LOGIN“Kamu 'kan sudah setuju. Saya juga sudah menepati janji saya untuk membiayai operasi adik kamu. Sekarang giliran kamu memenuhi bagianmu.”
Ucapan Karina membuat Sena terdiam sesaat. Jemarinya saling menggenggam erat di atas pangkuan. Tidak ada lagi alasan baginya untuk mundur. Adiknya sudah mendapatkan penanganan terbaik, bahkan jauh di luar yang pernah ia bayangkan. Apa lagi yang sebenarnya ia takutkan?
Sena menoleh ke arah Damar yang berdiri tak jauh darinya. Pria itu mengangguk pelan, seolah memahami kegelisahan yang masih tersisa di wajah gadis tersebut.
"Kalau ada apa-apa, tolong langsung kabari saya ya, Mas."
Damar tersenyum tipis. "Siap, Mbak."
Sena mengembuskan napas pelan sebelum akhirnya melangkah memasuki ruang rias.
Kini tubuhnya telah dibalut kebaya modern berwarna putih gading yang jatuh anggun mengikuti lekuk tubuhnya. Riasan sederhana membuat wajahnya terlihat jauh lebih dewasa, sementara rambutnya dibiarkan tergerai setengah disanggul. Untuk sesaat, Sena memandangi pantulan dirinya sendiri di depan standing mirror.
Sulit dipercaya perempuan di hadapannya adalah dirinya.
Sudut bibirnya nyaris terangkat, tetapi suara langkah kaki yang berhenti di belakangnya lebih dulu menarik perhatian.
Tanpa perlu menoleh, Sena sudah tahu siapa yang datang.
Lewat pantulan cermin, ia melihat Aldi berdiri beberapa langkah di belakangnya. Pria itu mengenakan setelan jas berwarna senada dengan kebaya yang dikenakannya. Wajahnya tetap datar seperti biasa, tetapi sorot matanya sempat berhenti beberapa detik pada bayangan Sena di depan cermin.
Tatapan mereka bertemu.
Entah siapa yang lebih dulu gugup, Sena buru-buru menundukkan kepala dan memutus kontak mata itu.
"Bagus sekali."
Suara Karina muncul di tengah keheningan sambil menghampiri mereka.
"Kalian cocok."
Sena hanya memaksakan senyum kecil, sementara Aldi kembali memasang wajah tanpa ekspresi seolah kalimat itu tidak pernah diucapkan.
Tak lama kemudian, pemilik butik bersama salah seorang pegawai datang menghampiri.
"Kalau begitu kita pilih yang ini saja ya, Bu?" tanya wanita berambut pirang itu kepada Karina.
"Iya, yang ini."
Mereka berdua kembali menuju meja depan untuk mengurus beberapa administrasi, meninggalkan Sena dan Aldi dalam keheningan yang terasa semakin canggung.
Salah seorang pegawai mempersilakan Sena kembali duduk.
"Sebentar ya, Kak. Tinggal pilih aksesori kepalanya."
Wanita itu mengeluarkan beberapa pilihan headpiece, veil, dan flower crown, lalu menoleh kepada Aldi.
"Kalau menurut Bapak, cocoknya pakai yang mana buat calon istrinya?"
Sena refleks ikut mengangkat kepala. Tanpa sadar, ia menunggu jawaban pria itu. Namun Aldi hanya menatap deretan aksesori tersebut sekilas.
Jawaban singkat itu membuat Sena mengulum bibir. Entah mengapa, ada sedikit rasa kecewa yang tak sempat ia pahami sendiri. Ia akhirnya menunjuk sebuah veil sederhana. "Yang ini saja."
"Pilihan yang bagus."
Beberapa menit kemudian, veil itu terpasang sempurna. Pegawai tersebut membantu Sena berdiri sambil merapikan bagian belakang gaunnya.
"Nah, sekarang sudah seperti calon pengantin."
Sena kembali menghadap cermin. Di samping pantulan dirinya, Aldi masih berdiri di tempat semula. Untuk kedua kalinya hari itu, mata mereka kembali bertemu.
Aldi tidak langsung mengalihkan pandangan. Tatapannya menyapu wajah Sena yang telah dirias sempurna, lalu berhenti sesaat pada veil yang menjuntai di belakang kepala gadis itu. Rahangnya mengeras. Tak lama kemudian, ia mengembuskan napas pelan dan memalingkan wajah lebih dulu.
"Pak, Mbak, boleh berdiri berdekatan sebentar? Buat dokumentasi butik."
"Tidak perlu."
Penolakan Aldi terdengar tegas hingga membuat pegawai itu sedikit terkejut.
Beruntung Karina yang baru kembali dari meja administrasi segera menghampiri. "Pernikahannya memang dibuat privat. Makanya kami tidak menyiapkan dokumentasi."
Pegawai itu tersenyum canggung. "Kalau begitu buat arsip butik saja, Bu. Tidak akan dipublikasikan."
Karina menoleh sekilas ke arah Aldi. Pria itu tampak enggan, tetapi akhirnya tidak lagi menyanggah.
Sena pun melangkah pelan hingga berdiri di samping Aldi.
Jarak mereka begitu dekat. Untuk pertama kalinya Sena menyadari aroma parfum pria itu yang samar bercampur dengan wangi kain jas yang baru disetrika. Ia menundukkan kepala, sementara kedua tangannya saling menggenggam untuk menyembunyikan kegugupan.
"Pak, sedikit lebih dekat lagi."
Aldi terdiam beberapa saat. Lalu dengan berat hati ia menggeser langkahnya beberapa senti hingga bahu mereka nyaris bersentuhan.
Sena spontan menahan napas.
"Bagus... sekarang senyum sedikit."
Sena memaksa sudut bibirnya terangkat. Di sampingnya, Aldi melakukan hal yang sama. Senyum mereka sama-sama kaku. Sama-sama tidak pernah benar-benar sampai ke mata.
"Cakep. Semoga hari ini berjalan lancar, dan pernikahannya langgeng sampai maut memisahkan."
"Aamiin."
Namun, jelas hanya Karina yang menjawab dengan penuh keyakinan. Sementara Sena dan Aldi tetap diam.
Hingga keesokan harinya menjadi awal kehidupan Sena yang baru.
Sena berusaha bernapas normal walaupun usahanya terasa hampir sia-sia. Bahkan jantungnya berdegup tak karuan begitu Aldi duduk di sebelah kanannya. Pria itu mengenakan setelan jas hitam formal, tampak begitu tampan namun auranya seakan ingin menelan sang gadis hidup-hidup.
“Hei, kenapa?” tegur Karina yang ternyata sudah ada duduk di belakangnya. Tangan wanita itu menyentuh lembut pundak Sena yang mulai bergetar hebat.
“Enggak, Bu,” jawab Sena setelah menoleh ke arahnya dengan senyuman yang dipaksakan.
Seolah tahu bagaimana tertekannya Sena, Karina lantas mengusap lembut pelipis gadis itu. Tatapannya sarat akan permohonan yang sangat tulus.
“Maaf ya. Ini mungkin bukan dream wedding-nya kamu, Sena. Nanti setelah ketemu timing yang pas, kita bisa buat resepsinya.”
“Enggak perlu, Bu. Saya..”
Ucapan Sena terjeda begitu petugas keagamaan muncul. Dalam sekejap suasana menjadi hening hingga proses ijab kabul pun dimulai.
Hanya satu tarikan napas, satu ijab kabul yang terucap dengan lantang, lalu dalam hitungan detik status hidup Sena berubah sepenuhnya. Kini ia resmi menjadi istri Aldi.
Semuanya terasa begitu cepat hingga Sena sendiri masih sulit mempercayainya.
Malam itu, ia duduk di tepi ranjang kamar pengantin yang telah disiapkan keluarga Aldi. Kedua tangannya bertumpu di atas pangkuan, sementara pandangannya kosong menatap lantai. Beberapa jam lalu ia masih seorang perempuan biasa yang hidupnya hanya dipenuhi tagihan dan biaya rumah sakit.
Sekarang… Ia menyandang nama belakang pria yang bahkan nyaris tidak dikenalnya.
Pintu kamar terbuka.
Sena refleks mengangkat kepala.
Aldi masuk tanpa sepatah kata. Jas pengantinnya sudah dilepas, menyisakan kemeja putih yang bagian lengannya digulung hingga siku.
Wajah pria itu terlihat lelah, tetapi sorot matanya tetap sedingin biasanya. Ia menutup pintu, lalu berdiri beberapa langkah dari Sena.
Keheningan kembali memenuhi ruangan. Entah sudah berapa lama Sena menatap pria itu.
Sampai akhirnya Aldi mendengkus pelan.
"Kenapa lihat saya begitu?” Tatapan Aldi perlahan beralih ke wajah Sena. Kali ini jauh lebih tajam. Rahangnya mengeras seolah menahan sesuatu yang sejak tadi ingin ia luapkan. “Bukannya ini yang kamu inginkan?"
Sena mengernyit bingung. "Saya..."
"Atau..." Aldi memotong ucapannya tanpa memberi kesempatan Sena menjelaskan. "Kamu masih mengharapkan malam pertama?"
Derap langkah sepatu itu mendengung teratur di sepanjang selasar yang lengang. Sosok tinggi tegap yang seminggu ini menghilang akhirnya muncul di balik belokan koridor. Aldi berjalan dalam balutan jas putihnya yang kaku. Wajahnya tampak lebih tirus, garis rahangnya melembut kusam, dan matanya meredup menyisakan aura dingin yang begitu tertutup. Sena menahan napas. Jemari tangannya meremas lipatan celana kain seragamnya di dalam saku."Turut berduka cita ya, Dokter Aldian..." bisik suster senior yang berdiri paling depan."Terima kasih," balas Aldi singkat. Suaranya serak dan berat, hampir tanpa ekspresi. Pria itu terus berjalan pelan, membalas anggukan prihatin dari setiap staf medis yang berbaris di sepanjang nurse station. Setiap ucapan duka ia te
Sepanjang sisa malam, keheningan ruang perawatan Arya terasa begitu menghimpit. Sena tak benar-benar memejamkan mata. Di atas sofa tempat gadis itu berbaring, jemarinya yang gemetar kaku tak henti mengetikkan baris pesan singkat ke nomor Aldi. Tak peduli walaupun apa yang dikirimkannya tak pernah benar-benar sampai lantaran nomor tersebut tidak aktif.[Dokter ada di mana?][Semua orang di rumah nyariin. Tolong kabarin saya kalau butuh bantuan.] Di layar kaca yang menyala remang di kegelapan, status pesan itu bergeming pada centang satu. Menyakitkan dan tanpa kepastian. Hingga saat bayang fajar mulai menyusup tipis dari celah tirai, getar pendek di genggamannya membuat dada Sena melompat kencang.[Pak Dokter udah pulang, Mbak. Baru aja. Kasihan banget. Bajunya basah kuyup.] Begitulah isi laporan Mbak Ami lewat baris teks. Sena memejamkan mata erat-erat, mengembuskan napas panjang yang tertahan sejak semalam. Ada rasa lega yang luar biasa
Satu per satu petugas medis yang tadi berada di sekitar brankar itu perlahan mundur dan berbalik badan. Hanya tersisa Sena yang masih terpaku di tempatnya. Gadis itu tetap menatap tak percaya pada apa yang baru saja dia dengar tadi. Hingga suara langkah yang semakin dekat membuat Sena terhenyak pelan. Aldi muncul dengan wajah pucat dan mata yang sudah memerah. Pria itu lantas mendekap erat tubuh Karina yang sudah bebas dari bantuan alat medis.“Jangan pulang ke rumah. Saya tidak mau keadaan semakin memburuk. Tolong mengertilah,” ucap Aldi setelah berangsur menegakkan badannya. Sena mendongak walaupun Aldi tidak menoleh ke arahnya. Permintaan barusan ia respon dengan anggukan pelan. “Baik, Dok. Sa-saya turut berduka.” Aldi hanya diam. Perlakuan yang membuat Sena cukup tahu diri hingga akhirnya dia bergegas meninggalkan ruangan tersebut.“Mbak Sena baik-baik aja ‘kan?” sapa Damar dengan suara berbisik begitu Sena muncul di ambang pintu r
Aldi menjambak rambutnya sendiri, meluapkan seluruh frustrasi yang menghantam dadanya. Jemarinya mencengkeram erat helai-helai hitam itu untuk mengikis rasa sesak yang melingkupi dadanya. Sementara di samping meja kerjanya, Dokter Hendra masih berdiri diam dengan kedua tangan saling bertautan di depan tubuh, menatap lantai dingin tanpa bersuara."Tapi kenapa? Kenapa Karina mau bunuh diri?" Pertanyaan Aldi keluar dengan suara tercekat, pecah di tengah keheningan ruangan yang membekukan. Pria itu menggeleng tak percaya. Wajahnya yang biasa dingin dan tegar kini menyisakan garis-garis kehancuran seorang suami yang mendadak kehilangan arah. Sementara itu, Sena duduk menunduk di kursi kayu berpelitur di pojok ruangan. Ia menatap Aldi dengan pandangan iba yang amat dalam
"Tim laboratorium menemukan konsentrasi obat pemicu henti jantung," ujar Aldi dengan suara datar. "Cairan itu disuntikkan langsung ke dalam kantung infus." Sena menggeleng pelan. Matanya membelalak seketika. Kedua tangannya perlahan naik menutup mulutnya, syok mendengar informasi tersebut.Aldi melanjutkan kalimatnya dengan nada yang makin menyudutkan. "Orang terakhir yang bersama Karina itu kamu. Kamu sengaja memperlambat tetesan infusnya 'kan agar efeknya tidak langsung terjadi?" Sena mengepal jemarinya kuat-kuat di sisi tubuh, menahan napas yang mendadak terasa menyengat di tenggorokan demi menjaga suaranya agar tidak pecah di depan Aldi."Dokter menuduh saya tanpa bukti," ucap Sena pelan. Sungguh ia tak menyangka akan dituding seperti itu. Matanya seketika berkaca-kaca."Siapa lagi kalau bukan kamu?" tekan Aldi.
Sena bergegas menuju ruangan Karina. Namun, langkahnya seketika terhenti beberapa meter dari pintu kamar tersebut. Di sana, tim petugas medis sudah memenuhi ruangan dalam situasi darurat. Suara instruksi yang saling bersahutan, benturan instrumen logam, hingga bunyi nyaring monitor jantung terdengar memotong kesunyian lorong. Jadilah gadis itu menjauh dan memandang dari kejauhan. Sena memilih berdiri mematung di balik pilar koridor yang temaram. Dari balik celah pintu yang sedikit terbuka, ia menyaksikan tim medis berjuang menangani tubuh Karina yang sama sekali belum merespon pertolongan yang dilakukan. Hingga kemudian.."Tekanan darah mulai naik! Pulse kembali teraba!" seru salah satu perawat sembari menatap tajam layar monitor.Dokter penanggung jawab menyapu keringat di dahinya dengan lengan baju. "Bagus. Irama jantungnya sudah stabil. Pasang monitor portabel sekarang.""Segera koordinasi dengan tim lantai satu. Pindahkan pasien ke ruang ICU sek







