Short
Janji Bunga Magnolia di Atas Perahu

Janji Bunga Magnolia di Atas Perahu

Oleh:  GesTamat
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
10Bab
1Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Di Kota Muara Apung tempat tinggal kami, jika ada seorang pria ingin menikahi kekasihnya, maka dia perlu membuat sendiri sebuah perahu dayung sebagai mahar pernikahan. Pada saat perayaan tujuh tahun hubungan kami, pacarku yang bernama Agam Laguna sedang mengadakan upacara peluncuran untuk perahu barunya. Semua orang menyaksikan upacara itu dan bersorak gembira, jantungku berdebar kencang tanpa henti. Saat hendak naik ke perahu, aku tak sengaja mendengar dia dan sahabat-sahabatnya yang sedang mengobrol pelan. “Kalau kau beneran memberikan perahu ini pada Mina, apa kau tidak takut kalau Andin akan mengamuk?” "Benar, Andin itu sangat pemarah, jadi berhati-hati saja, jangan sampai keterlaluan." Pada detik berikutnya, suara santainya terdengar penuh tekad. "Tenang saja. Andin itu mudah dibujuk, dia sangat mencintaiku." "Apalagi di Kota Muara Apung, kalau ada wanita belum menikah sampai usia dua puluh delapan tahun, akan dianggap perawan tua. Dia tidak akan berani macam-macam." “Selain itu, akta nikahnya tetap untuk Andin dan perahu pernikahan ini untuk Mina. Jadi, ini sangat adil dan … anggap saja sebagai penyesalanku.” Apakah sebuah penyesalan jika harus mendaftarkan pernikahan denganku? Mudah dibujuk. Perawan tua. Kata-kata itu terasa menusuk telingaku. Tenggorokanku terasa gatal, tetapi aku tidak akan menangis. Aku mengeluarkan ponsel dan mengirim sebuah pesan. [Bu, aku akan menurut padamu. Sekarang umurku sudah dua puluh delapan tahun, aku tidak akan menunggu lebih lama lagi.]

Lihat lebih banyak

Bab 1

Bab 1

Ketika perahu baru yang dihiasi dengan bunga mawar itu diluncurkan ke tengah sungai, beberapa orang mulai bersorak dan mendorong.

"Andin, cepat naik ke perahu!"

“Andin, setelah tujuh tahun, hubungan kalian akhirnya masuk ke jenjang pernikahan!”

Sahabatku yang bernama Yulia Rosan terdengar begitu bersemangat, dia merasa sangat bahagia untukku.

Di bawah sorotan mata semua orang, Agam turun dari perahu dan berjalan ke arahku.

Dia hanya berhenti sejenak di sampingku, lalu berjalan melewatiku begitu saja.

Hingga akhirnya dia berhenti tepat di hadapan Mina, nada suaranya terdengar santai dan penuh kasih sayang.

“Ini hadiah ulang tahunmu, apa kau menyukainya?”

Suasana di sekitar kami menjadi sunyi penuh kecanggungan.

Mina menutup mulutnya dengan sorot mata bahagia penuh keterkejutan.

Mereka berdua lalu berjalan beriringan menuju perahu itu.

Saat dia kembali melewatiku kali ini, Agam berhenti dan berbicara dengan nada datar dan santai.

"Andin, kapal ini akan kuberikan untuk Mina dulu. Kapal berikutnya sudah mulai dibuat. Jadi, jangan khawatir soal ini, ya."

Beberapa orang menonton pertunjukan, dan beberapa orang menatapku.

Seolah-olah mereka sedang menunggu diriku, si petasan Kota Muara Apung yang terkenal, untuk menimbulkan keributan besar.

Tetapi, aku hanya menatapnya dengan tenang.

“Tidak perlu, Agam.”

Dia sedikit terkejut, seolah tidak membayangkan akan menerima reaksi seperti itu.

Melihat suasana yang canggung, sahabat-sahabatnya Agam mulai berbicara mewakilinya.

"Andin, jangan berpikir yang tidak-tidak. Agam hanya membantu Mina mewujudkan salah satu keinginan di hari ulang tahunnya!"

“Iya, benar. Pengantinnya Agam nanti, tetap kau.”

Aku merasa ingin tertawa ketika mendengar alasan mereka yang konyol.

Yulia mengertakkan gigi di sampingku.

"Bagaimana bisa Agam melakukan ini?"

"Dia jelas tahu bahwa seorang pria hanya bisa membuat satu perahu dayung dalam hidupnya!"

Ada rasa pedih muncul di hatiku.

Ucapannya memang benar. Di Kota Muara Apung, bahkan anak-anak berusia tiga tahun pun sudah tahu bahwa seorang pria akan menikahi istrinya dengan memberikan mahar berupa perahu dayung pertama yang dia buat, sebagai lambang cinta sejati seumur hidupnya.

Suara di samping telingaku terdengar agak tertahan.

"Andin, aku merasa kesal sekali ...."

“Demi seorang asisten yang ingin naik posisi, apakah Agam sudah buta?”

Sebenarnya, dia bukan hanya seorang asisten biasa, dia adalah putri seorang teman lama Keluarga Laguna yang dipercayakan untuk dirawat oleh Keluarga Laguna.

Jadi, Agam memberi Mina perhatian dan kasih sayang yang tidak terbatas.

Agam selalu membawanya ke berbagai acara, dan menyertakan dirinya untuk hadiah festival apapun yang diberikan padaku.

Bahkan perahu pernikahan yang telah kunantikan selama tujuh tahun ini, malah diberikan kepadanya hanya karena sebuah keinginan di hari ulang tahun.

“Itu tidak penting lagi, Yulia.”

Aku menepuk lembut tangannya.

Tak lama kemudian, kedua orang di kapal itu menyelesaikan upacara peluncuran dan kembali naik ke darat.

Mina masih menyisakan senyuman di wajahnya. Dia datang dengan melompat-lompat kecil, nada suaranya terdengar menggemaskan seperti biasa.

"Andin, Agam cuma memenuhi keinginan ulang tahunku. Kau jangan marah ya."

Dia menyebut nama Agam dengan sangat mesra.

Tepat saat aku hendak berbicara, Agam sudah melangkah maju dan memegang bahuku.

“Andin, itu hanya sebuah perahu.”

“Ada banyak orang di sini, jangan buat masalah.”

Nada suaranya terdengar lembut, tetapi terpancar sebuah peringatan di sorot matanya.

"Tidak akan."

Aku mundur selangkah, tersenyum dan mengangguk ke arah Mina.

"Selamat ulang tahun."

Begitu aku selesai mengatakan itu, ada keheningan yang aneh terasa di sekitarku.

Agam menatap tangannya yang kosong dan tertegun sejenak.

Memang benar. Kalau dulu, aku pasti sudah mengamuk dan membuat keributan.

Yulia yang sudah tidak tahan, langsung bertanya dengan suara keras.

“Agam, kau sudah memberi Mina perahu. Lalu, kau akan melamar Andin pakai apa?”

"Dia sudah menunggumu selama tujuh tahun. Berikan kepastian!"

Semua mata tertuju padanya.

Aku juga memandangnya dengan tenang, masih ada sedikit harapan yang muncul di hatiku.

Agam, ini kesempatan terakhir yang kuberikan padamu.

Satu detik, dua detik.

Jari-jariku mengepal erat menusuk telapak tanganku sendiri. Ketika aku tidak tahan lagi dan ingin mencairkan suasana.

Agam terkekeh dan berbicara dengan santai.

"Pasti, lain kali."

Sangat ringan, sebuah jawaban retorik dan asal-asalan.

Sisa cinta terakhir di dalam hatiku saat itu ibaratkan sebuah balon yang meletus, dan akhirnya kempes tak bersisa.

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
10 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status