Share

Bab 2

Author: Semi
Keesokan paginya, ketika melihat kalender, Stella baru menyadari bahwa hari ini adalah ulang tahun pernikahan mereka yang ketiga.

Dia baru saja ingin memberi tahu Hans bahwa tidak perlu merayakannya, tetapi begitu dia turun ke bawah, dia melihat pria itu telah sibuk di dapur.

Meskipun sudah mengenalnya selama bertahun-tahun, ini pertama kalinya Stella melihat Hans 'si anak emas' ini memasak.

Berapa lama waktu yang dia habiskan untuk menyiapkan hidangan sebanyak ini?

Stella sama sekali tidak tahu hal ini, dan sangat terkejut.

Tak lama kemudian, Hans telah selesai memasak, lalu menyuruhnya duduk, dan bahkan menyajikan banyak makanan seafood untuknya.

Setelah ragu-ragu selama beberapa detik, Stella tetap mengangkat sendoknya.

Setiap kali begitu selesai mencicipi satu hidangan, Hans akan menanyakan bagaimana rasanya, lalu mengambil pulpennya.

Melihat catatan yang bertuliskan 'udangnya enak, ikannya agak pedas, dan kerangnya terlalu hambar', Stella tak kuasa bertanya mengapa dia menulisnya.

Pria itu tidak berhenti menulis, dan menjawab dengan nada datar.

"Ada seorang temanku yang setelah tinggal di luar negeri terus teringat akan makanan di Restoran Permai. Sayangnya, restoran itu sudah tutup dan kepala koki juga telah meninggal, jadi aku mencari resepnya dan ingin memasak untuknya. Tapi aku takut kemampuan memasakku telah menurun, jadi aku pun mencoba memasak di rumah."

Meskipun Hans tidak menyebutkan nama, Stella langsung tahu bahwa teman itu adalah Sonia.

Dan sebagai istrinya, dia hanya dijadikan sebagai alat untuk mencicipi makanannya.

Selesai mencatat, Hans mengeluarkan kotak makanan dan mengemas beberapa hidangan yang barusan dinilai enak oleh Stella.

Lalu, pria itu mengambil kunci mobilnya, bersiap keluar, dan hanya meninggalkan satu kalimat.

"Aku keluar dulu. Terima kasih sudah bantu mencicipi masakan hari ini. Kalau kamu suka, aku akan masakkan lagi untukmu lain kali."

Ternyata, dia bahkan tidak ingat lagi dengan ulang tahun pernikahan mereka?

Stella tertawa dalam hati, menundukkan kepalanya, dan suaranya nyaris tidak terdengar.

"Nggak usah, aku alergi seafood."

Hans tidak mendengar perkataan itu dan pergi dengan tergesa-gesa.

Setelah menyaksikan pria itu pergi, Stella pun membersihkan piring-piring yang tersisa.

Saat dia membuka ponselnya lagi, dia melihat unggahan Sonia di media sosial.

[Dia mengingat ucapan sepele yang pernah aku katakan.]

Disertai foto yang menunjukkan lima hidangan yang dibawa pergi oleh Hans.

Stella menatap lama sebelum tersadar dan menyadari bahwa ruam merah besar telah muncul di tubuhnya.

Ruam-ruam itu begitu tebal dan rapat, tampak sangat mengerikan.

Dia tidak merasakan gatal ataupun sakit.

Saat dia mengangkat tangannya dan menyentuh dadanya, dia baru menyadari bahwa hatinya terasa sakit sekali.

Jadi, rasa sakit itu telah menutupi semua ketidaknyamanan lainnya.

Setelah memaksakan diri kembali ke kamar tidurnya, Stella menelan obat dan membenamkan dirinya di bawah selimut.

Dalam benaknya yang kabur, hanya satu pemikiran terakhir yang tersisa.

Semuanya akan segera berakhir.

Begitu dia terbangun, hari sudah malam.

Mengingat dirinya harus menghadiri sebuah jamuan malam ini, Stella terpaksa bangun dan pergi membersihkan diri.

Ketika tiba di lokasi kejadian, dia mendapati bahwa Sonia juga ada di sana.

Melihat dua kakak beradik itu muncul bersama, para tamu tak kuasa menahan diri untuk tidak teringat akan pernikahan konyol tiga tahun lalu, dan mulai bergosip.

"Dia merebut suami kakaknya, dan masih berani datang menghadiri jamuan? Stella benar-benar nggak tahu malu!"

"Kalau bukan karena aliansi pernikahan Keluarga Setiawan dan Keluarga Gondo nggak bisa dibatalkan waktu itu, kamu kira Pak Hans akan menikahi wanita yang licik dan pengkhianat sepertinya?"

"Kalau aku jadi Sonia, aku nggak bisa terima penghinaan seperti itu. Aku harus beri dia pelajaran!"

Dalam tiga tahun ini, Stella sudah terlalu sering mendengar penghinaan seperti ini.

Dia menarik napas dalam-dalam, berjalan ke sudut dan duduk, berpura-pura tidak mendengar.

Sekelompok sahabat-sahabatnya Sonia berinisiatif menghampirinya.

"Stella, Sonia juga ada di sini, kenapa kamu nggak pergi menyapanya? Bagaimanapun juga, kalian itu kakak beradik. Jangan-jangan kamu merasa bersalah?"

"Dia bahkan berani merebut suami kakaknya, jadi mana mungkin dia merasa bersalah? Seandainya saja aku punya sikap nggak tahu malu dan berani menggunakan segala cara demi mencapai tujuan seperti Stella."

"Sikap macam apa? Mengemis cinta? Sayangnya, setelah mengemis lebih dari sepuluh tahun, dia tetap saja seperti anjing gelandangan. Satu-satunya orang yang dipedulikan Pak Hans hanyalah Sonia."

Melihat wajah mereka yang menyeringai, Stella mengepalkan tangannya erat-erat.

Dia bangkit dan bermaksud menyuruh mereka minggir, tetapi mereka malah makin kurang ajar. Mereka menyiramkan anggur di tangan mereka ke wajahnya.

Di saat Stella tidak bisa melihat dengan jelas, mereka langsung mendorongnya.

Diikuti suara keras, Stella menabrak menara sampanye.

Ratusan gelas anggur pecah dan berjatuhan di tubuhnya, dan darah segar ikut mengalir keluar.

Stella terhuyung dan jatuh ke lantai. Wajahnya pucat pasi.

Rasa sakit yang luar biasa menjalar ke seluruh anggota tubuhnya, dan jeritan kesakitan keluar dari tenggorokannya.

Dia membuka matanya yang kabur dan dipenuhi air mata, lalu melihat tatapan Sonia yang begitu dingin.

Tak jauh dari situ, Hans menoleh dan melihat pemandangan ini. Ekspresinya langsung berubah.

"Apa yang kalian lakukan!"

Dia bergegas mendekat dengan marah, dan bersiap menggendong Stella.

Namun tepat di saat pria itu mengulurkan tangannya, terdengar suara terkejut dari belakangnya.

"Sonia, kamu kenapa?"

Hans secara naluriah berbalik dan bergegas kembali ke arah Sonia yang tidak sadarkan diri.

Melihat Sonia digendong dan dibawa pergi, Stella yang terbaring dalam genangan darah, memejamkan matanya.

Air mata menetes di wajahnya saat dia menyeka luka-lukanya. Rasa sakit itu membuat bulu kuduknya merinding.

Mendengar ejekan 'dia pantas mendapatkannya' dan 'karma' di sekelilingnya, dia hanya bisa memeluk dirinya sendiri erat-erat, menutup telinganya, dan memaksa dirinya untuk berdiri.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Merangkai Doa untuk Kebahagiaanmu   Bab 23

    Hans berbaring tenang di ranjang rumah sakit. Seprai berwarna putih bersih itu makin menonjolkan wajahnya yang pucat pasi.Dua hari terakhir ini, pikirannya sepenuhnya dipenuhi oleh Stella. Nyeri di sekujur tubuh yang dia rasakan tidak begitu berarti lagi dibandingkan dengan kerinduan dan kepeduliannya terhadap wanita itu.Dia baru saja bisa bangkit dengan susah payah, tetapi sudah tidak sabar ingin melepaskan diri dari ranjang rumah sakit yang mengikatnya dan segera memulai perjalanan untuk menemukan Stella.Begitu mengetahui niatnya, sahabat-sahabatnya berkumpul di sekelilingnya. Wajah mereka penuh kekhawatiran dan kecemasan.Salah seorang dari mereka meraih bahunya dan menasihatinya. "Lihat dirimu sekarang ini, lusuh dan bahkan nggak cukuran. Kalau kamu mendatanginya seperti ini, jangankan bisa membuatnya berubah pikiran, dia mungkin akan takut dan menjauh darimu."Hans kemudian perlahan bangkit dan menyeret langkahnya yang berat menuju cermin.Yang terlihat adalah seorang pria deng

  • Merangkai Doa untuk Kebahagiaanmu   Bab 22

    Hans mengangkat kepalanya, matanya dipenuhi tekad. "Ayah, aku ingin menemukan Stella. Aku harus menemukannya."Ayahnya Hans sangat marah hingga wajahnya merah padam. "Ikut aku pulang sekarang juga! Jangan mempermalukan diri di sini lagi!" serunya dengan tegas.Selesai berbicara, dia melambaikan tangan kepada para pengawalnya dan memerintahkan. "Pukul dia sampai pingsan, lalu bawa dia pergi!"Para pengawal maju dan meraih lengan Hans. Hans berusaha meronta, suaranya terdengar putus asa. "Lepaskan aku! Aku harus menemukan Stella! Aku harus menemukannya!"Namun, sekeras apa pun dia meronta, para pengawal itu tidak mau melepaskannya. Mereka memukul bagian belakang lehernya. Pandangan Hans berubah menjadi gelap, dan pingsan.Ketika dia terbangun kembali, dia sudah berada di kediaman Setiawan. Tangan dan kakinya terikat ke tempat tidur, dan dia tidak bisa bergerak. Ayahnya berdiri di samping tempat tidur, memegang cambuk di tangannya, sambil memasang wajah sedingin es."Hans, aku tanya kamu

  • Merangkai Doa untuk Kebahagiaanmu   Bab 21

    Di sisi lain, Hans bergegas ke Lundon. Namun, dia terlambat dan tidak menemukan Stella.Dia hanya mendengar dari orang-orang bahwa memang ada gadis yang sangat mirip dengannya, kondisinya terlihat sangat bagus, dan juga mengatakan bahwa gadis itu sedang berkeliling dunia serta telah mengambil banyak foto untuk dibagikan kepada mereka.Melihat foto-foto itu, Hans mendadak merasakan lonjakan kepedihan yang tak terlukiskan di hatinya.Dalam foto tersebut, Stella tersenyum cerah, dan matanya penuh dengan kebebasan serta kegembiraan.Dia tampak seperti orang yang berbeda, bukan lagi gadis yang diam-diam mengorbankan diri untuknya.Hans mencari di sekitar lingkungan itu untuk waktu yang lama, tetapi hasilnya tetap nihil.Terakhir, dia teringat pada Desy.Dia bergegas kembali ke tanah air dan menemui Desy. "Desy, apa kamu tahu di mana Stella berada? Aku sudah tahu bahwa kecelakaan pesawat itu sengaja direkayasa. Di mana dia? Dia pasti sudah beri tahu kamu, 'kan? Katakan padaku," desak Hans.D

  • Merangkai Doa untuk Kebahagiaanmu   Bab 20

    Hans minum-minum di rumah selama tiga hari berturut-turut. Dia menggenggam erat foto Stella, matanya kosong dan mati rasa.Ruangan itu penuh dengan bau alkohol menyengat. Botol-botol kosong yang tak terhitung jumlahnya berserakan di lantai.Pikirannya kacau, dan hatinya terasa seperti diremas erat oleh sesuatu, begitu menyakitkan hingga dia sulit bernapas dengan normal.Sensasi pedas itu mengalir ke tenggorokannya, seakan membakar organ dalamnya.Dia mencoba membius dirinya sendiri dengan alkohol, agar berhenti memikirkan Stella, agar berhenti merasakan sakit yang terus-menerus itu. Namun setiap kali dia memejamkan matanya, suara dan senyum Stella akan muncul dengan jelas di hadapannya, membuat hatinya terasa sakit sekali.Saat dia hendak mabuk hingga tidak sadarkan diri, pintu tiba-tiba didorong terbuka, dan beberapa sahabatnya bergegas masuk. Melihat kondisi Hans, mereka dengan cepat melangkah maju dan merebut botol anggur dari tangannya. Suara mereka penuh dengan desakan."Hans, ten

  • Merangkai Doa untuk Kebahagiaanmu   Bab 19

    Mendengar bisikan-bisikan dari bawah panggung, wajah Sonia menjadi pucat pasi. "Hans, apa yang kamu katakan?" tanyanya dengan suara bergetar."Jangan dengar perkataannya. Itu nggak benar, itu nggak benar!"Hans menatapnya dingin. Nada bicaranya penuh sarkasme. "Sonia, kamu kira aku nggak tahu alasan kamu melarikan diri dari pernikahan waktu itu? Kamu menganggap keluarga kaya itu nggak baik, dan terlalu banyak aturan. Kamu menyukai kebebasan dan pemberontakan. Itu sebabnya, kamu bisa ditipu dan tidur dengan seorang preman. Di hari kamu melarikan diri, Stella berinisiatif mengambil tanggung jawab demi menyelamatkan reputasiku. Dia menanggung semua aib itu, dan nggak pernah mengeluh. Sebaliknya, kamu dengan nyaman menikmati simpati dan belas kasihan dari semua orang."Air mata Sonia langsung menggenang, dan suaranya dipenuhi rasa putus asa."Hans, jangan seperti ini ... jangan bicara lagi .... Aku mengakui kesalahanku sekarang .... Aku mengakui kesalahanku ....""Kamu mengakui kesalahan?

  • Merangkai Doa untuk Kebahagiaanmu   Bab 18

    "Lantas, kenapa dia nggak balas pesan yang kukirim? Dulu dia selalu balas setiap pesan yang kukirim dengan cepat." Sonia masih merasa sedikit gelisah."Dia nggak balas pesan pasti karena sibuk mempersiapkan jas dan cincin pernikahan. Lagian, pernikahan kalian terlalu mendadak, dan dia pasti ingin memberikan yang terbaik untukmu."Setelah mendengar itu, Sonia baru merasa sedikit lebih tenang.Untungnya, waktu masih belum tiba. Dia bisa dengan sabar menunggu kemunculan pria itu.Sonia yakin betapa besar cinta Hans padanya.Jadi, apa pun yang terjadi, pria itu pasti akan datang.Entah sudah berapa berlalu, dan waktu sekarang telah menunjukkan hampir jam sembilan. Mereka mengundang banyak orang kali ini, dan kerumunan di bawah mulai sibuk berbisik-bisik.Tepat ketika dia mulai merasa tidak nyaman lagi, pintu tiba-tiba terbuka dengan keras.Dia mendongak, dan senyumnya menjadi makin cerah saat melihat Hans muncul.Hans mengenakan setelan hitam, memasang ekspresi dingin dan tatapannya tajam.

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status