Jerat Gairah Paman Kekasihku
Demi melunasi utang keluarganya, Elisa Andara terpaksa menikah dengan seorang pria koma yang berasal dari keluarga konglomerat, Stevan Wijaya. Konyol, tapi tidak sebanding dengan kenyataan pria itu merupakan paman dari kekasih Elisa!
Seakan tidak cukup menyedihkan, Elisa kemudian mendapati kenyataan bahwa selama ini sang kekasih telah berselingkuh dengan adik tirinya, dan pernikahan paksa Elisa dengan Stevan terjadi karena jebakan yang diciptakan keduanya!
Benci, Elisa bersumpah untuk membalaskan dendam pada kekasih dan adik tirinya. Namun, sebelum berhasil menyempurnakan sebuah rencana, Stevan tiba-tiba bangun dari koma!
Pria yang awalnya tidak menerima kehadirannya itu seiring waktu berubah menjadi sosok yang tidak bisa terpisah dari Elisa.
"Kalau ingin bercerai, hanya aku yang bisa menceraikanmu! Sayangnya, saat ini aku menginginkanmu di sisiku!"
Read
Chapter: Bab 278 - Jerat Selamanya*Satu minggu kemudian …. “Proses penyelidikan berjalan dengan lancar, Tuan. Tidak ada kendala. Tuan Harris dan juga Hilda mengakui semua perbuatan mereka. Bukti-bukti yang terkumpul sudah cukup untuk menuntut keduanya di meja hijau.” Stevan mengangguk sambil membaca berkas yang dibawa oleh Mario. “Tuntutan 10 tahun penjara?” “Benar, Tuan,” Mario mengangguk. Stevan mengangguk puas. Selain 10 tahun mendekam di balik jeruji besi, Harris dan Hilda juga harus membayar biaya denda yang tidak sedikit jumlahnya. Stevan lantas menutup dokumen dan menatap Mario. “Pastikan hal ini tidak mempengaruhi Wijaya Group.” Mario mengangguk. “Semuanya aman terkendali, Tuan. Semenjak Tuan Harris dikeluarkan dari jajaran direksi dengan cara tidak terhormat, kasus ini tidak membawa dampak besar bagi perusahaan.” “Bagus. Pertahankan,” kata Stevan.Mario kembali mengangguk. “Nyonya Besar akan mengambil alih selama Tuan cuti panjang?” “Ya. Kau bisa berkoordinasi dengan asisten Mama mulai hari ini. Janga
Last Updated: 2024-03-12
Chapter: Bab 277 - Hampir Usai‘Paman, maaf mengganggumu malam-malam. Tapi aku ingin mengabarkan kalau Papa sudah siuman. Dia sudah dipindahkan ke kamar inap biasa.’ Elisa membaca pesan yang dikirimkan oleh Alex kepada Stevan. Ia mengerjapkan mata beberapa kali untuk memastikan penglihatannya tidak keliru. Wanita itu lalu menatap Stevan yang tidak mengatakan apapun. Namun, melihat tubuhnya yang menegang, Elisa bisa memastikan bahwa suaminya juga sama terkejutnya dengan dirinya.“Steve? Kamu baik-baik saja?” Stevan tampak tercenung di tempatnya. Perasaannya campur aduk. Ia pikir Harris tak akan mampu melewati masa kritis panjangnya. Stevan pikir, pada akhirnya maut lah yang menjadi hukuman bagi kakaknya itu. Tapi ternyata, Sang Maha Kuasa punya rencana lain. Dan Stevan tidak tahu perasaan apa yang selayaknya ia rasakan saat ini. Melihat kemelut di wajah suaminya, Elisa lantas mengusap-usap lengannya dengan lembut, mencoba menyalurkan rasa nyaman yang menenangkan. “Apa yang kamu rasakan, Steve?” Elisa ragu-ragu
Last Updated: 2024-03-12
Chapter: Bab 276 - Obrolan di Malam Hari“Minggu depan?!” Elisa menjauhkan ponsel dari telinganya mendengar suara pekikan gadis di seberang sambungan. Ia tertawa mendengar suara grasak-grusuk yang terasa familiar. Meski sudah lama tidak saling kontak, nyatanya sahabatnya itu belum berubah, masih heboh seperti dulu saat mereka pertama kali berteman. “Astaga, aku belum menyiapkan apapun untuk calon bayimu!” kata Sera, terdengar panik. “Tenanglah, Sera,” kata Elisa sambil tertawa. “Kamu tidak perlu menyiapkan apapun.” “Tidak perlu bagaimana?! Calon keponakanku yang pertama akan lahir ke dunia, tidak mungkin aku tidak menyiapkan apapun!” protes Sera. Nadanya terdengar panik sekaligus antusias. Elisa tersenyum, senang karena Sera menyebut calon buah hatinya sebagai keponakan meskipun mereka tidak memiliki hubungan darah sama sekali. “Besok aku akan berbelanja setelah makalah sialan ini selesai,” gerutu Sera, yang lagi-lagi membuat Elisa tertawa mendengarnya. Sudah lama sejak terakhir kali mereka bertemu. Keduanya dis
Last Updated: 2024-03-11
Chapter: Bab 275 - Titik TerangStevan semakin sibuk menjelang hari persalinan Elisa. Ia ingin menyelesaikan banyak pekerjaan sekaligus sebelum mengambil cuti agar bisa fokus pada sang istri dan calon buah hati mereka nantinya. Kesibukan itu tentu berimbas pada banyak orang, tidak hanya Mario, tetapi juga divisi-divisi lain di bawah pengawasan Stevan, termasuk Alex yang sudah mendapatkan kepercayaan untuk mengepalai beberapa project besar. Namun, di tengah-tengah kesibukan itu, baik Stevan maupun Alex masih bisa mencuri waktu untuk orang-orang terkasih. Sesibuk apapun mereka di kantor, mereka masih meluangkan sedikit waktu untuk sekadar bercengkerama lewat panggilan telepon atau video. Obrolan singkat itu selalu menjadi pelipur di tengah hectic-nya pekerjaan di kantor. “Kau yakin tidak menginginkan apapun? Aku akan membelinya saat pulang nanti,” kata Stevan sambil menaikkan bingkai kacamata baca yang turun ke pangkal hidungnya. Matanya masih fokus pada dokumen di hadapan, dengan pulpen di tangan yang sesekali men
Last Updated: 2024-03-11
Chapter: Bab 274 - Kebersamaan Tak Terduga“Elisa!” Stevan menaiki undakan tangga teras dengan langkah lebar. Raut wajahnya tampak mengeras, dengan dada naik turun karena napasnya tidak beraturan. Ia bahkan mengabaikan pelayan yang tergopoh-gopoh mengikutinya dari belakang. Pelayan itu tampak ingin mengatakan sesuatu, tetapi melihat aura dingin dari tuannya, pelayan tersebut memilih untuk bungkam. Namun, saat Stevan hendak menaiki tangga ke lantai dua, pelayan itu segera menyela dan mengatakan keberadaan Elisa. “Nona berada di taman belakang bersama—” Stevan tidak menunggu pelayan tersebut menyelesaikan kalimatnya, langsung membawa langkah lebarnya ke arah taman di belakang kediaman utama. “Elisa—” panggil Stevan, tapi ia tidak melanjutkan kalimatnya saat sepasang matanya menangkap pemandangan asing yang membuatnya terpaku. Rasa marah dan kesal yang sedari tadi ia bawa dari kantor, seketika langsung menguap begitu saja saat melihat apa yang ada di depan matanya kini. “Steve? Kamu sudah sampai?” tanya Elisa terkejut. Waj
Last Updated: 2024-03-10
Chapter: Bab 273 - Harus Diberi Hukuman “ALEX?!” Suara Stevan terdengar meninggi satu oktaf, berkas yang sedari tadi ia bolak-balik sambil membubuhi beberapa halaman dengan tanda tangan teronggok begitu saja di atas meja. Ia terlalu terkejut mendengar satu nama itu disebut membersamai kata ‘teman’ dari mulut istrinya. Sejak kapan Alex menjadi teman Elisa?!“Ya,” sahut Elisa, tidak menyadari kegundahan sang suami yang begitu kentara sebab ia tampak sibuk memasukkan barang-barangnya ke dalam tas. “Sebentar lagi Alex akan datang ber—” “Tunggu di sana,” sela Stevan sambil bergegas. Ia melupakan berkas dokumen yang masih menumpuk di atas meja, lantas mengambil jasnya yang tersampir di sandaran kursi dan langsung bergegas menuju pintu. “Steve—”“Aku akan tiba dalam 15 menit.” Stevan tidak menunggu respon dari Elisa. Ia segera memutus sambungan dan menaruh ponsel genggamnya ke dalam saku celana. Mario baru saja ingin mengetuk pintu saat Stevan keluar dari ruangan dengan langkah tergesa. Mereka nyaris bertabrakan kalau saja M
Last Updated: 2024-03-04
Chapter: Bab 298 - Bahagia SelamanyaBeberapa tahun kemudian .... Seorang anak berusia 4 tahun tengah sibuk berlarian di dalam supermarket. Ia menjelajahi lorong dan sempat berhenti di estalase yang memampangkan makanan manis sebelum akhirnya kembali berlari. Pada akhirnya, anak itu berhenti di pojok ruangan dan berjongkok, bersembunyi di balik tumpukan kotak berisi stok makanan ringan. "Hehehe~" Anak itu tertawa kecil, sebelum kemudian menutup mulutnya sendiri. Ia tengah bersembunyi. Dan yakin bahwa tidak akan ada yang menemukannya di sini. Namun, sepertinya anak itu terlalu percaya diri. "Nathan." Tiba-tiba seorang pria yang tampaknya berada di usia tiga puluhan datang. Tubuhnya yang tinggi besar menjulang di depan tumpukan kardus yang dipakai bocah 4 tahun itu untuk bersembunyi. "Sudah main-mainnya. Ayo pulang." Si bocah yang dipanggil 'Nathan' itu langsung cemberut. "Papa kok tahu aku di sini si?" ucapnya. "Aku lagi main petak umpet, Pa." "Sama siapa?" tanya sang ayah. "Nala." Bocah itu menyebutkan nama saud
Last Updated: 2024-09-23
Chapter: Bab 297 - Karunia Terindah "Istriku memang cantik. Tidak perlu pengakuan orang lain lagi." Keheningan menyambut ucapan Kaisar tersebut, sementara Embun tersenyum kikuk akibat ulah sang suami. "Haha, saya setuju, Pak Kaisar. Saya setuju." Orang yang tadi berkomentar menanggapi dengan canggung. "... Bicara yang baik," bisik Embun pelan agar tidak didengar orang lain selain sang suami. "Memang aku sedang menjelekkan orang lain?" balas Kaisar sama pelannya. "Jangan pura-pura tidak tahu seperti itu, Kaisar Rahardja." Kaisar menghela napas. "Baiklah." Keduanya kemudian kembali menghadapi para tamu di depan mereka. "Oh, saya dengar Nyonya Embun sedang hamil, Pak?" Salah seorang tamu mengalihkan topik pembicaraan. "Semoga sehat-sehat selalu ya, baik ibu dan bayinya." Mendapatkan doa baik untuk istri dan anaknya, Kaisar tampak lebih ramah. "Terima kasih. Mohon doanya untuk keluarga kecil kami." Pria itu berkata. Seperti mendapatkan sinyal aman, semua tamu langsung mengobrol mengenai kehamilan Embun. "Apakah
Last Updated: 2024-09-20
Chapter: Bab 296 - Janji Setia Selamanya"Saya, Kaisar Rahardja, menjadikan Embun Prajaya sebagai istri saya," ucap Kaisar, lurus menatap Embun dengan sorot matanya yang lembut dan penuh kasih. "Pada hari yang istimewa ini, di hadapan semua tamu yang menjadi saksi, saya berjanji akan selalu berada di sisi Embun, setia kepada wanita ini." Ada debar asing dalam dada Embun saat ia mendengarkan janji pernikahan Kaisar. Sebelumnya, mereka hanya menikah di kantor catatan sipil, tanpa berpikir bahwa hubungan mereka akan berkembang seperti ini. Tanpa berekspektasi bahwa mereka akan sama-sama mengikrarkan janji suci sekarang ini. Tidak ada yang romantis, sebelumnya. Embun membutuhkan suami agar ia bisa keluar dari rumah iparnya, dan Kaisar ingin menuruti kata sang ayah. Namun, semuanya sudah berbeda sekarang. "Sebagai suami, saya berjanji dan bersedia akan selalu mencintai Embun. Selalu ada untuk Embun, dalam suka maupun duka, sedih dan senang, sakit dan sehat, dan mendampingi istri saya hingga maut memisahkan." Kaisar mencium
Last Updated: 2024-09-19
Chapter: Bab 295 - Pernikahan Embun dan Kaisar[Info Mengejutkan! Presdir Rahardja Group Ternyata Sudan Menikah Diam-Diam!] Berita itulah yang sedang menjadi perbincangan ramai di media. Banyak pihak yang terkejut dengan kenyataan bahwa Kaisar Rahardja ternyata sudah menikah dan mempunyai istri. Oleh karena itu, banyak wartawan dan rekan media massa lain yang menyesaki Ashtana Hotel, tempat Embun dan Kaisar akan melangsungkan pesta pernikahan, sekalipun mereka tidak diizinkan masuk karena Kaisar sudah mewanti-wanti ibunya agar tidak mengundang orang media. Sepertinya pria itu khawatir pemberitaan hanya akan membuat Embun stres dan berdampak pada kehamilan istrinya. "Kaisar, bukankah ini terlalu mewah?" tanya Embun. Wanita itu sedang didandani saat Kaisar mengunjunginya di ruang ganti hotel. "Berapa banyak tamu yang akan datang?" "Tidak banyak," jawab Kaisar, tanpa mengatakan informasi bahwa ibunya hampir mengundang 500 tamu. "Tapi nyaris semuanya teman-teman Mama." Embun menghela napas. "Meski begitu, Mama turut mengundang
Last Updated: 2024-09-18
Chapter: Bab 294 - Perhiasan Keluarga Rahardja"Meskipun terlihat main-main, Nic adalah anak yang baik dan bertanggung jawab. Saya bisa menjamin itu." Usai mengatakan itu, Kaisar menoleh pada keponakannya dan menepuk bahu Nicholas. Sementara Friska diam saja. Seperti sudah berhenti berfungsi. "Nic, bawa pacarmu duduk." Kaisar tiba-tiba berucap. Nicholas menoleh menatap Friska yang wajahnya masih merah, lalu menarik tangan gadis itu pelan. "Mau keluar dulu saja?" bisiknya menawarkan. Nicholas seperti memahami kalau Friska perlu waktu untuk memproses timbunan informasi yang baru saja jatuh di depan matanya. Samar, Friska mengangguk. "Paman. Aku keluar sebentar. Mau cari minum yang manis-manis. Haus." Nicholas langsung izin. "Mau titip sesuatu?" Kaisar menoleh pada Embun, bertanya tanpa kata-kata. "Tidak. Sedang tidak ngidam." Embun tersenyum kecil. "Yakin?" Kaisar mengusap perut Embun. "Kadang si kecil ini berulah tiba-tiba." "Tapi nanti kalau ada apa-apa, apakah aku boleh telepon?" Embun bertanya pada Nic kemudian. "Ap
Last Updated: 2024-09-13
Chapter: Bab 293 - Sudah Direstui"Kamu kenal dengan Nic?" Kini, Embun yang tampak heran. Meski begitu, ia mengangguk. "Kamu kenal juga?" balas istri Kaisar itu kemudian. "Dia keponakan suamiku." Friska makin terkejut saat mendengarnya. "Suamimu seorang Rahardja?" tanya Friska, campuran antara keterkejutan dan tidak percaya, karena ia baru tahu bahwa sahabatnya menikahi keluarga Rahardja. Sementara itu, Embun tampak bingung dengan reaksi Friska. "Hm? Ya?" tanggap istri Kaisar tersebut. "Memang aku belum pernah cerita? Nama suamiku Kaisar Rahardja." "Wah." Friska berdeham, lalu menoleh pada Nicholas yang baru bergabung dengan mereka. "Wah. Kebetulan macam apa ini?" "Aku juga sedikit terkejut saat menyadari ini," ungkap Nicholas. Pria itu menggenggam tangan Friska dengan kasual sembari tersenyum pada Embun. "Halo, Tante. Wajah Tante terlihat lebih segar sekarang." "Wah." Friska masih tampak terkesan, apalagi saat mendengar bagaimana Nicholas memanggil sahabatnya. Kalau begini, pria itu makin terdengar jauh leb
Last Updated: 2024-09-13
Chapter: Bab 289 - AkhirSesampainya di rumah sakit, Verena pasrah saja dibawa Eric."Memangnya kamu tidak ada kesibukan lain?" Sempat wanita itu berkomentar, tapi Eric justru menjawab, "Bagaimana rasanya diperhatikan, padahal kamu sendiri tahu betapa sibuknya aku, Verena?"Verena cemberut. "Besar kepala."Setelah itu, ia tidak berkata apa-apa lagi.Selain malas menanggapi pria arogan yang tengah bersamanya itu, meski memang Eric Gray punya sesuatu untuk dibanggakan, Verena baru saja melihat hal menarik."Tunggu di sini," gumamnya sebelum berdiri. Namun, Eric menahannya. "Kabur lagi?"Verena mendengus. "Ikut saja kalau tidak percaya."Bersama, keduanya kemudian pergi dari sana. Namun, diam-diam. Karena Verena mencoba agar keberadaanya tidak disadari oleh orang-orang itu."Sia-sia saja kemunculanmu di sini. Dan sekarang kamu justru menyusahkanku dengan urusan remeh begini?" Itu suara ibu tiri Verena, yang sedang berbicara dengan pria asing.Yah, tidak asing juga karena itu adalah pria yang Verena lihat di pe
Last Updated: 2025-02-16
Chapter: Bab 288 - Ketahuan[Atau kamu mau kujemput di tempat sepupumu itu?]"Oh, sial," gumam Verena, akhirnya bangkit dari kursi yang sudah beberapa jam ia duduki. Tak jauh dari sana, Ashton menoleh."Kenapa?" tanya pria itu."Tidak," balas Verena. Ia kembali duduk dan memikirkan balasan apa yang bisa dia berikan pada Eric.[Kamu sudah baca pesanku. Kenapa tidak balas?]Sebuah pesan dari Eric kembali muncul, membuat Verena berdecak."Dasar tidak sabaran." Verena membalas pesan tersebut demikian. "Apa tidak bisa dibicarakan lewat telepon saja?"Baru beberapa detik usai Verena mengirim pesan itu, balasan Eric langsung datang.[Tidak.][Harus bertemu.]Lalu satu lagi.[Tunggu aku di sana.]"Aku tidak sedang di rumah Ashton," balas Verena. "Nanti saja."[Di mana, kalau begitu?]Verena memutar otaknya dengan cepat. Jika ia menjawab ada di kantor, Eric akan dengan mudah menemukan kebenarannya."Di rumah."Eric belum tahu di mana tempat tinggalnya. Dan tidak mungkin pria itu dengan bodohnya mengecek mansion Miller un
Last Updated: 2025-02-16
Chapter: Bab 287 - Yang Sebenarnya Terjadi"Dan aku bilang kamu beruntung karena tinggal di sebelah rumahnya?"Usai mengatakan itu, Samuel kembali memandang Eric dengan tatapan asing. Ekspresi sepupunya itu tampak senang, sekaligus puas. Seakan-akan ia baru mendapatkan momen yang ia harapkan."Tunggu, Ric. Kamu tidak tahu?" tanya Samuel. "Manusia ini. Kamu tidak mendengarkan ceritaku ya!?"Eric mengibaskan tangannya. "Tidak penting."Hal itu membuat Samuel menggerutu. Mengatakan hal-hal seperti ia yang telah membantu Eric dan selalu siap sedia, tapi begini balasan Eric padanya. Eric bahkan tidak memperkenalkan Verena lebih awal padanya, dan sebagainya.Namun, Eric tidak mendengarkan. Ia sibuk menyusun rencana.Karena Verena kembali tidak membalas pesan Eric, entah kenapa. Pria itu jadi tidak bisa mengurusi persoalan mereka yang belum selesai.Kalau Verena ada di sebelah rumah, akan lebih mudah bagi Eric untuk mengurusnya.***Namun, wanita yang Eric cari sedang tidak berada di rumah."Kamu tidak mau pulang?"Pertanyaan Ashton
Last Updated: 2025-02-12
Chapter: Bab 286 - Informasi Baru"Selamat pagi, Nona Lee."Eric Gray memandang Leon, asisten kepercayaannya selama ini, yang tengah melakukan pertemuan dengan Patricia Lee, reporter yang pertama kali memuat berita tentang dirinya dan Verena. Ia ingin menyelidiki apakah Patricia terlibat pihak-pihak lain yang ingin menjatuhkannya, ataukah dia bergerak sendiri.Karena penyelidikan pun menyatakan kalau malam itu Patricia sedang berada di rumah sakit, bukan hotel tempat pesta Eric dilaksanakan.Ditambah lagi, Eric memang sudah dengan mudah menyingkirkan berita-berita yang merugikannya dan Verena. Tapi akan sulit kalau ternyata ada musuh lain yang tidak mereka ketahui.Sejauh ini, dugaannya dan Verena sama; keluarga Miller sendiri. Lebih tepatnya pihak Olivia. Meski ada ketidakcocokan mengenai asumsi tersebut di beberapa tempat."Sekarang kamu tertarik pada ibu tunggal?" Sepupunya, Samuel, menghempaskan dirinya untuk duduk di sebelah Eric dan mengamati pertemuan Leon dengan Patricia. Eric dan Samuel tidak bergabung, mela
Last Updated: 2025-02-11
Chapter: Bab 285 - Ketidaktahuan KeithKeith baru saja berjalan melewati pintu masuk ketika salah seorang pelayan menghampirinya dan mengatakan bahwa Verena datang berkunjung.Dan sekarang kakaknya itu ada di kamar Kimberly."Untuk apa dia ada di sana?" gumam Keith. Dia bergegas naik ke lantai 2 ketika ja mendengar suara pecahan kaca dari kamar Kimberly.Panik, Keith langsung berlari dan coba membuka pintu kamar.Terkunci. Kimberly nekat membayar orang untuk mencelakai Verena beberapa waktu yang lalu. Meskipun Keith sudah mengancam adik kembarnya itu agar ia tidak melakukannya lagi, Keith tidak yakin Kimberly akan diam saja saat melihat Verena ada di tempat yang sama dengannya.Dengan panik, Keith menggedor pintu kamar adik kembarnya.Tak berapa lama, Verena muncul di balik pintu tersebut dan langsung ditarik keluar oleh Keith."Ve!?" Tidak ada luka. Aman--tunggu. Keith mengernyit melihat tanda merah keunguan di area sekitaran tengkuk Verena. Namun, saat ia berniat memastikan tanda itu, Verena sudah menarik diri.Keith m
Last Updated: 2025-02-09
Chapter: Bab 284 - Provokasi (2)"Apakah benar demikian?" Senyum Verena tidak sampai matanya, seolah sedang mengolok lawan bicaranya. "Anak kandung Aster Miller?"Tidak ada perubahan ekspresi yang berarti di wajah Kimberly, saat Verena mengamati. Bisa jadi gadis itu benar-benar meyakini identitasnya sebagai putri bungsu keluarga Miller."Omong kosong apa yang kamu katakan?" balas Kimberly. Gadis itu akhirnya berjalan menghampiri Verena dan menarik lengan baju Verena. "Keluar dari kamarku, sekarang!"Namun, Verena menepisnya dengan mudah. "Jangan begitu. Kita baru sampai di obrolan yang kusukai." balas Verena. Ia menyelipkan kunci kamar tersebut di tas miliknya. "Kimberly. Apakah kamu pernah berpikir dari mana kamu mendapat mata abu-abu dan rambut pirang itu? Padahal di saat yang sama, keluarga kita seluruhnya berambut gelap?""Berhenti menyebutnya keluarga kita, sialan. Menjijikkan sekali!""Tapi suka tidak suka, ini memang keluargaku juga." Verena berdiri, lalu berjalan ke tepi ranjang Kimberly. "Meski aku sempat te
Last Updated: 2025-02-08
Chapter: Bab 33 - Identitas Yang TersimpanAlya berdiri di tengah ruangan yang begitu luas, membiarkan kakinya tenggelam ke dalam karpet wol tebal yang terasa sangat empuk. Di kamar ini, tidak ada suara bising motor Jakarta atau bau asap yang menyengat. Hanya ada suara kayu yang sesekali berderak dari perapian dan aroma samar bunga lily segar yang diletakkan di atas meja marmer.Ia berjalan menuju lemari besar berbahan kayu ek yang sudah terisi penuh. Saat membukanya, Alya menemukan deretan gaun dari perancang busana ternama, mantel bulu, hingga setelan kantor yang dipotong dengan sangat presisi. Semuanya berwarna netral, hitam, krem, dan hijau zamrud. Warna-warna yang melambangkan kekayaan tua yang tenang, bukan kekayaan baru yang pamer."Semua pakaian itu sudah disesuaikan dengan ukuran tubuhmu," suara Ravien terdengar dari arah meja kerja di sudut kamar. Pria itu sedang duduk dengan laptop terbuka, wajahnya diterangi cahaya biru dari layar yang kontras dengan cahaya jingga perapian.Alya mengambil sebuah gaun sutra berwarna
Last Updated: 2026-04-22
Chapter: Bab 32 - Gerbang SaljuBan jet pribadi itu menyentuh landasan pacu Bandara Kloten, Zurich, dengan sentakan halus yang hampir tidak terasa. Alya membuka matanya perlahan, merasakan sisa kantuk yang berat setelah penerbangan panjang melintasi benua.Di luar jendela, langit Swiss tampak abu-abu menawan, sangat kontras dengan Jakarta yang selalu berkabut polusi. Di sini, segalanya terlihat bersih, teratur, dan sangat mahal.Ravien yang duduk di sampingnya sudah terjaga lebih dulu. Pria itu telah menanggalkan pakaian taktisnya; tidak ada lagi aroma mesiu atau debu pelabuhan. Ia kini mengenakan sweter turtleneck hitam dari kasmir yang dipadukan dengan mantel panjang berwarna abu-abu gelap. Penampilannya sangat berbeda, lebih mirip seorang pewaris tahta bisnis daripada seorang pembunuh bayaran."Kita sudah sampai, Elena," bisik Ravien. Suaranya terdengar lebih halus, menyesuaikan dengan identitas barunya sebagai Adrian Vance.Pintu pesawat terbuka, dan udara musim dingin Zurich langsung menyerbu masuk ke dalam kab
Last Updated: 2026-04-21
Chapter: Bab 31 - Penyatuan di Jalur BayanganKapal selam itu membelah arus dalam keheningan total. Di dalam kabin pribadi yang sempit, uap panas memenuhi ruangan kecil itu hingga pandangan menjadi kabur.Alya berdiri di bawah guyuran air pancuran, membiarkan aliran air menghapus noda merah yang mengering di kulitnya. Namun, air tidak bisa menghapus getaran di tangannya. Di balik matanya yang terpejam, ia masih melihat wajah Marco Valente yang tenggelam dan tawa gila Viktor Volkov.Tiba-tiba, pintu geser terbuka. Ravien melangkah masuk, membiarkan pakaian tempurnya yang sobek jatuh begitu saja di lantai. Tubuhnya yang atletis dipenuhi memar dan luka gores, namun matanya menatap Alya dengan intensitas yang sanggup membakar oksigen di ruangan itu.Tanpa kata, Ravien menarik Alya ke dalam dekapannya. Air panas mengguyur keduanya, menciptakan tirai yang transparan di antara mereka. Alya terisak kecil,
Last Updated: 2026-04-20
Chapter: Bab 30 - Jalur Tikus Menuju AlpenSekoci itu terombang-ambing di tengah Laut Natuna yang luas, tampak seperti titik kecil di bawah rembulan yang mulai tertutup awan mendung. Di belakang mereka, sisa-sisa kapal kargo Volkov telah lenyap ditelan samudera, hanya menyisakan tumpahan oli yang berkilau hitam di permukaan air.Alya menyandarkan kepalanya di bahu Ravien yang kaku. Darah di bahu pria itu sudah mulai mengering, meninggalkan bau anyir yang bercampur dengan garam laut."Aris tidak akan bisa menjemput kita dengan helikopter polisi, Ravien," bisik Alya. "Seluruh unit Rendra pasti sedang memantau radar di area ini."Ravien meraba saku celana taktisnya, mengeluarkan sebuah peluncur sinyal frekuensi rendah yang berbentuk seperti koin. "Aris hanya jembatan hukum kita di darat. Tapi untuk urusan menghilang... ibuku sudah menyiapkan jalur ini sejak sepuluh tahun lalu. Dia menyebutnya
Last Updated: 2026-04-20
Chapter: Bab 29 - Neraka di Ruang MesinUap panas menyembur dari pipa-pipa yang pecah, menciptakan kabut putih yang menyesakkan di ruang mesin kapal kargo. Suara deru piston raksasa terdengar seperti detak jantung monster yang sedang sekarat. Di tengah kebisingan itu, napas Alya dan Ravien memburu, beradu dengan geraman rendah Viktor Volkov yang masih berdiri tegak meski tubuhnya telah dihujami luka.Viktor mengusap darah yang mengalir masuk ke matanya dengan punggung tangan. Ia membuang kapak taktisnya yang telah patah, lalu menarik sebuah rantai besi berat yang menjuntai dari langit-langit mesin."Kalian punya semangat," ujar Viktor, suaranya serak tertutup deru mesin. "Tapi semangat tidak bisa mengalahkan berat baja."Dengan satu sentakan kuat, Viktor mengayunkan rantai besi itu. WUSH! Rantai itu menghantam pipa di samping kepala Ravie
Last Updated: 2026-04-19
Chapter: Bab 28 - Kembalinya Sang HantuKapal pesiar itu miring hampir empat puluh lima derajat. Suara besi yang berderit karena tekanan air laut terdengar seperti rintihan kematian. Di dalam kabin yang mulai digenangi air setinggi lutut, Marco Valente menatap putrinya dengan mata yang dipenuhi ketakutan."Alya, bantu Papa! Jangan tinggalkan aku di sini!" ratap Marco, tangannya menggapai-gapai ke arah Alya sementara ia terjepit di antara sofa yang bergeser.Alya berdiri di ambang pintu kabin, air laut membasahi kakinya. Ia memegang kunci magnetik Phoenix di satu tangan dan Glock di tangan lainnya. Matanya tidak lagi menunjukkan kesedihan, hanya ada kekosongan yang sedingin dasar samudera."Sepuluh tahun lalu, kau membiarkan Mama terbakar karena kau lebih memilih emas Volkov," suara Alya terdengar tenang di tengah badai. "Dan sekarang, di tengah laut ini, kau m
Last Updated: 2026-04-19