Se connecterJose memandangi dengan tenang, tanpa sedikit pun berniat menghentikan. Sepasang matanya yang dingin terselip sedikit senyuman.Dia bersandar santai ke dinding. Kedua tangan terlipat di dada, sepasang kaki panjangnya bersilang, dan kaki kanan sedikit menekuk. Gerakannya terkesan malas dan menggoda."Sudah ketemu?" tanya Jose sambil tersenyum tipis ketika melihat Aura keluar dari kamar mandi.Langkah kaki Aura terhenti. Dia merasa sedikit kikuk, seolah-olah perbuatannya baru saja terbongkar. Namun, segera setelah itu, dia menatap Jose dengan ekspresi marah. "Jadi, kamu benaran punya perempuan lain di luar, 'kan?"Jose mengangkat alis, menatap wajah Aura yang galak itu. Senyuman di bibirnya malah semakin jelas."Perempuan lain?" Dia berdiri tegak dari dinding, lalu perlahan melangkah ke arah Aura.Jose lebih tinggi satu kepala dari Aura. Kini, dia berdiri tepat di hadapan Aura, menunduk sambil memandang dari atas.Tubuhnya menutupi cahaya lampu, menyelimuti Aura dalam bayangan. Sudut bibi
Kedua tangan Aura mengepal tanpa sadar. Kuku-kukunya menancap ke dalam telapak tangan sampai terasa sakit. Baru saat itu dia sadar kalau dirinya sudah terlalu kehilangan kendali.Setelah diam beberapa saat, dia bangkit dan pergi ke ruang ganti. Dia berganti pakaian, mengambil kunci mobil, dan melajukan mobilnya menuju Kelab Fana.Kalaupun harus mati, Aura ingin mati dengan tahu kebenarannya.Kaley tidak mungkin berbohong. Jika Jose benar-benar mengkhianatinya, Aura akan pergi. Dengan pemikiran itu, dia menyalakan mesin mobil.Musim semi baru saja tiba. Udara mulai hangat dari hari ke hari. Namun, malam masih terasa dingin.Aura menyetir tanpa menutup jendela mobil, membiarkan angin malam yang dingin masuk, meniup rambutnya yang terurai. Pikirannya berputar tanpa arah.Beberapa detik kemudian, dia mengambil sebatang rokok dari kotak kecil di dashboard dan menyalakannya. Sudah lama sekali dia tidak merokok.Asap pertama masuk ke tenggorokan. Rasanya pahit, seperti hatinya. Satu batang ro
Saat Angel bersiap masuk ke ruangan, langkah kaki Kaley tiba-tiba terhenti. Dia menoleh ke arah pintu kamar Jose.Ferdy yang sedang mengejarnya juga berhenti, memandangnya dengan bingung."A ... ada apa?" tanya Ferdy dengan hati-hati.Dia benar-benar takut pada Kaley sekarang. Sejak Kaley hamil, emosinya menjadi sangat tidak stabil. Kini, dia berada di antara cinta dan ketakutan.Kaley menatap Angel yang baru saja masuk ke kamar Jose. Giginya bergemeletuk. "Memang laki-laki itu nggak ada yang bisa dipercaya."Ferdy menangis dalam hati, tetapi hanya bisa menjelaskan dengan pasrah, "Sayang, aku benar-benar nggak kenal perempuan itu. Aku cuma bantu dia karena hampir jatuh."Kaley melirik dengan sinis. "Ya, ya, kamu memang orang paling baik di dunia. Hari ini kamu bantu dia berdiri, besok kalau dia mau punya anak, kamu juga mau bantu?"Belum sempat Ferdy menjawab, Kaley sudah berbalik dan pergi.Ferdy menghela napas panjang, lalu cepat-cepat mengejar. Namun, ketika dia hampir sampai, Kaley
Tubuh Angel menegang hebat. Perasaannya penuh kegembiraan. Dia berusaha menenangkan diri, lalu menoleh dengan malu-malu pada Jose. "Pak Jose ... panggil aku? Ada perlu apa?"Tatapan Jose mengandung rasa ingin tahu. "Namamu siapa?""Angel," jawabnya pelan.Tatapan penuh minat di mata Jose perlahan surut. Dia berdiri, lalu berjalan ke luar ruangan.Angel terpaku di tempat, tak tahu apa maksudnya. Tadi jelas Jose yang menyuruhnya menunggu, tetapi sekarang justru dia pergi duluan.Saat dia masih bingung, Marsel yang berdiri di luar pintu tiba-tiba muncul. "Nona Angel, Tuan Jose memintamu turun."Jantung Angel kembali berdebar hebat, tetapi dia berusaha menahan ekspresinya di depan Marsel. Dia hanya mengangguk pelan. "Tolong antar aku ke sana."Marsel berbalik, memimpin Angel keluar. Setelah turun ke lantai dasar, mereka berhenti di depan sebuah mobil Mercedes-Benz. "Nona Angel, silakan naik."Angel sempat berpikir Jose akan menunggunya di bawah, tetapi ternyata tidak. Ada sedikit rasa kece
Angel berjalan-jalan di dalam kelab itu tanpa tujuan. Matanya sesekali menelusuri ke balik beberapa pintu yang setengah terbuka untuk mencari jejak Jose. Karena di lantai pertama tidak melihat sosok Jose, dia naik ke lantai berikutnya."Tip dari Pak Jose selalu yang paling banyak." Dua pelayan yang lewat di samping Angel berbisik pelan, tetapi suara itu tepat terdengar olehnya.Langkah Angel terhenti seketika. Dia refleks menoleh ke arah ruang VIP tempat dua pelayan itu keluar. Wajahnya seketika berseri-seri.Seketika, terlintas sesuatu di benaknya. Angel segera mempercepat langkahnya, mengikuti dua pelayan tadi dari belakang.Sekitar setengah jam kemudian, Angel sudah berganti pakaian. Dia mengenakan seragam pelayan, lalu mendorong troli berisi minuman ke dalam ruang VIP tempat Jose berada.Jose duduk di tengah sofa. Tubuh tegapnya tampak semakin berwibawa dengan kaki panjang bersilang. Dia memegang sebatang cerutu, mengisapnya perlahan, lalu menoleh pada pria paruh baya di depannya s
Jose hanya menggumam pelan sebagai jawaban. Dia mengangkat tangannya, memijat pelipis sebentar, lalu mengambil ponsel dan mengirim pesan kepada Aura.[ Malam ini aku pulang agak larut, nggak perlu menungguku. ]Begitu pesan terkirim, Marsel yang sedang menyetir melirik ke kaca spion, lalu mengerutkan alis. "Ada yang mengikuti kita."Gerakan jari Jose terhenti. Dia mendongak dan melirik ke arah spion dengan penuh minat. Benar saja, di belakang mobil mereka ada sebuah mobil merah yang terus mengikuti.Jose berpikir cepat, samar-samar mengingat kalau mobil itu memang sudah mengikuti mereka sejak keluar dari basemen. Tadi dia hanya tidak memperhatikannya."Mau disingkirkan, Tuan?" tanya Marsel.Sudut bibir Jose terangkat tipis. "Nggak usah. Aku malah ingin lihat, siapa yang berani main duluan."Mendengar itu, Marsel tersenyum samar, seolah-olah tertarik dengan permainan ini. Dia tidak melakukan apa pun, berpura-pura tidak menyadari apa yang terjadi, dan terus melajukan mobil seperti biasa.







