Share

4

Seharian fokus Anan terpecah. Berbagai masalah yang silih berganti berebut di dalam pikirannya mencari celah untuk bisa mengambil alih atensinya. Tidak ada yang bisa Anan lakukan selain diam dan memendamnya. Mendebat dirinya sendiri atau lebih parahnya mendebat Ivana bukan jalan terbaik. Ivana tetaplah Ivana dengan cara dan jalannya sendiri. Siapa Anan hingga bisa merubahnya saat cinta yang Anan berikan saja dianggap sepele?

Senyum Anan kecut. Menertawai dirinya sendiri yang menyesal telah melangkah sejauh ini bersama Ivana. Andai tidak dipertemukan dengan Ivana tidak akan ada kerumitan dalam hidupnya. Andai tidak menikah dengan Ivana tidak akan ada kawin kontrak bersama wanita yang tidak Anan kenal.

Nalar Ivana lain daripada yang lain sehingga Anan harus rela menanggungnya.

“Pak?”

Panggilan dari arah belakang tubuhnya menyeret Anan dari lamunnya. Kelopak mata Anan berkedip setelah sekian menit menatapi  lampu kerlap-kerlip di Kota Bandung.

“Apartemen yang Bapak minta sudah siap.” Teguh berkata setelah tidak ada respons dari atasannya. “Saya kurang paham, maaf jika saya lupa. Apakah harus menyewa atau kita membelinya. Tapi pihak properti akan dengan sabar menunggu keputusan Bapak.”

“Beli saja.” Teguh mengangguk meski Anan tidak melihatnya. “Atas nama istri baru saya.”

“Ya?”

Teguh terperanjat di tempatnya. Tahu, sih kalau atasannya ini ada niatan untuk menikah lagi. Meski begitu Teguh tetap terkejut. Lagi pula, Anan mengatakannya secara terang-terangan. Semacam ada suatu kebanggaan di dalam ucapannya.

“Kamu ketemu Kinar?”

“Maaf, Pak. Saya lancang soal itu—“

“Kamu juga tidak bisa menentang maunya Ivana. Saya tahu.” Anan membalik kursinya dan berdiri. “Kinar di kostnya?”

Teguh mengangguk. “Tidak ada tanda-tanda Ibu Kinar keluar dari kostnya.”

“Ada informasi terbaru yang kamu dapat?”

“Sudah saya kirim ke email Bapak.”

Anan kembali duduk setelah mempersilakan Teguh kembali bekerja. Memakai kaca matanya, Anan membuka kotak masuk di emailnya. Kinerja Teguh tidak main-main saat Anan memerintahnya mencari informasi. Di samping cekatan, Teguh tidak pernah bertanya setelah diberi penjelasan.

Anan tarik napasnya dalam-dalam. Informasi yang Teguh kirim lengkap dan mudah Anan mengerti. Semuanya terekam dalam sebuah file bahkan riwayat kesehatan tentang Kinar pun bisa Teguh dapatkan dengan mudah.

Mungkin alasan ini juga yang membuat Ivana bersikeras dirinya harus menikah dengan Kinar. Walaupun kawin kontrak, bukan tanpa alasan Ivana mau berbagi suami.

Ingatan Anan tentang Ivana yang pencemburu berbanding terbalik dengan sikapnya yang sekarang. Kemandulan yang Ivana alami, merubah sosoknya menjadi pribadi yang lebih egois dan hanya memikirkan dirinya sendiri. Jika tidak ingat soal perasaan rasanya ingin Anan akhiri saja pernikahan ini.

Lalu terbersit dibenaknya: apa arti 15 tahun kebersamaan ini?

Sama saja dengan akhir di mana Anan harus ikhlas menyumbangkan spermanya kepada wanita lain. Anan harus rela menjamah wanita lain yang bukan istrinya sendiri dan parahnya tidak ada perasaan yang Anan curahkan untuk Kinar. Membayangkannya saja sudah membuat Anan merinding. Pantas jika Kinar ngotot dengan pertanyaan kenapa.

Wanita mana yang mau jadi madu?

“Pak, Bu Kinar di sini.” Teguh gelagapan namun mencoba tenang. “Dan bawa semua paper bag yang di kirim Ibu tadi pagi.”

“Suruh masuk.”

Anan ingin mengenal Kinar lebih dalam. Terlepas diterima tidaknya tawaran kawin kontrak yang Anan ajukan. Jika sudah tepat waktunya, akan Anan berikan penjelasan.

“Pak, serius. Ini di kantor dan kayaknya Bu Kinar marah banget.”

“Suruh masuk.”

Akan Anan tatapi lama-lama kedalaman mata Kinar Dewi yang jernih. Jika perjalanan hidupnya sesuai informasi yang Teguh kirim, maka ada banyak luka yang bisa terpancar dari sorot matanya sepintar apa pun disembunyikannya.

“Kalian pasangan tidak normal, ya!?”

Belum sempat Teguh hengkang dari ruangan Anan saat Kinar datang dengan kedua tangan penuh paperbag.

“Kenapa menyulitkan aku yang nggak tahu apa-apa tentang masalah kalian. Tolong.”

“Kamu boleh keluar, Guh. Dan kamu ...” Tunjuk Anan pada Kinar yang dibalas dengan dengkusan. “Nggak perlu mendramatisir keadaan. Istri saya hanya memperhatikan kamu sebagai calon Adiknya.”

“Apa?” Kinar gelengkan kepalanya tidak percaya. Dunianya dikelilingi dengan orang-orang sinting. “Adik? Aku tidak punya keluarga lain selain orang tuaku yang sudah meninggal. Adik? Gagasan dari mana itu?”

“Kamu calon istriku dan dia menganggap kamu sebagai Adiknya.”

“Sebenarnya kehidupan orang kaya itu seperti apa, sih sampai-sampai sanggup membeli kehidupan orang lain?”

“Beragam, tapi aku dan istriku tidak sesederhana seperti yang kamu pikirkan. Ini rumit—kita rumit.”

“Jangan libatkan aku dalam kerumitan itu. Bisa tidak jangan menyebalkan dengan tindakan yang aku sendiri tidak bisa mentolerirnya? Istri kamu atau bahkan mungkin kamu.” Kinar letakkan dengan kasar paper bag ditangannya. “Aku tidak butuh semua ini.”

“Aku butuh kamu.”

Kinar  mendecih. “Uang kamu bisa membeli orang lain kecuali aku dan hidupku.”

“Dan anak.” Mata Anan bersitatap dengan milik Kinar yang menunjukkan keterkejutan. “Kamu target paling sesuai. Kamu sempurna dan sehat.”

“Target?” ulang Kinar seolah-olah kata-kata itu terdengar semu dirungunya. Bukankah itu artinya dirinya sudah diintai selama ini?

“Benar, kamu diintai.” Anan langsung bisa menebak hanya dengan melihat reaksi Kinar. “Rahim kamu paling cocok untuk anak aku—calon anak aku. Jadi, nikah sama aku dan lahirkan keturunan untukku. Aku punya rencana tapi aku tidak bisa mengatakan sekarang.”

Gila!

“Aku tidak mau! Aku bukan boneka yang bisa kamu mainkan sesuka hati. Aku bukan barang yang bisa kalian jual beli. Gini-gini juga aku punya perasaan dan cuma mau nikah sama orang yang aku cinta.” Meskipun Kinar tidak lagi percaya pada apa itu cinta dan bagaimana cinta yang sesungguhnya.

Kinar  terengah-engah. Denyutan sakit di dadanya tidak bisa ditepis begitu saja. Kelakuan Anan dan istrinya—mungkin bagi orang lain normal dan wajar—namun Kinar tidak ingin menjual dirinya demi uang. Kalaupun melahirkan, anak itu akan menjadi milik Kinar dan bukan diberikan kepada orang lain. Dan tentang apa pun rencana yang Anan ucapkan, Kinar tidak peduli.

“Sadarlah! Hidup yang kamu jalani sudah susah jadi jangan sok gengsi menolak tawaranku. Hidup kamu akan terjamin. Kamu hanya perlu menikah denganku selama setahun, hamil anakku dan melahirkan anak untukku. Uang, rumah, mobil bahkan semua kemewahan lain kamu tidak akan kekurangan. Aku menjamin itu!”

“Kalau istri kamu sebegitunya tidak mau hamil, kenapa kalian menikah?”

“Lancang!” Anan menggebrak meja dengan begitu kerasnya. Membuat Kinar terperanjat di tempatnya berdiri. “Kamu tidak berhak berbicara perihal aku dan istriku.”

“Dan kamu dengan segala kekuasaan kamu membeli hidupku untuk kehidupan kamu. Cih!”

Kinar hengkang dari sana setelah berdecih. Tidak ada gunanya meladeni Anan yang gila di mata Kinar.

“Melangkah dari ruangan ini, aku tuntut kamu atas dasar tindak pidana.” Hanya lambaian tangan yang Kinar  balaskan. “Atau saya tarik semua novel kamu dari seluruh toko buku dan kamu membayar pinalti atas ketentuan saya.”

Barulah kedua tungkai Kinar berhenti. Tubuhnya panas dan kepalanya mendidih. Anan benar-benar bukan sembarang orang yang bisa dirinya lawan.

“Egois!” ucap Kinar  begitu tubuhnya berbalik menghadap Anan. “Aku punya hidup yang aman sebelum kamu membuat kerusuhan. Kenapa kamu tidak melepaskan aku dan mencari target baru lagi? Aku rasa ada banyak wanita yang lebih berkompeten untuk menjadi istri kamu atau rahim pengganti istri kamu.”

“Ivana mandul.” Kinar  diam saja saat Anan mengatakan perihal kemandulan istrinya. “Pernikahan kami sudah bertahun-tahun dan aku tidak mau bercerai. Jujur aku tidak butuh anak. Mereka bisa aku adopsi tapi Ivana melihat kamu dan menjadi pemerhati yang entah sejak kapan. Dia membicarakan kamu setiap hari dan meminta aku untuk menikahi kamu. Aku tahu ini berat tapi—“

“Wanita mana yang sudi dijadikan madu? Aku masih waras.”

“Aku tahu.”

“Dan aku masih tetap menolak.”

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status