Share

Bab 120

Author: Wei Yun
last update publish date: 2026-03-18 14:46:46

Aroma kain sutra yang baru dibuka dan kayu cendana menyambut kedatangan Liya saat ia melangkah masuk ke Toko Kain Qin Feng. Riuh rendah pasar ibu kota sedikit membasuh kekalutan hatinya setelah perselisihan tajam dengan Xuan pagi tadi. Ia butuh udara segar, jauh dari tembok tinggi kediaman Long yang terasa kian menghimpit.

​Namun, kejutan lain telah menantinya. Di sudut ruangan, di antara deretan kain brokat terbaik, berdiri seorang wanita yang mengenakan jubah bangsawan berwarna ungu tua denga
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 140

    Malam di Dan Xue yang sunyi seketika berubah menjadi badai emosi yang menyesakkan. Begitu Liya mengenali aroma maskulin yang bercampur dengan bau arak mahal itu, seluruh tubuhnya melemas. Ia tahu itu suaminya. Ia tidak berontak saat lengan kokoh Long Xuan melingkar di pinggangnya, mengangkat tubuhnya dengan seringan bulu.​Xuan melompat ke balkon lantai atas dengan ketangkasan yang luar biasa, membawa mereka ke deretan kamar utama yang tarifnya hanya bisa dijangkau oleh kaum bangsawan. Dengan satu tendangan kasar, Xuan membuka pintu salah satu kamar mewah, mendorong Liya masuk hingga istrinya itu nyaris tersungkur di atas permadani tebal.​Pintu dikunci dari dalam. Suasana kamar yang luas dengan interior kayu cendana dan ranjang besar berkelambu sutra itu terasa begitu mengintimidasi. Laki-laki di hadapannya masih mengenakan kain penutup wajah hitam. Tanpa ragu, Liya merangsek maju dan menyentak kain itu hingga terlepas.​Mata mereka bertemu. Di sana, di bawah temaram lentera, berdi

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 139

    Asap ungu yang menyesakkan masih menggantung di udara, namun Jiang Xun tidak memedulikan kekacauan di belakangnya. Pria itu menarik lengan Liya dengan kasar, menyeretnya menembus lorong-lorong gelap Paviliun Yunjin hingga mereka sampai di taman belakang yang sunyi. Oksigen dingin malam Dan Xue menusuk paru-paru Liya yang terengah-engah.​"Lepaskan! Tuan Jiang, kau gila!" teriak Liya, berusaha menyentak tangannya.​"Aku menyelamatkanmu, Miao Er! Lihatlah tempat itu, semua hancur!" Jiang Xun berbalik, matanya berkilat penuh obsesi. "Kau ikut denganku ke kediaman Jiang. Sekarang!"​Namun, sebelum Jiang Xun sempat melangkah lebih jauh, sekelebat bayangan hitam melesat dari balik pepohonan ginkgo. Dengan gerakan yang hampir tak kasat mata, bayangan itu mendaratkan dua hantaman telak ke titik saraf di leher dan punggung Jiang Xun. Sang bangsawan itu jatuh tersungkur, lumpuh seketika tanpa sempat mengerang.​"Na Ying!" Liya terpekik pelan, jantungnya nyaris melompat keluar.​"Berhenti bert

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 138

    Liya berdiri mematung di lorong yang remang, punggungnya menempel pada dinding kayu yang dingin sementara cengkeraman Jiang Xun di lengannya kian menguat. Di ujung lorong, bayangan Na Ying memberikan isyarat rahasia, sebuah tanda bahwa ia harus menahan Jiang Xun lebih lama agar Na Ying bisa menyelinap ke paviliun atas yang baru saja ditinggalkan kosong.​"Tuan Jiang, tenanglah," bisik Liya dengan nada yang dibuat manja, mencoba meredam amarah pria di depannya. "Tuan adalah satu-satunya pelindungku di tempat terkutuk ini. Jika Tuan membawaku pergi sekarang, Lan Xue akan murka dan mencelakaiku. Tolong, bersabarlah sedikit lagi."​Jiang Xun menggeram, matanya berkilat penuh obsesi. "Wanita tua itu tidak akan berani menyentuhmu jika kau bersamaku, Miao Er! Lihat bagaimana laki-laki peliharannnya memperlakukanmu tadi? Dia memandangmu seolah kau adalah sampah!"​"Justru karena itu, Tuan," Liya memberanikan diri menyentuh dada Jiang Xun, jemarinya gemetar namun ia memaksakan sebuah tatapan

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 137

    Cahaya fajar menyelinap di sela-sela tirai sutra kamar penginapan. Liya duduk di tepi ranjang, menatap pergelangan kakinya yang kini dibebat kain putih. Rasa yang berdenyut itu masih ada, namun hatinya jauh lebih sakit saat membayangkan tatapan dingin Long Xuan semalam.​Na Ying berdiri di depan jendela, membelakangi Liya. Suaranya rendah namun tajam saat ia mulai menyusun rencana baru.​"Jiang Xun bukan sekadar penghambat, Shishi. Dia adalah kunci perak yang bisa mendekatkan kita dengan Lan Xue," ujar Na Ying tanpa menoleh.​Liya menghela napas, jemarinya meremas kain seprai. "Dia menginginkanku, Na Ying. Dia ingin menjadikanku sebagai kekasihnya. Bagaimana aku bisa memanfaatkan pria yang menatapku seolah-olah aku adalah barang dagangan?"​Na Ying berbalik, matanya berkilat. "Dengan memberikan harapan palsu. Lan Xue menghormati kekuatan keluarga Jiang. Jika Jiang Xun selalu berada di sisimu, Lan Xue tidak akan berani menyentuhmu atau mengusirmu dari paviliun ini meskipun dia mulai c

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 136

    Lentera di dalam kamar privat Paviliun Yunjin berpendar temaram. Aroma kayu cendana menguar, namun bagi Liya, udara di ruangan itu terasa menyesakkan. Ia duduk di tepi pembaringan rendah, sementara Jiang Xun berlutut di hadapannya, memegang pergelangan kaki kanan Liya yang membengkak dengan kelembutan yang meresahkan. ​"Lepaskan, Tuan Jiang. Aku bisa mengobati ini sendiri," desis Liya, mencoba menarik kakinya. Rasa nyeri menyengat sarafnya, namun rasa risih berada di bawah tatapan memuja pria ini jauh lebih memuakan.​Jiang Xun tidak bergeming. Jemarinya yang halus mengoleskan minyak obat beraroma rempah kuat ke kulit Liya yang putih pucat. "Duduklah dengan tenang, Miao Er. Jika kau terus membantah, bengkak ini tidak akan surut, dan kau tidak akan bisa menari lagi di atas panggung itu."​Liya membuang muka, matanya menatap pintu kayu yang tertutup rapat. Pikirannya masih tertinggal di anak tangga tadi, pada sorot mata Long Xuan yang tajam namun asing. Kalimat Xuan yang menyebutnya se

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 135

    Malam itu, Paviliun Yunjin bersolek lebih megah dari biasanya. Lampion-lampion merah digantung rendah, membiaskan cahaya temaram yang menari di atas meja-meja kayu cendana. Aroma arak berkualitas tinggi bercampur dengan wangi dupa musk yang berat, menciptakan atmosfer kegembiraan yang menyesakkan. ​Di balik tirai panggung, Liya berdiri mematung. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena demam panggung, melainkan karena kecemasan yang menghimpit dada. Ia mengenakan hanfu sutra tipis berwarna merah darah dengan hiasan emas yang melingkar di pinggangnya. Wajahnya tertutup cadar transparan, hanya menyisakan sepasang mata yang dipulas tajam. ​"Ingat, Shishi," bisik Na Ying yang menyamar sebagai penata rias di belakangnya. "Gerakan silat Gunung Yu adalah jiwamu. Gunakan kelenturannya untuk menipu mata mereka. Jadikan pedang imajiner di tanganmu sebagai tarian yang paling mematikan." ​Liya mengangguk samar. Saat musik pipa mulai beralun kencang dengan tempo yang dinamis, ia melesat ke ten

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 24

    Pagi di Distrik Timur biasanya dimulai dengan aroma kayu bakar dan suara sapu lidi yang menggesek jalanan berbatu. Namun hari ini, suasana terasa seperti genderang perang yang ditabuh di tengah pasar. Qin Feng, pemilik toko kain yang biasanya tenang, berdiri mematung di depan tokonya. Matanya terbe

    last updateLast Updated : 2026-03-19
  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 23

    Keheningan di gang buntu itu hanya dipecah oleh rintihan para penyerang yang meringkuk tak berdaya. Long Xuan menyarungkan kembali pedang pendeknya dengan satu gerakan halus yang presisi, namun matanya masih memancarkan kilat amarah. ​Liya, yang masih memegang belati rampasan dengan tangan sedikit

    last updateLast Updated : 2026-03-19
  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 20

    Pagi hari, ketika kabut tipis masih menyelimuti atap-atap kediaman Adipati Long, Paviliun Anggrek sudah berdenyut dalam kesibukan yang senyap. Liya mengenakan gaun sutra berwarna abu-abu perak yang sederhana agar mudah bergerak, namun ia menyampirkan sebuah selendang celup ikat motif "Samudra Tenga

    last updateLast Updated : 2026-03-19
  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 30

    ​Malam semakin larut di Paviliun Phoenix, namun atmosfer di dalamnya terasa pekat oleh ketegangan yang tak kasatmata. Di dalam kamar yang luas itu, keheningan hanya dipecah oleh suara napas yang mulai beraturan dan gemeretak kayu bakar dari tungku di sudut ruangan. ​Long Xuan tetap terjaga. Meski

    last updateLast Updated : 2026-03-20
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status