MasukBriony sangat terpukul ketika sang kekasih melamar sahabatnya di depan matanya sendiri. Bukan hanya dikhianati, ia juga dihina serta dipermalukan di depan publik. Lima tahun kemudian, ia menjadi populer setelah mengangkat kisah cintanya yang menyedihkan itu ke dalam sebuah novel. Akan tetapi, mantan kekasihnya tersinggung dan mengecam hal itu. Konflik mereka kembali memanas sehingga Briony bersumpah untuk tidak berurusan dengannya lagi. Malangnya, takdir berkata lain. Saat sedang mengemudi, Briony tidak sengaja menabrak seorang anak yang ternyata adalah putra Alex, sang mantan kekasih! Sebagai pertanggungjawaban, ia terpaksa merawat sang anak sampai tangannya yang digips pulih. Sanggupkah Briony bertahan hingga tugasnya berakhir? Drama apa lagi yang akan terjadi di antara dirinya dan mantan kekasih? Akankah kehadiran kekasih baru mempermudah langkah Briony atau justru memperunyam masalahnya dengan Alex?
Lihat lebih banyak"Tolong kasih aku kesempatan satu kali lagi, Bri. Aku menyesal sudah mengecewakan kamu. Aku tidak seharusnya melamar perempuan lain. Aku baru sadar kalau kamu adalah wanita terbaik," ujar Xander sembari berlutut di depanku. Kedua tangannya merapat. Mukanya memelas seolah-olah dia tidak bisa hidup kalau aku tidak memaafkannya.
Meski demikian, aku tetap menatapnya sinis. "Kenapa baru sekarang kamu sadar? Bukankah ini sudah terlambat? Sudah lima tahun kamu menikah dengan Carrie, dan kalian juga sudah punya anak."
"Tidak, Bri. Ini belum terlambat. Aku akan segera bercerai dengan Carrie. Setelah itu, kita bisa menikah dan menjalani hidup yang dulu pernah kita impikan. Aku janji akan membahagiakanmu, Bri," Xander mengangguk meyakinkan.
"Membahagiakan aku?" Aku bersedekap. Nada bicaraku mulai menanjak. "Dengan cara apa? Semua impianku sudah kamu kasih ke Carrie. Pernikahan di pantai, bulan madu di Lofoten, apartemen dekat rooftop dengan pemandangan yang cantik. Kau bahkan menamai anak kalian dengan nama yang kupilih."
"Justru itu, Bri," Xander mengguncang kakiku, "kamu bisa anggap dia sebagai anak kita. Aku memberinya nama itu karena aku tidak bisa melupakan kamu. Aku ingin kenangan dan harapan kita hidup dalam dirinya. Dan sekarang, kita bisa bersama lagi. Kita bisa mewujudkan impian kita yang tertunda."
Aku mendesah tak percaya. Kutarik kakiku mundur, menjauh dari sentuhan Xander. "Kau pikir aku seputus asa itu setelah putus darimu? Duniaku tidak berputar di sekitarmu, Xander. Aku sudah move on dan punya kekasih baru. Untuk apa aku kembali ke orang yang telah membuangku?"
"Aku tidak membuangmu, Bri. Aku hanya terlalu bodoh. Dulu itu, aku belum sadar kalau aku sungguh-sungguh mencintaimu. Aku—"
"Kalau memang cinta, kenapa baru sadar sekarang?" potongku dengan raut masam. "Apakah karena aku sudah punya karier dan prestasi yang bisa dibanggakan? Sehingga kau tidak perlu malu lagi bersanding denganku di depan orang-orang? Atau karena kau pikir aku tidak akan mengkhianatimu seperti yang istrimu lakukan?"
Belum sempat Xander menjawab, aku melanjutkan, "Aku bukan penampung sampah, Xander. Hanya karena istrimu membuangmu, bukan berarti aku harus memungutmu. Apalagi, aku sudah mendapatkan laki-laki yang mau menerimaku apa adanya dan jauh lebih baik darimu. Karena itu, bermimpi saja kalau kita bisa kembali seperti dulu."
Xander maju dan mengguncang kakiku lagi. "Tidak, Bri. Itu tidak benar. Aku kembali padamu karena aku sadar bahwa aku mencintaimu. Kau juga masih mencintaiku, kan? Kau pernah bilang kalau aku adalah laki-laki yang paling kau cintai di muka bumi. Impianmu adalah menikah denganku. Ayo kita wujudkan itu sekarang!"
Aku mendengus. Pipiku berkedut jijik. Aku tidak habis pikir dengan isi otak Xander. Bisa-bisanya dia mengulang janji yang jelas-jelas pernah dia ingkari? Berani-beraninya dia meminta maaf seolah aku tidak terlalu tersakiti? Lupakah dia akan dosa-dosanya terhadapku?
Padahal ....
Lima tahun yang lalu, kukira hubungan kami sempurna. Dia mencintaiku, dan aku mencintainya. Dia mendukung impianku, dan aku mendukung impiannya. Aku sampai mengerahkan segenap kemampuanku agar dia bisa merintis bisnisnya. Ya, dia bercita-cita menjadi pengusaha yang sukses, dan dia punya banyak janji-janji indah untuk diwujudkan.
"Nanti, kalau aku sudah sukses, ayo kita bangun keluarga harmonis yang bahagia dan sejahtera. Pernikahannya di pinggir pantai saja. Samakan dengan yang selama ini kamu bayangkan."
"Bulan madu kita di Lofoten saja. Itu impianmu, kan? Jangan pusingkan masalah biaya. Tabunganku pasti akan melebihi itu."
"Nanti aku pasti sanggup membeli apartemen itu. Kita dekorasi semua ruangan dengan penuh cinta. Aku yakin rumah kita akan terasa hangat dan nyaman."
Semua janji itu dia tujukan kepadaku, dan aku percaya. Aku dengan sabar menantikannya.
Tapi ternyata?
Begitu dia sukses, dia malah mencampakkan aku di depan banyak orang. Dia yang seharusnya melamarku, malah menyodorkan cincin kepada sahabatku yang baru kembali dari Eropa.
"Tunggu!" aku menginterupsi lamarannya. Kebingungan menyelimuti pikiranku kala itu. "Apakah ini prank? Aku berdiri di sini, Xander. Kenapa kamu malah berlutut di depan Carrie?"
Xander menatapku dingin. Untuk pertama kalinya, aku menangkap kebencian dari matanya.
"Kamu bahkan tidak diundang ke acara ini, Bri. Kenapa aku harus berlutut di depanmu?" Nada bicaranya juga dingin.
Aku tersentak. Lidahku terasa kelu, dadaku mulai sesak.
"Briony hilang. Laki-laki ini yang menyembunyikannya," terang Philip dengan suara tertahan yang penuh penekanan.Ekspresi Barbara sontak berubah tegang. "Hilang bagaimana? Bukankah dia sudah kembali ke penginapan?"Philip tersentak. Cengkeraman tangannya melemah. "Kau tahu dia kembali ke penginapan?""Aku sempat ke kamar kecil tadi. Saat aku kembali, Briony tidak ada, jadi aku mencarinya. Ternyata dia sudah berdamai dengan Alex. Jadi kubiarkan saja dia kembali ke penginapan sendiri. Kupikir, karena Alex di sini, tidak ada yang mengancamnya lagi. Kau yakin dia tidak ada di penginapan?" timpal Barbara diwarnai keraguan."Kau tidak mendengar teriakannya?" tanya Philip lagi.Barbara dan Abigail kompak menggeleng. "Di sini banyak anak-anak. Bisa kau dengar sendiri seberisik apa mereka," tunjuk Abigail ke dalam.Philip menghela napas c
Firasat buruk langsung merasuki hati Brandon. Khawatir sang kekasih kenapa-kenapa, ia langsung berlari, meninggalkan tabletnya di meja. Baru beberapa langkah keluar dari kamar, ia berpas-pasan dengan Philip."Kau juga dengar?" tanya calon mertuanya itu dengan wajah tegang.Brandon mengangguk. Tanpa berkata apa-apa lagi, mereka berdua mendatangi sumber suara. Sayangnya, tidak ada siapa-siapa di jalan setapak. Setibanya di sana, mereka celingak-celinguk mencari jejak."Bukankah suara Briony datang dari sini?" gumam Philip seraya menyisir situasi sekitar.Brandon mengangguk. Namun, ia enggan mengakui bahwa mereka kehilangan jejak. Karena itu, ia mengeluarkan ponselnya. Sambil lanjut berjalan, ia berniat untuk memeriksa GPS yang ia pasang di ponsel Briony. Saat itulah, ia tidak sengaja melihat ponsel lama dan kunci mobil Briony tergeletak di atas tanah. Tak jauh dari sana, ia juga
Alex menarik napas sedalam-dalamnya. Kepalan tangannya tampak gemetar. Namun kemudian, ia mengambil kunci mobil dan ponsel dari dalam kotak. Matanya semakin merah saat ia menyerahkan barang-barang itu kepada sang wanita. "Bawalah," ucapnya serak.Briony ragu sejenak. Tidak mendeteksi kepalsuan di wajah Alex, barulah ia menerima sodoran. Kemudian, tanpa berkata apa-apa lagi, ia melangkah pergi. Tanpa senyuman, tanpa ucapan terima kasih. Karena barang-barang itu memang miliknya. Di samping itu, ia juga tidak mau membuat Alex salah paham dan kembali berharap.Sementara itu, Alex hanya bisa menatap punggung Briony menjauh. Hatinya tak rela, tetapi logika mengingatkan kakinya untuk tidak mengejar."Mencampakkanmu adalah penyesalan terbesar dalam hidupku, Briony," ratapnya tak berdaya. Kemudian, dengan berat hati, ia tutup kotak di tangannya. Kenangan di dalam situ sudah tidak berguna. Hanya menyisakan sakit yang t
Alex menelan ludah pahit. Matanya berkaca-kaca, tidak rela jika misinya gagal begitu saja. Di ambang kepasrahan, ia pun membuka kotak. "Kau masih ingat tiket bioskop ini? Ini pertama kalinya kita jalan berdua. Lalu foto ini? Kita ambil saat baru jadian. Kau tampak bahagia sekali di sini. Dan gantungan kunci berbentuk gembok ini? Kau beli sebagai simbol cinta kita. Aku masih menyimpan semua ini, Bri. Aku tidak berpura-pura. Aku memang masih cinta."Briony memutar bola mata. Kepalanya menggeleng tak habis pikir. "Untuk apa kau menyimpan sampah? Kau seharusnya membuang itu sejak lama," gumamnya keji.Detik berikutnya, ia angkat kaki, hendak melangkah pergi. Namun, kali ini, Alex berhasil mencengkeram lengannya. "Tunggu dulu, Bri.""Jangan pegang-pegang!" amuk Briony. "Aku bukan kekasihmu lagi!" Alex terkesiap. Tangannya spontan melemah. Kakinya juga mundur selangkah. Seumur hidup, baru sekarang ia melihat wajah Briony begitu marah. Meski demikian, ia masih berani bicara, "Aku mencintai
Alis Briony tertaut. Kepalanya tertekan mundur. Dulu, setelah mereka putus, ia selalu berharap Alex mengucapkan itu lagi—bahwa ia mencintainya. Namun, itu terkesan mustahil dan selalu membuatnya putus asa. Sekarang, setelah ia berhasil move on, Alex malah mengatakannya? "Apakah kau sedang mabuk? K
Sorot mata Briony seketika berubah makna. Hatinya dipenuhi rasa syukur dan keharuan. "Aku pasti melakukan banyak kebaikan di kehidupan sebelumnya. Kalau tidak, rasanya mustahil aku bisa mendapatkan laki-laki sebaik dirimu," tutur Briony, tulus. Senyum Brandon tersungging mendengar itu. "Akulah ya
Lagi-lagi, hanya deru napasnya sendiri yang terdengar. Tak terima dirinya diabaikan, Alex mulai menerka-nerka."Apakah ini karena Brandon? Laki-laki itu melarangmu untuk kembali padaku?" tanya Alex seolah-olah Briony berdiri di balik pintu. Kemudian, ia menyimpulkan sendiri. "Jangan dengarkan dia,
Briony menarik napas dalam-dalam. "Apa maksudmu? Brandon belum menikah. Kau pasti salah orang."Caroline mendengus menghina. "Kau masih menyangkal?" "Menyangkal apanya? Bukankah kau baru saja membicarakan orang yang kucinta? Brandonlah orangnya, dan dia belum menikah karena aku juga. Kami berencan












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan