LOGIN
"Tolong kasih aku kesempatan satu kali lagi, Bri. Aku menyesal sudah mengecewakan kamu. Aku tidak seharusnya melamar perempuan lain. Aku baru sadar kalau kamu adalah wanita terbaik," ujar Xander sembari berlutut di depanku. Kedua tangannya merapat. Mukanya memelas seolah-olah dia tidak bisa hidup kalau aku tidak memaafkannya.
Meski demikian, aku tetap menatapnya sinis. "Kenapa baru sekarang kamu sadar? Bukankah ini sudah terlambat? Sudah lima tahun kamu menikah dengan Carrie, dan kalian juga sudah punya anak."
"Tidak, Bri. Ini belum terlambat. Aku akan segera bercerai dengan Carrie. Setelah itu, kita bisa menikah dan menjalani hidup yang dulu pernah kita impikan. Aku janji akan membahagiakanmu, Bri," Xander mengangguk meyakinkan.
"Membahagiakan aku?" Aku bersedekap. Nada bicaraku mulai menanjak. "Dengan cara apa? Semua impianku sudah kamu kasih ke Carrie. Pernikahan di pantai, bulan madu di Lofoten, apartemen dekat rooftop dengan pemandangan yang cantik. Kau bahkan menamai anak kalian dengan nama yang kupilih."
"Justru itu, Bri," Xander mengguncang kakiku, "kamu bisa anggap dia sebagai anak kita. Aku memberinya nama itu karena aku tidak bisa melupakan kamu. Aku ingin kenangan dan harapan kita hidup dalam dirinya. Dan sekarang, kita bisa bersama lagi. Kita bisa mewujudkan impian kita yang tertunda."
Aku mendesah tak percaya. Kutarik kakiku mundur, menjauh dari sentuhan Xander. "Kau pikir aku seputus asa itu setelah putus darimu? Duniaku tidak berputar di sekitarmu, Xander. Aku sudah move on dan punya kekasih baru. Untuk apa aku kembali ke orang yang telah membuangku?"
"Aku tidak membuangmu, Bri. Aku hanya terlalu bodoh. Dulu itu, aku belum sadar kalau aku sungguh-sungguh mencintaimu. Aku—"
"Kalau memang cinta, kenapa baru sadar sekarang?" potongku dengan raut masam. "Apakah karena aku sudah punya karier dan prestasi yang bisa dibanggakan? Sehingga kau tidak perlu malu lagi bersanding denganku di depan orang-orang? Atau karena kau pikir aku tidak akan mengkhianatimu seperti yang istrimu lakukan?"
Belum sempat Xander menjawab, aku melanjutkan, "Aku bukan penampung sampah, Xander. Hanya karena istrimu membuangmu, bukan berarti aku harus memungutmu. Apalagi, aku sudah mendapatkan laki-laki yang mau menerimaku apa adanya dan jauh lebih baik darimu. Karena itu, bermimpi saja kalau kita bisa kembali seperti dulu."
Xander maju dan mengguncang kakiku lagi. "Tidak, Bri. Itu tidak benar. Aku kembali padamu karena aku sadar bahwa aku mencintaimu. Kau juga masih mencintaiku, kan? Kau pernah bilang kalau aku adalah laki-laki yang paling kau cintai di muka bumi. Impianmu adalah menikah denganku. Ayo kita wujudkan itu sekarang!"
Aku mendengus. Pipiku berkedut jijik. Aku tidak habis pikir dengan isi otak Xander. Bisa-bisanya dia mengulang janji yang jelas-jelas pernah dia ingkari? Berani-beraninya dia meminta maaf seolah aku tidak terlalu tersakiti? Lupakah dia akan dosa-dosanya terhadapku?
Padahal ....
Lima tahun yang lalu, kukira hubungan kami sempurna. Dia mencintaiku, dan aku mencintainya. Dia mendukung impianku, dan aku mendukung impiannya. Aku sampai mengerahkan segenap kemampuanku agar dia bisa merintis bisnisnya. Ya, dia bercita-cita menjadi pengusaha yang sukses, dan dia punya banyak janji-janji indah untuk diwujudkan.
"Nanti, kalau aku sudah sukses, ayo kita bangun keluarga harmonis yang bahagia dan sejahtera. Pernikahannya di pinggir pantai saja. Samakan dengan yang selama ini kamu bayangkan."
"Bulan madu kita di Lofoten saja. Itu impianmu, kan? Jangan pusingkan masalah biaya. Tabunganku pasti akan melebihi itu."
"Nanti aku pasti sanggup membeli apartemen itu. Kita dekorasi semua ruangan dengan penuh cinta. Aku yakin rumah kita akan terasa hangat dan nyaman."
Semua janji itu dia tujukan kepadaku, dan aku percaya. Aku dengan sabar menantikannya.
Tapi ternyata?
Begitu dia sukses, dia malah mencampakkan aku di depan banyak orang. Dia yang seharusnya melamarku, malah menyodorkan cincin kepada sahabatku yang baru kembali dari Eropa.
"Tunggu!" aku menginterupsi lamarannya. Kebingungan menyelimuti pikiranku kala itu. "Apakah ini prank? Aku berdiri di sini, Xander. Kenapa kamu malah berlutut di depan Carrie?"
Xander menatapku dingin. Untuk pertama kalinya, aku menangkap kebencian dari matanya.
"Kamu bahkan tidak diundang ke acara ini, Bri. Kenapa aku harus berlutut di depanmu?" Nada bicaranya juga dingin.
Aku tersentak. Lidahku terasa kelu, dadaku mulai sesak.
Sorot mata Briony seketika berubah makna. Hatinya dipenuhi rasa syukur dan keharuan. "Aku pasti melakukan banyak kebaikan di kehidupan sebelumnya. Kalau tidak, rasanya mustahil aku bisa mendapatkan laki-laki sebaik dirimu," tutur Briony, tulus. Senyum Brandon tersungging mendengar itu. "Akulah yang beruntung mendapatkanmu." "Tidak. Aku yang lebih beruntung. Karena itu," Briony meraih tangan Brandon, "mulai detik ini, aku bersumpah untuk selalu setia padamu. Aku akan menjadi pasangan terbaik untukmu, yang tidak memalukan ataupun merugikan. Aku janji akan lebih kuat dan tegar sehingga tidak perlu merepotkan." Merasa tersentuh, Brandon mengusap pipi Briony. "Kau tidak pernah merugikan ataupun membuatku malu, Bri. Aku justru selalu bangga padamu. Sekarang, kamu mau kugendong kembali ke mobil? Kamu sudah menggunakan kakimu terlalu banyak hari ini. Jangan sampai bengkak lagi." Briony melirik ke arah pintu. "Sekarang?Bagaimana kalau Alex masih ada di luar?"Brandon mengintip sekilas. "D
"Apakah ini cukup? Ini kan yang kau mau? Permintaan maaf dariku sambil berlutut. Kau menulisnya di bukumu," ujar Alex, penuh harap. "Tolong maafkan aku, Briony. Aku sadar bahwa ucapanmu benar. Aku memang laki-laki bodoh. Saking bodohnya, aku sampai mengesampingkan cintaku sendiri. Aku memilih wanita yang salah, dan malah membuat gadis yang kucinta menderita. Tapi sekarang aku sudah sadar, Bri. Aku sudah tidak bodoh. Aku tidak akan mengulang kesalahan-kesalahan itu lagi. Tolong—"Briony menarik kakinya mundur dari Alex. Rautnya tegas. "Kau lupa? Kau menyebutnya kutukan, Alex. Kau mau aku menghilang dari hidupmu supaya kau dan keluargamu yang sempurna itu bisa bahagia. Sekarang kukabulkan.""Tidak! Jangan!" Alex merapatkan tangan di depan dada. Wajahnya yang mendongak menampakkan penyesalan. "Kumohon jangan pergi. Aku butuh kamu, Bri. Hidupku bersama Caro tidaklah sempurna. Sejujurnya, aku bahkan sudah lupa kapan terakhir kali aku bahagia. Saat aku memaksakan diri untuk mengingatnya, ya
Alex menggertakkan geraham. Ia tahu ke mana arah pernyataan Briony itu. Brandon. "Tidak apa-apa kalau kau masih marah kepadaku, Briony. Aku terima. Tapi tolong jangan mengambil keputusan sembarangan. Pernikahan itu bukan main-main. Jangan membuat kesalahan yang sama denganku. Pasangan yang tidak tulus hanya akan membuatmu menderita.""Kata siapa Brandon tidak tulus kepadaku?" Briony menggandeng lengan Brandon lalu mendongakkan dagu. "Aku justru bisa merasakan cinta yang tulus berkat dirinya. Kalau tidak ada Brandon, aku mungkin masih terpuruk dalam kesendirian dan kesedihan. Pikiranku yang telah kau racuni, dia yang memulihkannya. Perasaanku yang kau sakiti, dia yang menyembuhkannya. Bersama Brandon, aku yakin hidupku tidak akan menderita."Darah Alex mendidih mendengar perbandingan tersebut. Ia tidak terima posisinya di hati Briony tergeser oleh orang lain, dan ia tidak tahu apa jadinya kalau sampai Brandon menikahi Briony. "Itu hanyalah ilusi yang kau ciptakan untuk menyenangkan d
Alis Briony tertaut. Kepalanya tertekan mundur. Dulu, setelah mereka putus, ia selalu berharap Alex mengucapkan itu lagi—bahwa ia mencintainya. Namun, itu terkesan mustahil dan selalu membuatnya putus asa. Sekarang, setelah ia berhasil move on, Alex malah mengatakannya? "Apakah kau sedang mabuk? Kau sadar apa yang baru saja kau katakan?" Ia menggeleng bingung."Aku sangat sadar, Bri. Aku memang mencintaimu. Sampai kapan pun akan selalu begitu," angguk Alex, meyakinkan. Briony mendengus samar. Ia tidak pernah menduga bahwa pernyataan yang dulu sangat ia nantikan sekarang malah membuatnya muak. "Sejam yang lalu, kau baru saja menghinaku. Kau jijik padaku, dan tidak mau lagi melihatku. Sekarang kau malah menyatakan cinta? Trik apa yang sedang kau mainkan, Alex?""Ini bukan trik. Aku baru tahu kalau selama ini, Caro menipuku. Dia menghasutku agar membencimu. Kupikir kau sudah tidur dengan banyak laki-laki karena videomu mabuk di klub malam itu. Aku merasa dikhianati dan sangat terluka.
Alex menggeleng tak terima. "Tidak, tidak, tidak. Aku bukan laki-laki berengsek, Bri. Aku hanyalah laki-laki yang terlalu mencintaimu. Karena itu aku merasa sangat sakit saat melihat video dari Caroline itu. Aku tidak bermaksud menyakitimu. Aku hanya berusaha untuk melindungi hatiku," bisiknya seakan-akan Briony bisa mendengar.Dengan raut gelisah, ia memeriksa halaman selanjutnya. Ia berharap masih ada tulisan lain yang bisa ia baca. Namun ternyata, keputusan tadi adalah finalnya. Sadar bahwa dirinya bisa tergantikan, air matanya mulai menebal. "Aku harus segera meluruskan semua ini. Briony tidak boleh menikah dengan laki-laki lain," desah Alex, panik. Saat itulah, Alex teringat akan perkataan Briony tentang rencana pernikahannya hari ini. Sadar bahwa ia bisa saja terlambat, mata Alex membola. "Mungkinkah mereka sedang mengurus pernikahan di catatan sipil?" simpulnya, tegang. Keringat dingin telah menusuk tengkuknya. "Tidak," gelengnya kaku. "Itu tidak boleh terjadi. Aku harus seg
"Itu ...." Alex masih ingat buku bergambar beruang itu. Dulu, Briony sering mencurahkan perasaan ke dalamnya. Setiap ia ingin membacanya, Briony selalu melarang. Katanya, semua yang tertulis di dalam situ adalah rahasia. Hanya dirinya dan Tuhan yang boleh tahu. Dalam keheningan, jantung Alex berdetak kencang. Ia gugup, tetapi penasaran. Alhasil, tangannya memungut buku itu dengan perlahan. Saat membuka halaman pertama, jantungnya berhenti berdetak. Ia seperti tertarik ke masa lalu karena di situ, tertempel foto Briony dan dirinya. "Me and my forever love" tertulis di bagian bawah foto. Meskipun sudah dicoret, itu tetap terbaca. Sama seperti wajah Alex yang telah digambari tanduk dan dipenuhi titik-titik tinta. Briony jelas melampiaskan kekesalannya lewat foto tersebut."Ini adalah foto pertama kita sebagai pasangan, Briony. Kenapa kau mencoretnya?" gumam Alex dengan wajah yang dipenuhi kerutan. Setelah mengelus wajah Briony di sana, ia mulai membaca lembaran berikutnya. "Dear Boobo







