LOGINSena mematung di tempatnya. Mulutnya sedikit menganga, tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun untuk membalas ucapan bernada tuduhan tadi. Gadis itu refleks menundukkan kepala begitu Aldi melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga aroma maskulin pria itu kembali memenuhi indra penciumannya.
“Saya menikahi kamu hanya demi istri saya. Jadi jangan pernah berharap lebih dari itu,” bisik Aldi dingin, tepat di samping telinganya.
Sebelum Sena sempat merespons, Aldi sudah berbalik dan melangkah keluar dari kamar tamu tanpa mempedulikannya lagi. Hanya menyisakan suara pintu yang tertutup rapat bergema di dalam ruangan yang sunyi.
Sena merosot perlahan hingga terduduk di atas lantai kamar yang dingin. Rasa sesak yang sejak tadi ditahannya kini tumpah begitu saja. Senyum getir terukir di wajahnya yang pias. Malam yang seharusnya menjadi momen paling berarti bagi seorang wanita, justru menjadi awal dari kehampaan status barunya.
Malam itu Sena menghabiskan waktu dengan menatap langit-langit kamar hingga matanya terasa berat.
Bunyi nyaring alarm dari ponsel menyentakkan Sena yang tertidur dalam posisi meringkuk di tepi ranjang. Gadis itu lekas tersadar. Dia lantas menyapu wajahnya yang lelah, lalu buru-buru bangkit menuju kamar mandi. Ya. Ia tak boleh terlambat di hari pertamanya bekerja dari rumah ini.
Tak butuh waktu lama, Sena sudah rapi dengan seragam kerjanya. Namun, saat ia melangkah keluar dari kamar tamu, suasana rumah mewah itu sudah hidup. Tiga orang asisten rumah tangga tampak sibuk di area dapur dan ruang tengah.
“Pagi, Mbak Sena,” sapa salah seorang di antara mereka dengan senyuman ramah dan sopan.
Sena tersenyum canggung. “Pa-gi...”
“Jangan sungkan, ya. Mereka semua sudah tahu kamu akan tinggal di sini.”
Suara lembut Karina memecah kebingungan Sena. Wanita itu melangkah anggun dari arah meja makan dengan senyuman hangat. Karina mendekat pada Sena, lalu berbisik pelan agar tidak terdengar oleh para pekerja.
“Tugas kamu hanya fokus ke anak-anak dulu saja. Kamu rebut hati mereka. Soal Mas Aldi nanti aku kasih tahu pelan-pelan ya?”
Sena memaksakan senyum sekenanya. “I-iya, Bu.”
“Panggil Mbak aja, Sen. Biar kita lebih akrab,” potong Karina lembut sembari menepuk pelan lengan Sena.
Namun, ketegangan sesungguhnya baru terasa saat mereka bergabung di ruang makan. Aldi yang baru muncul dengan setelan jas rapi langsung mengernyitkan dahi begitu melihat penataan tempat duduk di meja.
“Sayang, kenapa posisi duduknya begini?” tanya Aldi dengan nada keberatan yang tertahan.
“Biar terbiasa, Mas. Kamu di tengah, aku di kanan, dan Sena di kiri. Nanti aku juga yang bakal jelasin ke anak-anak saat mereka pulang dari rumah omanya,” terang Karina tenang namun tak terbantahkan.
Aldi hanya bisa mengembuskan napas berat. Pria itu enggan berdebat di pagi hari. “Fine.”
Ia duduk, lalu menyeruput kopi hitamnya tanpa menyentuh sarapan sama sekali. Tatapannya sengaja dihindarkan dari Sena yang duduk sangat kaku di sisi kirinya.
“Loh, Mas? Kok enggak jadi sarapan?”
“Ada jadwal visit pagi. Pasiennya urgent, Sayang. Aku berangkat sekarang ya,” sahut Aldi.
Pria itu membungkuk sedikit, mengecup puncak kepala Karina dengan penuh kasih sayang. Namun, saat ia berdiri tegak, matanya sempat bergulir sekilas melirik Sena sebelum akhirnya melangkah pergi begitu saja.
Setibanya di rumah sakit, Sena berniat langsung menuju unit kemoterapi tempatnya menjalani masa rotasi. Namun, baru saja ia menginjakkan kaki di selasar, seorang perawat senior menghampirinya dengan raut panik.
“Senara! Ke ruang OK sekarang. Bidannya mendadak berhalangan karena ada kasus darurat lain!”
Sena mengernyit. “Tapi, Mbak, saya masih status training di unit Kemo..”
“Udahlah. Emang gitu perintahnya tadi. Kamu 'kan punya latar belakang pendidikan bidan. Cepat ke sana!” potong perawat itu tanpa mau dibantah.
Sena tak punya pilihan.Begitu ia melangkah masuk ke dalam ruangan OK, dokter anestesi sudah memberi komando bahwa insisi siap dilakukan.
Sena berjalan mendekati meja operasi. Di sana, Aldi sudah siap dengan pisau bedah di tangannya. Syukurlah, sebagian besar wajah Sena tertutup masker steril dan topi operasi, sehingga Aldi tidak langsung mengenalinya.
Operasi berjalan dengan lancar. Tak lama kemudian, suara tangisan bayi terdengar nyaring memenuhi ruangan. Bidan senior dengan sigap mengambil alih penanganan bayi baru lahir tersebut, sementara tugas Sena dialihkan.
“Senara, kamu tetap stay di samping Dokter Aldian. Bantu jaga sterilitas dan handling instrumen tambahan kalau diminta ya,” bisik bidan senior memperingatkan.
Sena mengangguk pelan. Ia berdiri amat dekat di sisi kanan Aldi. Di bawah lampu operasi yang sangat terang dan panas, butiran keringat mulai bermunculan di pelipis sang dokter spesialis kandungan itu.
Menyadari hal tersebut, Sena bergerak cepat mengambil kasa steril dengan klem. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia berjinjit pelan, menyapukan kasa tersebut untuk mengeringkan pelipis Aldi.
Jarak mereka begitu dekat. Sena bisa merasakan hangat tubuh Aldi dan mengamati dari dekat betapa fokusnya netra pria itu di balik kacamata operasinya. Sena bahkan menahan napasnya sedalam mungkin, takut napasnya terdegar atau aroma tubuhnya mengenalkan siapa dirinya di balik pakaian steril ini.
Aldi sempat menghentikan pergerakan jemarinya selama dua detik saat rasa dingin dari kasa menyentuh kulitnya. Ia melirik perawat di sampingnya lewat sudut mata, namun segera kembali fokus menyelesaikan jahitan terakhir pada perut pasien.
Hingga saat prosedur selesai dan pasien siap dipindahkan ke ruang pemulihan, Aldi melepas sarung tangan steril dan maskernya.
Bersamaan dengan itu, Sena yang berniat langsung membereskan instrumen, refleks berbalik badan. Masker yang dikenakannya sedikit merosot karena tersangkut tali APD.
Pada detik itulah, tatapan mereka bertemu secara langsung dalam jarak satu meter.
Aldi sedikit tersentak. Sorot matanya membelalak kaget saat menyadari bahwa sosok yang sejak tadi berdiri sangat dekat dengannya adalah Sena.
Sementara sang bidan senior yang menyadari perubahan raut wajah Aldi langsung merasa tidak enak hati.
“Maafkan saya, Dok. Ini Bidan Senara, dia masih baru dan sebenarnya sedang rotasi dari unit lain. Kalau kerjanya tadi kurang cekatan atau membuat Dokter tidak nyaman, saya minta maaf.”
Sena menundukkan kepala dalam-dalam. Jantungnya berdebar kencang, bersiap menerima amukan atau penolakan terang-terangan dari Aldi di depan tim medis lain.
“Lain kali Bidan Senara tidak akan kami jadwalkan untuk mendampingi Dokter lagi,” tambah bidan senior itu panik karena Aldi masih terus menatap Sena tanpa berkedip.
Keheningan pun terjadi di ruang OK selama beberapa detik yang menyiksa.
Aldi perlahan menarik napas dalam-dalam. Rahangnya mengeras, namun sorot matanya yang semula dingin mendadak berubah. Ada campuran antara gengsi, pengakuan atas kecakapan Sena, dan dominasi yang intens.
“Tidak perlu diganti,” ucap Aldi dengan suara berat dan tenang yang memecah kesunyian.
Sena spontan mendongak, matanya membulat tak percaya.
“Sena, kamu…”“Aku sayang sama Mama,” ucap Sena lagi. Sofia perlahan memutar tubuhnya, melepaskan pelukan dari arah belakang dan kini balik merengkuh tubuh menantunya dengan erat. Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya luruh juga di sudut mata wanita paruh baya itu. Tangannya yang hangat mengusap punggung Sena penuh kelembutan, menyalurkan rasa cinta dan penerimaan yang selama ini mungkin tak pernah terucap secara gamblang."Aku tahu kenapa Mama dulu sempat nolak aku," lanjut Sena dengan mata berkaca-kaca, menatap lurus ke dalam manik mata Sofia. "Maaf karena aku...""Ssst," potong Sofia cepat, jari telunjuknya terulur menyentuh bibir Sena dengan lembut. Wanita paruh baya itu menggeleng pelan, senyum tipis terbit di wajahnya yang masih basah oleh air mata. "Justru Mama yang harusnya minta maaf, Sayang. Mama sempat benci sama kamu karena mikirnya kamu bakal
Sena mengerjap perlahan saat merasakan usapan lembut di pipinya. Begitu matanya terbuka penuh, pemandangan pertama yang menyambutnya adalah wajah tampan Aldi yang berada begitu dekat. Pria itu sudah terbangun lebih dulu, menopang kepala dengan satu tangan sembari menatap istrinya dengan sorot mata sarat akan kejujuran dan rasa cinta yang mendalam."Pagi, Sayang..." bisik Aldi dengan suara serak khas bangun tidur, lalu mencondongkan tubuh untuk mendaratkan kecupan hangat di dahi Sena, berlanjut ke kedua kelopak matanya, hingga akhirnya berhenti di bibir Sena dalam lumatan halus yang memabukkan.Sena terkekeh pelan di sela ciuman mereka, tangannya yang hangat terulur melingkari leher sang suami. "Mas... nanti ketahuan anak-anak kalau keluar kamarnya kesiangan," gumam Sena malu-malu, meski jemarinya malah makin erat meremas rambut belakang Aldi."Biarkan saja. Saya masih mau manja-manjaan sama istri
Alih-alih langsung melarang atau memicu ketegangan di depan seluruh anggota keluarga, Sena justru menatap suaminya sejenak lalu mengangguk pelan. Wanita itu bergeser menghadap Aldi, meminta persetujuan lewat tatapan matanya yang teduh."Enggak apa-apa, 'kan?" tanya Sena lembut.Aldi terdiam sejenak, rahangnya sempat mengeras sebelum akhirnya menghela napas panjang dan membalasnya dengan sebuah gumaman pasrah. "Baiklah. Tapi saya harus tetap di dekat kamu." Tanpa membantah, akhirnya ketiga orang itu berjalan meninggalkan ruang makan menuju taman belakang rumah. Udara malam yang sejuk menyambut kulit, membawa aroma wangi bunga melati yang meruap dari sudut halaman. Aldi memilih duduk di atas bangku kayu gazebo, mengawasi gerak-gerik keduanya dengan tatapan taj
Diamnya Sena membuat Aldi memelankan laju kendaraannya. Saat lampu merah menyala, barulah dia bertanya, "Dari siapa?"Sena yang sedari tadi sibuk bertukar pesan mendongak sambil tersenyum canggung. "Kak Bian, Mas. Dia...""Mau apa lagi dia?" potong Aldi dengan suara yang sarat akan kecemburuan.Sena berdecak pelan. "Kak Bian udah di rumah sama Bunda Hana," ucap Sena pada akhirnya."Kenapa kamu tidak bilang? Keasyikan balas chat dari dia ya?" serang Aldi yang tak bisa menahan rasa cemburunya lagi, jemarinya mengetuk-ngetuk setir mobil dengan ritme cepat.Sena menganga tanpa suara. Wanita itu berkedip pelan lalu tersenyum selembut mungkin. "Saya baru aja mau ngomong, tapi kamu udah nanya duluan." Alhasil sepanjang perjalanan sisa menuju rumah, Aldi cemberut terus dengan bibir terkunci rapat. Begitu mereka tiba di pekarangan rumah, wajah teduh Hana dan Chika langsung menya
“Bukan gitu, Mas,” sela Sena cepat, manik matanya menatap ragu ke arah sang suami. Jemarinya saling meremas satu sama lain di atas paha. “Saya cuma... mikir kondisi fisik saya. Kaki ini baru dua bulan belajar jalan lagi, belum pulih total, Mas. Kalau nanti saya hamil, saya takut malah bakal jadi beban. Repot buat kamu, repot juga buat Mama sama anak-anak.” Keraguan yang tersirat di mata istrinya itu ditangkap telak oleh Aldi. Dokter muda tersebut menghentikan gerakannya sesaat. Pria itu menggeleng pelan, melempar senyuman menenangkan yang selalu berhasil meredakan badai di kepala Sena."Enggak sekarang, Sayang. Saya mau kamu dalam keadaan yang benar-benar prima. Program kita baru akan jalan kalau kamu sudah benar-benar kuat," jelas Aldi lembut, menyalurkan ketenangan lewat sorot matanya. "Sekarang saya mau cek keadaan uterus kamu di dalam sana saja. Biar saya tahu dasar kesehatan
"Kamu ada janji sama pasien mana, Mas? Ini kan weekend. Biasa juga kalau ada kasus gawat darurat ‘kan periksanya di RS. Kita ngapain ya ke sini? Mana pasien kamu?" Sena menatap Aldi dengan penuh penasaran. Wanita itu sampai tak menyadari saat sang suami tersebut malah meletakkannya di atas brankar pemeriksaan. Ya. Sekarang pasangan suami istri itu sedang bertandang di klinik praktik Aldi. Suasana mendadak terasa begitu privat. Dua bulan terakhir memang telah membawa banyak perubahan besar dalam pemulihan fisik dan mental Sena, tetapi agenda pemeriksaan mendadak di hari libur ini benar-benar di luar dugaannya.“Mas, siapa sih pasiennya sampai kamu bela-belain ke sini? Terus, kenapa saya malah diajak ke sini. Pasiennya parah?” tanya Sena bertubi-tubi. Namun, pria tampan itu m







