Share

Bab 8

Author: Amellia
Windy berbaring di ranjang pasien. Tubuhnya terasa sedingin es. Bubur yang dibawa Yudha masih berada di meja samping tempat tidur, tetapi sudah tidak panas. Dia mengulurkan tangan untuk mengambilnya dan makan sesendok. Namun, ujung jarinya gemetar hebat sehingga dia bahkan tidak bisa memegang sendok.

Rasa sakit di perut bagian bawah Windy makin hebat, seperti ditusuk-tusuk pisau. Dia menggertakkan giginya dan memanggil dengan lemah, "Dokter."

Dokter segera membuka pintu. Melihat wajah Windy yang pucat pasi, dia segera menyingkap selimut untuk memeriksanya. Ekspresinya seketika berubah drastis. Seprai sudah berlumuran darah.

"Orang yang menderita anemia bisa meninggal karena kehilangan terlalu banyak darah, apalagi darahmu baru diambil paksa sebanyak itu!" Suara dokter terdengar tegang. "Kamu harus segera dioperasi. Kalau nggak, nyawamu akan terancam!"

Windy memejamkan mata sejenak dan mengangguk. "Oke."

Windy berhenti sejenak, lalu berbisik, "Jangan sampai Yudha tahu."

Berbaring di meja operasi yang dingin, kesadaran Windy mulai kabur. Dia seolah kembali ke lima tahun yang lalu.

Saat pertama kali bertemu, Yudha berdiri di tengah hujan untuk menunggu Windy. Matanya penuh senyum lembut. Di hari pernikahan mereka, Yudha menggenggam tangannya dan berkata, "Windy, aku akan baik padamu seumur hidupku."

Namun, Yudha perlahan-lahan berubah setelahnya. Dia mengeluh bahwa Windy terlalu mendominasi, tidak cukup lembut, dan selalu acuh tak acuh.

Windy mengira itu karena dirinya tidak cukup baik. Jadi, dia mati-matian berusaha untuk patuh dan taat pada Yudha. Sekarang, dia mengerti bahwa itu bukan karena dia tidak cukup baik, melainkan karena Yudha tidak pernah mencintainya.

Obat bius perlahan-lahan menunjukkan efek. Alat-alat yang dingin menyentuh tubuhnya. Dia memejamkan matanya dan air mata mengalir di pipinya.

Bayinya telah tiada. Pernikahan lima tahun ini sudah benar-benar berakhir.

Setelah operasi, Windy dibawa kembali ke kamar rawat inap. Perawat membaringkannya dan berkata dengan lembut, "Nyonya, istirahatlah dengan baik."

Windy bertanya dengan lemah, "Apa Yudha pernah datang?"

Perawat itu ragu sejenak, lalu menggeleng. "Nggak."

Windy memaksakan senyum. Dia sudah menduganya. Dia berusaha untuk bangkit dan berjalan ke jendela.

Di taman, Yudha sedang memapah Nadia untuk berjalan-jalan dengan pelan. Wajah Nadia merona merah. Dia bersandar dengan manja di bahu Yudha. Sementara itu, Yudha menatapnya dengan penuh kelembutan.

Windy memperhatikan dalam diam. Hatinya terasa seperti dikoyak secara perlahan. Dulu, Yudha juga pernah merawatnya dengan begitu hati-hati.

Windy berbalik, lalu mengeluarkan surat kesepakatan cerai yang sudah ditandatangani dari tasnya dan meletakkannya di atas ranjang pasien. Kemudian, dia pergi tanpa berbalik.

Di ujung koridor, orang yang diutus Irfan sudah menunggu.

"Nona, mobilnya sudah menunggu di bawah."

Windy melirik ke arah Yudha yang sedang membantu Nadia naik ke lantai atas untuk yang terakhir kalinya. Setelah itu, dia melangkah masuk ke lift tanpa menoleh lagi.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menulis Surat Perpisahan di Malam yang Hening   Bab 28

    Kabar kehamilan Windy diketahui pada suatu sore yang cerah.Axel memegang hasil tes dengan jari-jari yang agak gemetar. Suaranya yang biasanya tenang kini juga terdengar bergetar. "Se ... serius?"Dokter tersenyum dan mengangguk. "Selamat, istrimu sudah hamil enam minggu."Axel tiba-tiba berbalik, lalu mengangkat Windy dan memutarnya. Setelah tiba-tiba teringat sesuatu, dia menurunkan Windy secara perlahan dan dengan panik menyentuh perut Windy yang masih rata. "Apa aku akan melukai bayinya? Aku meremasmu terlalu kuat."Windy tertawa, lalu mencubit wajah Axel yang tegang, "Mana mungkin bayinya serapuh itu."Namun, Axel masih sangat gugup. Dalam perjalanan pulang dari rumah sakit, dia memperlambat laju kendaraan menjadi 40 km/jam. Setiap kali bertemu polisi tidur, dia bahkan ingin keluar dan meratakan jalan.Sesampainya di rumah, Axel segera mengeluarkan buku catatan dan mulai membuat daftar. Dia menulis tentang nutrisi kehamilan, jadwal pemeriksaan rutin, hal yang harus diperhatikan wa

  • Menulis Surat Perpisahan di Malam yang Hening   Bab 27

    Pada hari pernikahan mereka, Windy yang mengenakan gaun pengantin putih bersih berdiri di ujung karpet merah. Dia menggandeng lengan Irfan sambil tersenyum lembut.Mata Irfan memerah. Tangannya yang menggenggam tangan putrinya sedikit gemetar. Dia menarik napas dalam-dalam dan berbisik, "Windy, keinginan terbesarku dalam hidup ini adalah melihatmu bahagia." Windy pun merasa ingin menangis. Dia dengan lembut membalas genggaman tangan Irfan. "Ayah, aku sangat bahagia sekarang."Irfan mengangguk, lalu menahan air mata dan menuntun Windy berjalan selangkah demi selangkah ke arah Axel yang berdiri di ujung karpet merah.Axel mengenakan setelan jas hitam yang rapi. Dia menatap Windy dengan mata membara dan penuh cinta yang tak tersembunyi. Ketika Windy akhirnya berdiri di hadapannya, dia menelan ludah dan berkata dengan suara agak serak, "Windy, aku sudah menunggu hari ini begitu lama."Pendeta tersenyum dan memberi isyarat agar mereka bertukar sumpah. Axel menarik napas dalam-dalam dan men

  • Menulis Surat Perpisahan di Malam yang Hening   Bab 26

    Windy berdiri di depan jendela. Axel memeluknya dari belakang dan menyandarkan dagunya dengan lembut di atas kepalanya."Lagi mikir apa?" Napas hangat Axel menyapu telinga Windy.Windy bersandar ke pelukannya dan tanpa sadar tersenyum. "Aku lagi mikir soal pertemuan kita waktu itu dan kamu masukkan katak ke dalam tasku."Axel terkekeh dan Windy dapat merasakan getaran dadanya. "Kamu tahu nggak? Habis kamu dorong aku ke air mancur, aku mimpi buruk selama tiga hari berturut-turut!"Tawa dan percakapan riang terdengar dari lantai bawah. Irfan dan Rayyan sedang bermain catur di taman, sedangkan ibunya Axel dan koki Keluarga Lorandi sedang mendiskusikan menu untuk resepsi pernikahan.Sejak Windy dan Axel resmi berpacaran, kedua keluarga berkumpul hampir setiap minggu."Windy, ayo cicipi ini." Linda, ibunya Axel berjalan mendekat dengan membawa sepiring kue. "Aku sudah modifikasi kue osmanthus ini sesuai seleramu. Gulanya dikurangi jadi setengah saja." Windy menggigitnya. Aroma manis dan se

  • Menulis Surat Perpisahan di Malam yang Hening   Bab 25

    Yudha berdiri di luar vila Keluarga Lorandi dan menggenggam erat tas edisi terbatas yang mahal itu. Manset jasnya sudah usang, sedangkan sepatunya kehilangan kilaunya. Namun, matanya terlihat penuh tekad."Windy!" Ketika melihat Windy keluar, Yudha segera menghampirinya. "Lihat, ini tas yang kamu suka. Aku sudah membelinya."Hari ini, Windy mengenakan setelan berwarna krem ​​dan rambutnya diikat dengan asal. Penampilannya terlihat santai sekaligus berkelas. Dia melirik tas di tangan Yudha dan tersenyum tipis."Oh?" Windy mengulurkan tangan untuk mengambilnya. Di bawah tatapan penuh harap Yudha, dia tiba-tiba melepaskannya. Dengan bunyi "gedebuk", tas itu jatuh ke lantai.Windy mengangkat kakinya, lalu menginjak dan menggesek tas itu dengan sepatu hak tingginya tanpa menunjukkan belas kasihan."Kamu!" Mata Yudha melebar. Dia menyaksikan hal ini dengan tidak percaya."Apa yang kusuka kemarin sudah nggak kusuka hari ini," ucap Windy dengan santai. Matanya terlihat dingin, seolah-olah seda

  • Menulis Surat Perpisahan di Malam yang Hening   Bab 24 

    Windy berbaring malas dalam pelukan Axel. Jari-jarinya bermain-main dengan kancing kemeja Axel.Sinar matahari masuk melalui jendela. Axel sedang mengupas anggur untuk Windy. Jari-jarinya yang panjang bergerak dengan cekatan. Daging buah yang berkilauan pun jatuh sempurna ke dalam mangkuk buah."Axel, aku pengen makan macaron dari toko di timur kota itu," kata Windy dengan manja. Axel segera meletakkan anggur dan mengambil ponselnya. "Aku akan suruh orang untuk membelinya sekarang juga." Windy menyipitkan mata dengan puas. Perasaan dimanja sangat menyenangkan. Baru saja dia mendekat dan hendak mencium Axel, tiba-tiba terdengar teriakan melengking dari luar jendela."Windy! Aku akan tunjukkan tekadku!"Yudha berdiri di luar gerbang vila Keluarga Lorandi. Dia masih mengenakan jubah rumah sakit. Luka cambukan di punggungnya membuatnya tidak dapat berdiri tegak, tetapi matanya terlihat penuh tekad.Windy mengerutkan kening dengan kesal. "Dia datang lagi ...."Axel menepuk-nepuk tangan Wi

  • Menulis Surat Perpisahan di Malam yang Hening   Bab 23

    Yudha perlahan-lahan membuka matanya di tengah bau disinfektan. Rasa sakit yang membakar di punggungnya membuatnya meringis. "Hk."Sinar matahari menerobos tirai dan menciptakan bayangan berbintik di ranjang pasien. Yudha masih terhanyut dalam mimpi yang baru saja dibuatnya. Dalam mimpi itu, dia tidak mengkhianati Windy. Mereka hidup bahagia bersama dan memiliki anak kembar yang menggemaskan.Dalam mimpi, senyum lembut Windy terasa begitu nyata. Yudha bahkan masih bisa mengingat aroma melati dari rambutnya. Sebelum senyum itu memudar, kenyataan menghantamnya seperti tersiram air dingin.Kamar rawat inap ini kosong, hanya terdengar suara peralatan medis yang teratur. Tidak ada rumah hangat dari mimpinya, apalagi istri yang menyelimutinya."Heh." Yudha menertawakan dirinya sendiri. Bekas cambukan di punggungnya berdenyut kesakitan setiap kali dia bergerak. Namun, rasa sakit ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan penyesalan di hatinya.Yudha teringat tatapan dingin Windy hari itu, j

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status