Masuk"Astaga! Bagaimana mungkin aku bisa menikah dengan pria itu!" ucap Alin saat melihat gerombolan pria sangar berpakaian serba hitam dengan gerakan tegas itu. Alin kini berada di kamar lantai dua, bangunan megah itu. Melihat banyak gerombolan pria itu membuatnya bergidik ngeri, sambil menggigit bibir bawahnya. Ia masih berdiri tegang di samping tirai jendela kaca itu. "Tapi, perjanjian itu sudah terjadi, dan akad akan berlangsung lima belas menit lagi, oh Tuhan!!!" Alin akhirnya kembali ke ranjang king size yang sudah didesain seperti ranjang pengantin dengan sepasang handuk yang di bentuk sepasang angsa di tepian-nya itu. Suara derap langkah kaki yang terdengar semakin mendekat ke kamar itu membuat suasana semakin tegang, matanya pun tampak awas memandangi pintu bercat putih itu. 'Krieek' "Permisi Nona! Kami MUA yang di bayar oleh tuan Rizan untuk merias Nona!" Kini, Alin agak bernafas lega. lalu ia tersenyum getir memandangi tiga orang wanita yang membawa koper make up itu. Bagaimana kelanjutan kisah Alin dan Rizan? Yuk, baca ceritanya sampai tuntas 😊
Lihat lebih banyakRuangan mendadak hening.Senyum meremehkan yang tadinya menghiasi wajah Felix mendadak luntur. Pupil matanya membesar, terkejut setengah mati. Ia tidak menyangka gadis delapan belas tahun yang dikira "orang desa tidak mengerti apa-apa" ini bisa menemukan selisih angka sekecil itu hanya dalam sekali pandang."A-apa?" Felix tertawa hambar, mencoba menutupi kegugupannya yang mendadak muncul. "Ibu Alin pasti salah lihat. Itu cuma penyesuaian kurs mata uang asing antara euro dan rupiah—""Kurs mata uang asing?" potong Alin tenang, namun suaranya tegas. Ia menggeser lembaran verifikasi bank ke depan Felix. "Di sini jelas tertulis transaksinya dalam mata uang dolar Amerika, Pak Felix. Selisihnya hampir dua miliar rupiah. Apakah penyesuaian regulasi di Jerman sebiaya itu?"Felix membisu. Peluh dingin mulai terbit di pelipisnya.Rizan yang sejak tadi menyandarkan punggungnya di kursi kebesaran kini menegakkan tubuh. Sorot mata hitamnya menajam, memancarkan aura dingin beracun yang sanggup
Suara mesin mobil Rolls-Royce hitam membelah jalanan ibu kota yang padat. Di dalam kabin yang senyap, Rizan duduk tegap sambil membaca laporan di tabletnya. Ia mengenakan setelan jas hitam elegan yang makin mempertegas auranya sebagai pemimpin tertinggi PT Maple Syrup Atmajaya.Di sampingnya, Alin duduk dengan gaun formal berwarna krem pastel yang sederhana namun anggun. Ia sesekali melirik profil samping wajah Rizan. Pria itu tampak sangat fokus, seolah kejadian semalam di depan kamar tidak pernah terjadi."Masih mau menatap saya seperti itu?" suara Rizan memecah keheningan tanpa mengalihkan pandangannya dari tablet.Alin tersenyum tipis, tidak merasa tertangkap basah. "Muka Mas Rizan hari ini datar sekali. Masih kepikiran omongan aku semalam ya?"Rizan akhirnya mematikan layar tabletnya. Ia menoleh perlahan, menatap Alin dengan mata hitamnya yang tajam."Alin, kita sedang menuju kantor," ucap Rizan dengan nada rendah dan penuh penekanan. "Simpan godaan konyolmu itu untuk di rum
"Bagus. Karena mulai esok... kamu harus berdiri di sampingku sebagai istri seorang Rizan Atmajaya."Kalimat itu menggantung di udara, dingin dan absolut. Alin memberikan anggukan kaku, sebuah penghormatan formal yang ia pelajari dalam beberapa hari terakhir. Ia melangkah keluar dari ruang kerja dengan kepala tegak, meniru langkah tegas Rizan yang tidak pernah ragu.Koridor mansion Atmajaya terasa seperti lorong penjara bagi Alin. Dinding marmer yang dingin, lukisan-lukisan keluarga yang angkuh, dan kesunyian yang menekan. semuanya menuntut satu hal, kesempurnaan.Alin mengeratkan genggaman tangannya. Kuku-kukunya memutih. Begitu pintu kamar tertutup rapat dan bunyi kunci otomatis terdengar—klik—topeng itu retak.Bruk.Alin tidak mampu lagi menahan beban itu. Tubuhnya merosot jatuh ke lantai, tersungkur di atas karpet beludru yang tebal. Napasnya memburu, paru-parunya serasa diremas oleh tangan tak kasat mata.Isakan tertahan keluar dari bibirnya, pecah menjadi suara tangis yan
Asap tipis dari cangkir espresso hitam milik Rizan membubung pelan di ruang kerja utama mansion Atmajaya. Ruangan bernuansa kayu mahoni gelap dan kaca tebal itu terasa dingin, sepadan dengan aura pria yang sedang duduk di balik meja kerjanya. Rizan menatap dokumen di tangan dengan sorot mata sehitam jelaga. Tidak ada riak emosi di wajahnya yang tegas, hanya ada ketenangan yang justru sangat berbahaya. Di depannya, Anton berdiri tegap dengan sikap sempurna. Sementara Alin duduk di kursi kulit di hadapan Rizan, jemarinya saling bertaut erat di atas pangkuan. Brak. Rizan melempar map cokelat itu ke tengah meja. Suaranya tidak keras, tapi sanggup membuat Alin tersentak kaget. "Bisa jelaskan ini, Anton?" suara Rizan mengalun rendah, berat, dan tanpa ampun. "Delapan Belas tahun tahun lalu, kasus penculikan bayi di rumah sakit swasta kota. Pelakunya buronan," Anton melaporkan dengan nada presisi tanpa cela. "Rustam membeli bayi itu seharga beberapa ratus ribu dari sang p
Alin berdiri di tepi jalan, tubuhnya seperti membeku. Mobil yang membawa kedua orang tuanya makin menjauh hingga hanya tinggal titik kecil di kejauhan.“Ibu…”Suara itu pecah. Seolah seluruh kekuatan di dalam dirinya ikut pergi bersama mobil itu.Beberapa detik kemudian, Alin menarik napas panjang.
"Ibuuuu, ya Allah Ibu, Ayah, kok bisa ada di sini?""Terus... Ini apa-apaan, kenapa kalian pegangin ibu saya seperti ini! Ada apa ya? Kalian ini siapa?" tanya Alin panik. Para lelaki berbadan kekar, berseragam hitam-hitam itu masih memegangi erat Ayah dan ibu Alin, sampai akhirnya Rizan mengeluark
***Jam menunjukkan pukul 14.30. Sinar matahari sore menyelinap melalui celah-celah gedung pencakar langit, menyorot debu-debu yang melayang di udara kantor PT Maple Atmajaya. Suasana kantor yang biasanya ramai dengan deru mesin ketik dan obrolan ringan, kini terasa lebih tenang. Sebagian besar
Alin tak sadar betapa lama ia memperhatikan Rizan dari balik kaca. Pemandangan itu seperti memaku langkahnya. Ia baru tersadar ketika salah satu pria hitam menoleh ke atas… tepat ke arah jendela kamar. Alin refleks menutup tirai separuh. Tapi sayangnya, gerakannya terlambat. Rizan juga ikut mene
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan