LOGINNiat hati ingin menyewa pacar sewaan untuk memanasi sang mantan, Eliana justru malah bertemu dengan seorang pria pembunuh bayaran. Berawal dari Eliana yang salah menduga. Dia mengira pacar sewaannya telah tiba, jadi dia segera mengajak pacar sewaannya itu ke acara pertunangan mantannya tanpa memindainya lebih dulu. Tidak disangka, pertemuan tidak sengajanya justru malah menjerumuskannya ke dunia gelap namun penuh cinta.
View More“Aku tidak menyangka, kalau ternyata Revan mengkhianatiku.” Eliana tergugu sambil mengelap ingusnya menggunakan tisu.
Matanya sembab, hidungnya merah, namun air mata masih terus berderai menangisi laki-laki bernama Revan yang selama ini menemani hari-harinya selama tiga tahun lamanya. Namun hubungannya harus kandas karena orang ketiga. Eliana masih menyumpal hidungnya dengan tisu agar cairan hidung itu tak sampai menyebrangi bibirnya. Sambil memandangi surat undangan Revan, Eliana meremas dadanya yang kian sakit akibat pengkhianatan yang sudah Revan lakukan terhadap dirinya. “Lalu selama tiga tahun ini, kamu menganggapku apa, Revan? Aku sudah menganggapmu sebagai pangeran di dalam hidupku, tapi kamu malah menghancurkan perasaanku hingga berkeping-keping.” Eliana masih meracau, menyayangkan hubungan yang terlanjur hancur oleh pengkhianatan Revan. Eliana Emelinda, gadis berusia 21 tahun. Dia bekerja di salah satu café yang terdapat di ibukota besar. Sedangkan Revan Erlangga, yang kini statusnya sudah berubah menjadi mantan Eliana, dia adalah seorang mahasiswa. Dan sebentar lagi akan merayakan pelulusannya sebagai seorang sarjana muda berjurusan kedokteran. Usianya terpaut lima tahun, karena usia Revan 26 tahun dan sebentar lagi akan merayakan hari wisudanya. Eliana merasa terbuang seperti sampah. Padahal, hari-hari Revan selalu diisi oleh Eliana. Saat mengerjakan skripsi, kerja kelompok, atau nongkrong bareng temannya, Eliana selalu ada. Bahkan ada masanya saat Revan membutuhkan biaya tambahan untuk dana kuliahnya, karena memilih jurusan kedokteran harus memiliki modal besar. Sebenarnya Revan berasal dari keluarga berada, jadi untuk biaya kuliahnya masih bisa disanggupi oleh orang tuanya, namun entah kenapa Revan tetap kekeuh ingin meminjam uang Eliana, sehingga tanpa mempunyai pilihan lain untuk menolak, Eliana memberikan uang tabungannya yang tidak seberapa banyak itu kepada Revan. Mungkin, bagi Revan, uang sebanyak lima juta hanyalah uang receh. Tapi bagi Eliana, itu sangatlah besar. Perlu bertahun-tahun untuk mengumpulkan uang dari hasil jeri payahnya untuk bisa mendapat uang sebanyak lima juta. Tapi lihatlah kini. Apa yang Eliana dapatkan setelah berkorban banyak untuk kekasihnya? Bukan intan permata yang didapat, bukan pula cincin emas mengkilat yang melingkar di jari manisnya, tapi sebuah surat undangan sebagai akhir dari hubungan mereka. Revan hendak bertunangan dengan wanita lain, yang mirisnya adalah sahabatnya sendiri bernama—Emely. Emely adalah teman dekat Eliana. Mereka sering berbagi kisah disetiap pertemuan mereka. Eliana sering membagikan kisah asmaranya kepada Emely, begitu pun sebaliknya, Emely sering menceritakan kisah percintaannya juga, namun tidak semulus Eliana. Emely adalah teman Eliana, yang Eliana kenal saat Emely menjadi salah satu pelanggan di cafénya. Dari sekedar curhat biasa yang dilandasi candaan, lama-lama menjadi nyaman, yang seiringnya berjalan waktu menjadi sahabat dekat. Dan itu adalah keputusan yang paling Eliana sesali seumur hidupnya, karena dari sahabat berujung menjadi penghianat. Awal pertama penghianatan itu terendus saat Eliana yang diam-diam datang hendak menemui Revan di apartemennya. Dia ingin mengejutkan Revan dengan merayakan hari anniversary mereka yang ketiga. Namun siapa sangka, bukan Revan yang terkejut, justru Eliana yang dibuat terkejut. Saat Eliana mendorong pintu apartemen Revan yang kebetulan tidak terkunci, pemandangan menjijikkan yang pertama Eliana lihat, yaitu Revan yang sedang mencumbui Emely di sofa minimalisnya sambil berpelukan layaknya pasangan halal. Itu membuat Eliana sakit hati setengah mati. Dia langsung menghempas kue bundar kecilnya ke lantai, lalu kemudian berlalu pergi meninggalkan mereka yang terkejut dengan kehadiran Eliana yang secara mendadak itu. Revan sempat mengejar, namun Eliana tidak memperdulikan. Dia terus mengayunkan langkah meninggalkan apartemen Revan. Revan yang berusaha mengejar sampai tidak memperdulikan penampilannya; kemeja dengan kacing terbuka, serta jejak merah kecil yang menghiasi lehernya. “Eliana, ini tidak seperti apa yang kamu lihat.” kata Revan setelah berhasil menyusul Eliana. Tangannya mencekal lengan Eliana agar mau mendengar penjelasannya. “Lalu yang seperti apa yang kamu maksud? Aku tidak bodoh, Van! Aku lihat, kok, kamu sedang mesra-mesraan sama Emely!” pekik Eliana sambil menepis cekalan Revan. “Emely yang tiba-tiba datang ke apartemenku. Dia pura-pura menanyakanmu lalu tiba-tiba duduk di pangkuanku, kemudian menggodaku.” jelas Revan, yang sama sekali tidak dipercayai oleh Eliana. “Lalu kamu tergoda, iya? Matamu kelilipan sampai mengira kalau si Emely itu adalah aku, iya?” tohok Eliana dengan wajah memerah. “Aku tidak sebodoh itu, Revan. Aku memang miskin, tapi pantang bagiku untuk dikhianati!” Eliana menunjuk dirinya sendiri sambil bergetar menahan gejolak amarah. Revan terdiam, namun matanya masih memaku ke arah Eliana yang sangat kecewa oleh perlakuannya tadi. “Maaf, Van, sepertinya hubungan kita cukup sampai di sini. Aku mau kita putus. Hubungan kita selesai.” Eliana berbalik dengan perasaan hancur. Sambil mengusap air mata, dia berjalan menyusuri lorong apartemen yang menjadi saksi bisu berakhirnya hubungan mereka. Membawa kenangan duka dan luka yang mendalam. Revan hanya menatap kepergian Eliana dengan diam. Matanya menerawang jauh, apa dia sedang menyesal, atau justru senang karena berhasil terlepas dari hubungannya dengan Eliana. Karena dalam waktu dekat ini, Revan memang hendak mengakhiri hubungannya dengan Eliana demi bisa hidup bersama Emely tanpa gangguan siapa pun lagi. Saat Revan yang tengah meratapi kepergian Eliana, tiba-tiba Emely menyusul dan langsung memeluknya dari belakang. Dia berbisik, “Jangan dipikirkan. Masih ada aku di sini, sayang. Mari kita lanjutkan permainan kita tadi...” Revan mengangguk lalu mengikuti Emely untuk kembali masuk ke apartemennya. Tanpa dia tahu, kalau Eliana masih berada di sana dan mengintip, apakah Revan akan menyusulnya sebagai tanda keseriusannya dengan ucapannya tadi atau tidak. Ternyata tidak. Kata-katanya hanya alasan klasik disetiap pasangan yang ketahuan berkhianat. Alasan kalau pelakor yang mencoba mengganggu duluan. Padahal sama saja, sama-sama ulat bulu—gatal. Dan sebulan setelah kejadian itu, Revan kembali. Namun, bukan untuk mengajaknya kembali, melainkan menyerahkan surat undangan, yang di mana tertulis nama; yang berbahagia, Emely & Revan. Saat itu Eliana sempat membeku sesaat, namun setelahnya dia kembali biasa saja. Tidak ada air mata yang keluar, mungkin karena terlalu kecewa dengan apa yang sudah terjadi. Revan pun kembali tanpa permisi, tanpa berpamitan, hanya asing yang meliputi mereka berdua saat itu, namun dari lirikan matanya seolah menjelaskan kepada Eliana untuk datang ke acara pesta pertunangannya. Eliana kembali masuk, menutup pintu, lalu bersandar di daunnya. Kenangan indah bersama Revan seketika berputar dalam ingatan di masa lalu, di mana masa-masa saat berbahagia. Eliana teringat ketika dirinya digendong oleh Revan saat kakinya terkilir karena terpeleset sewaktu menghantar pesanan salah satu pelanggan di café tempat ia bekerja. Semua pengunjung memandang iri padanya, yang diperlakukan bagaikan ratu oleh sang pangeran. Eliana kembali menangis lagi. Ternyata dia hanya pura-pura kuat di depan Revan. Eliana hanya tidak ingin disangka gagal move on oleh Revan, walau sebenarnya iya. Dia sampai sekarang belum bisa melupakan Revan. Sulit baginya untuk melupakan kenangan indah ketika masih bersama. Tiga tahun mereka merajut kasih, namun takdir sudah berkata lain. Kini dia harus siap hadir di acara pertunangan Revan bersama mantan sahabatnya. Dia tidak mau disangka kalah oleh hubungan dari hasil merampas itu. Dia harus kembali bangkit dan menunjukkan, kalau hidup tanpa Revan akan baik-baik saja. “Aku harus tampil cetar dan mecing di acara pertunangan mereka.” gumam Eliana. “Tapi... jika aku datang sendiri, pasti mereka akan kembali mengejekku. Aku pasti akan dikatai jomblo gak laku. Duh, gimana, ya?” Eliana berpikir keras, bagaimana caranya hadir di acara Revan dan Emely tanpa harus merasa kembali terhina. Karena sayangnya Eliana masih sendiri setelah putus dari Revan. Dia merasa sedikit trauma jika harus menjalin kasih. “Apa aku memakai jasa pacar sewaan aja, ya?”Aron mendekat. Suara dari sepatu pantofelnya menggema, berirama, namun terdengar mengancam. Lebih-lebih Eliana. Dia yang paling merasa teraniaya, meski kekerasan belum terjadi, tapi kesan tak baiknya sudah ia dapat. Eliana merasa tali yang membatasinya semakin menjerat dan mencekik, membuatnya tidak bisa bergerak walau sekedar menarik nafas. Aron menatap tajam pada Eliana dan Revan, dan tatapannya jatuh pada Eliana dengan senyum yang menakutkan. “Eliana, kita harus pulang sekarang. Kau sudah terlalu lama di sini.” terdengar datar, tapi tersirat amarah terpendam. Eliana mengangguk perlahan, matanya tidak berani menatap Revan. “Baik.” Revan merengseg maju, menghalangi jalan Aron. “Eliana tidak akan pergi denganmu,” suaranya tegas, seperti telah mengumpulkan keberanian dari lama. Aron tersenyum, senyum tidak mencapai mata. “Kamu tidak bisa melarang Eliana, Revan.” dia berkata, dengan suara yang rendah dan penuh peringatan. Revan tidak mundur. “Aku tidak akan membiarkan Elia
Eliana berdiri di depan cermin westafel, menatap wajahnya yang dulu segar dan cantik. Tapi sekarang, wajah itu terlihat lelah. Lingkar matanya cekung, kulitnya pucat, dan ada tanda merah bercak di lehernya. Tanda keganasan Aron ketika menginginkannya. Dia meratapi nasibnya yang terjerat cinta pembunuh bayaran. Aron Montgomery, pria yang dulu dia puja, ternyata adalah iblis yang telah menghancurkan hidupnya. Jadi... namanya adalah Aron Montgomery?Batin Eliana meracau. Sebab yang ia tahu di markas... nama pria itu adalah Aron Fox, bukan Montgomery Eliana yang terpesona tatapannya dulu, kini terperangkap dalam bahaya, pada karismatiknya yang mematikan, bahkan saat ini ia harus mendekam dalam sangkarnya. Sekarang, betapa ia menyesali keputusan untuk menyewa pacar sewaan hanya untuk terlihat unggul di pertunangan Revan. Eliana mengingat kembali hari-hari awalnya ketika dia masih bekerja sebagai pramusaji. Dia masih merasa bahagia walau hidup di tengah keterbatasan ekonomi. D
Revan dan Emely saling menatap, dengan ekspresi penuh tanya. Mereka tidak tahu apa yang terjadi, tapi mereka tahu bahwa sesuatu yang besar sedang terjadi. “Selah, mari kita mulai acara wisuda,” Aron tersenyum smirk saat netranya terarah pada Revan dan Emely yang masih tercengang. INT. AUDITORIUM KAMPUS ELIT - HARI INI Suasana auditorium dipenuhi dengan sorak-sorai dan tepuk tangan, para hormat dan takjub. Eliana memasang wajah bingung. Kenapa penjahat seperti Aron mendapat kehormatan di mata dunia, disegani, dan diakui keberadannya. “Selah, Rektor Montgomery,” kata Rektor Kampus, dengan suara yang hormat. Aron tersenyum, dengan mata yang berkilau. “Selah, saya Rektor Montgomery. Dan saya sangat senang bisa hadir di acara wisuda ini.” Eliana, yang berdiri di samping Aron, merasa seperti berada di dalam mimpi. Dia tidak tahu bahwa Aron adalah Rektor Kampus, dan dia merasa seperti tidak mengenal orang yang ada di sampingnya. Lalu kemudian ia melihat Revan dan Emely, bersita
Eliana dan Aron menuruni gedung melalui lift, dengan suasana sunyi dan tegang. Dia tidak bisa berkutik saat Aron dengan posesif mengamit jemarinya tanpa dia bisa melawan. Genggaman tangan Itu kuat, dingin, dan menguasainya. Ketika lift berhenti, Aron membukakan pintu dan membiarkan Eliana keluar terlebih dahulu. Eliana melangkah keluar, dan menyadari bahwa mereka berada di sebuah rumah mewah yang sangat besar. Dia melihat sekeliling, dan merasa dirinya seperti berada di dalam istana. Langkahnya terjeda. Matanya masih mengedar suasana yang masih asing namun mengesankan. Rumah bercat gold tampak berkilauan di mata Eliana. Mewah dan elegan. “Rumahku.” ujar Aron yang seakan mengerti tanda tanya dalam benak Eliana. Eliana menatap Aron, irisnya melebar dan tak percaya. “Rumahmu?” dia bertanya, suaranya hampir tidak terdengar. Aron tersenyum, dengan senyum yang tidak mencapai mata. “Ya, rumahku. Aku membawamu ke sini karena aku ingin kamu tahu bahwa aku pun sekarang milikmu, Eliana
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews