แชร์

Bab 882

ผู้เขียน: Liazta
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-02-01 22:16:26

Anisa menatap langit-langit kamar rumah sakit untuk kesekian kalinya hari itu. Warna putih yang sama, lampu yang sama, bau antiseptik yang sama. Rasanya seperti waktu berhenti di tempat yang itu-itu saja.

“Leo…” panggilnya pelan, suaranya mengandung rengekan yang sudah tak ia sembunyikan lagi.

Pria itu sedang duduk di kursi samping tempat tidur, fokus meneliti grafik medis di tablet. Namun begitu mendengar namanya dipanggil dengan nada seperti itu, Leo langsung menoleh. Tatapannya otomatis melu
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก
ความคิดเห็น (1)
goodnovel comment avatar
Bety Yusuf
sepertinya bisa jadi Yulia adek Annisa (Ayah Anisah selingkuh tahu anak perempuan lagi tidak mau atau tekanan dr mirna istrinya)
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Menjadi Ibu Susu untuk Anak Presdir   Bab 884

    Pagi itu, cahaya matahari masuk lembut melalui jendela kamar rawat Anisa. Udara terasa berbeda—lebih ringan, lebih lapang. Tidak lagi berbau obat-obatan yang menempel di hidung, tidak lagi dipenuhi bunyi mesin yang setia menemani malam-malam panjangnya.Hari ini… ia pulang.Anisa duduk di tepi ranjang, mengenakan pakaian sederhana berwarna pastel. Kakinya—yang selama ini menjadi pusat kecemasan—terbalut rapi, terlihat jauh lebih baik. Tidak sempurna, belum sepenuhnya kuat, tapi hidup. Benar-benar hidup.Leo berdiri tak jauh darinya, memeriksa kembali berkas-berkas. Wajahnya tenang seperti biasa, tapi matanya tak bisa menyembunyikan kelegaan.“Semua sudah siap,” katanya akhirnya. “Obat, jadwal kontrol, dan apa saja yang di larang, masih ingat?” Leo benar-benar bersikap professional layaknya dokter, bukan kekasih Anisa.Anisa mengangguk cepat. “Aku hafal, Dokter Leo. Jangan anggap aku pasien bandel.”Leo meliriknya. “Kamu itu pasien paling keras kepala yang pernah aku tangani.”“Tapi

  • Menjadi Ibu Susu untuk Anak Presdir   Bab 883

    Tiga bulan.Bagi sebagian orang, tiga bulan mungkin terasa singkat. Tapi bagi Noah, tiga bulan itu seperti puasa panjang yang menguji iman, kesabaran, dan… kewarasan seorang suami yang sangat mencintai istrinya. Apalagi staminanya yang sedang kiat-kiatnya dan nafsu yang sedang tinggi.Ia patuh. Sangat patuh.Tidak menyentuh. Tidak menggoda. Tidak melanggar batas yang Aishwa tetapkan dengan wajah serius dan nada dokter yang tidak bisa dibantah.“Masih Rawan, mas. Tolong jangan sekarang.” Dan Noah mengangguk. Selalu mengangguk.Malam itu, suasana kamar terasa berbeda.Lampu temaram, udara hangat, dan Aishwa yang tampak lebih rileks dari biasanya. Ia baru saja keluar dari kamar mandi, rambutnya masih sedikit lembap, mengenakan piyama longgar yang—entah kenapa—di mata Noah terlihat jauh lebih berbahaya daripada gaun mana pun.Noah menelan ludah.Ia duduk di tepi ranjang, punggungnya tegak, tangannya di atas paha. Posisi orang baik-baik yang sedang berusaha keras tetap baik-baik saja.Ais

  • Menjadi Ibu Susu untuk Anak Presdir   Bab 882

    Anisa menatap langit-langit kamar rumah sakit untuk kesekian kalinya hari itu. Warna putih yang sama, lampu yang sama, bau antiseptik yang sama. Rasanya seperti waktu berhenti di tempat yang itu-itu saja.“Leo…” panggilnya pelan, suaranya mengandung rengekan yang sudah tak ia sembunyikan lagi.Pria itu sedang duduk di kursi samping tempat tidur, fokus meneliti grafik medis di tablet. Namun begitu mendengar namanya dipanggil dengan nada seperti itu, Leo langsung menoleh. Tatapannya otomatis melunak.“Iya, sayang?” jawabnya tenang.“Aku bosan,” kata Anisa jujur. Bibirnya mengerucut, matanya berkaca-kaca. “Aku sudah merasa jauh lebih baik. Kakiku juga nggak sakit seperti dulu. Kita pulang, ya?”Leo meletakkan tabletnya perlahan. Ia berdiri, lalu mendekat ke sisi tempat tidur. Tangannya terulur, mengusap lembut rambut Anisa, gerakan yang selalu berhasil membuat wanita itu sedikit tenang.“Belum bisa,” jawab Leo lembut, tapi tegas.Wajah Anisa langsung berubah. “Lagi?” Nada suaranya naik s

  • Menjadi Ibu Susu untuk Anak Presdir   Bab 881

    Anisa terdiam cukup lama setelah Leo selesai membantunya minum. Matanya menatap langit-langit kamar rawat, lalu perlahan beralih ke wajah pria yang duduk setia di sisinya.“Leo…” suaranya lirih, nyaris ragu.“Iya?” Leo langsung menoleh.“Pendonorku…” Anisa menelan ludah. “Dia… siapa?” sudah sangat lama ia ingin mengetahui hal ini. Namun biasanya si pendonor tidak mau memberitahu tentang dirinya. Hal ini yang membuat Anisa ragu untuk bertanya.Leo tidak langsung menjawab. Ia menggeser kursinya lebih dekat, lalu meraih ponsel dari saku jaket. Tatapannya lembut, seolah memastikan Anisa siap mendengar kisah yang tidak ringan.“Namanya Yulia,” ucap Leo pelan. “Tapi dia minta dipanggil Lia.”Anisa mengangguk kecil. “Perempuan?”“Iya.”Leo membuka sebuah video. Tangannya sedikit gemetar saat menekan layar, bukan karena ragu, tapi karena kenangan itu masih segar. Video singkat itu menampilkan seorang gadis dengan wajah pucat namun senyum cerah, berbaring di ranjang ruang operasi. Rambutnya di

  • Menjadi Ibu Susu untuk Anak Presdir   Bab 880

    Samuel berdiri kaku di depan pintu kamar, ragu untuk melangkah masuk. Tangannya sempat terangkat, lalu turun lagi. Sudah beberapa hari ini ia belajar satu hal penting: jangan terlalu percaya diri, karena muntah Violet bisa datang kapan saja—tanpa aba-aba, tanpa belas kasihan.Namun pagi ini berbeda.Violet duduk di tepi tempat tidur, menyisir rambutnya sendiri. Wajahnya segar, pipinya berwarna, dan—yang paling mengejutkan—ia tidak menutup hidungnya sama sekali.Samuel menelan ludah.“Sayang…?” panggilnya pelan, seperti memanggil makhluk rapuh yang bisa kabur kapan saja.Violet menoleh. “Kenapa berdiri di situ? Masuk, Mas.”Samuel berkedip. “Aku… boleh?”“Ya boleh dong.” Violet mengerutkan dahi. “Ini kamarku, tapi juga kamarmu.”Satu langkah. Samuel melangkah masuk.Dua langkah. Masih aman.Tiga langkah. Jantung Samuel mulai berdebar. Ia menahan napas, menunggu reaksi yang biasanya datang—raut wajah Violet berubah, tangan menutup mulut, lalu lari ke kamar mandi.Namun tidak. Violet jus

  • Menjadi Ibu Susu untuk Anak Presdir   Bab 879

    “Sejak kapan?” tanyanya singkat, nada profesionalnya otomatis muncul.“belum lama,” jawab Anisa. “Tapi nyerinya kuat.”selama ini ia hanya tidak memberi tahu Leo, karena takut pria itu cemas. namun kali ini rasa sakit menjalar hingga sampai panggul dan ujung jari.Leo tidak langsung menyentuh kaki itu.Ia mengamati lebih dulu—warna kulit, posisi balutan, reaksi tubuh Anisa setiap kali denyut itu datang.“Kamu merasakan panas?” tanyanya pada Anisa.Anisa mengangguk pelan.“Dan… berat. Kayak ditekan dari dalam.”Leo menarik napas dalam.“Ini masih bisa terjadi di minggu keenam,” katanya tenang, meski sorot matanya serius.“Sarafnya sedang belajar mengenali tubuhmu sendiri.”Ia mulai memeriksa perlahan. Sangat perlahan.Seolah kaki itu bukan sekadar anggota tubuh, melainkan sesuatu yang rapuh dan sakral.Anisa meringis saat jari Leo menyentuh area tertentu.Getaran itu makin terasa. Tangannya mencengkeram pergelangan tangan Aishwa tanpa sadar."sayang, aku sudah katakan, kamu harus membe

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status