MasukSena mengerjap cepat dengan mulut yang refleks menganga.
Di samping brankar tempat Karina terbaring, duduk seorang pria asing bertubuh jangkung. Jemari pria itu tampak menggenggam erat tangan Karina yang masih terpasang selang infus.
"Kar, please." Suara pria itu terdengar memohon, berat dan penuh desakan.
"Cukup, Jef! Kamu e
Sesuai dengan rencena sebelumnya. Keluarga Aldi sepakat menghabiskan waktu ke sebuah mal mewah pada Sabtu sore itu. Aldi berhasil membujuk Sena untuk menggunakan kursi roda demi kenyamanan dan keamanan istrinya yang baru saja belajar berjalan tanpa kruk itu. Ia dengan telaten mendorong kursi roda Sena, sementara anak-anak berjalan di sekitar mereka dengan penuh antusias. Di sebuah butik pakaian remaja ternama, Freya tersenyum puas usai memamerkan outfit gaun pastel elegan yang dipilihkan khusus oleh Sena. Tanpa canggung, gadis remaja itu melangkah mendekat dan mencium pipi kiri Sena."Aku suka semuanya. Sepatunya juga lucu. Makasih ya, Mama Sena," ucap Freya tulus. Uc
Mata Sena mengerjap kaget mendapati sosok Freya berdiri di balik pintu. Gadis remaja yang baru genap usia lima belas tahun itu berdiri canggung lalu memindai koridor yang sepi dengan raut ragu."Freya?" sapa Sena lembut, segera menggeser pintu lebih lebar. "Ada apa, Sayang? Belum tidur?"Freya lantas tersenyum lalu berkata, "Tante... belum tidur ‘kan? Aku... ini, mau ngasih ini sebenarnya," ucapnya dengan nada ragu, menyodorkan sebuah kartu undangan bewarna pastel.Sena menerimanya dengan senyum hangat. "Enggak kok, belum. Ayo masuk dulu." Freya melangkah masuk ragu-ragu, lalu merebahkan diri di atas sofa beludru di sudut kamar. Sena menyusul duduk di sampingnya, membuka kartu undangan perpisahan sekolah tingkat akhir SMP milik Freya yang dijadwalkan minggu depan."Wah, acara prom sekolah kamu minggu d
“Sena, kamu…”“Aku sayang sama Mama,” ucap Sena lagi. Sofia perlahan memutar tubuhnya, melepaskan pelukan dari arah belakang dan kini balik merengkuh tubuh menantunya dengan erat. Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya luruh juga di sudut mata wanita paruh baya itu. Tangannya yang hangat mengusap punggung Sena penuh kelembutan, menyalurkan rasa cinta dan penerimaan yang selama ini mungkin tak pernah terucap secara gamblang."Aku tahu kenapa Mama dulu sempat nolak aku," lanjut Sena dengan mata berkaca-kaca, menatap lurus ke dalam manik mata Sofia. "Maaf karena aku...""Ssst," potong Sofia cepat, jari telunjuknya terulur menyentuh bibir Sena dengan lembut. Wanita paruh baya itu menggeleng pelan, senyum tipis terbit di wajahnya yang masih basah oleh air mata. "Justru Mama yang harusnya minta maaf, Sayang. Mama sempat benci sama kamu karena mikirnya kamu bakal
Sena mengerjap perlahan saat merasakan usapan lembut di pipinya. Begitu matanya terbuka penuh, pemandangan pertama yang menyambutnya adalah wajah tampan Aldi yang berada begitu dekat. Pria itu sudah terbangun lebih dulu, menopang kepala dengan satu tangan sembari menatap istrinya dengan sorot mata sarat akan kejujuran dan rasa cinta yang mendalam."Pagi, Sayang..." bisik Aldi dengan suara serak khas bangun tidur, lalu mencondongkan tubuh untuk mendaratkan kecupan hangat di dahi Sena, berlanjut ke kedua kelopak matanya, hingga akhirnya berhenti di bibir Sena dalam lumatan halus yang memabukkan.Sena terkekeh pelan di sela ciuman mereka, tangannya yang hangat terulur melingkari leher sang suami. "Mas... nanti ketahuan anak-anak kalau keluar kamarnya kesiangan," gumam Sena malu-malu, meski jemarinya malah makin erat meremas rambut belakang Aldi."Biarkan saja. Saya masih mau manja-manjaan sama istri
Alih-alih langsung melarang atau memicu ketegangan di depan seluruh anggota keluarga, Sena justru menatap suaminya sejenak lalu mengangguk pelan. Wanita itu bergeser menghadap Aldi, meminta persetujuan lewat tatapan matanya yang teduh."Enggak apa-apa, 'kan?" tanya Sena lembut.Aldi terdiam sejenak, rahangnya sempat mengeras sebelum akhirnya menghela napas panjang dan membalasnya dengan sebuah gumaman pasrah. "Baiklah. Tapi saya harus tetap di dekat kamu." Tanpa membantah, akhirnya ketiga orang itu berjalan meninggalkan ruang makan menuju taman belakang rumah. Udara malam yang sejuk menyambut kulit, membawa aroma wangi bunga melati yang meruap dari sudut halaman. Aldi memilih duduk di atas bangku kayu gazebo, mengawasi gerak-gerik keduanya dengan tatapan taj
Diamnya Sena membuat Aldi memelankan laju kendaraannya. Saat lampu merah menyala, barulah dia bertanya, "Dari siapa?"Sena yang sedari tadi sibuk bertukar pesan mendongak sambil tersenyum canggung. "Kak Bian, Mas. Dia...""Mau apa lagi dia?" potong Aldi dengan suara yang sarat akan kecemburuan.Sena berdecak pelan. "Kak Bian udah di rumah sama Bunda Hana," ucap Sena pada akhirnya."Kenapa kamu tidak bilang? Keasyikan balas chat dari dia ya?" serang Aldi yang tak bisa menahan rasa cemburunya lagi, jemarinya mengetuk-ngetuk setir mobil dengan ritme cepat.Sena menganga tanpa suara. Wanita itu berkedip pelan lalu tersenyum selembut mungkin. "Saya baru aja mau ngomong, tapi kamu udah nanya duluan." Alhasil sepanjang perjalanan sisa menuju rumah, Aldi cemberut terus dengan bibir terkunci rapat. Begitu mereka tiba di pekarangan rumah, wajah teduh Hana dan Chika langsung menya







