Share

Bab 121

Author: Wei Yun
last update publish date: 2026-03-18 17:23:03

Liya masih asyik berbincang dengan Na Ying, merencanakan pengiriman bantuan selimut dan kain kasar untuk para pengungsi di Shangdi ketika tiba-tiba suara derap kaki kuda yang menderu berhenti tepat di depan toko.

​Pintu toko terbuka dengan sentakan tegas. Sosok tinggi tegap Long Xuan muncul di ambang pintu, masih mengenakan jubah adipatinya yang berwarna hitam legam dengan pelindung dada perak yang berkilat tertimpa cahaya matahari. Debu tipis menempel di sepatunya, menandakan ia datang dengan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 125

    Aroma rempah obat yang menyengat seketika menyesakkan Paviliun Lili, memecah kesunyian malam yang mencekam di Kediaman Long. Di dalam kamar, drama yang telah disusun rapi oleh Murong Lian dimulai dengan sempurna. Setelah menyesap beberapa sendok sup pemberian pelayannya, Lian tiba-tiba mencengkeram pinggiran meja rias. Wajahnya yang semula berseri mendadak pucat pasi, peluh dingin membanjiri dahi. ​"Perutku ... sakit sekali ...," rintih Lian. Ia merosot ke lantai, tubuhnya melengkung menahan nyeri yang tampak begitu hebat. Suaranya yang melengking memanggil Nyonya Besar segera mengundang kepanikan di seluruh penjuru paviliun. ​Nyonya Besar Long yang tiba dengan tergesa-gesa langsung memucat melihat menantu kesayangannya mengerang di atas karpet. "Tabib! Panggil tabib sekarang juga!" teriaknya histeris. Pelayan berhamburan memanggil tabib. Tak berapa lama kemudian, seorang tabib tergopoh berlari. Tabib tua segera memeriksa mangkuk porselen yang masih menyisakan sedikit cairan sup

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 124

    Cahaya fajar merayap masuk melalui celah tenda komando di Shangdi dengan kehangatan aneh yang menjalar di sekujur tubuh Long Xuan. Sang Adipati terbangun dengan napas yang terasa ringan; beban pekat yang semalam melilit kesadarannya seolah menguap tanpa sisa. Meski luka di punggungnya masih memberikan denyut nyeri yang samar, kekuatan fisiknya telah pulih secara ajaib, melampaui logika pengobatan medis biasa.​Di sisi dipan, Lu Chen bersimpuh dengan dahi yang nyaris menyentuh tanah basah. Tubuhnya gemetar hebat, dan pakaiannya masih lembap oleh sisa hujan badai semalam. Aura penyesalan terpancar kuat dari pengawal setia tersebut.​"Tuan Adipati, hamba layak menerima hukuman mati," bisik Lu Chen, suaranya parau dan sarat nestapa. "Hamba telah gagal menjaga keamanan tenda Tuan. Semalam, hamba hanya merasakan bayangan hitam berkelebat secepat kilat, lalu segalanya menjadi gelap. Pagi tadi, pasukan menemukan hamba tergeletak tak berdaya di atas tanah basah di depan pintu tenda."​Long X

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 123

    Langit di atas wilayah Shangdi seolah runtuh, mencurahkan hujan lebat yang tak kunjung reda selama tiga hari terakhir. Di tengah kekacauan itu, Long Xuan berdiri tegak di atas perbukitan lumpur. Jubah adipatinya yang biasa berkilau kini pekat oleh tanah liat dan air hujan, namun sorot matanya tetap setajam elang yang mengintai mangsa.​Pemandangan di hadapannya begitu memilukan; luapan sungai telah menelan ladang dan pemukiman, menyisakan puing-puing yang hanyut terbawa arus keruh.​"Dirikan tenda untuk merawat para korban di dataran tinggi! Lu Chen, bagi pasukan menjadi dua kelompok. Satu untuk evakuasi warga, sisanya mengangkut batu kali guna menutup tanggul yang jebol!" perintah Xuan. Suaranya menggelegar, menembus deru hujan yang kembali menderas.​Sepanjang siang, Xuan tak berhenti bergerak. Ia meninjau setiap jengkal wilayah terdampak, memetakan aliran air, dan memastikan logistik pangan sampai ke tangan pengungsi.​"Tuan Adipati," Lu Chen mendekat, menyodorkan sebuah guci air.

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 122

    Kabar mengenai janin yang bersemayam di rahim Murong Lian terbang bagaikan anak panah yang melesat menembus dinding Kediaman Murong. Tidak butuh waktu lama bagi Murong Xi, putra sulung keluarga Murong untuk memacu kudanya menuju Kediaman Long.​Siang itu, matahari bersinar terik, namun suasana di ruang tamu utama Kediaman Long terasa sedingin es. Liya duduk dengan anggun, mengenakan hanfu sutra berwarna biru pucat, menjamu kakak tirinya dengan teh terbaik. Namun, tatapan mata Murong Xi tidak tertuju pada cangkir tehnya; matanya liar, mencari-cari sosok yang menjadi alasan kedatangannya."Kau tampak gelisah, Kakak Xi," ucap Liya tenang, membelah kesunyian. "Lian'er sedang beristirahat. Tabib bilang kandungannya lemah, ia butuh ketenangan ekstra."​"Kau tidak marah atau kecewa karena Lian hamil lebih dulu?" tanya Murong Xi tiba-tiba.​Liya terdiam sejenak, mengira kakaknya sedang mencoba menghibur. "Tidak, Kak. Jika memang ini takdirku, aku terima. Selama Long Xuan mempertahankanku seba

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 121

    Liya masih asyik berbincang dengan Na Ying, merencanakan pengiriman bantuan selimut dan kain kasar untuk para pengungsi di Shangdi ketika tiba-tiba suara derap kaki kuda yang menderu berhenti tepat di depan toko.​Pintu toko terbuka dengan sentakan tegas. Sosok tinggi tegap Long Xuan muncul di ambang pintu, masih mengenakan jubah adipatinya yang berwarna hitam legam dengan pelindung dada perak yang berkilat tertimpa cahaya matahari. Debu tipis menempel di sepatunya, menandakan ia datang dengan tergesa-membelah riuh pasar hanya untuk sampai ke sana.​Liya tersentak, sementara Na Ying dengan cekatan menarik cadar sutranya untuk menutupi separuh wajah, menyisakan sepasang mata yang berkilat jenaka namun waspada.​"Xuan? Mengapa kau di sini?" tanya Liya, mendekat dengan raut wajah yang campur aduk antara cemas dan rindu. ​Xuan tidak langsung menjawab. Sepasang matanya yang tajam sempat melirik ke arah wanita bercadar di sudut ruangan sebelum beralih sepenuhnya kepada istrinya. "Aku akan

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 120

    Aroma kain sutra yang baru dibuka dan kayu cendana menyambut kedatangan Liya saat ia melangkah masuk ke Toko Kain Qin Feng. Riuh rendah pasar ibu kota sedikit membasuh kekalutan hatinya setelah perselisihan tajam dengan Xuan pagi tadi. Ia butuh udara segar, jauh dari tembok tinggi kediaman Long yang terasa kian menghimpit.​Namun, kejutan lain telah menantinya. Di sudut ruangan, di antara deretan kain brokat terbaik, berdiri seorang wanita yang mengenakan jubah bangsawan berwarna ungu tua dengan memakai cadar menutup sebagian wajahnya. Sosok itu tampak begitu anggun, seolah cahaya matahari enggan berpaling darinya.Saat melihat Liya tiba, wanita anggun itu membuka cadar putihnya.​"Na Ying?" desis Liya hampir tak percaya. Rasanya ia tak perlu bertanya bagaimana Na Ying bisa mengetahui kalau itu tokonya. Pimpinan Bandit Gunung Yu itu mempunyai banyak anak buah yang tersebar dimana-mana.​Wanita menyunggingkan senyum hangat, wajahnya tampak jauh lebih muda dari usia sebenarnya. "Kau da

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 39

    Begitu selesai mengantarkan Long Yuan ke akademi Shin Yue, Liya memutuskan untuk tidak langsung pulang. Ia butuh ruang untuk bernapas, sebuah tempat di mana statusnya sebagai istri yang terabaikan tidak lagi relevan. Dengan suara tegas, ia memerintahkan kusir untuk memacu kereta menuju pasar dist

    last updateLast Updated : 2026-03-22
  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 40

    Kereta kuda berhenti dengan tenang di depan kedai manisan yang riuh di ujung distrik akademi Shin Yue. Liya turun dengan gerakan anggun, jemarinya merapikan lipatan hanfu ungu berbahan sutra yang ia kenakan. Wajahnya tampak setenang permukaan telaga beku, tanpa sedikit pun jejak kepanikan, meski di

    last updateLast Updated : 2026-03-22
  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 41

    Cahaya mentari senja yang jingga keemasan menerobos masuk melalui celah tirai sutra, menyinari wajah Long Yuan yang tampak jauh lebih tenang. Bocah itu duduk merapat, menggenggam jemari Liya dengan posesif. ​"Bibi," panggil Long Yuan lirih. Suaranya memecah keheningan yang sejak tadi membeku di an

    last updateLast Updated : 2026-03-22
  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 38

    Kerasnya suara pintu Paviliun Anggrek yang ditutup masih menyisakan getaran di udara pagi yang dingin saat Long Xuan melangkah pergi dengan napas memburu. Di balik pilar selasar yang diselimuti kabut tipis, Lin Yuexin berdiri mematung, menyaksikan drama itu dengan senyum yang tersembunyi di balik s

    last updateLast Updated : 2026-03-22
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status