya. “Kami memohon maaf karena harus menyampaikan hal ini. Tapi ... Anda harus tahu, karena kemungkinan hidup Nona Dhara Eleena hanya tinggal beberapa bulan lagi.”
Bersambung ....
Tepatnya hari senin, Anggara dan relasinya melakukan pertemuan bisnis. Acara ini bisa disebut pesta. 'Pesta pebisnis'. Keenan berdiri gagah di samping Anggara. Stelan formal itu sangat mencitrakan statusnya yang seorang pewaris satu-satunya. Namun, berbeda dengan Dhara, justru gadis ini duduk seorang diri di depan meja kaca yang dibalut kain putih gading dengan brokat berwarna emas di pinggirannya. Ia hanya tersenyum sesekali kepada semua orang yang tanpa sengaja beradu panjang. Selain itu, tidak ada lagi yang bisa dilakukannya. Ia hanya duduk dengan canggung. "Kalau kaya gini harusnya saya tidak ikut," keluhnya dengan tatapan kesal tertuju pada Keenan yang berada cukup jauh. Ia menarik udara cukup panjang, lalu menoleh ke arah kiri berharap sedikit mencairkan rasa canggungnya. Deg!Sepasang mata bak berlian berhenti tepat ke arah lelaki yang juga sedang memandanginya, tersenyum lembut padanya, dan seolah lalu lalang manusia tidak pernah ada. "Langit!" Dhara tidak bisa menahan
Dhara berdiri di depan jendela, menatap taman luas yang dikelilingi pagar besi setinggi tiga meter. Di sana, beberapa pria bersetelan jas hitam tampak berjaga dengan alat komunikasi di telinga mereka. Awalnya, Keenan meyakinkannya bahwa itu adalah protokol keamanan standar untuk melindungi keluarganya dari sisa-sisa musuh politik ayahnya. Namun, seperti ada kejanggalan. Mungkin senjata-senjata itu tidak hanya diarahkan ke luar, tetapi juga ke dalam—kepadanya? Aturan pertama yang dibuat Keenan adalah tidak boleh ada nama Langit di rumah ini. Dan hari ini Dhara kehilangan no kontak sahabatnya. Ia juga selalu mengingat kata-kata terakhir Keenan sebelum ayahnya memanggilnya ke kantor. 'Membuat seorang istri patuh'. Itu sangat tabu untuk Dhara. Patuh seperti apa yang suaminya maksud? Kini, Dhara sedang merindukan ayahnya, ia mengambil tas tangannya. Setelah menemukan ruangan mencurigakan tempo hari, hatinya tidak tenang. Ia perlu bicara dengan ayahnya secara langsung, tanpa melalu
Matahari naik perlahan dan bumi mulai terasa lebih hangat di setiap jamnya. Dhara duduk di kursi kayu di taman. Di hadapannya hamparan taman bunga yang tak terhitung jumlahnya, lalu kupu-kupu dan burung-burung kecil datang dan pergi silih berganti.Sejenak, lehernya memutar ke arah belakang, menatap bangunan mewah yang menjadi atap barunya. “Ini seperti mimpi, tapi saya tidak pernah terbangun.”Kehidupannya sekarang bukan impiannya, tapi hanya dianggap sebagai pengganti kehidupan yang hilang karena direnggut Anggara. Namun, Dhara belum menanamkan keyakinan tentang itu karena harusnya kehidupan sempurna milik keluarga Wira jauh lebih indah dibandingkan ini.“Masalah Papa udah selesai, tapi gimana sama Mama? Di mana Mama sekarang?” Rasa rindu menjalar, berakhir membuncai di kepala Dhara.Ia segera beringsut dari duduknya. Lalu menatap terpaku ke arah bangunan yang mungkin banyak menyimpan rahasia. “Mungkin, petunjuk tentang Mama ada di sini!”Langkah kecilnya menyusuri pinggiran rumah h
Pagi harinya Dhara tampil bak permainsuri. Pakaian indah, perhiasan, aksesoris mahal. Semua ia kenakan. Dan semua ini pemberian dari Keenan, yang sudah tersedia di dalam kamar. Ia hanya perlu memilih yang disukai, lalu suaminya akan membuang semua yang tidak ia sukai.Ruang makan diisi oleh keluarga inti saja. Anggara-sebagai pemimpin rumah sekalian ‘Raja’, lalu sang Omega yaitu Liana, Keenan-si anak tunggal, terakhir-menantu yang entah disayangi atau dibenci. Dhara tidak tahu apapun tentang mertuanya, kecuali Anggara yang jelas membencinya.Pagi ini Liana memasak menu spesial, kedua tangannya sangat sibuk walaupun dua orang pelayan membantu.Maka, situasi ini membuat Dhara kikuk. Ia berbisik pada Keenan yang selalu duduk di sampingnya, “Mungkin saya harus bantu mama kamu.” Tatapannya mengharapkan jawaban relevan.“Duduk aja.” Keenan tersenyum teduh. Bahkan ia mengucurkan teh hangat ke gelas Dhara yang membuat gadis itu semakin kikuk dan hidup tidak tenang.Anggara memperhatikan menan












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.