LOGINBelva tidak pernah menyangka bahwa kerja keras dan dedikasinya selama bertahun-tahun di sebuah perusahaan besar tak berarti apa-apa. Sebagai lulusan D3, ia sering dianggap tidak cukup pantas untuk naik jabatan. Namun kenyataan yang lebih pahit terungkap saat atasannya menjanjikan promosi—dengan syarat Belva harus menemaninya bermalam. Rasa jijik dan tekanan batin yang menumpuk membuat Belva jatuh sakit hingga mengalami pendarahan hebat, pertanda tubuhnya tak lagi sanggup menahan beban emosi yang ia sembunyikan. Di rumah sakit, Belva ditangani oleh Dr. Alvin, seorang dokter yang hangat dan penuh empati. Dari tatapan yang menenangkan dan perhatian yang tulus, perlahan Belva menemukan kembali harapan untuk merasa berharga. Keduanya semakin dekat, berbagi cerita dan luka yang tak pernah sempat diungkapkan. Namun tepat saat Belva mulai percaya bahwa kebahagiaan masih mungkin untuknya, Alvin mengaku bahwa ia telah menikah dan memiliki seorang putri. Pengakuan itu menghancurkan Belva untuk kedua kalinya. Ia merasa kembali menjadi perempuan yang hanya layak disakiti. Meski Alvin berjanji akan memperjuangkan cinta mereka, Belva tahu kebahagiaan yang lahir dari luka orang lain tak akan pernah benar-benar indah. Ia memilih pergi diam-diam, membawa separuh hatinya yang tertinggal di ruang putih rumah sakit itu—di tempat cinta dan luka pertama kali bertemu.
View MoreLagi-lagi Rifda lupa menaruh buku catatan kedalam tasnya. Alhasil dia meminta satu kertas pada teman sampingnya.
“Ni, gue minta selembar kertas dong. Buku gue ketinggalan,” pinta Rifda. Nia mengambil selembar kertas dari bindernya, kemudian menyerahkan kepada Rifda. “Makasih ya,” ucap Rifda. “Sama-sama,” sahut Nia. Dosen datang tepat waktu. Mana mungkin pak Handoko telat. Bila telat satu menit saja beliau langsung membatalkan jadwal kuliah dan mengantinya dilain hari. Kedisiplinannya begitu tinggi. Jika mahasiswa telat satu orang, beliau juga tidak mau mengajar. Teman satu kelas harus kompak untuk datang lebih awal tigapuluh menit. Jadwal pak Handoko yang padat membuat PJMK kuwalahan untuk mengontrak jika tidak sesuai jadwal yang ditetapkan kampus. Maka dari itu semua harus menyepakati keputusan PJMK guna mempermudah mendapatkan ilmu dari pak Handoko. Beliau merupakan dosen sekaligus dokter bedah ortopedi. Tidak heran jika kedisiplinannya patut diberi bintang lima. Respon time diberikan meskipun tidak berada dalam ruang operasi. “Waktu itu seperti nyawa. Jika tidak pandai mengenggamnya, maka tidak ada nyawa yang selamat,” terang pak Handoko. Beliau selalu menjelaskan pelajaran dengan posisi berdiri dan mengelilingi mahasiswanya. Beliau hanya duduk jika mahasiswa mengerjakan tugas yang diberikan. Setiap pertemuannya selalu ada tugas dan harus dikumpulan langsung. Waktu yang diberikan duapuluh menit dengan jumlah tujuh soal.“Kalau waktunya ditambah pasti gue bisa ngerjain semuanya,” gerutu Rifda dalam hati.“Baiklah waktu dimulai dari sekarang. Pukul sepuluh tepat, tugas kalian harus terkumpul di depan. Mengerti,” ucap pak Handoko.“Mengerti pak,” jawab semua mahasiswa.Seperti halnya ujian. Tidak ada tas, maupun selembar kertaspun yang ada dimeja kecuali kertas dari pak Handoko. Kami semua hanya diwajibkan membawa bolpoin.“Sssst,” ucap Reyhan sambil mendorong-dorong kursiku.“Apasih,” sahut Rifda sebentar sambil menoleh ke belakang untuk menghentikan tingkah Rendy.Bahkan Rendy saja tidak tau namanya, beraninya dia ingin mencontek Rifda. Cowok itu mengantikan posisi Daniel di kelas Rifda karena dia tidak bisa hadir hari ini. Dan lain waktu Daniel akan mengantikan Rendy di kelasnya.“Contekin dong, soalnya susah semua,” ucap Reyhan dengan wajah memohon.“Apaan sih? Kerjain sendiri. Jangan ganggu gue,” sahut Rifda dengan ketus.“Dasar pelit,” bentak Reyhan.“Biarin. Bukan urusan loh,” ucap Rifda dengan jutek. Ternyata wajah tidak menjamin ucapan sama dengan paras rupawannya. Rifda merasa aneh, kenapa banyak dari teman kampusnya yang mengidolakan Reyhan. “Dasar cowok kasar,” gerutu Rifda. Semua mahasiswa dengan serius mengerjakan soal yang diberikan pak Handoko. Karena dari soal yang diberikan berpengaruh penting pada nilai IPK. Pak Handoko hanya mengambil lima persen nilai ujian semester, karena beliau tidak percaya dengan nilai tersebut. Dosen mata kuliah yang sama dengan pak Handoko, SKSnya lebih sedikit darinya. Jadi nilai yang diberikan pak Handoko sangat berharga. “Waktu tinggal lima menit,” ucap pak Handoko, kemudian berdiri untuk mengelilingi mahasiswanya. Rifda mulai serius untuk mengerjakan satu nomor terakhir, karena dia tidak mau meninggalkan satu soal seperti minggu lalu. “Hey pelit, contekin gue,” ucap Reyhan lagi sambil mendorong kursi Rifda dengan kakinya. Rifda tidak menghiraukan ucapan Reyhan. Dia hanya fokus mengerjakan soal. Reyhan yang kesal dengan Rifda sengaja mendorong lebih keras hingga Rifda dan kursinya terjatuh. Brukkkkkk. Semua mahasiswa melihat ke arah Rifda, begitupula pak Handoko. “Kenapa kamu?” tanya pak Handoko dengan nada yang tegas. Rifda berusaha bangkit dan membenarkan kursinya. Dia sedikit kesakitan pada punggung bawahnya karena ulah Rendy. Sedangkan Reyhan hanya tersenyum puas akibat kelakuannya. “Maaf pak.” Hanya itu yang keluar dari mulutnya. Dengan posisi berdiri sambil mengelus punggung kanannya. Rifda tidak menyadari kalau kertasnya terjatuh di samping Reyhan. Alhasil Rendy dengan mudahnya mengapai kertas ujian Rifda dan menyalinnya pada kertas ujiannya. “Kamu tau, atas perbuatanmu, kosentrasi teman-temanmu buyar,” ucap pak Handoko dengan nada yang sedikit marah. “Maaf pak, saya tidak sengaja,” balas Rifda sambil menunduk dengan penyelasan. “Jangan ulangi tingkah lakumu itu. Mengerti!” ucap pak Handoko. “Mengerti pak.” Kali ni Rifda berani menatap pak Handoko. “Yasudah duduk kembali,” pinta pak Handoko. Rifda segera kembali ke tempat duduknya. “Waktu saya tambah lima menit. Silahkan kerjakan kembali,” ucap pak Handoko sambil melihat jam dinding kelas kemudian duduk di kursinya. Rifda melirik ke meja, tidak ada lembar jawabannya. Dia baru menyadari kalau kertasnya itu belum diambil. Dia melirik ke kanan dan kekiri, ke belakang dan ke depan. Tidak ada kertas yang jatuh dilantai. Seketika Rifda gugup, bagaimana kalau lembar jawabannya hilang. Raut wajahnya mulai memerah. Dia terus berusaha untuk mencari lembar jawabannya. Tidak sadar dengan tingkah lakunya itu, tenyata pak Handoko melihatnya. “Hey, kamu,” ucap pak Handoko. Semua mahasiswa menoleh ke sumber suara. Pak Handoko menunjuk Rifda dengan jari telunjukknya, “Kamu.” Rifda langsung menegakkan badannya dan menyahuti perkataan pak Handoko. “Saya pak?” “Kamu sudah selesai?” “Be,,belum pak.” “Kalau begitu kerjakan. Jangan berisik,” pinta pak Handoko. Rifda membalasnya dengan anggukan kepala. Dia tidak bisa berbuat apapun. Pak Handoko masih saja mengawasinya. “Bagaimana ini, kalau sampai kertas itu hilang,” gerutu Rifda dalam hati. Dia berpura menundukseperti mengerjakan soal. “Ayo semuanya, waktu sudah selesai. Silahkan dikumpulkan,” pinta pak Handoko. Satu persatu mahasiswa bangkit dari duduknya untuk menyerahkan lembar jawaban itu ke meja pak Handoko. Rifda masih tetap duduk sambil berusaha melirik ke kanan dan ke kiri, tapi kertas itu belum ditemukan juga. Sedangkan Reyhan, sudah mulai berdiri dari tempat duduknya. Tapi lembar jawaban Rifda belum juga diberikan. “YaAllah bagaimana ini?” tanya Rifda sendiri, kali ini suaranya sedikit terdengar. Dia sedikit menelisik untuk mencari kertasnya itu. “Makannya, jadi orang itu jangan pelit-pelit,” ucap Reyhan sambil menaruh lembar jawaban Rifda di mejanya. Rifdapun hanya menatap pucat Reyhan yang berjalan ke depan untuk menyerahkan tugasnya ke pak Handoko. “Awas ya,” ucap Rifda dengan tangan yang mengepal. Dia segera bangkit dan menyerahkan tugasnya ke pak Handoko.*** “Teman-teman, bu Rosa mengcancel jadwalnya besok jam satu siang, jadi jadwal hari ini sudah selesai,” ucap Rara PJMK mata kuliah Fisioterapi Neuromuskuler. “Beneran lo Ra?” tanya Silvi. Rara hanya menganggukan kepala dengan raut wajah yang begitu gembira. Semuanya berteriak kegirangan karena bisa pulang lebih awal. “Hore,,” ucap Kamal dengan kegirangan. “Girang bener sih lo?” sahut Kevin. “Girang dong, kan jadinya gue bisa kencan sama Salma,” jawab Kamal kemudian pergi meninggalkan kelas. Sedangkan Kevin hanya bisa senyum melihat tingkah temannya itu. Disisi lain Rifda melihat geng Cucupa sibuk merencanakan mau pergi kemana untuk hangout hari ini. “Kita makan seafood aja deh?” usul Anya. “Ngak mau ah, gue lagi diet. Mendingan kita karokean aja. Gimana?” Rosi menatap ketiga sahabatnya dengan penuh pengharapan. “Gue sebel Ros kalau karoke, lo tau kan di sana ada selingkuhannya Bisma,” ucap Anya cemberut. “Udah-udah jangan ribut. Gimana kalau kita ajak dia,” usul Metty sambil melihat cowok yang sibuk mendengarkan musik dengan earphonenya. Kedua sahabatnya lantas melihat ke arah cowok itu sama seperti Metty. “Lo yakin, dia mau?” tanya Rosi. Metty hanya mengedipkan matanya. Seperti orang yang sedang merayu. “Baikklah, tapi semuanya gue serahin ke lo,” ucap Anya. “Beres,” jawab Metty. “Rey, lagi sibuk ngak?” tanya Metty pada Reyhan. Reyhan yang sedang asyik mendengarkan musik dan matanya yang sudah terpejam itu tidak menyadari kedatangan Metty. “Rey, lagi sibuk ngak?” tanya Metty lagi dengan suara uang lebih keras. Rendy masih saja tidak menyahuti Metty. “Kok masih diem aja sih. Oh ya dia kan lagi pakai earphone,” gerutu Metty. Dengan perasaan yang senang Metty mencolek bahu Reyhan dengan cukup keras. “Rey lagi sibuk ngak?” Reyhan terperanjak bangun, “Ada apa?” “Ayo makan di luar!” ajak Metty. “Sama kamu?” tanya Reyhan “Ya, sama mereka juga.” Metty menunjuk ke arah teman-temannya. Kedua temannya memberikan senyuman termanis untuk Reyhan. Dia menatap mereka bertiga sebentar, “Gue lagi sibuk. Sorry ya,” Geng Cucupa merasa kesal dengan tolakan dari Rendy. Mereka saling mengerutu satu sama lain. Metty yang tadi berdiri di samping Reyhan, sekarang ikut bergabung dengan kedua temannya lagi. “Apa sih kurangnya kita?” tanya Metty. “Lihat aja, kita bakal buat dia terpesona pada kita,” ucap Rosi dengan senyum licik. Sedangkan Anya hanya menganggukkan kepalanya. Reyhan yang asyik berjalan untuk keluar dari kelas tiba-tiba terjatuh. Brukkkk. Rifda sengaja menjulurkan kakinya agar membuat Reyhan terjatuh. Dia sangat kesal pada Reyhan atas kejadian beberapa jam yang lalu. Reyhan bangkit untuk berdiri. Sedangkan Rifda begitu puas melihat Reyhan terjatuh seperti itu.“Makannya jadi orang itu jangan suka ngebully,” ucap Rifda dengan enteng kemudian meningglkan Reyhan yang masih terpaku.Terlihat sekali Reyhan begitu marah. Tapi dia hanya diam dan tak menanggapi perkataan Rifda, dia hanya mengepalkan kedua tangannya.Geng Cecepu langsung menuju ke arah Reyhan untuk menanyakan keadaanya. Mereka tidak tau kalau Reyhan terjatuh karena ulah Rifda. “Kamu baik-baik saja kan?” tanya Anya.“Ada yang sakit ngak?” tanya Rosi sambil memegang pundak kekar Reyhan.Reyhan menyingkirkan tangan Rosi dari pundaknya, “Gue ngak papa.” Dia langsung pergi begitu saja.Geng Cecepu hanya menatap satu sama lain.Tiba-tiba, Belva berdiri. “Kalian kenapa, sih? Aku nggak papa. Tadi sebenarnya... cuma ngantuk.”Semua orang di ruangan saling berpandangan. Kemudian, mereka menatap Belva.“Serius nggak papa?” Hendra menatap wajah Belva.Kepala Belva mengangguk, lalu menunjuk Alvin. “Aku kurang tidur gara-gara ayangku ini.”Alvin mengangkat kedua alisnya. Lalu ekspresinya dengan cepat berubah. Ia tersenyum pada semua orang.“Kalian pasti mengerti maksud Belva.”Sambil menggeleng pelan, satu persatu keluar dari ruang ganti. Belva dan Alvin berjalan paling belakang. Alvin mengecup kepala sang istri.“Maaf, kamu aku jadikan alasan. Tapi, aku nggak bohong semalam memang kurang tidur.” Belva berbisik.“Aku nggak keberatan menjadi tamengmu, Sayang.” Lengan Alvin merengkuh bahu Belva. “Merahasiakan sesuatu itu memang sangat berat.”Belva menatap wajah Alvin. “Setelah pesta usai, bisa kita umumkan.”Para tamu mulai berpamitan, suasana berubah menjadi jauh lebih santai. Musik band telah berhenti. Lampu-lampu d
Pernikahan Estella dan Hendra berlangsung meriah.Tamu-tamu memenuhi area resepsi—wajah-wajah yang datang dari dua dunia yang berbeda namun malam itu menyatu dengan alami. Staf kesehatan dengan setelan rapi berbincang hangat di satu sisi, sementara para model dan rekan industri kreatif Estella menambah kilau dengan gaun dan jas yang elegan. Tidak ada jarak yang terasa canggung. Semua hadir dengan satu tujuan yang sama: merayakan cinta.Upacara sakral telah selesai. Doa-doa terucap khidmat. Ketika pasangan pengantin melangkah keluar dengan senyum lega, tepuk tangan mengalun panjang. Setelah itu, suasana berubah menjadi lebih ringan. Musik mengalir—band kenamaan tampil di panggung, membawakan lagu-lagu yang mengundang tamu bergoyang kecil sambil menikmati hidangan.Di antara keramaian itu, Belva memilih duduk di meja VIP. Tidak berusaha menarik perhatian. Piringnya terisi secukupnya. Ia makan dengan tenang, menikmati jeda yang jarang ia dapatkan di tengah pesta besar. Sesekali matanya m
“Apa kata Mamamu? Kok kamu matikan teleponnya?” Belva bertanya pada Arumi yang sudah menurunkan ponsel dari telinganya.Arumi menatap Belva, lalu menunduk. “Mama cuma langsung bilang minta dibayar tebusannya biar bisa keluar dari penjara.”Belva dan Edo saling bertatapan sejenak, lalu mengembuskan napas berat. Mereka membiarkan Arumi yang termangu sendiri menatap ke luar jendela.Hingga akhirnya mereka tiba di apartemen, Arumi segera minta waktu bicara dengan Alvin berdua saja. Belva meninggalkan mereka dan masuk ke kamarnya. Sementara Edo pun langsung berpamitan.“Ada apa, Arumi?”Selama putrinya bercerita, Alvin menatapnya dengan ekspresi datar. Hingga akhirnya Arumi berhenti dan memeluk Alvin sambil terisak.“Aku nggak tau harus bagaimana, Pa?”Sejenak Alvin hanya diam. Lalu perlahan, tangannya mulai mengelus punggung sang putri. Ia mengurai pelukan Arumi dan menatap wajahnya.“Kenapa Mama bisa sampai seperti ini?” Arumi balas menatap mata Alvin.Sebelum menjawab, Alvin menghela na
Musim semi menyambut keluarga yang berkumpul lengkap di luar negeri untuk menghadiri wisuda Arumi dan Edo yang hanya selisih satu hari.Di halaman kampus yang luas, toga-toga hitam bergerak seperti gelombang kecil. Fredy dan Yarra berdiri berdampingan, wajah mereka dipenuhi senyum yang tidak dibuat-buat. Belva berdiri di sisi Alvin, tangannya sesekali merapikan kerah jas suaminya—kebiasaan kecil yang kini terasa wajar.“Papa, Belva,” panggil Arumi dari kejauhan.Ia melangkah mendekat dengan senyum lebar, toga membingkai wajahnya yang matang. Di sampingnya, Edo berjalan dengan langkah tenang. Mereka berhenti tepat di depan keluarga.“Selamat, Rumi,” ucap Fredy, suaranya berat namun hangat.Yarra memeluk cucunya lama. “Kami bangga sekali.”Belva tersenyum bahagia lalu menggenggam kedua tangan Arumi. “Gimana? Sudah lega?”Arumi tertawa kecil dan mengangguk. “Aku akhirnya selesai.”Edo menunduk sopan. “Terima kasih sudah datang.”Alvin menepuk bahu Edo singkat. Tidak banyak kata, tapi isy












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore