Menjadi Tawanan Hati Sang Mafia

Menjadi Tawanan Hati Sang Mafia

last updateLast Updated : 2026-03-10
By:  Creative WordsOngoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
5Chapters
20views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Terlahir sebagai musuh bebuyutan dari dua klan mafia yang saling bermusuhan, Alya Valente dan Ravien Malvino seharusnya saling membunuh. Namun, sebuah serangan mendadak memaksa mereka melarikan diri dan bersembunyi di satu atap yang sama demi bertahan hidup. Di ruang sempit itu, tembok kebencian perlahan runtuh terganti dengan ketertarikan fisik yang tak terelakkan. Keduanya mati-matian menyangkal benih cinta yang tumbuh, karena sadar bahwa perasaan ini adalah pengkhianatan terbesar bagi keluarga mereka masing-masing.

View More

Chapter 1

Bab 1 - Jebakan

Sepatu bot Alya Valente melangkah tanpa suara di atas lantai 42 Presidential Suite itu. Jantungnya berdegup dengan ritme yang tenang tapi tetap waspada.

Ia menarik napas pendek, sembari memastikan belati di balik jaketnya tetap pada posisi yang mudah dijangkau.

Informasi yang ia beli dengan harga mahal dari informan bawah tanah mengatakan bahwa dokumen tender proyek dermaga itu tersimpan di brankas tersembunyi dalam kamar nomor 404. Namun, saat pintu kayu solid itu terbuka, Alya membeku.

Ruangan luas berbalut marmer Italia yang mengkilap terhampar di hadapannya. Langit-langitnya tinggi, dihiasi lampu gantung kristal yang memantulkan cahaya hangat ke setiap sudut ruangan. Alya menggeliat pelan. Langkahnya terhenti di sisi kanan. Sebuah sofa bludru krem dan meja kopi berhias emas berdiri menghadap jendela kaca penuh setinggi dinding. Namun, tidak ada tanda-tanda sebuah brankas ataupun dokumen di sana. 

"Sial," umpatnya lirih.

Namun, sebelum ia sempat memutar tubuh untuk keluar, sebuah langkah kaki yang berat namun teratur terdengar dari arah koridor.

Alya segera merapat ke dinding samping pintu. Napasnya ditahan hingga dadanya terasa sesak. Ia memasang kuda-kuda tempur rendah, otot kakinya menegang siap untuk meluncurkan serangan mematikan ke arah siapapun yang berani masuk.

Saat sebuah bayangan tinggi melintasi ambang pintu, Alya melesat. Ia mengincar tenggorokan, tapi sebelum serangannya mendarat, sebuah tangan besar yang panas menangkap pergelangan tangannya dengan cengkeraman baja.

"Kau?"

Suara bariton itu mengirimkan getaran dingin ke punggung Alya. Ia mendongak dan menemukan mata elang Ravien Malvino menatapnya dengan intensitas yang seolah bisa membakar kulitnya. Ravien tidak melepaskan tangannya. Justru pria itu menarik Alya lebih dekat hingga aroma maskulin yang bercampur dengan bau hujan dari jas pria itu mengepung indra penciuman Alya.

"Lepaskan, Malvino! Atau aku akan memastikan kau kehilangan tanganmu," desis Alya, mencoba menyembunyikan keterkejutannya.

Ravien melempar tangan Alya dengan kasar, seolah-olah wanita itu adalah kotoran yang menempel di jas mahalnya. Ia memandang sekeliling ruangan dengan rahang yang mengeras hingga otot lehernya menonjol.

 "Ruangan ini kosong. Dokumen itu tidak ada di sini. Informasi itu palsu, Valente. Kita berdua dijebak."

"Informasi siapa yang kau maksud?" Alya menarik belati kecilnya, mengarahkannya tepat ke ulu hati Ravien. "Bisa jadi kau yang sengaja membawaku ke sini untuk menyelesaikan apa yang gagal dilakukan ayahmu sepuluh tahun lalu?"

Ravien mendengus sinis. Ia melangkah maju hingga ujung belati Alya menekan kemeja hitamnya. Ia sama sekali tidak mundur. "Kalau aku ingin kau mati, Alya, aku tidak akan menggunakan cara amatir seperti ini. Aku akan memastikan kau melihat seluruh duniamu hancur terlebih dahulu sebelum aku membiarkanmu mengembuskan napas terakhir."

"Mulutmu jauh lebih besar daripada nyalimu," balas Alya. 

Ravien memangkas jarak di antara mereka. Ia mencengkram rahang Alya memaksa agar Alya mendongak. ”Dan kau cukup cantik untuk menjadi mayat di kamar ini, Alya.” Mata hitam Ravien menatap lurus ke dalam iris manik Alya. 

Alya menggeliat, dia berusaha melepaskan intimidasi Ravien. “Sentuh sekali lagi maka kau tidak akan punya tangan untuk—”

BRAAAKKK!

Suara pintu didobrak bukan hal baru bagi Alya Valente. Akan tetapi, mendapati dirinya berada di kamar suite hotel bintang lima bersama musuh bebuyutannya, saat lusinan lampu blitz kamera menyergap mereka itu adalah bencana.

"Jangan bergerak! Kepolisian Sektor Pusat!"

Teriakan itu memekakkan telinga. Alya bahkan belum sempat menarik pistol glock dari balik thigh-high boots-nya ketika moncong laras panjang sudah diarahkan ke pelipisnya.

Alya merasakan perutnya mulas. Ia melirik Ravien, dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia melihat kilat kegelisahan yang sama di mata pria itu. Mereka terjebak.

Rendra melangkah masuk dengan senyum kemenangan yang membuat Alya ingin mencabik wajahnya. "Aku sudah lama menunggu momen ini. Valente dan Malvino di dalam satu ruangan, tanpa perlindungan, tanpa senjata berat. Hanya kalian dan harga diri kalian yang terlalu tinggi."

Ravien melangkah satu langkah ke depan Alya. Gerakan itu kecil, hampir tidak terlihat, namun Alya merasakannya. Pria itu menempatkan tubuhnya di antara moncong senjata pengawal Rendra dan Alya.

Namun, di mata lensa kamera yang kini membanjiri ambang pintu yang hancur, narasi itu sudah tertulis jelas.

Sebuah Skandal.

"Tutup pintunya!" Ravien membentak, suaranya menggelegar, sarat dengan aura pembunuh yang biasa membuat bawahan keluarga Malvino kencing di celana. "Siapa yang mengizinkan media masuk?!"

"Wah, wah.” Rendra berdecak, matanya menyapu Alya dan Ravien bergantian dengan geli. "Putri Mahkota Valente dan Pangeran Malvino. Pertemuan rahasia untuk ... rekonsiliasi? Hh!"

"Kau menjebak kami, Bajingan," desis Alya. Ia maju selangkah, tapi dua laras senapan langsung menempel di dadanya.

Rendra terkekeh, mengangkat tangan memberi isyarat agar pasukannya menurunkan senjata, tapi tidak mundur. Ia melempar sebuah kantong plastik bening ke atas meja marmer di antara mereka. Isinya sejumlah bubuk putih.

"Sabu seberat dua kilogram," kata Rendra santai. "Ditemukan di bawah kasur suite yang terdaftar atas nama Alya Valente, dan di dalamnya ada sidik jari Ravien Malvino."

Darah Alya berdesir dingin. "Itu omong kosong. Kami bahkan tidak menyentuh kasur itu."

"Siapa yang peduli?" Rendra mendekat, suaranya merendah menjadi bisikan yang hanya bisa didengar oleh mereka bertiga. "Media di luar sana tidak peduli kebenaran. Mereka hanya peduli judul berita, Dua Pewaris Mafia Tertangkap Pesta Narkoba dan Seks."

Ravien mencengkram kerah seragam Rendra secepat kilat. "Kau pikir keluarga kami akan diam saja? Aku bisa membelimu dan seluruh polsekmu pagi ini juga." Rahang Ravien mengeras. 

Rendra tidak bergeming. Ia justru tersenyum miring, menepuk pipi Ravien dengan kurang ajar.

"Coba saja. Tapi sebelum pengacaramu sampai, foto kalian berdua dalam keadaan 'berantakan' ini sudah akan jadi headline nasional. Saham Malvino Group dan Valente Corp akan terjun bebas besok pagi. Dan oh, jangan lupa ... hukuman mati untuk dua kilo sabu untuk kalian berdua." Rendra menarik sudut bibirnya ke atas. 

Alya menatap Rendra tajam, otaknya berputar cepat. Polisi korup ini tidak menginginkan uang. Dia menginginkan kendali.

"Apa maumu?" tanya Alya dingin.

Rendra mundur selangkah, merapikan kerahnya. "Pilihannya sederhana. Keluar dari sini dengan borgol sebagai tersangka narkoba ..." Ia menjeda, menikmati semua ketegangan di udara. "... atau keluar dari sini sebagai pasangan kekasih yang tertangkap basah sedang check-in."

Suasana seketika hening.

Ravien menoleh pada Alya. Tatapan pria itu penuh kebencian. Tatapan yang sama yang mereka lempar satu sama lain selama sepuluh tahun terakhir perang antar keluarga.

Namun, Ravien bergeming dan hanya mendengus kecil, seolah permintaan Rendra adalah permintaan konyol tak masuk akal.

"Bagiamana?" tanya Rendra dengan senyum pongah. Ia melirik jam tangannya. "Kalian punya waktu sepuluh detik. Media di luar sana semakin ganas. Jika kalian mengaku pacaran, kasus narkoba ini hilang. Aku akan bilang ini hanya salah paham intelijen." Rendra tersenyum dalam kemenangan. Dia yang memegang kendali saat ini.

Alya merasakan jemarinya mendingin. Ia melirik Ravien, mencoba membaca pikiran pria yang selama sepuluh tahun ini menjadi musuh bebuyutannya. Mata elang Ravien bergerak liar, memetakan setiap moncong senjata yang mengarah pada mereka. 

Alya tahu, dalam kondisi normal, Ravien akan memilih mandi darah daripada menyerah. Tapi kali ini, taruhannya adalah kehancuran seluruh dinasti Malvino dan Valente.

"Jenderal,"  suara Ravien tiba-tiba berubah, menjadi berat, gelap, dan sarat akan otoritas yang membuat bulu kuduk Alya meremang.

Ravien berbalik sepenuhnya ke arah Alya. Gerakannya begitu tiba-tiba hingga Alya tersentak mundur, punggungnya menghantam dinding marmer yang dingin dengan keras. 

Jarak mereka kini terkikis habis. Aroma maskulin yang tajam, campuran tembakau mahal dan wangi hujan, mengepung indra penciuman Alya, melumpuhkan logikanya sesaat.

"Jika kau butuh bukti bahwa aku bisa menjinakkan wanita  ini, maka akan kuberikan sekarang," ucap Ravien telak.

Alya mengernyit, jantungnya berpacu liar. "Apa maksudmu—"

Kalimat Alya terputus. Ravien mencengkeram rahang Alya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya mengunci pinggangnya dengan kekuatan yang mengejutkan. 

Sebelum Alya sempat menarik belatinya, Ravien menunduk.

Dunia Alya meledak saat bibir keras Ravien menghantam miliknya. Tidak ada kelembutan. Ini adalah sebuah penaklukan.

Alya bisa merasakan napas Ravien yang memburu di kulitnya. Meski bibir mereka menyatu, mata hitam pria itu tetap terbuka, menatap tajam ke arah Rendra dengan kilat provokasi yang mematikan. 

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
5 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status