Share

Merangkai Doa untuk Kebahagiaanmu
Merangkai Doa untuk Kebahagiaanmu
Penulis: Semi

Bab 1

Penulis: Semi
Hans merasa jantungnya seolah-olah ditusuk sesuatu, dan tetes demi tetes darah jatuh.

Setelah terdiam cukup lama, Hans bertanya dengan suara serak, "Kalau ada kehidupan berikutnya, apa kamu bersedia menghabiskan sisa hidup bersamaku?"

"Ya, aku bersedia. Kalau ada kehidupan berikutnya, aku pasti nggak akan melewatkanmu."

Saat itu, emosi Hans yang telah lama ditekannya, meledak bagai air bah. Dia akhirnya mengangkat tangannya untuk memeluk Sonia.

Melihat mata pria itu yang memerah, Stella merasa seolah ada sesuatu mengganjal hatinya, membuatnya sulit bernapas.

Rasa pahit yang luar biasa muncul, dan air mata menggenang di pelupuk matanya.

Namun, dia memaksakan diri untuk tidak menangis, dan malah memperlihatkan senyum yang sangat jelek.

Separuh hidupnya baru saja terlewati, dan sebagai istri Hans, dia juga masih hidup.

Namun, Hans sudah tidak sabar untuk menjalani kehidupan berikutnya bersama Sonia.

Jadi, apa sebenarnya arti pernikahan yang telah berlangsung tiga tahun ini?

Darah merembes dari telapak tangannya yang terkepal. Kenangan tak terhitung jumlahnya kembali membanjiri pikirannya.

Stella telah mengenal Hans sejak dia bisa mengingat.

Namun, pria itu tidak pernah meliriknya, dan hanya terus mengikuti kakaknya, Sonia, dari belakang.

Dari anak kecil yang polos hingga gadis muda yang mengalami cinta pertamanya, Stella tetap menjadi pengamat, menyaksikan perasaan Hans yang tumbuh dengan cepat.

Menyaksikan Hans menolak semua ajakan gadis lain demi Sonia, dan lebih memilih menjadi ksatria penyelamatnya.

Menyaksikan Hans melepaskan mimpinya menjadi pilot demi mewarisi bisnis keluarga. Semua itu demi memberikan masa depan yang stabil dan bahagia untuk Sonia.

Kemudian, ketika Keluarga Setiawan dan Keluarga Gondo akan disatukan melalui aliansi pernikahan, dan harus memilih salah satu dari dua kakak beradik, Hans tanpa ragu memilih Sonia dan mempersiapkan pernikahan yang megah untuknya.

Namun, di hari pernikahannya, Sonia melarikan diri dari pernikahan demi seorang pemuda miskin.

Begitu berita itu tersebar, tempat pernikahan langsung dipenuhi kegaduhan dan ejekan. Harga diri dan martabat Hans sebagai anak emas nyaris diinjak-injak di bawah kakinya.

Di hari itu, Stella berinisiatif mengambil tanggung jawab dan menyelesaikan masalah itu.

Dia mengatakan bahwa Sonia tidak melarikan diri dari pernikahan, tetapi dipaksa pergi olehnya.

Dia juga menyukai Hans. Itu sebabnya, dia mengusir Sonia. Dia diam-diam menyukai Hans selama bertahun-tahun, jadi dia sangat cemburu dan mencoba merebut calon suami kakaknya.

Bagaimanapun, aliansi pernikahan tidak boleh dibatalkan. Karena kakaknya dipaksa pergi olehnya, Hans tidak punya pilihan selain menikahinya.

Begitu mengatakan kata-kata itu, segala macam hinaan keji seketika membanjiri diri Stella.

Hanya Hans dan Nyonya Besar Setiawan, yang mengenal sifat Stella dengan baik. Mereka tahu Stella punya sifat pemalu dan pada dasarnya tidak disukai di Keluarga Gondo, jadi dia tidak mungkin melakukan hal-hal seperti memaksa kakaknya.

Di hari itu, Hans memasangkan cincin nikah di tangannya. Dengan demikian, pernikahan tersebut pun berganti mempelai wanita.

Setelah pesta pernikahan selesai, Nyonya Besar Setiawan bertanya pada Stella mengapa dia melakukan hal itu.

Stella ragu-ragu sebelum akhirnya memberikan jawaban yang jujur.

"Kak Hans punya harga diri yang tinggi, dan aku nggak ingin dia menghadapi kesulitan sendirian."

Nyonya Besar Setiawan tersentuh oleh ketulusan hatinya, dan juga menghargai perasaannya yang dalam, jadi dia menerimanya sebagai cucu menantunya.

Di saat-saat terakhirnya, beliau masih mengkhawatirkan Stella. Beliau memaksa Hans untuk bersumpah bahwa dia tidak akan menceraikan Stella seumur hidupnya.

Hans juga menyadari pengorbanan yang telah dia lakukan dan membuat sebuah sumpah.

Setelah menikah, Hans dengan tekun memenuhi tanggung jawabnya sebagai seorang suami. Dari membeli bunga, memberi hadiah, dan merayakan hari jadi pernikahan tanpa pernah melewatkan satu pun.

Di atas ranjang, Hans juga sangat lembut dan selalu mempertimbangkan perasaannya.

Stella berkali-kali percaya bahwa Hans telah jatuh cinta padanya.

Sampai sebulan yang lalu, Sonia bercerai dan kembali ke tanah air. Dia telah muak menjalani kehidupan orang miskin selama bertahun-tahun ini, dan baru teringat akan kebaikan Hans, serta ingin memulai hidup baru bersamanya.

Namun karena sumpah yang menyatakan dirinya tidak boleh bercerai, Hans hanya bisa menolaknya.

Meski Hans mengatakan bahwa hubungan mereka sudah berakhir, pria itu tetap akan meninggalkan segalanya dan bergegas ke sisi Sonia setiap kali wanita itu berada dalam kesulitan.

Setelah menyaksikan hal itu berulang kali, harapan Stella untuk menghabiskan hidup bersamanya telah pupus.

Stella teringat akan cinta Hans yang pernah begitu membara, dan akhirnya menyadari perasaan pria itu yang sesungguhnya.

Stella memutuskan untuk melepaskan pria itu, dan melepaskan dirinya sendiri juga.

Karena tidak bisa bercerai, biarlah dia menjadi duda saja.

Dengan demikian, hubungan pernikahan mereka secara otomatis akan berakhir.

Jadi setelah meninggalkan rumah sakit, Stella menelepon sahabatnya.

"Desy, bukankah kamu punya pesawat yang perlu diperbaiki?"

"Iya, kenapa?"

Stella menarik napas dalam-dalam dan menceritakan keputusan yang baru saja dibuatnya.

"Tolong rekayasa kecelakaan pesawat untukku. Aku harus memalsukan kematianku di pesawat itu."

Setelah kembali ke rumah, Stella mulai mengemasi barang-barangnya.

Tiga hari kemudian, Hans pulang ke rumah dan melihat kopernya. Pria itu dengan santai bertanya, "Mengapa tiba-tiba mengemasi barang-barangmu?"

"Pernikahan temanku akan diadakan sepuluh hari lagi, jadi aku harus pergi ke luar negeri."

Sebenarnya tidak ada pernikahan sama sekali.

Hari itu adalah tanggal yang dia pilih untuk 'kematiannya'.

Hans sedikit mengerutkan kening, berpikir lama tentang siapa temannya yang akan menikah di luar negeri.

Karena tidak menemukan petunjuk, Hans juga tidak mendesaknya untuk memberikan detail, tetapi malah merangkul pinggangnya.

Merasakan hembusan napas lembut di lehernya, Stella tiba-tiba menegang, dan tanpa sadar mendorongnya menjauh.

"Lagi menstruasi."

Namun, Hans ingat bahwa menstruasinya baru saja berakhir seminggu yang lalu.

Melihat penolakan Stella, Hans berhenti sejenak sebelum dengan ragu bertanya, "Kamu marah karena tahu aku terluka demi menyelamatkan Sonia? Stella, aku menyelamatkan Sonia karena dia itu kakakmu, dan aku takut kamu akan marah kalau dia sampai kenapa-napa."

Sebelum Stella bertanya, Hans telah membuat alasan.

Dia tahu bahwa pria itu kembali ke sisinya dan berakting sebagai pasangan yang saling mencintai dengannya, hanya untuk memenuhi sumpahnya dan juga karena mendengarkan kata-kata Sonia.

Namun, ada tiga hal yang tidak bisa disembunyikan, yaitu kemiskinan, batuk, dan rasa suka.

Sama seperti sekarang, ketika ponsel Hans berdering dan melihat itu adalah telepon dari Sonia, sudut bibirnya sedikit terangkat, dan dia langsung melupakan segalanya.

Dia hanya meninggalkan satu kalimat, lalu mengambil ponselnya dan masuk ke ruang baca.

"Mendadak ada pekerjaan yang harus kuselesaikan. Stella, kamu bisa istirahat kalau kamu lelah. Nggak usah tunggu aku."

Sebelum menutup pintu, Stella samar-samar mendengar suara Sonia, dan tertawa pelan.

Dia memang tidak akan menunggu lagi.

Dan tak lama lagi, Hans juga bisa mengejar cintanya tanpa perlu sembunyi-sembunyi atau khawatir.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Merangkai Doa untuk Kebahagiaanmu   Bab 23

    Hans berbaring tenang di ranjang rumah sakit. Seprai berwarna putih bersih itu makin menonjolkan wajahnya yang pucat pasi.Dua hari terakhir ini, pikirannya sepenuhnya dipenuhi oleh Stella. Nyeri di sekujur tubuh yang dia rasakan tidak begitu berarti lagi dibandingkan dengan kerinduan dan kepeduliannya terhadap wanita itu.Dia baru saja bisa bangkit dengan susah payah, tetapi sudah tidak sabar ingin melepaskan diri dari ranjang rumah sakit yang mengikatnya dan segera memulai perjalanan untuk menemukan Stella.Begitu mengetahui niatnya, sahabat-sahabatnya berkumpul di sekelilingnya. Wajah mereka penuh kekhawatiran dan kecemasan.Salah seorang dari mereka meraih bahunya dan menasihatinya. "Lihat dirimu sekarang ini, lusuh dan bahkan nggak cukuran. Kalau kamu mendatanginya seperti ini, jangankan bisa membuatnya berubah pikiran, dia mungkin akan takut dan menjauh darimu."Hans kemudian perlahan bangkit dan menyeret langkahnya yang berat menuju cermin.Yang terlihat adalah seorang pria deng

  • Merangkai Doa untuk Kebahagiaanmu   Bab 22

    Hans mengangkat kepalanya, matanya dipenuhi tekad. "Ayah, aku ingin menemukan Stella. Aku harus menemukannya."Ayahnya Hans sangat marah hingga wajahnya merah padam. "Ikut aku pulang sekarang juga! Jangan mempermalukan diri di sini lagi!" serunya dengan tegas.Selesai berbicara, dia melambaikan tangan kepada para pengawalnya dan memerintahkan. "Pukul dia sampai pingsan, lalu bawa dia pergi!"Para pengawal maju dan meraih lengan Hans. Hans berusaha meronta, suaranya terdengar putus asa. "Lepaskan aku! Aku harus menemukan Stella! Aku harus menemukannya!"Namun, sekeras apa pun dia meronta, para pengawal itu tidak mau melepaskannya. Mereka memukul bagian belakang lehernya. Pandangan Hans berubah menjadi gelap, dan pingsan.Ketika dia terbangun kembali, dia sudah berada di kediaman Setiawan. Tangan dan kakinya terikat ke tempat tidur, dan dia tidak bisa bergerak. Ayahnya berdiri di samping tempat tidur, memegang cambuk di tangannya, sambil memasang wajah sedingin es."Hans, aku tanya kamu

  • Merangkai Doa untuk Kebahagiaanmu   Bab 21

    Di sisi lain, Hans bergegas ke Lundon. Namun, dia terlambat dan tidak menemukan Stella.Dia hanya mendengar dari orang-orang bahwa memang ada gadis yang sangat mirip dengannya, kondisinya terlihat sangat bagus, dan juga mengatakan bahwa gadis itu sedang berkeliling dunia serta telah mengambil banyak foto untuk dibagikan kepada mereka.Melihat foto-foto itu, Hans mendadak merasakan lonjakan kepedihan yang tak terlukiskan di hatinya.Dalam foto tersebut, Stella tersenyum cerah, dan matanya penuh dengan kebebasan serta kegembiraan.Dia tampak seperti orang yang berbeda, bukan lagi gadis yang diam-diam mengorbankan diri untuknya.Hans mencari di sekitar lingkungan itu untuk waktu yang lama, tetapi hasilnya tetap nihil.Terakhir, dia teringat pada Desy.Dia bergegas kembali ke tanah air dan menemui Desy. "Desy, apa kamu tahu di mana Stella berada? Aku sudah tahu bahwa kecelakaan pesawat itu sengaja direkayasa. Di mana dia? Dia pasti sudah beri tahu kamu, 'kan? Katakan padaku," desak Hans.D

  • Merangkai Doa untuk Kebahagiaanmu   Bab 20

    Hans minum-minum di rumah selama tiga hari berturut-turut. Dia menggenggam erat foto Stella, matanya kosong dan mati rasa.Ruangan itu penuh dengan bau alkohol menyengat. Botol-botol kosong yang tak terhitung jumlahnya berserakan di lantai.Pikirannya kacau, dan hatinya terasa seperti diremas erat oleh sesuatu, begitu menyakitkan hingga dia sulit bernapas dengan normal.Sensasi pedas itu mengalir ke tenggorokannya, seakan membakar organ dalamnya.Dia mencoba membius dirinya sendiri dengan alkohol, agar berhenti memikirkan Stella, agar berhenti merasakan sakit yang terus-menerus itu. Namun setiap kali dia memejamkan matanya, suara dan senyum Stella akan muncul dengan jelas di hadapannya, membuat hatinya terasa sakit sekali.Saat dia hendak mabuk hingga tidak sadarkan diri, pintu tiba-tiba didorong terbuka, dan beberapa sahabatnya bergegas masuk. Melihat kondisi Hans, mereka dengan cepat melangkah maju dan merebut botol anggur dari tangannya. Suara mereka penuh dengan desakan."Hans, ten

  • Merangkai Doa untuk Kebahagiaanmu   Bab 19

    Mendengar bisikan-bisikan dari bawah panggung, wajah Sonia menjadi pucat pasi. "Hans, apa yang kamu katakan?" tanyanya dengan suara bergetar."Jangan dengar perkataannya. Itu nggak benar, itu nggak benar!"Hans menatapnya dingin. Nada bicaranya penuh sarkasme. "Sonia, kamu kira aku nggak tahu alasan kamu melarikan diri dari pernikahan waktu itu? Kamu menganggap keluarga kaya itu nggak baik, dan terlalu banyak aturan. Kamu menyukai kebebasan dan pemberontakan. Itu sebabnya, kamu bisa ditipu dan tidur dengan seorang preman. Di hari kamu melarikan diri, Stella berinisiatif mengambil tanggung jawab demi menyelamatkan reputasiku. Dia menanggung semua aib itu, dan nggak pernah mengeluh. Sebaliknya, kamu dengan nyaman menikmati simpati dan belas kasihan dari semua orang."Air mata Sonia langsung menggenang, dan suaranya dipenuhi rasa putus asa."Hans, jangan seperti ini ... jangan bicara lagi .... Aku mengakui kesalahanku sekarang .... Aku mengakui kesalahanku ....""Kamu mengakui kesalahan?

  • Merangkai Doa untuk Kebahagiaanmu   Bab 18

    "Lantas, kenapa dia nggak balas pesan yang kukirim? Dulu dia selalu balas setiap pesan yang kukirim dengan cepat." Sonia masih merasa sedikit gelisah."Dia nggak balas pesan pasti karena sibuk mempersiapkan jas dan cincin pernikahan. Lagian, pernikahan kalian terlalu mendadak, dan dia pasti ingin memberikan yang terbaik untukmu."Setelah mendengar itu, Sonia baru merasa sedikit lebih tenang.Untungnya, waktu masih belum tiba. Dia bisa dengan sabar menunggu kemunculan pria itu.Sonia yakin betapa besar cinta Hans padanya.Jadi, apa pun yang terjadi, pria itu pasti akan datang.Entah sudah berapa berlalu, dan waktu sekarang telah menunjukkan hampir jam sembilan. Mereka mengundang banyak orang kali ini, dan kerumunan di bawah mulai sibuk berbisik-bisik.Tepat ketika dia mulai merasa tidak nyaman lagi, pintu tiba-tiba terbuka dengan keras.Dia mendongak, dan senyumnya menjadi makin cerah saat melihat Hans muncul.Hans mengenakan setelan hitam, memasang ekspresi dingin dan tatapannya tajam.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status