LOGINNamaku Vera Prisyila, putri satu-satunya dari keluarga Ananta, salah satu keluarga paling terhormat di Negara Nawa, dengan kekayaan mencapai ratusan juta dolar. Di kehidupan sebelumnya, aku menikah dengan Andre Hardian, putra keluarga Hardian. Berbeda dari keluarga Ananta yang memiliki bisnis besar dan bersih, keluarga Hardian menjalankan kerajaan bisnis gelap yang pengaruhnya sangat luas. Begitu luas hingga para pemimpin Negara Nawa pun rela merendahkan diri setiap akhir pekan demi menjaga hubungan dengan mereka. Awalnya aku tidak tahu siapa sebenarnya Andre. Saat itu, kami hanyalah dua siswa SMA yang jatuh cinta pada pandangan pertama. Andre populer, tampan, dan digilai banyak gadis. Aku pun begitu, sebagai putri keluarga Ananta, aku selalu jadi pusat perhatian. Kami berdua terbiasa berganti pasangan, seolah itu hanyalah hal sepele seperti berganti pakaian. Namun semuanya berubah ketika kami secara tidak sengaja terkurung bersama di gudang sekolah. Di sanalah kami mulai saling mengenal, lalu hubungan itu berlangsung hingga akhirnya membawa kami ke jenjang pernikahan. "Kamu tidak akan pernah bahagia dengannya, Vera! Kami sudah menemukan calon suami yang cocok untukmu, putra rekan bisnis kami," suara ibuku bergetar saat melawan keputusan ku.
View MoreAku pernah mati.
Bukan oleh musuh, bukan oleh takdir, melainkan oleh lelaki yang bersumpah akan menjagaku seumur hidup. Ia memelukku sambil berkata bahwa aku adalah satu-satunya cahaya dalam hidupnya. Namun saat aku menjerit kesakitan, tangannyalah yang paling cepat melepasku. Kini aku terlahir kembali. Dan justru karena itu, aku memilih kematian lebih awal. Sebab aku sudah belajar satu hal, tidak semua kehidupan pantas diperjuangkan dua kali. # Kilas balik Namaku Vera Prisyila, putri satu-satunya dari keluarga Ananta, salah satu keluarga paling terhormat di Negara Nawa, dengan kekayaan mencapai ratusan juta dolar. Di kehidupan sebelumnya, aku menikah dengan Andre Hardian, putra keluarga Hardian. Berbeda dari keluarga Ananta yang memiliki bisnis besar dan bersih, keluarga Hardian menjalankan kerajaan bisnis gelap yang pengaruhnya sangat luas. Begitu luas hingga para pemimpin Negara Nawa pun rela merendahkan diri setiap akhir pekan demi menjaga hubungan dengan mereka. Awalnya aku tidak tahu siapa sebenarnya Andre. Saat itu, kami hanyalah dua siswa SMA yang jatuh cinta pada pandangan pertama. Andre populer, tampan, dan digilai banyak gadis. Aku pun begitu, sebagai putri keluarga Ananta, aku selalu jadi pusat perhatian. Kami berdua terbiasa berganti pasangan, seolah itu hanyalah hal sepele seperti berganti pakaian. Namun semuanya berubah ketika kami secara tidak sengaja terkurung bersama di gudang sekolah. Di sanalah kami mulai saling mengenal, lalu hubungan itu berlangsung hingga akhirnya membawa kami ke jenjang pernikahan. "Kamu tidak akan pernah bahagia dengannya, Vera! Kami sudah menemukan calon suami yang cocok untukmu, putra rekan bisnis kami," suara ibuku bergetar saat melawan keputusan ku. "Jika tidak diizinkan, aku akan mengakhiri hidupku!" seruku dengan mata penuh air mata. Keluargaku akhirnya menyerah. Pada hari pernikahan, Andre menghilang satu jam sebelum upacara. Tidak ada penjelasan. Tidak ada pesan. Para tamu mulai berbisik. Ibuku mencoba tersenyum, ayahku gelisah, dan aku berdiri sendirian dengan gaun putih yang terasa semakin berat setiap detik berlalu. Ketika ia akhirnya muncul, ia tersenyum padaku. "Maafkan aku, sayang. Ada hal mendadak yang harus kuurus," katanya dengan suara lembut. Senyum itu indah sekali, indah sampai aku lupa bahwa keterlambatannya adalah peringatan pertama. "Seharusnya aku lari," bisikku pada diri sendiri. "Seharusnya aku tolak," pikirku. Tapi cinta membuat orang tuli dan bodoh. Setelah acara selesai, Andre tidak menyentuhku. Tidak memelukku. Tidak memandangku. "Andre, kamu baik-baik saja? Apakah ada yang salah?" tanyaku saat kami berjalan menuju mobil pernikahan. Tapi, dia hanya diam, melanjutkan langkahnya. Aku tidak marah. Hanya berpikir dia gugup. Betapa bodohnya aku. Sesaat setelah aku menginjak lantai kediaman keluarga Hardian, Andre yang selalu hangat dan lembut berubah seketika. Tatapannya tak lagi berisi cinta, hanya dingin… dan kebencian yang tidak kumengerti asalnya. “Kenapa?” tanyaku berulang kali. Tapi jawabannya selalu sama, tatapan kosong yang menusuk seperti pisau. Kepribadiannya berubah total, aku tidak lagi mengenali laki-laki yang pernah kucintai ini. Perubahan itu tidak berhenti sampai di situ. Setiap malam, Andre membawa perempuan berbeda ke kamarnya. Hampir setiap malam aku mendengar suara ranjang berderit dan rintihan pura-pura yang sengaja dikeraskan tepat di belakang dinding kamar tamu, kamar yang dia berikan padaku. Aku makan sendirian di meja makan kosong. Tidur sendirian di kamar yang terlalu besar. Menangis sendirian sambil merapikan foto kami saat masih SMA. "Cintanya pasti masih ada… dia hanya marah padaku," bisikku setiap malam sambil memeluk bantal. Hingga suatu hari, kabar buruk datang, kedua orang tuaku meninggal dalam kecelakaan pesawat saat perjalanan bisnis. Saat itu, ada sesuatu di dalam diriku yang patah permanen. "Aku ingin bercerai, Andre. Sekarang juga," ucapku dengan suara gemetar tapi tegas saat menemukannya di ruang kerja. Ia hanya tersenyum tipis, seolah mendengar lelucon. "Tidak. Jangan pernah bermimpi, Vera," katanya pelan namun menusuk seperti pisau. Kalimatnya seperti ruangan gelap yang menutup dari empat sisi. Aku tidak mengerti maksudnya, hingga seorang gadis yang wajahnya bukan hanya mirip, tapi hampir identik denganku dibawa masuk ke rumah itu. Dia berjalan dengan anggun, memandangku dengan mata penuh simpati palsu. “Dia membunuh orang tuamu,” bisiknya. “Dan dia menikahimu hanya untuk memastikan kau tidak mati sebelum dia puas melihatmu hancur.” Tubuhku bergetar. Hatiku membeku. Otakku menolak percaya. "Bohong! Kamu bohong!" seruku sambil meraih lehernya, mengeluarkan seluruh rasa sakit dalam cengkeraman ku. Wajahnya membiru, matanya mendelik. Jika Andre tidak datang tepat waktu, mungkin aku sudah jadi pembunuh. Namun dia datang, dengan senyum dingin yang membuatku merinding. "Kau masih punya kekuatan untuk melawan ya, Vera? Lucu," ucapnya sebelum mendorongku keras. Kepalaku membentur meja. Darah mengalir di pelipis. "Bawa dia ke rumah sakit. Jangan sampai mati… belum saatnya," perintahnya pada pengawal. Sedangkan gadis itu? Andre menggendongnya ke kamar, memanggil dokter pribadi, memperlakukannya seolah dia adalah nyawa Andre. Hatiku pecah. Tapi ternyata itu baru awalnya. Hari demi hari, penyiksaannya semakin halus, semakin rapi… semakin menghancurkan. Aku tidak lagi diizinkan makan di ruang makan. Pelayan hanya mengetuk pintu, menaruh nampan, lalu pergi tanpa menatapku. Rumah sebesar istana itu terasa seperti kuburan tempat aku dikubur hidup-hidup. Sampai suatu hari, gadis itu mengirim video dirinya berhubungan intim dengan Andre. Aku berlari ke kamarnya dengan hati yang terbakar marah. "Kamu bajingan! Kau berani menggodanya? seruku saat membuka pintu kamar. Tapi dia lebih cepat, melukai diri sendiri dengan pecahan gelas, lalu berpura-pura ketakutan ketika Andre masuk. "Vera menyerangku! Dia ingin membunuhku!" jeritnya dengan suara memekakkan telinga. Andre menatapku dengan mata penuh kemarahan. Tanpa berkata apa-apa, dia memberikan tamparan yang membuat pipiku membengkak. "Ini hukuman karena kau masih berani bernafas di hadapanku," katanya dingin. Tak puas, dia menyeret dan mengurungku ke gudang selama dua hari dua malam tanpa makanan dan minuman. Aku pingsan sejak hari pertama. Ketika sadar, aku sudah kembali di kamar tamu dengan infus di lenganku. Andre tidak ada. Dia bahkan tidak peduli aku hidup atau mati. Saat itulah aku menyerah. Aku ingin mati. Aku ingin dia menyesali semuanya. Keinginanku itu seperti doa yang langsung dikabulkan setan. Pelayan kepercayaannya datang membawa makanan kesukaanku, sup krim jagung dan roti panggang hangat. "Tuan Andre menyuruh untuk membawakan ini, Nyonya," katanya dengan suara rendah. Aku menangis saat melihatnya. Setelah sekian lama, aku pikir dia masih mengingatku. Tapi baru beberapa suap, tenggorokanku terasa seperti terbakar hidup-hidup. Tubuhku gemetar. Nafasku tersendat. Aku tahu, kopi. Satu-satunya hal yang bisa membunuhku dengan cepat. Satu-satunya orang yang tahu itu adalah Andre. "Kau sengaja… bukan?" bisikku dengan suara pelan, menatap makanan yang tersisa di piring. Tubuhku mulai melemah. Napasku terhenti sedikit demi sedikit. Di detik-detik terakhir, aku hanya bisa tersenyum pahit. "Jadi begini akhir dari perempuan yang mencintai terlalu bodoh," gumamku. Dan sebelum semuanya gelap, aku berdoa, bukan dengan harapan, tapi dengan putus asa, “Tuhan… jika benar ada kehidupan lain… kumohon, jangan biarkan aku ada di dunia yang sama dengannya lagi.” Setelah itu? Pandanganku mengabur. Dinding kamar itu semakin jauh, seolah menjauh dariku. Aku menunggu. Mungkin langkah kaki. Mungkin pintu yang terbuka. Tapi tidak ada apa pun. Di kamar itu, aku mati sendirian. Tanpa saksi. Tanpa penyesalan. Tanpa ada yang tahu bahwa aku masih menunggu sampai napas terakhirku. Aku pikir kematian akan menjadi jawaban. Namun yang tersisa hanyalah sunyi, sunyi yang terasa terlalu rapi untuk sebuah akhir.Dengan sisa kesabaran dan paksaan yang tersisa, Fredrik kembali mencoba menanamkan ingatan buatannya pada Vera. Sekali, dua kali dan berkali-kali. Tapi, setiap kali ia menekan dan memaksanya masuk ke dalam ingatan Vera, yang ia temui hanyalah dinding tebal yang dibangun oleh Vera. Lima hari berlalu tanpa hasil apapun bagi Fredrik. Karena tahu ini harus segera diatasi, akhirnya Fredrik berbincang panjang lebar dengan Andre mengenai ingatan Vera, terutama tentang dirinya. Dan dari percakapan mereka, sebuah kesimpulan akhirnya diambil. Fredrik sempat terkejut melihat betapa mudahnya Andre menyetujui perubahan ingatan tersebut. Namun setelah melihat rasa bersalah yang menggerogoti Andre, dan harapan kecil yang masih ia simpan untuk bisa berada di sisi Vera sedikit lebih lama, Fredrik akhirnya mengerti. Ya… Cinta memang sering kali menyakitkan dan terkadang, justru orang yang paling mencintai adalah yang paling tega menghancurkan. Setelah beberapa kali percobaan ulang pada ingatan V
“Kau yakin?” tanya Andre akhirnya.“Yakin, tuan.”“Cara apa yang akan kau gunakan? Jelaskan padaku.”“Terapi psikologi,” jawab Fredrik tenang. “Namun bukan terapi biasa. Lebih tepatnya… penghapusan ingatan yang menjadi sumber luka bagi Nyonya Vera.”Andre menyipitkan matanya saat menatap Fredrik. “Itu terdengar seperti cuci otak?”“Benar,” Fredrik mengangguk ringan. “Sedikit mirip. Hanya saja, metode ini jauh lebih kejam jika dilihat dari sudut pandang dunia medis.”“Ingatan yang menyakitinya tidak akan dihapus sepenuhnya,” lanjut Fredrik. “Aku akan mengubahnya. Mengedit sebagian memori, lalu menambahkan ingatan baru sebagai penyangga. Trauma yang selama ini menghancurkannya tidak akan lagi muncul dalam bentuk yang sama.”“Jika tuan menyetujuinya,” ucap Fredrik pelan, “aku siap melakukannya.”Andre menarik napas dalam. “Apa itu berbahaya untuk Vera?”“Tidak lebih berbahaya dibandingkan membiarkannya dalam kondisi yang sekarang,” jawab Fredrik tanpa ragu. “Jika kondisi Nyonya dibiarkan
Pada hari keempat, pintu kamar itu akhirnya terbuka. Tanpa membuang waktu, mereka bergegas ke rumah sakit tempat Vera dirawat. Vera masih sama, ia terus berteriak tanpa arah, dengan suara yang pecah dan penuh ketakutan. Tubuhnya diikat erat ke ranjang rumah sakit, sebagai upaya terakhir untuk mencegahnya melukai diri sendiri. Rambutnya kusut, wajahnya pucat, dan matanya kosong. Andre tidak masuk, ia tidak berani, ia hanya berdiri di balik jendela kaca gelap yang langsung menghadap ke arah Vera. Vera tidak mungkin melihatnya. Andre telah memerintahkan rumah sakit menyiapkan ruang observasi khusus, ruang di mana ia bisa mengawasi setiap gerakan Vera tanpa pernah diketahui keberadaannya. Jarak tipis itu menjadi batas antara rasa bersalah dan ketakutannya sendiri. Fredrik melangkah masuk ke dalam ruang perawatan. Begitu melihat sosok asing, Vera langsung menunjukkan kepanikan yang sama seperti saat dokter dan perawat lain mendekatinya. Napasnya memburu, tubuhnya menegang, dan
"Carikan ibu susu terbaik untuk anak itu" perintah Andre dengan suara datar.Kepala pelayan menunduk dalam, "Baik, Tuan."Kini, anak itu diserahkan pada perawatan orang lain, bukan karena cinta, tapi karena ia sadar, ia belum layak berada di dekatnya.Bayi tersebut segera dipindahkan kembali ke kediaman keluarga Hardian, dijaga ketat dan dirawat secara terpisah.Andre memilih bertahan hidup dengan rasa bersalah itu.Karena pada akhirnya, ia tidak sanggup membunuh satu-satunya hal yang masih mengikatnya dengan Vera, meski ikatan itu kini lebih menyerupai hukuman daripada harapan.Andre mulai mengabaikan tugas-tugasnya sebagai kepala keluarga Hardian. Fokusnya sepenuhnya terpecah, pikirannya terus kembali pada Vera, meski ia sendiri tidak lagi berani menemuinya secara langsung.Tumpukan dokumen di meja kerja Andre mulai menumpuk. Rapat yang biasanya ia pimpin sendiri kini hanya dihadiri sekretarisnya.Beruntung, kepala pelayan dan sekretarisnya bergerak cepat mengambil alih seluruh urus
Ia menghirup rokok itu perlahan, terlalu perlahan, hingga asap memenuhi seluruh kabin mobil. Bau tembakau yang pekat menekan dadaku, merayap ke paru-paruku, lalu mengendap seperti sesuatu yang tak pernah benar-benar pergi. Udara terasa berat. Setiap tarikan napas bukan lagi kebutuhan hidup, melaink
“Kak Kevin… tolong percaya padaku kali ini.” Suaraku bergetar, bahkan sebelum kata terakhir meluncur dari bibirku. Aku membencinya. Kebiasaan tubuhku yang selalu berkhianat ketika ketakutan merayap naik. Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan gemetar yang menjalar hingga ke ujung jemar
Seminggu kemudian, kabar itu akhirnya sampai ke telingaku. Kediaman Ananta mengalami kebakaran hebat. Api melahap bangunan tua itu tanpa ampun, menjilat setiap sudutnya hingga tak menyisakan apa pun selain puing hitam dan abu. Tidak ada yang bisa diselamatkan. Tidak kenangan. Tidak rasa aman. Tida
# Kehidupan Kedua Aku membuka mata dengan terengah, seperti seseorang yang baru saja ditarik paksa dari dasar laut. Suara isak tangis memenuhi ruangan, bercampur dengan aroma dupa yang menusuk hidung. Suasana di sekelilingku terasa begitu asing, namun anehnya… juga sangat familiar. Ada sesuatu ya






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.