로그인Sedikit miris bagi Rose mendapati dirinya justru membayangkan Cade di saat-saat seperti ini. Dia pun mengumpat dalam hati, menyalahkan perasaannya yang sejenak menjadi lembek karena dihadapkan oleh situasi yang mengerikan.
‘Sialan, kenapa aku malah memikirkan dia! Dia juga sama saja mau menjualku. Kalau pun dia datang, dia akan tetap membawaku ke Sanctuary Dome!’ batin Rose dalam hati. Meski dia sudah memarahi diri sendiri seperti itu, ada serpihan kecil dalam hatinya yang berusaha mengingkari hal tersebut. Berusaha mengingkari bahwa Cade tidak seburuk yang dia duga. Rose memejamkan mata. Buru-buru dia tentang habis-habisan suara hati kecilnya yang masih berharap pada Cade. ‘Kenapa aku sempat-sempatnya berbaik sangka pada Cade? Ingat, Rose! Dia mau menjualmu, dan dia kasar! Mustahil juga dia akan datang. Dia pasti akan lebih memilih lanjut berkelana daripada repot-repot mencariku,’ batin Rose yang mengalami pergolakan batin. “Hei.” Suara Milan yang serak membuyarkan lamunan Rose. Dia menangkup wajah Rose, lalu memaksanya untuk bertatapan dengannya. Rose tidak bisa menghindar. Dia hanya mendecak saat wajahnya ditarik, lalu matanya beradu pandang dengan mata sayu Milan, si pria tua yang sedang mabuk. Milan terkekeh dan berkata, “Benar kata Leon, kamu itu pembangkang. Aku tak mau kasar padamu, Manis. Karenanya, menurutlah dan jadilah gadis baik.” Tubuh Rose berjengit ketika Milan mencondongkan wajahnya ke arah Rose dengan bibir mengerucut. Dia hendak menciumnya. Mata Rose terpejam, bibirnya terkatup rapat-rapat, dan wajahnya berusaha dia palingkan. Namun, cengkeraman Milan pada wajahnya begitu kuat, membuatnya terkunci dan tak bisa bergeser sama sekali. Kala napas Milan terasa makin dekat menyentuh wajah Rose, sebuah suara menghentikan gerakannya. “Hoi! Kamu tidak boleh menyentuh barang orang lain.” Rose seketika membuka matanya. Suara itu terdengar familier. Suara yang belum lama ini didengarnya. Rose melirik, berusaha melihat siapa gerangan yang mampu membuat gerakan Milan terhenti. Di belakang Milan, pria itu berdiri setengah menunduk. Satu tangannya mencengkeram kerah belakang kaus yang dipakai Milan, lalu menariknya dengan kasar. Milan terhuyung ke belakang dan jatuh terduduk. Rose tidak bisa melihat wajah pria itu karena tertutup oleh tudung. Namun, dia tahu jelas itu siapa. Dia Cade. Benar-benar Cade. Jubah yang dipakainya sama seperti yang dia berikan pada Rose tadi siang. “Apa-apaan kamu?” bentak Milan pada Cade yang seenaknya mengganggu kesenangannya, “kamu anggota baru, ya? Tidak tahu kalau Ketua-lah yang berhak untuk giliran pertama? Kamu tak tahu istilah antre?” Cade duduk berlutut di hadapan Milan, menatapnya dengan sorot mata yang menusuk. “Maaf, Tuan. Pertama, aku bukan anggota kalian. Kedua, kalian tidak berhak atas apa pun. Gadis ini adalah milikku, asal kamu tahu.” Milan tersentak tak terima, “Hah? Bicara apa kam—” BUK! Tanpa menunggu sedetik pun terlewat, Cade memukul Milan dengan tinju penuhnya. Sekuat tenaga, sampai Milan terlempar jauh ke samping dan menabrak bagian belakang mobil para perampok. Suara hantamannya begitu keras, menarik perhatian semua anggota perampok yang tengah mabuk selama menunggu giliran. Sontak, para perampok berlari ke belakang mobil, tempat Cade sedang membuka borgol Rose dengan belati yang dibawanya. “Hei! Siapa kamu!” teriak salah satu perampok, menoleh sebentar pada ketuanya yang terkapar di tanah dengan kepala berdarah, lalu menatap Cade lagi, “apa yang kamu lakukan pada Ketua Milan?!” Cade tidak menjawab, tetap fokus membuka borgol tangan dan kaki Rose. Dia hanya mendecak kesal dan bergumam, “Para perampok yang merepotkan.” Rose tertegun melihat Cade membebaskannya dari borgol. Cukup lama dia memandangi wajah Cade yang tersembunyi dari balik jubah, sebelum akhirnya berkata, “Kenapa kamu ke sini?” “Menurutmu?” tanya Cade balik, “barang daganganku pergi sendiri, sudah seharusnya aku mencarinya.” “Oh, demi 500 juta itu, ya,” gumam Rose disertai helaan napas panjang. Cade melempar asal-asalan kedua borgol yang sudah lepas, “Yah, sebenarnya bukan hanya—” “Hei! Diajak bicara, kok, malah ngobrol sendiri!” bentak seorang perampok yang tiba-tiba mencekal tudung Cade hingga rambutnya ikut tertarik. Dia menodongkan senapan laras panjangnya ke kepala belakang Cade dan berseru, “Siapa kamu?! Mengaku atau kuhabisi kamu!” “Cade!” Rose hendak berlari ke arah Cade, tapi suara senapan yang terangkat menghentikan langkahnya. Dia mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Para perampok sudah mengepungnya dan Cade. Puluhan senapan mengarah padanya. Rose bergeming di tempatnya. Kakinya kaku meskipun sudah dalam posisi berlutut, siap berlari. Terdengar langkah kaki Leon mendekat, “Tahan tembakan kalian, Kawan. Kalau gadis ini lari, tembak saja kakinya, ya. Jangan bunuh dia.” “Tapi, tampaknya kamu tak akan lari ke mana pun, kan? Orang asing yang mau membebaskanmu juga tidak bisa melakukan apa-apa,” desis Leon sembari merangkul Rose dan mendekapnya dengan kencang. Jarinya menunjuk Cade. “Dia kenalanmu?” tanya Leon. Rose terdiam. Mulutnya dia tutup rapat-rapat, tidak mau menjawab apa pun. Leon mengulangi pertanyaannya, tapi Rose tetap tidak memberi jawaban. Diselimuti kesal yang memuncak, Leon pun mencekik leher Rose dengan tangan yang sedang merangkulnya. “Siapa dia?! Jawab!” bentak Leon. Saat Rose hendak membuka mulut, Cade bicara lebih dulu, “Dia barang daganganku. Kalian telah merampasnya dariku, jadi aku akan mengambilnya kembali.”Dua hari Rose dan teman-temannya berada di Versille, memanfaatkan waktu secara penuh untuk beristirahat. Alan memeriksa luka Cade yang hampir sembuh, memastikan tidak ada luka fatal lagi yang terbuka. Selama dua hari itu pula, Rose banyak belajar soal bertarung. Karena menekan pistol akan menarik perhatian, Rose jadi harus memulai dengan berkelahi tangan kosong.Cukup melelahkan memang, apalagi bagi Rose yang tak pernah sekalipun menggerakkan tangan dan kakinya untuk menyerang seseorang. Namun, berkat dukungan semua temannya yang membantu, semangat dalam diri Rose membara. Dia bertekad untuk menguasai berbagai cara bertarung di sisa waktunya sebelum memasuki Sanctuary Dome.“Apa kamu tak melihat target sebesar itu?!” tukas Shin, menunjuk sebuah papan penunjuk kecil terbengkalai yang dia pasang beberapa meter di hadapan Rose.Saat ini, mereka sedang beristirahatlah sejenak di tengah jalan. Mereka bermalam di tanah lapang, tanpa ada siapa pun, sehingga aman jika Rose ingin belajar me
Cade tidak menjawab saat Rose melontarkan pertanyaan untuk memastikan. Dia hanya diam tertunduk, sedikit menyingkir dari Rose. Lalu kembali melepas perban yang tersisa.“Apa kamu lupa?” kata Rose lagi, masih menatap Cade walau pria itu menghindari matanya, “sudah pernah kubilang, kan, bahwa kamu harus tetap bersamaku, karena kamu yang membawaku keluar dari rumah! Apa kamu mau lari dari tanggung jawabmu?”Rose kira Cade akan terdiam lagi. Tapi rupanya tidak. Kali ini, dia membalas. Dengan lancar, tanpa terbata. Seolah-olah kata-kata itu sudah dia pikirkan sejak lama sampai yakin.“Tanggung jawabku hanya sampai menyelamatkan ibumu, bukan begitu? Aku menawarkan perjalanan untuk itu, tidak seterusnya.” Mata Cade masih fokus pada jari-jarinya yang menyiapkan kain kasa. “Tapi, dari perkataanmu saat diskusi tadi, kamu sepertinya ingin membantu orang-orang lain yang ada di sana. Jadi, andaikata kamu melanjutkan perjalananmu mencari sekutu atau apalah untuk mengubah sistem, aku bisa memil
Dengan sangat berhati-hati, Rose melangkah keluar ruang keluarga, melewati Alan yang sedang tertidur lelap. Dia membuka pintu yang tidak tertutup sempurna, lalu menengok ke arah jalanan. Tidak ada Cade di sana.Rose akhirnya memakai jubahnya, memutuskan mencari Cade di luar. Lingkungan Versille saat malam hari benar-benar lengang. Semua penduduk berada di rumahnya, tanpa ada yang berlalu lalang di jalanan.Pandangan Rose menyapu sekitar, menengok ke sana kemari, selagi dia berjalan semakin jauh dari gedung tempat singgahnya. Malam yang begitu sepi membuat Rose tidak ingin berjalan terlalu jauh. Dia memutuskan mencari ke belakang gedung dan jika Cade masih belum ditemukan, dia akan kembali tidur.“Ah, benar dia di sana rupanya,” ucap Rose ketika dia mengintip dari balik tembok gedung.Di belakang gedung tempat mereka singgah memang ada tanah kosong yang luasnya sebesar setengah lapangan futsal. Akses masuknya hanya dari lorong sempit yang merupakan jarak antar gedung. Entah tanah l
Semuanya mematung sejenak mendengar jawaban Alan yang begitu lugas dan yakin. Tanpa adanya keraguan sedikit pun di dalamnya. Seisi ruangan hening sampai terdengar Shin terbahak.“Baik, itu mustahil sekarang,” kata Shin, kelihatan menyerah soal mengubah sistem.Rose dengan polosnya bertanya, “Memangnya, kalian dan Hunters benar-benar tidak akan bersatu? Selamanya?”“Aku sudah bukan Riders, oke?” Shin mendesah berat. “Jawabannya ... tidak akan selama Thomas dan River mendominasi semua anggota Riders.”“Bukannya pemimpin Riders ada satu lagi? Kalau tidak salah, Cade saat itu memberitahuku. Roland ... bukan?” Rose mengusap-usap dagu, berusaha mengingat.Cade menimpali, “Untuk saat ini, Roland tak bisa mengambil alih Riders selama dua orang gila itu masih hidup. Kalau mau menggerakkan Riders di bawah Roland, baik Thomas ataupun River harus dimusnahkan terlebih dahulu.”“Tapi itu juga mustahil,” sahut Shin langsung, “mereka sama-sama punya pengabdi setia yang cukup banyak.”Rose kemu
Suasana di Versille cukup menguntungkan bagi para pengelana. Penduduknya tidak terlalu peduli dengan pendatang. Tidak ada yang bertanya-tanya ataupun sok akrab. Penghuni satu bangunan pun hanya menyapa sekenanya, tanpa bertanya dari mana asal mereka dan mau ke mana.Pasar di wilayah ini pun cukup lengkap. Ada bahan bakar, persediaan makanan juga lumayan melimpah. Setidaknya, Rose dan teman-temannya bisa makan sesuatu yang lebih enak dari hari-hari kemarin.Sembari menyantap roti gandum dengan isian daging kelinci dilengkapi berbagai sayuran, Rose duduk bersila di antara teman-teman prianya yang membentuk lingkaran. Mereka sedang berdiskusi, menyusun rencana penyusupan.Alan baru saja selesai menggambar denah Sanctuary Dome di lantai yang tak berkeramik. Semuanya memandangnya saksama, baru mengetahui betapa luas wilayah berkubah itu.“Lihat ini. Seluruh Sanctuary Dome tertutup oleh kubah kaca besar. Lalu di luarnya, masih ada tembok cukup tinggi yang mengelilinginya. Gerbang masuk
Perjalanan mereka menuju Versille berjalan dengan lancar hingga pagi datang. Tak ada mobil yang berlalu lalang selain mereka. Ini pertanda bagus, karena tak ada yang memiliki mobil dengan bahan bakar cukup selain Riders dan Hunters. Beberapa pengelana mungkin punya mobil pribadi, tapi jarang sekali ada yang mampu merawatnya di tengah kondisi seperti ini.Jalur Utara memang sepi, tapi bukan berarti tak pernah dilalui. Beberapa kali Rose melihat sekelompok pengelana atau pengembara yang sendirian, berjalan di tepi jalan beraspal.Rose membuka sedikit jendela mobil, lalu menyandarkan kepala di pintu. Membiarkan angin luar yang cukup kencang karena mobil melaju cepat menyapa wajah dan rambutnya. Mata Rose melihat bayangan-bayangan gedung di kejauhan—bulan Versille—yang sangat kecil dan tampak kabur.Suasana wilayah ini benar-benar damai. Tenang, sejuk, membuat hati siapa pun yang melewatinya merasa tenteram. Rose baru ingat, bahwa dia dan teman-temannya belum sempat bernapas lega sejak
Saat melihat mobil-mobil jeep itu ditunggangi oleh para perampok, Rose meyakini satu hal. Bahwa nasib dirinya akan selalu sial sejak dia pergi dari tempat tinggalnya. Baru saja berhasil kabur dari Cade, dia harus bertemu dengan kelompok perampok. Bagaikan keluar lubang buaya masuk kandang harimau.
Cade terbahak mendengar Rose mengatakan seluruh kalimat tadi dengan penuh tekad. Gelak tawanya menggelegar di ruang bawah reruntuhan yang cukup sempit itu. Dia tertawa seperti sedang melihat lelucon di televisi, jelas sedang mengejek Rose.Cade berkata, “Apa kamu bilang? Mau membawanya kabur? Kamu
Beberapa waktu kemudian, mata Rose mulai terbuka perlahan. Tak tahu sudah berapa lama dia kehilangan kesadaran. Dia mengira akan disambut oleh cahaya menyilaukan, tapi ternyata tidak. Ketika matanya sepenuhnya terbuka, yang ditatapnya justru langit-langit reruntuhan bangunan.Sekitarnya gelap, tapi
“Rupanya dia wanita, ya. Hebat kamu, Leon! Dengan begini, kita bisa dapat 500 juga Goldyn!” Ketua Perampok berjenggot tebal yang bernama Milan, merangkul dan mengusap-usap rambut pirang LeonBeberapa jam lalu. Rose tidak bisa berkutik ketika Leon mengangkutnya ke mobil jeep pada perampok. Kakinya







