LOGINSedang Reyvan.Pria itu mengibas kerah kemejanya karena gerah campur risih. Ide gila demi citra, tapi resikonya tinggi. Dia yang sudah pensiun jadi playboy, kini malah harus menebar pesonanya."Resort ini, bangunan apartemen mewah di pusat kota, dan hotel bintang lima. Kamu benar-benar pria idaman. Aku jadi selingan saja sudah beruntung." Satu wanita mengerling."Heyy, antri. Aku duluan yang duduk di sini. Pak Rey ini sangat profesional, bahkan dalam bermain wanita pun dia pakai jadwal. Iya, kan, Bos ...." Tangan wanita itu menyambar dada Reyvan.Tapi, Reyvan cepat menghindar. "Ehem! Sorry!" Tangannya menepis pelan.Di sana, Amber mengutuk suaminya. "Lihat, Irish. Dia memegang dada suamiku dan anehnya, Reyvan malah tersenyum dan memegang tangan wanita itu. Dia harus direndam pakai air mawar semalam, biar aura jahat wanita itu hilang dari tubuh suamiku nanti. Awas, kamu, Rey! Bisa-bisanya cari selingan!"Kini Reyvan sedang tertawa kecil, berusaha bertahan. Dia juga melirik ke sembarang
Irish mengenakan dress berwarna merah maroon yang memeluk lekuk tubuh seksinya.Sementara Amber tampil memukau dengan dress putih berkelas di atas lutut.Riasan wajah mereka tajam, dengan lipstik merah merona."Apa aku sudah cantik? Kalau dibanding sama wanita-wanita itu, sudah cantikan aku, kan?" Irish memajukan bibirnya sensual, menatap pantulan wajahnya pada cermin. Lalu dia bergerak ke sisi kanan kiri, mencari gaya seksi tapi elegan. Sedikit menaikkan dagunya sambil tersenyum manis.Amber juga melihat penampilannya. "Sepertinya sudah cukup. Cukup untuk membuat mereka salah tingkah. Memangnya istrinya masih kurang cantik, sampai booking wanita dan menggoda secara terang-terangan.""Kita tunjukkan siapa yang lebih menggoda. Kita atau mereka berdua. Ehmmm, Amber. Berapa wanita yang ada di samping suamiku tadi?" Irish mencoba mengingat. Dia menyipitkan matanya.Amber sedikit mendongak, seperti mengingat juga. "Ehmm ... Dua ... tiga ... empat ... Kurasa ada banyak sekali. Karena dalam
Reyvan mencondongkan tubuhnya ke arah David. "Kita harus bertindak. Aku nggak mau citraku hancur berantakan karena dibilang punya hubungan spesial dengan dokter galak sepertimu!" David mendorong bahu Reyvan dengan kasar. "Heh! Kamu pikir aku mau?! Aku yang paling dirugikan di sini! Nama baikku sebagai dokter teladan bisa hancur kalau sampai pasien-pasienku tahu, aku dibilang pasangan kekasih pria narsis sepertimu!" Reyvan memutar otaknya cepat, matanya menyisir cafe yang dipenuhi wanita-wanita sosialita dan tamu cantik yang sedang memperhatikan mereka. Sebuah ide licik namun brilian muncul. "Oke, dengar. Kita harus mematahkan rumor ini sekarang juga," bisik Reyvan serius. "Aku tahu. Tapi bagaimana caranya?!" geram David. "Kita duduk terpisah. Lalu, buat wanita-wanita di cafe ini terpesona. Kita harus terlihat seperti pria tulen, sangat maskulin, dan sangat ... menggoda. Tunjukkan pada mereka kalau kita tertarik pada lawan jenis, bukan pada satu sama lain." David terdiam sejenak,
"Berikan satu cangkir kopi paling pahit untuk temanku ini. Tapi ingat, buat tingkat kemanisannya persis seperti wajahku."Pelayan muda itu terdiam mematung. Wajahnya tampak bingung dan kikuk, matanya berkedip berkali-kali menatap Reyvan lalu bergantian menatap David. "Mohon maaf, Pak. Ehm ... saya kurang paham. Maksudnya ... manisnya seperti apa, ya? Manis atau pahit?"David melirik tajam pelayan. "Abaikan saja dia. Sudah jelas wajah bosmu ini tidak ada manis-manisnya. Berikan saja kopi hitam pekat tanpa gula. Cepat." Dia menyambar cepat dengan wajah jengkel yang sudah mencapai ubun-ubun."Kejam!" Reyvan menghela napas panjang, pura-pura kecewa karena pesonanya tidak dihargai oleh David.Tak lama kemudian, pelayan itu kembali membawa nampan berisi secangkir kopi hitam yang uapnya masih mengepul panas."Ini kopi pahitnya, Pak. Selamat menikmati, jika butuh yang lain langsung panggil saja saya."Secangkir kopi pahit tersaji di depan David.Akan tetapi, Reyvan yang sedang membetulkan pos
Reyvan menyandarkan punggungnya pada kursi rotan di area outdoor cafe Victoria Resort. Istrinya tidak ikut karena dia baru saja melakukan pekerjaanya, inspeksi Resort.Pria itu sedang duduk santai menikmati kopi dan croissant sambil menikmati pemandangan pantai."Ha ha ha ha ...." Reyvan terkekeh membayangkan muka David yang sedang menunduk memberi hormat untuk berterima kasih padanya karena sangking bahagianya.Di hadapannya, hamparan Pantai berkilau seperti permata cair yang tumpah di bawah sinar matahari pagi. Dia menyesap kopinya, sesekali menyobek croissant mentega yang masih hangat. Sebuah notifikasi masuk ke ponselnya. [Pak David sedang menuju ke sana, Pak.] Pesan dari bawahannya itu membuat seringai lebar muncul di wajah Reyvan."Sepertinya ada orang yang mau berterima kasih padaku. Dia pasti sangat tersentuh dengan persembahanku itu," gumam Reyvan pada dirinya sendiri.Dia kembali terkekeh, membayangkan David yang akan memujinya karena merasakan ajaibnya fasilitas khusus ya
Irish menelan ludahnya berkali dengan desiran ombak cinta dalam hatinya. Dadanya naik turun karena senang berbunga-bunga. "Karena kamar ini akan jadi saksi manisnya cinta kita malam ini ...." David tersenyum cool dan dibalas dengan wajah sipu istrinya. Awalnya, David merutuki ide gila Reyvan yang benar-benar di luar nalar, tapi tak bisa membohongi diri kalau hatinya justru bersorak. "Aku menyiapkan semua ini untuk wanita yang paling istimewa bagiku." Irish tersenyum sipu. "Benarkah?" David memegang tangan Irish dan mengusap punggung tangan itu lembut. "Kamu adalah satu-satunya alasan mengapa semua keindahan ini ada." Irish merasakan hatinya meleleh seketika, senyum sipu terus terukir manis di bibirnya yang kemerahan. "Vid, aku--" Terpotong. David melingkarkan tangannya di pinggang Irish, menarik tubuh itu masuk ke dalam pelukan hangat yang posesif. Irish tersentak kaget dengan jantung yang berdegup dua kali lebih cepat, dia menyembunyikan wajahnya di dada David sambil menahan







