INICIAR SESIÓNAnastasia tak sengaja menabrak Dalton Obsidian. Mata pria itu terbuka. Hitam, pekat, dan tajam seperti mata elang yang sedang terluka. Selama beberapa detik, waktu seolah berhenti. Pria itu menatap Ana dengan pandangan yang sulit diartikan—antara waspada, terkejut, dan sesuatu yang lebih gelap. "Jangan... panggil... polisi," suara pria itu berat dan serak, diikuti ringisan menahan sakit yang luar biasa. "Demi Tuhan, aku akan menyesali ini," gerutu Ana. Dengan susah payah, dia membantu pria itu bangun lalu membahu pria besar itu, mengerahkan seluruh tenaganya untuk memapah si pria menuju mobilnya. Dia tidak tahu bahwa malam itu, bukan hanya nyawa pria ini yang dia selamatkan, tapi dia juga baru saja menyerahkan kebebasannya sendiri ke tangan seorang pria yang ternyata akan menjeratnya.
Ver másBab 1
Uhh ... Ana merenggangkan tubuh, mulutnya menguap lelah. Aroma disinfektan dan obat-obatan masih tertinggal di penciumannya. Tiga belas jam. Rekor terbarunya berdiri di depan meja operasi, menjahit pembuluh darah halus di otak seorang pasien korban kecelakaan. “Ya Tuhan, capeknya,” gumam Ana. Ia menghela napas panjang lalu menggoyang kepala dan pundak yang terasa pegal. “Kasur I’m coming!!” seru Ana bersemangat. “Guys, pulang ya.” Ana melambaikan tangan pada teman satu timnya. Yang dia inginkan kini hanyalah kasur empuk, selimut tebal, dan tidur tanpa mimpi selama dua hari penuh, membayangkan kasur empuk membuat Ana kembali bersemangat, berjalan cepat ke arah parkiran. Setelah sampai di parkiran, dia membuka pintu sedan hitamnya dan menghempaskan tubuh ke kursi pengemudi. Kabin mobil terasa menenangkan setelah hiruk-pikuk bunyi monitor detak jantung di ruang oprasi barusan. Lagi Ana mengeluarkan nafas beratnya. Perlahan tangannya menekan tombol starter, mesin menderu halus. Wanita cantik ini memutar setir keluar dari area parkir rumah sakit yang mulai sepi. Malam terasa pekat, jalanan lengang, lampu-lampu jalan menyorot aspal hitam, menciptakan jalur sunyi yang panjang seolah tak berujung. “Ahh ....” Berkali-kali mulut Ana menguap lelah. Matanya terasa panas, kelopaknya terasa berat, tetapi Ana tertap memaksanya terbuka. Sedikit lagi, Ana. Sepuluh menit lagi sampai apartemen, batinnya menyemangati diri sendiri. Mobil berjalan pelan membuat mata Ana semakin tak bisa di ajak kompromi, jalan raya yang sepi membuat Ana menaikkan kecepatan mobil. Kaki kanannya perlahan menekan pedal gas sedikit lebih dalam. Jarum spidometer merangkak naik, mobil melaju lebih cepat membelah angin malam. Keheningan menyelimuti perjalananan malam ini, jalan raya tampak sepi, tak ada mobil lain, tak ada kehidupan. Hanya hamparan aspal gelap di antara pepohonan di pinggir jalan. Tanpa Ana sadari dari kegelapan muncul sesosok bayangan tinggi besar terhuyung keluar dari balik semak-semak, langsung menerjang jalan, menuju mobil yang Ana kendarai. Gerakannya kacau, putus asa, seolah dia tidak peduli jika tertabrak. Dengan gerakan cepat Ana memindah kaki kanan secepat kilat, menghantam pedal rem sampai ke lantai mobil. CIIITT! Ban mobil berdecit memilukan memecah keheningan malam. Bau karet terbakar langsung memenuhi udara. Tubuh Ana terhempas ke depan, tertahan sabuk pengaman yang menghimpit dadanya. Mobilnya berguncang hebat, terseret beberapa meter sebelum akhirnya berhenti total dengan hentakan keras. Hening kembali menyergap. Kepanikan menyelimuti Ana, napasnya memburu, cepat dan dangkal, degup jantungnya berdetak sangat cepat, matanya terbelalak menatap ke depan, menembus kaca depan yang diterangi sorot lampu utama mobil. “ASTAGA!” Seketika kantuk Ana lenyap, digantikan dengan detak jantung yang berdenyut tak stabil. Tepat di depan bemper mobilnya bayangan itu tergeletak di aspal, diam tak bergerak. "Ya Tuhan ... tidak, tidak, tidak!" gumam Ana dengan bibir bergetar. Wajah Ana pucat pasi, keringat dingin membanjiri tubuhnya, rasa takut menguasainya, tapi jiwa dokternya masih bekerja, ia melepas sabuk pengaman dengan tangan gemetar, lalu meraih tas medis darurat yang selalu ia simpan di kursi penumpang. Dengan kaki yang yang hampir tak bisa menopang tubuhnya, dia keluar dari mobil. Udara dingin langsung menyapu wajahnya, tapi rasa dingin itu tak sebanding dengan kengerian yang ia rasakan saat ini. "Pak? Anda bisa mendengar saya?" tanya Ana, dia berdiri masih memberi jarak, suaranya pecah di tengah keheningan jalanan yang sepi. Pria itu tertelungkup. Jas hitam mahalnya sobek di bagian bahu, dan yang membuat jantung Ana kembali berhenti berdetak adalah warna gelap yang mulai melebar di aspal. Bibir Ana menganga melihat genangan darah mulai merembes mengotori aspal. Batinnya merapal doa agar pria ini selamat. “Ya Tuhan, tolong selamatkan dia.” Bayangan penjara berkelebat di kepala Ana bila lelaki ini sampai kehilangan nyawa. Ana segera mendekati lelaki itu, degan cepat, dia berlutut di samping pria itu, mengabaikan rasa takut yang dia rasakan saat ini, dia membalikkan tubuh pria itu dengan hati-hati. Deg. Untuk sesaat, Ana terpaku saat melihat wajah pria ini. Pria ini sangat tampan, tapi dengan jenis ketampanan yang berbahaya. Rahangnya tegas, hidungnya mancung sempurna, dan meski matanya terpejam, ada aura kejam yang terpancar darinya. Wajah ini kini pucat pasi. Ana kembali tersadar saat melihat luka pria ini. "Sial, ini bukan karena tertabrak," bisik Ana saat melihat lubang kecil di perut kiri pria itu. "Ini luka tembak." Ana segera merobek kemeja pria itu untuk menekan pendarahan. "Kenapa kamu harus muncul di depanku saat aku sedang lelah begini, hah? Dan ini luka tembak? Siapa kamu sebenarnya? Kalau kamu mati di tanganku, tamatlah riwayatku!" Sifat cerewet Ana keluar saat dia merasa panik. Mulutnya terus meracau menghilangkan rasa takut yang kembali menyergap, tetapi tangannya dengan cekatan menekan luka itu menggunakan kain kasa steril. Di tengah kekalutannya sebuah tangan yang besar dan kasar mencengkeram pergelangan tangan Ana dengan kekuatan yang mengejutkan untuk ukuran orang yang hampir kehilangan kesadaran. "Aaahh!" Ana memekik. Mata pria itu terbuka. Hitam, pekat, dan tajam seperti mata elang yang sedang terluka. Selama beberapa detik, waktu seolah berhenti. Pria itu menatap Ana dengan pandangan yang sulit diartikan, antara waspada, terkejut, dan sesuatu yang lebih menakutkan. "Bawa aku pergi dari sini." Suara pria itu berat dan serak, diikuti ringisan menahan sakit yang luar biasa. "Kamu gila? Kamu bisa mati! Darahmu keluar terlalu banyak, Tuan!" Ana mencoba melepaskan tangannya, tapi cengkeraman pria itu justru menguat. "Kukatakan bawa aku pergi," tegas pria itu lagi. Matanya menatap tajam tepat ke manik mata Ana, seolah sedang menandai wajah wanita di depannya. "Sekarang!!" "Pergi ke mana?! Aku ini dokter, aku akan bawa kamu ke IGD!! Kamu muncul bukan di saat yang tepat, Tuan, saat ini aku sangat lelah." cerocos Ana, suaranya naik satu oktaf, terdengar sangat kesal. "Kamu baru saja menabrakkan dirimu ke mobilku! Tapi lukamu luka tembak, aku tak mau cari masalah." Mulut Ana masih terus berbicara menekan rasa lelah bercampur rasa terkejut yang dia rasa barusan. Tak lama di kejauhan, terdengar suara raungan mesin mobil lain yang melaju cepat ke arah mereka. Pria itu kembali menatap Ana ada kilat panik sekaligus marah di pancaran matanya, tangannya lebih kuat mencengkeram tangan Ana. "Mereka datang," bisiknya. “Cepat bawa aku pergi.” Dia menatap Ana dengan tatapan memerintah yang tak bisa dibantah. "Kamu pilih, bawa aku pergi sekarang, atau kita berdua akan mati di sini."Bab 6 Ana tak peduli ucapan Adrian, dia memutuskan pergi dari tempat yang dia rasa nyaman selama ini. Tujuannya hanya satu, stasiun kereta api di pusat kota. Dia akan pergi menuju desa terpencil tempat tak seorang pun tau tempat itu, tempat yang dia beli memang untuknya menepi saat penat melanda selama ini. Bahkan keluarganya tak ada satupun yang tau tempat ini. "Aku harus pergi, aku harus hilang," gumamnya terus-menerus. Matanya terus melirik kaca spion, takut melihat SUV hitam yang sering mengikutinya. Sesampainya di stasiun pusat, Ana membeli tiket secara tunai—dia cukup pintar untuk tidak menggunakan kartu kredit yang bisa dilacak. Dia duduk di bangku peron yang gelap, menarik topi jaketnya dalam-dalam. Jantungnya berdegup kencang setiap kali melihat pria tinggi lewat. Kereta terakhir malam itu akhirnya datang dengan bunyi peluit yang memekik. Ana berdiri, menggenggam tasnya erat-erat, lalu melangkah masuk ke dalam gerbong yang hampir kosong. Dia duduk di pojok gerbong, meny
Bab 5 Ana menerobos masuk, mengabaikan penjaga bertubuh besar di pintu depan, "Katakan pada bosmu, Dokter yang menjahit perutnya datang untuk menagih hutang!" Entah keberanian dari mana Ana berteriak lantang dan para penjaga membiarkannya lewat. Ana dibawa ke lantai atas, ke sebuah ruangan luas dengan dinding kaca yang menghadap langsung ke kerlap-kerlip kota. Di sana, Dalton duduk di sebuah kursi kulit besar, menggenggam segelas wiski. Jasnya terlepas, hanya mengenakan kemeja hitam yang kancing atasnya terbuka, memperlihatkan perban yang masih melilit perutnya, hasil jahitan tangan Ana. "Kamu sungguh berani, Dokter Anastasia," suara Dalton rendah, bergema di ruangan yang sunyi. "Tutup mulutmu!" bentak Ana. Dia melangkah maju mendekati pria itu, berdiri tepat di depan meja Dalton, napasnya memburu. "Kamu pikir kamu siapa?! Aku tidak mengenalmu! Kita tidak punya urusan apa pun! Kenapa kamu melakukan ini padaku?” Ana berkata penuh amarah. Dalton menaikkan sebelah alisnya, tampak t
Bab 4 Mencari Jejak Sang Iblis.Dalton Obsidian duduk di depan meja bar. Jemarinya mengaduk minuman di dalam gelas lalu meminum sekali tenggak. “Awasi saja dia, Adrian tak pantas bersanding dengan wanita itu, dia harus jadi milikku.” Mata gelap Dalton seperti sedang menatap Anastasia - Dokter yang dengan berani menolongnya malam itu.“Sepertinya wanita itu sedang mencari informasi tentangmu, Bos.”“Biarkan, kita lihat apa yang akan dia lakukan selanjutnya.” Dalton menuang wiski ke dalam gelas Kembali meneguk dengan sekali tenggak. “Anastasia Ananta. Cantik, kuat, penuh ambisi. Sepertinya pertemuan kita malam itu adalah takdir kita.” Dalton terus merapal nama Ana, tangannya mengelus perut bekas jahitan Anastasia.“Bos, kamu jatuh cinta? Aku ingatkan Bos –“ Tangan Dalton naik menginterupsi ucapan Daniel. “Dia tak seperti wanita lainnya. Dadaku berdebar saat bersentuhan dengannya.”Daniel mendengus. “Kamu bisa pakai wanita manapun, Bos. Tapi tidak memiliki.”Dalton tertawa mendengar u
Bab 3 Gerakan tangan Adrian yang sedang merapikan dasi terhenti seketika. Raut wajahnya berubah sedikit tegang, meski hanya sekejap. "Dari mana kamu mendengar inisial dan nama itu?" "Tadi aku mendengar kamu menyebut namanya, dan pagi tadi di rumah sakit, aku melihat berita di televisi tentang kekacauan di pelabuhan. Mereka menyebut nama Dalton." Bohong Ana sedikit. Dia tidak mungkin bilang kalau habis menjahit perut lelaki berinisial D semalam. “Apakah Dalton pria yang tadi kamu sebut-sebut di dalam mobil adalah pria berinisial D?” Adrian mendengus remeh, tapi ada sedikit kegelisahan di suaranya. "Nggak usah membicarakan dia, Ana. Dia seorang pengusaha yang namanya bersih. Tetapi sesungguhnya dia sampah masyarakat. Dia seorang kriminal kelas kakap, kepala mafia yang namanya saja sudah membuat polisi gemetar. Tapi tenang saja, orang seperti kita tidak akan pernah bersentuhan dengan iblis seperti dia.” Mendengar penuturan Adrian Ana meneguk ludahnya susah payah. “Ya Tuhan, seperti
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.