แชร์

BAB 8 - Cade Datang

ผู้เขียน: Anna Naura
last update วันที่เผยแพร่: 2026-05-13 00:33:08

Sedikit miris bagi Rose mendapati dirinya justru membayangkan Cade di saat-saat seperti ini. Dia pun mengumpat dalam hati, menyalahkan perasaannya yang sejenak menjadi lembek karena dihadapkan oleh situasi yang mengerikan.

‘Sialan, kenapa aku malah memikirkan dia! Dia juga sama saja mau menjualku. Kalau pun dia datang, dia akan tetap membawaku ke Sanctuary Dome!’ batin Rose dalam hati.

Meski dia sudah memarahi diri sendiri seperti itu, ada serpihan kecil dalam hatinya yang berusaha mengingkari hal tersebut. Berusaha mengingkari bahwa Cade tidak seburuk yang dia duga.

Rose memejamkan mata. Buru-buru dia tentang habis-habisan suara hati kecilnya yang masih berharap pada Cade. ‘Kenapa aku sempat-sempatnya berbaik sangka pada Cade? Ingat, Rose! Dia mau menjualmu, dan dia kasar! Mustahil juga dia akan datang. Dia pasti akan lebih memilih lanjut berkelana daripada repot-repot mencariku,’ batin Rose yang mengalami pergolakan batin.

“Hei.” Suara Milan yang serak membuyarkan lamunan Rose. Dia menangkup wajah Rose, lalu memaksanya untuk bertatapan dengannya.

Rose tidak bisa menghindar. Dia hanya mendecak saat wajahnya ditarik, lalu matanya beradu pandang dengan mata sayu Milan, si pria tua yang sedang mabuk. Milan terkekeh dan berkata, “Benar kata Leon, kamu itu pembangkang. Aku tak mau kasar padamu, Manis. Karenanya, menurutlah dan jadilah gadis baik.”

Tubuh Rose berjengit ketika Milan mencondongkan wajahnya ke arah Rose dengan bibir mengerucut. Dia hendak menciumnya. Mata Rose terpejam, bibirnya terkatup rapat-rapat, dan wajahnya berusaha dia palingkan.

Namun, cengkeraman Milan pada wajahnya begitu kuat, membuatnya terkunci dan tak bisa bergeser sama sekali. Kala napas Milan terasa makin dekat menyentuh wajah Rose, sebuah suara menghentikan gerakannya.

“Hoi! Kamu tidak boleh menyentuh barang orang lain.”

Rose seketika membuka matanya. Suara itu terdengar familier. Suara yang belum lama ini didengarnya. Rose melirik, berusaha melihat siapa gerangan yang mampu membuat gerakan Milan terhenti.

Di belakang Milan, pria itu berdiri setengah menunduk. Satu tangannya mencengkeram kerah belakang kaus yang dipakai Milan, lalu menariknya dengan kasar. Milan terhuyung ke belakang dan jatuh terduduk.

Rose tidak bisa melihat wajah pria itu karena tertutup oleh tudung. Namun, dia tahu jelas itu siapa. Dia Cade. Benar-benar Cade. Jubah yang dipakainya sama seperti yang dia berikan pada Rose tadi siang.

“Apa-apaan kamu?” bentak Milan pada Cade yang seenaknya mengganggu kesenangannya, “kamu anggota baru, ya? Tidak tahu kalau Ketua-lah yang berhak untuk giliran pertama? Kamu tak tahu istilah antre?”

Cade duduk berlutut di hadapan Milan, menatapnya dengan sorot mata yang menusuk. “Maaf, Tuan. Pertama, aku bukan anggota kalian. Kedua, kalian tidak berhak atas apa pun. Gadis ini adalah milikku, asal kamu tahu.”

Milan tersentak tak terima, “Hah? Bicara apa kam—”

BUK!

Tanpa menunggu sedetik pun terlewat, Cade memukul Milan dengan tinju penuhnya. Sekuat tenaga, sampai Milan terlempar jauh ke samping dan menabrak bagian belakang mobil para perampok.

Suara hantamannya begitu keras, menarik perhatian semua anggota perampok yang tengah mabuk selama menunggu giliran. Sontak, para perampok berlari ke belakang mobil, tempat Cade sedang membuka borgol Rose dengan belati yang dibawanya.

“Hei! Siapa kamu!” teriak salah satu perampok, menoleh sebentar pada ketuanya yang terkapar di tanah dengan kepala berdarah, lalu menatap Cade lagi, “apa yang kamu lakukan pada Ketua Milan?!”

Cade tidak menjawab, tetap fokus membuka borgol tangan dan kaki Rose. Dia hanya mendecak kesal dan bergumam, “Para perampok yang merepotkan.”

Rose tertegun melihat Cade membebaskannya dari borgol. Cukup lama dia memandangi wajah Cade yang tersembunyi dari balik jubah, sebelum akhirnya berkata, “Kenapa kamu ke sini?”

“Menurutmu?” tanya Cade balik, “barang daganganku pergi sendiri, sudah seharusnya aku mencarinya.”

“Oh, demi 500 juta itu, ya,” gumam Rose disertai helaan napas panjang.

Cade melempar asal-asalan kedua borgol yang sudah lepas, “Yah, sebenarnya bukan hanya—”

“Hei! Diajak bicara, kok, malah ngobrol sendiri!” bentak seorang perampok yang tiba-tiba mencekal tudung Cade hingga rambutnya ikut tertarik. Dia menodongkan senapan laras panjangnya ke kepala belakang Cade dan berseru, “Siapa kamu?! Mengaku atau kuhabisi kamu!”

“Cade!” Rose hendak berlari ke arah Cade, tapi suara senapan yang terangkat menghentikan langkahnya.

Dia mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Para perampok sudah mengepungnya dan Cade. Puluhan senapan mengarah padanya. Rose bergeming di tempatnya. Kakinya kaku meskipun sudah dalam posisi berlutut, siap berlari.

Terdengar langkah kaki Leon mendekat, “Tahan tembakan kalian, Kawan. Kalau gadis ini lari, tembak saja kakinya, ya. Jangan bunuh dia.”

“Tapi, tampaknya kamu tak akan lari ke mana pun, kan? Orang asing yang mau membebaskanmu juga tidak bisa melakukan apa-apa,” desis Leon sembari merangkul Rose dan mendekapnya dengan kencang.

Jarinya menunjuk Cade. “Dia kenalanmu?” tanya Leon.

Rose terdiam. Mulutnya dia tutup rapat-rapat, tidak mau menjawab apa pun. Leon mengulangi pertanyaannya, tapi Rose tetap tidak memberi jawaban. Diselimuti kesal yang memuncak, Leon pun mencekik leher Rose dengan tangan yang sedang merangkulnya.

“Siapa dia?! Jawab!” bentak Leon.

Saat Rose hendak membuka mulut, Cade bicara lebih dulu, “Dia barang daganganku. Kalian telah merampasnya dariku, jadi aku akan mengambilnya kembali.”

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Menjadi Tawanan Empat Pria Tampan   BAB 149 - Sampai di Sanctuary Dome

    Perjalanan menuju Sanctuary Dome benar-benar memuakkan. Bagi Rose, terutama. Darvin tak henti-hentinya mengoceh, berusaha mengulik informasi dari Rose mengenai hubungannya dengan Cade. Rose terus bungkam, tapi mulut Darvin yang tak berhenti bersuara membuat emosi Rose lama-lama memuncak.Namun, Rose tidak bisa membentak Darvin begitu saja. Darvin punya kuasa, bisa jadi Rose ditembak bius jika membantahnya. Pada akhirnya, yang bisa Rose lakukan hanyalah melipat kedua tangan di dada, memalingkan wajah, dan merapatkan bibir. Pertanyaan-pertanyaan Darvin pun dijawab sekenanya oleh Alan, yang mengakunya ditawan setelah Rose.Berbeda dengan Rose, Alan harus menunjukkan citra pekerja yang loyal di hadapan Darvin, demi mendukung sandiwara yang telah dibangun Cade. Dia berpura-pura menjadi pekerja yang rindu dengan Sanctuary Dome. Menutupi fakta bahwa dia pergi atas kemauannya sendiri.Jika disuruh memilih, tentu Alan tidak ingin kembali ke Sanctuary Dome sebagai pekerja. Dia ingin kembali,

  • Menjadi Tawanan Empat Pria Tampan   BAB 148 - Dibawa Pergi

    Rose tak bisa menolak saat Darvin membawanya lebih jauh. Dia sempat menengok ke belakang, tapi Cade maupun Leon tidak menatapnya balik. Mereka sedang berhadapan dengan Thomas, entah apa yang mereka bicarakan. Hingga tamparan Thomas mendarat dengan kasar di wajah Cade. Suaranya cukup keras, membuat Rose tersentak melihatnya. Dia lupa bahwa dia sedang digiring oleh Darvin dan sempat hendak berlari menuju Cade.“Whoa, mau ke mana kamu, Nona? Mereka bukan urusanmu lagi.” Dengan cekatan, Darvin langsung menarik Rose agar tetap berjalan di sampingnya. “Lagi pula, bukankah para pria di sana mengaku kamu adalah tawanannya? Kenapa kamu tampak peduli dengan mereka?”Rose tidak menjawab. Dia hanya menunduk dan terus berjalan dalam diam.“Selain itu, mereka adalah buronan Riders. Yang artinya mereka bukan orang biasa. Apa yang telah mereka perbuat sampai bajingan ganas seperti Walsh mencari mereka?” kata Darvin.“Itu bukan urusanmu,” ucap Rose sedikit ketus. Ucapan Darvin benar-benar memant

  • Menjadi Tawanan Empat Pria Tampan   BAB 147 - Kesepakatan Baru

    Jantung Alan nyaris berhenti mendengar ucapan terakhir Darvin. Bukan hanya miliknya, tapi juga Rose. Kalau saja Darvin tidak terus menariknya, Rose sudah mematung di tempat. Dia memang tidak tahu apa pun soal kehidupan di Sanctuary Dome, tapi Alan sudah menceritakan padanya beberapa.Salah satunya soal penelitian yang diam-diam dilakukan para ilmuwan saat Alan masih bekerja di sana. Rose masih ingat cerita yang Alan sampaikan waktu dia jatuh sakit karena virus mutasi itu. Bahwa para ilmuwan melakukan penelitian secara sembunyi setelah mengetahui sesuatu yang istimewa dari darah Mariana Gringer, ibu Rose.Sebuah penelitian yang akan menghasilkan obat penyembuh virus Dextron jika berhasil. Penelitian yang tak akan didukung petinggi Sanctuary Dome, sebab mereka tak berniat menyelamatkan para rakyat.Darvin memang tidak menyebutkan penelitian apa itu, tapi Rose yakin yang dimaksud berkaitan dengan darah ibunya. Seketika, pikiran Rose tertuju pada nasib ibunya. Kalau penelitian itu teru

  • Menjadi Tawanan Empat Pria Tampan   BAB 146 - Nasib Tenaga Medis

    Cade meneguk ludah, sadar Darvin butuh diyakinkan. “Dia yang mengaku sendiri dari Sanctuary Dome. Aku serius. Kami menawannya karena sempat terkena virus Dextron dan kami tak bisa mengobatinya,” tambahnya.“Virus Dextron? Apa kalian berkelana sampai jalur Utara?” tanya Darvin.“Ya, demi menghindari dia,” jawab Cade langsung, bola matanya bergerak menunjuk Thomas.Thomas menimpali dengan ketus, “Hei, mana boleh begitu. Hunters hanya akan mengambil teman wanita—”“Kenapa tidak?” potong Cade tak kalah ketus, wajahnya penuh kebencian. “Buronanmu hanya aku dan Shin, kan? Memangnya kamu kenal dengan pria lemah ini? Dia merepotkan, jadi kembalikan saja dia ke tempat asalnya.”Demi meyakinkan Darvin bahwa Cade dan lainnya benar-benar menawan Alan, Cade tak segan-segan menendang pinggang Alan dengan kakinya. Dia tidak berniat terlalu kasar karena hanya akting, tapi sepertinya tenaga kecil Cade pun berdampak besar bagi tubuh ringkih Alan. Dia melotot sendiri saat melihat Alan sampai terjer

  • Menjadi Tawanan Empat Pria Tampan   BAB 145 - Terpojok

    Pengepungan ini benar-benar membuat Rose dan teman-temannya tak berkutik. Bukan cuma soal kalah jumlah, tapi dari segi persenjataan pun mereka tertinggal. Riders memiliki senjata yang lebih lengkap dan mematikan, sementara Hunters punya senjata khusus dari Sanctuary Dome.Cade menggigit bibir, keringat dinginnya mulai turun ke pelipis. Tangannya yang sudah bersiap mengambil pistol dan pisau di belakang pinggangnya kini membeku. Dia mendadak ragu, tak bisa memutuskan mana pilihan yang tepat untuk saat ini.Dia tahu Alan dan Leon memikirkan hal yang sama dengannya. Mereka ingin melindungi Rose. Ingin sekuat tenaga menghalau orang-orang asing ini dari menyentuh Rose. Akan tetapi, situasinya tak menguntungkan. Dilihat secara kasat mata pun ketahuan posisi mereka saat ini sangat dirugikan.“Ayo, serahkan wanita itu.” Darvin membuka kepalan tangan kirinya ke depan, sementara tangan kanannya tetap mengangkat pistol bius. “Lima detik. Atau kami tembak kalian semua bersamaan.”Terdengar de

  • Menjadi Tawanan Empat Pria Tampan   BAB 144 - Bius Sanctuary Dome

    Jika Rose dibawa oleh para Hunters setelah ini, dia mungkin bisa bertemu dengan ibunya kembali. Rencananya tak sepenuhnya gagal. Dia bisa melihat dan melepas rindu dengan sang ibu, tapi tak akan memiliki kesempatan untuk menyelamatkannya.Padahal niatnya melakukan perjalanan bersama Cade adalah untuk menyelamatkan ibunya. Bukan hanya sekadar melihatnya. Rose ingin membebaskan ibunya dari program yang mengekang hak wanita itu, membiarkannya menghirup udara bebas di Wilayah Luar. Kemudian dia akan merancang rencana yang lebih besar soal mengubah sistem di Sanctuary Dome.Akan tetapi, semua rencana yang sudah terlukis di pikirannya selama beberapa hari terakhir harus berakhir sekarang. Semua rencana itu pada akhirnya hanya bisa terjadi di angan-angannya. Rose mungkin akan dianggap beruntung karena tidak berakhir di tangan Riders, tapi tetap saja rencananya gagal.Dia tidak masuk ke Sanctuary Dome sebagai penyusup, melainkan kandidat Program Kehamilan Massal. Mau tak mau, dia harus men

  • Menjadi Tawanan Empat Pria Tampan   BAB 24 - Peta Wilayah Luar

    “Aku menyuruhmu membuangnya, tapi kenapa kamu malah memungutnya?!” Rode berteriak marah ketika melihat Cad kembali dengan menyeret Leon dan membantunya naik ke mobil. Cade tidak menjawab, lanjut menaiki mobil dan melajukannya kembali. “Hei! Jangan abaikan aku!” bentak Rose tepat di samping tel

  • Menjadi Tawanan Empat Pria Tampan   BAB 7 - Tertangkap, Lagi

    “Rupanya dia wanita, ya. Hebat kamu, Leon! Dengan begini, kita bisa dapat 500 juga Goldyn!” Ketua Perampok berjenggot tebal yang bernama Milan, merangkul dan mengusap-usap rambut pirang LeonBeberapa jam lalu. Rose tidak bisa berkutik ketika Leon mengangkutnya ke mobil jeep pada perampok. Kakinya

  • Menjadi Tawanan Empat Pria Tampan   BAB 6 - Bertemu Perampok

    Saat melihat mobil-mobil jeep itu ditunggangi oleh para perampok, Rose meyakini satu hal. Bahwa nasib dirinya akan selalu sial sejak dia pergi dari tempat tinggalnya. Baru saja berhasil kabur dari Cade, dia harus bertemu dengan kelompok perampok. Bagaikan keluar lubang buaya masuk kandang harimau.

  • Menjadi Tawanan Empat Pria Tampan   BAB 5 - Kabur dari Cade

    Cade terbahak mendengar Rose mengatakan seluruh kalimat tadi dengan penuh tekad. Gelak tawanya menggelegar di ruang bawah reruntuhan yang cukup sempit itu. Dia tertawa seperti sedang melihat lelucon di televisi, jelas sedang mengejek Rose.Cade berkata, “Apa kamu bilang? Mau membawanya kabur? Kamu

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status