เข้าสู่ระบบ“Oh, kamu sudah selesai, Ro … se.” Suara Cade terdengar menggantung ketika menoleh ke pintu kamar mandi yang terbuka. Rose keluar sama sepertinya, menggunakan handuk saja untuk membalut tubuhnya. Ini pertama kalinya Cade melihat Rose tidak menggunakan pakaian panjang. Pertama kalinya dia melihat kulit Rose yang cerah dan tampak halus. Cade menelan ludah. Hasrat lelakinya sudah membara, tapi dia tak bisa menerkam Rose begitu saja. Dia membiarkan wanita itu duduk beberapa jengkal di sampingnya, di pinggir kasur. Jujur saja, dia tak tahu bagaimana harus memulainya. Kesunyian yang kembali melanda menandakan betapa canggungnya suasana di antara mereka berdua. Sama-sama tidak ada yang mau memulai duluan. “Kamu … benar tidak masalah?” tanya Cade pada akhirnya, “aku takut menyakitimu.” Rose menjawab cepat, “Tidak. Sudah kubilang kan, kalau itu kamu, aku tak keberatan.” Di akhir kalimat Rose, dia terkesiap hebat mendapati Cade meraih pundaknya. Cade merebahkan tubuhnya dengan cepat
“Kalau itu Cade, aku tidak keberatan.” Rose menegaskan kalimat sebelumnya, disertai senyum manis yang samar. “Asalkan bersama Cade, aku mau menjalankan program ini.”Cade mematung. Mimiknya seakan baru saja mendapat hadiah 500 juta Goldyn. Masih belum percaya, dia bertanya memastikan, “S-sungguh?”“Ya. Aku juga dibutuhkan oleh mereka yang mau meneliti darahku, kan? Jika ini diharuskan demi kepentingan orang banyak, aku tak masalah.” Rose melirik Cade dengan wajah merona. “Tapi, tolong lakukan dengan pelan. Karena ini ... pertama kalinya buatku.”“Ini juga akan menjadi yang pertama kali bagiku,” sahut Cade.Lirikan Rose seketika berubah menjadi pelototan lebar. Mukanya terlipat, sudut bibir kanannya terangkat, menunjukkan ekspresi tidak percaya atas pengakuan Cade.“Kenapa? Kamu tidak percaya? Memangnya, kamu kira aku cowok apaan?” tanya Cade.“Tapi, kamu Riders ... kan? Mustahil kamu tak pernah melakukannya,” tukas Rose.Cade mengusap wajahnya sembari menghela napas pendek. “Su
Rose hanya termenung memandangi Cade, mendengarkan setiap kalimatnya dalam diam. Bibirnya terlihat bergetar, tapi tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya.“Jadi kumohon, teruslah hidup bersama kami, Rose,” lanjut Cade.Cade menggerakkan jari jempolnya untuk mengusap air mata terakhir Rose yang mengalir. Dia ikut terdiam setelahnya, menunggu respons Rose yang mulai menarik napas. Rose berkedip sekali, masih mempertahankan tatapannya pada Cade.Jantung Cade berdebar tidak karuan. Bukan karena sedang berdua saja dalam satu ruangan bersama Rose. Melainkan karena menanti respons Rose yang tak bisa dia duga. Dia tak tahu Rose akan menerima perkataannya ... atau justru menolaknya.Sekujur tubuh Cade rasanya menegang. Hingga sebuah senyum tipis terbentuk di bibir Rose. Bersamaan dengan suara pelan yang terdengar lebih tenang.“Terima kasih ... Cade,” ucap Rose, “aku beruntung ada kamu di sini sekarang.”Cade tak kuasa menahan senyumnya. Dia menepuk-nepuk pundak Rose sambil berkata, “
Tatapan Cade berubah sendu melihat raut syok Rose setelah mendengar kabar soal ibunya. Tubuh Rose membeku, kaku seperti patung. Matanya yang membeliak mulai basah kembali. Air mata yang mendadak memenuhi pelupuknya mulai turun ke pipi tanpa dia sadari. Bibirnya yang bergetar bergerak membentuk kata.“Kamu … bohong, kan? Kenapa—eh … bagaimana … bagaimana bisa ibuku dieksekusi?” tanya Rose, “apa karena penelitian itu menggunakan darah miliknya?”“Bukan,” jawab Cade langsung, “Alan bilang, ibumu dieksekusi karena tidak bisa hamil dengan seluruh pasangan programnya. Dia dianggap tidak berguna dan disingkirkan.”Ada nyeri yang menjalar di ulu hati Rose saat mendengarnya. Dadanya sesak tidak karuan. Suara tangisnya pun tidak pecah, membuatnya terisak tertahan.Ibunya mati bukan karena sakit. Atau kecelakaan. Tapi mati karena tidak bisa hamil. Dia dibunuh karena sebuah hal yang berada di luar kuasanya. Alih-alih menangis, Rose justru menunduk dengan tatapan kosong. Meratapi kehidupan di
Melihat sosok Rose yang menatapnya dengan tatapan tidak percaya, mata Cade pun melebar. Tubuhnya membeku, selagi bola matanya bergerak menyusuri setiap penampilan Rose. Badan terlihat ringkih, bibir pucat dan sedikit kering, kantung hitam tersemat di bawah mata, hingga rambut cokelat panjangnya terurai berantakan. Dia pasti belum makan dan minum selama berhari-hari.Kondisi Rose membuat hati kecil Cade mencelos. Penampilan Rose sekarang bahkan lebih parah daripada saat Cade pertama kali bertemu dengannya di Wilayah Luar. Dia mendekat pada Rose yang masih mematuhi di tempatnya. Raut wajah Rose seperti sedang melihat hantu, terkejut luar biasa melihat Cade yang seharusnya tak ada di hadapannya.“Cade …? Bagaimana kamu bisa ada di sini?” tanya Rose dengan suara bergetar, “bukannya … kamu … sudah ditangkap—”Cade menyentuh kedua pundak Rose, membuat mata keduanya bertemu. “Aku baik-baik saja, Rose. Dan Alan yang memanggilku kemari. Demi dirimu.”Rose terkesiap. Kepalanya memutar ingat
Cade mengira dia dibawa ke laboratorium untuk sekedar melakukan pemeriksaan fisik lanjutan saja. Akan tetapi, Alan rupanya menjelaskan lebih lanjut terkait penelitian yang ingin para tenaga medis lakukan pada darah Rose. Termasuk bagaimana cara terbaik untuk mengambil sample darahnya dengan bantuan Cade.Di lorong yang panjang dan diterangi banyak lampu, Cade berjalan di antara penjaga keamanan yang mengawalnya. Dua di depan, dua di belakang. Suasananya begitu tegang, sampai-sampai Cade tak mampu untuk berdeham walau sekali saja. Sebelum dibawa pergi dari laboratorium, Cade diminta untuk berganti pakaian yang disediakan dari Sanctuary Dome. Beruntung bukan pakaian pasien rumah sakit seperti yang Cade bayangkan sebelumnya. Dia diberikan kaos hitam berlengan pendek dengan kerah sempit yang terlihat cukup ketat untuk tubuh kekarnya. Sementara celananya bermodel slim dan berwarna senada. Daripada peserta program, Cade merasa pakaian ini lebih seperti agen mata-mata.Sepanjang langkahn
Sedikit miris bagi Rose mendapati dirinya justru membayangkan Cade di saat-saat seperti ini. Dia pun mengumpat dalam hati, menyalahkan perasaannya yang sejenak menjadi lembek karena dihadapkan oleh situasi yang mengerikan.‘Sialan, kenapa aku malah memikirkan dia! Dia juga sama saja mau menjualku.
“Rupanya dia wanita, ya. Hebat kamu, Leon! Dengan begini, kita bisa dapat 500 juga Goldyn!” Ketua Perampok berjenggot tebal yang bernama Milan, merangkul dan mengusap-usap rambut pirang LeonBeberapa jam lalu. Rose tidak bisa berkutik ketika Leon mengangkutnya ke mobil jeep pada perampok. Kakinya
Saat melihat mobil-mobil jeep itu ditunggangi oleh para perampok, Rose meyakini satu hal. Bahwa nasib dirinya akan selalu sial sejak dia pergi dari tempat tinggalnya. Baru saja berhasil kabur dari Cade, dia harus bertemu dengan kelompok perampok. Bagaikan keluar lubang buaya masuk kandang harimau.
Cade terbahak mendengar Rose mengatakan seluruh kalimat tadi dengan penuh tekad. Gelak tawanya menggelegar di ruang bawah reruntuhan yang cukup sempit itu. Dia tertawa seperti sedang melihat lelucon di televisi, jelas sedang mengejek Rose.Cade berkata, “Apa kamu bilang? Mau membawanya kabur? Kamu







