LOGINElara Moretti tak pernah meminta menjadi istri seorang mafia. Dante Valentino datang membawa pernikahan yang lebih mirip kutukan. Berbahaya, tanpa ampun. Dan pria yang menikahinya diduga terlibat dalam kematian orang tuanya. Elara membencinya, tapi Valentino tetap di sisinya saat dunianya runtuh. Dingin, protektif, sulit ditebak. Di tengah bahaya yang mengintai, Elara harus menemukan kebenaran tentang misteri kematian orang tuanya. Tapi apakah ia bisa bertahan saat hatinya mulai goyah oleh semua perlakuan Valentino yang membingungkan?
View MoreDalam perjalanan pulang, Elara duduk di dalam mobil, diantar oleh sopir.Sementara itu, Valentino masih sibuk. Dia harus menghadiri pertemuan penting, mewakili perusahaan milik orang tua Elara—perusahaan yang kini berada di bawah kendalinya.Elara menatap jendela, senyum tipis mengembang di wajahnya. Besok, adiknya akhirnya diperbolehkan pulang. Tentu saja itu membuatnya bahagia. Namun, bukan hanya kabar itu yang membuat hatinya terasa hangat. Ada sesuatu yang lain—sesuatu yang sulit ia jelaskan, tetapi cukup untuk meleburkan sedikit dinding di hatinya.“Leon, kenapa perban di tanganmu semakin banyak? Kau sedang dirawat atau bertransformasi jadi mumi?” Valentino melirik Leon dengan ekspresi datarnya yang khas.Leon terkekeh, mengangkat tangannya yang penuh perban dengan bangga. “Perawat cantik tadi bilang, aku harus tampil beda. Katanya, aku terlalu tampan kalau tidak ditutupi sedikit.”Valentino menghela napas, lalu menepuk kepala Leon pelan. “Kalau begitu, mungkin aku harus membungk
“Nona bisa menambahkan madu jika rotinya kurang pas di lidah Anda,” ujar Cindy, sang kepala maid, dengan sopan.“Tak perlu. Aku suka selai anggur buatan kalian,” puji Elara ringan, menyendokkan sedikit selai ke rotinya.Cindy tersenyum kecil. Ini pertama kalinya seorang penghuni mansion memuji makanan mereka secara langsung. Biasanya, Valentino—si Tuan Rumah—tidak pernah berkata apa pun soal rasa. Pria itu hanya makan, lalu pergi tanpa ekspresi.“Selamat makan, Tuan, Nona.” Cindy membungkuk hormat sebelum melenggang pergi.“Terima kasih, Cindy.” Elara melirik Valentino yang tetap datar. Dalam hati, ia menggerutu.‘Dia ini hidup di dimensi apa, sih? Sampai hal sekecil ini aja nggak peduli. Cindy kelihatan begitu senang hanya karena pujian receh. Apa si manusia kulkas ini punya anggaran buat ngeluarin satu kata aja buat maid yang udah capek-capek ngurusin makannya?’Sementara itu, Dante Valentino masih setia mengunyah makanannya tanpa suara. Hanya bunyi denting halus garpu yang menyent
"Kau yakin bisa sendirian?" Suara Elara terdengar ragu, matanya menyorot tajam ke arah Valentino."Kau belum mengenal siapa suamimu ini? Seharusnya kau lebih khawatir pada dirimu sendiri." Valentino menutup pintu kamar mereka dengan satu dorongan kuat. "Tetaplah di sini. Ini tempat paling aman untuk bersembunyi."Tanpa menunggu jawaban, ia melangkah pergi, meninggalkan Elara dalam riuh pikirannya sendiri. Dari jendela, ia melihat mobil Valentino melaju menembus gelapnya malam."Walaupun aku membencinya, tapi Tuhan, tolong biarkan dia pulang dalam keadaan hidup." Untuk pertama kalinya, doa Elara tak dipenuhi sumpah serapah.---Di sebuah bangunan terpencil, udara dipenuhi aroma keringat dan debu."Kau masih belum mau bicara, Pak Tua?" Seorang pemuda menekan moncong pistol ke bahu Elio, menekannya cukup kuat hingga pria tua itu mendecak. "Di mana kunci brankas berisi obat yang kami inginkan?"Elio hanya mendengus. "Sudah kubilang, keponakanku yang memegangnya." Tatapannya tetap tajam. I
“Dia orang pertama yang menolongku waktu kejadian itu.” Leon menatap langit-langit kamar. “Kalau bukan dia, aku mungkin udah nggak ada.”Pupil mata Elara melebar.Ia tahu Valentino yang menyelamatkan adiknya dari insiden malam itu, ia tahu semuanya dari mantan detektif keluarga Moretti. Tapi ia tidak pernah benar-benar memikirkan bagaimana itu terjadi.Apakah Valentino yang membawa Leon keluar dari neraka berdarah itu? Apakah ia harus bertarung hanya untuk menjaga bocah ini tetap hidup?Pikiran itu membuat hatinya mencubit perih.Tapi sebelum ia bisa bertanya lebih jauh, suara Valentino yang berbicara di telepon menarik perhatiannya.Pria itu berdiri tidak jauh dari ruangan, tubuhnya tegap dengan satu tangan di saku celana dan tangan satunya memegang ponsel di telinga.“Di misi kali ini bawa Elara bersamamu, Dante,” ujar seseorang dari panggilan suara. Ekspresi Valentino seketika berubah serius.Bukan lagi Valentino yang baru saja bercanda dengan Leon, tapi Valentino yang sesungguhny
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.