Share

Bab 3

Author: Semi
Setelah pergi ke rumah sakit sendirian untuk mengobati lukanya, Stella menyeret tubuhnya yang lelah pulang ke rumah.

Dia hampir tidak tidur sepanjang malam karena kesakitan.

Hans baru kembali di keesokan siangnya.

Melihat wajahnya yang pucat pasi, secercah rasa bersalah terlintas di matanya sebelum dia bertanya dengan khawatir, "Stella, lukamu bagaimana? Parah nggak?"

Stella menahan rasa sakit dan tersenyum sambil menjawab, "Hanya luka ringan, bukan masalah besar."

Hans tidak tahu wanita itu berkata jujur atau hanya berpura-pura kuat. Ketika dia ingin bertanya padanya lagi, matanya tertuju pada lingkaran merah di kalender di atas meja, dan terdiam sesaat.

"Semalam hari ulang tahun pernikahan kita? Kenapa kamu nggak mengingatkanku?"

"Sudah lewat."

Mendengar suara seraknya, Hans makin merasa bersalah dan bersikeras untuk menebus kesalahannya.

Stella tidak bisa menolak, jadi dia terpaksa keluar bersama Hans.

Mereka berdua pergi menonton film dulu. Hans tidak menanyakan film apa yang ingin ditontonnya, dan membeli tiket film romantis terpopuler saat itu.

Film ini mengisahkan tentang sepasang kekasih yang putus saat masih muda karena kesalahpahaman, kemudian menikah, bercerai, dan akhirnya bersatu kembali.

Saat melihat adegan di mana pemeran utama pria akhirnya menikahi cinta pertamanya setelah bertahun-tahun, Hans tiba-tiba bangkit dan pergi.

Pria itu tidak mengucapkan sepatah kata pun, tetapi Stella tahu penyebabnya.

Dia juga tidak tertarik untuk menonton lagi, dan keluar sambil menenteng tasnya.

Dia melihat pria itu bersandar di koridor, merokok, dan punggungnya tampak kesepian.

Mendengar suara langkah kaki, pria itu mendongak dan melihatnya. Pria itu segera mematikan rokoknya. "Kenapa nggak lanjut nonton?"

"Mataku terlalu lelah. Nggak mau nonton lagi."

Hans memaksakan senyum dan mengangguk. "Memang agak membosankan. Ayo aku temani kamu pergi belanja."

Keduanya memasuki toko pakaian wanita. Hans berinisiatif memilihkan beberapa gaun dan meminta Stella untuk mencobanya.

Mata Stella menyipit saat menatap deretan gaun berukuran S.

Ukuran S adalah ukuran Sonia, karena dia menyukai kecantikan dan ingin menjaga bentuk tubuhnya setiap saat.

Stella ingin memberitahunya bahwa dia memakai ukuran M ketika pria itu memotong pembicaraannya sebelum dia sempat berkata apa-apa. "Kenapa? Nggak suka ya?"

Stella menggelengkan kepalanya, mengambil pakaian itu, dan masuk ke ruang ganti.

Karena tubuhnya masih dibalut perban, butuh banyak usaha baginya untuk menarik resleting.

Setelah menyeka keringat dingin dari dahinya, dia berjalan keluar seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Setelah berbalik, dia baru saja ingin Hans menilainya ketika dia melihat pria itu menatap kosong ke cermin.

Mata itu dipenuhi emosi yang kompleks, seolah-olah sedang memandang masa lalu yang jauh melalui cermin.

Stella menoleh dan menyadari bahwa dari sudut itu, dia yang mengenakan gaun itu tampak persis seperti Sonia yang berusia delapan belas tahun.

Ternyata Hans, yang biasanya hanya menyukai warna abu-abu, putih, dan hitam, memilih gaun merah muda ini karena Sonia.

Stella akhirnya menyadari apa yang sedang terjadi.

Dalam sekejap, dia merasakan sesak di dadanya. Ada perasaan tertekan yang sangat hebat.

Darah mulai merembes melalui kain kasa di belakangnya, dan karyawan toko itu tersentak kaget.

Hans menoleh, dan ekspresinya sedikit berubah. "Kenapa nggak bilang kalau lukamu begitu parah? Sakit nggak? Aku bawa kamu ke rumah sakit."

Setelah itu, Hans menggesek kartunya untuk membeli gaun tersebut dan menariknya turun ke bawah.

Begitu naik eskalator, Hans melihat Sonia masuk dari ambang pintu.

Ketika melihat Sonia, Hans secara naluriah melepaskan tangan Stella.

Karena keduanya berjalan terburu-buru, Stella sempat kehilangan keseimbangan, lalu terjatuh dari eskalator.

Luka itu terbuka makin lebar akibat benturan, dan darah dengan cepat menodai gaunnya.

Dia merasakan sakit yang begitu hebat sehingga otot-otot di wajahnya berkedut, giginya yang terkatup bergetar, dan air mata mengalir deras di wajahnya tanpa terkendali.

Hans bergegas turun, dan dengan cepat membantunya berdiri, lalu berulang kali meminta maaf. Kepanikan terlihat jelas di matanya.

Sonia juga memperhatikan apa yang terjadi di sini, dan perlahan berjalan mendekati. Matanya tertuju pada gaun, lalu menyeringai.

"Apa Stella terjatuh karena terlalu gembira membeli gaun baru? Tapi gaun itu sepertinya nggak pas di tubuhnya."

Hans baru menyadari bahwa resleting di bagian belakang, yang tersembunyi di balik rambutnya, hanya tertutup setengahnya.

Hatinya terasa seperti tertusuk benda tajam, lalu tak kuasa menahan diri untuk bertanya pada Stella, "Kalau bajunya nggak pas, tukar saja dengan ukuran lain. Kenapa harus memaksakan diri?"

Kesepuluh jari Stella tertancap dalam-dalam ke telapak tangannya.

Dia menundukkan matanya, menelan air matanya, dan menjawab dengan suara rendah.

"Ya, harusnya kutukar dari awal. Jadi, nggak perlu dipaksakan lagi."

Sonia mengangkat alisnya dan berkata dengan nada datar, "Stella memang seperti itu. Dia berpegang teguh pada apa yang disukainya dan nggak mau melepaskannya. Sebaiknya kamu bawa dia ke rumah sakit dulu."

Hans meliriknya sekilas, lalu menggendong Stella, dan pergi.

Setelah tiba di rumah sakit dan memarkir mobilnya, ponsel pria itu berdering.

Karena begitu dekat, Stella bisa mendengar suara Sonia.

"Temanku bilang dia ingin kenalkan seorang pacar untukku. Kami barusan telah bertemu, dan dia bilang kalian adalah teman sekelas. Kamu kenal ...."

Hans terdiam kaku di tempat.

Stella sudah menduga apa yang akan dilakukan pria itu selanjutnya, dan diam-diam melepaskan sabuk pengamannya.

Benar saja, setelah menutup telepon, Hans menoleh dengan kilatan di matanya.

Stella sudah membuka pintu mobil, dan dengan penuh pertimbangan menyiapkan alasan untuknya.

"Aku bisa pergi sendiri. Lanjutkan saja kesibukanmu."

Selesai berbicara, dia keluar dari mobil dan menutup pintu.

Mobil Hans melaju pergi dengan kecepatan tinggi.

Tanpa ragu sedikit pun.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Merangkai Doa untuk Kebahagiaanmu   Bab 23

    Hans berbaring tenang di ranjang rumah sakit. Seprai berwarna putih bersih itu makin menonjolkan wajahnya yang pucat pasi.Dua hari terakhir ini, pikirannya sepenuhnya dipenuhi oleh Stella. Nyeri di sekujur tubuh yang dia rasakan tidak begitu berarti lagi dibandingkan dengan kerinduan dan kepeduliannya terhadap wanita itu.Dia baru saja bisa bangkit dengan susah payah, tetapi sudah tidak sabar ingin melepaskan diri dari ranjang rumah sakit yang mengikatnya dan segera memulai perjalanan untuk menemukan Stella.Begitu mengetahui niatnya, sahabat-sahabatnya berkumpul di sekelilingnya. Wajah mereka penuh kekhawatiran dan kecemasan.Salah seorang dari mereka meraih bahunya dan menasihatinya. "Lihat dirimu sekarang ini, lusuh dan bahkan nggak cukuran. Kalau kamu mendatanginya seperti ini, jangankan bisa membuatnya berubah pikiran, dia mungkin akan takut dan menjauh darimu."Hans kemudian perlahan bangkit dan menyeret langkahnya yang berat menuju cermin.Yang terlihat adalah seorang pria deng

  • Merangkai Doa untuk Kebahagiaanmu   Bab 22

    Hans mengangkat kepalanya, matanya dipenuhi tekad. "Ayah, aku ingin menemukan Stella. Aku harus menemukannya."Ayahnya Hans sangat marah hingga wajahnya merah padam. "Ikut aku pulang sekarang juga! Jangan mempermalukan diri di sini lagi!" serunya dengan tegas.Selesai berbicara, dia melambaikan tangan kepada para pengawalnya dan memerintahkan. "Pukul dia sampai pingsan, lalu bawa dia pergi!"Para pengawal maju dan meraih lengan Hans. Hans berusaha meronta, suaranya terdengar putus asa. "Lepaskan aku! Aku harus menemukan Stella! Aku harus menemukannya!"Namun, sekeras apa pun dia meronta, para pengawal itu tidak mau melepaskannya. Mereka memukul bagian belakang lehernya. Pandangan Hans berubah menjadi gelap, dan pingsan.Ketika dia terbangun kembali, dia sudah berada di kediaman Setiawan. Tangan dan kakinya terikat ke tempat tidur, dan dia tidak bisa bergerak. Ayahnya berdiri di samping tempat tidur, memegang cambuk di tangannya, sambil memasang wajah sedingin es."Hans, aku tanya kamu

  • Merangkai Doa untuk Kebahagiaanmu   Bab 21

    Di sisi lain, Hans bergegas ke Lundon. Namun, dia terlambat dan tidak menemukan Stella.Dia hanya mendengar dari orang-orang bahwa memang ada gadis yang sangat mirip dengannya, kondisinya terlihat sangat bagus, dan juga mengatakan bahwa gadis itu sedang berkeliling dunia serta telah mengambil banyak foto untuk dibagikan kepada mereka.Melihat foto-foto itu, Hans mendadak merasakan lonjakan kepedihan yang tak terlukiskan di hatinya.Dalam foto tersebut, Stella tersenyum cerah, dan matanya penuh dengan kebebasan serta kegembiraan.Dia tampak seperti orang yang berbeda, bukan lagi gadis yang diam-diam mengorbankan diri untuknya.Hans mencari di sekitar lingkungan itu untuk waktu yang lama, tetapi hasilnya tetap nihil.Terakhir, dia teringat pada Desy.Dia bergegas kembali ke tanah air dan menemui Desy. "Desy, apa kamu tahu di mana Stella berada? Aku sudah tahu bahwa kecelakaan pesawat itu sengaja direkayasa. Di mana dia? Dia pasti sudah beri tahu kamu, 'kan? Katakan padaku," desak Hans.D

  • Merangkai Doa untuk Kebahagiaanmu   Bab 20

    Hans minum-minum di rumah selama tiga hari berturut-turut. Dia menggenggam erat foto Stella, matanya kosong dan mati rasa.Ruangan itu penuh dengan bau alkohol menyengat. Botol-botol kosong yang tak terhitung jumlahnya berserakan di lantai.Pikirannya kacau, dan hatinya terasa seperti diremas erat oleh sesuatu, begitu menyakitkan hingga dia sulit bernapas dengan normal.Sensasi pedas itu mengalir ke tenggorokannya, seakan membakar organ dalamnya.Dia mencoba membius dirinya sendiri dengan alkohol, agar berhenti memikirkan Stella, agar berhenti merasakan sakit yang terus-menerus itu. Namun setiap kali dia memejamkan matanya, suara dan senyum Stella akan muncul dengan jelas di hadapannya, membuat hatinya terasa sakit sekali.Saat dia hendak mabuk hingga tidak sadarkan diri, pintu tiba-tiba didorong terbuka, dan beberapa sahabatnya bergegas masuk. Melihat kondisi Hans, mereka dengan cepat melangkah maju dan merebut botol anggur dari tangannya. Suara mereka penuh dengan desakan."Hans, ten

  • Merangkai Doa untuk Kebahagiaanmu   Bab 19

    Mendengar bisikan-bisikan dari bawah panggung, wajah Sonia menjadi pucat pasi. "Hans, apa yang kamu katakan?" tanyanya dengan suara bergetar."Jangan dengar perkataannya. Itu nggak benar, itu nggak benar!"Hans menatapnya dingin. Nada bicaranya penuh sarkasme. "Sonia, kamu kira aku nggak tahu alasan kamu melarikan diri dari pernikahan waktu itu? Kamu menganggap keluarga kaya itu nggak baik, dan terlalu banyak aturan. Kamu menyukai kebebasan dan pemberontakan. Itu sebabnya, kamu bisa ditipu dan tidur dengan seorang preman. Di hari kamu melarikan diri, Stella berinisiatif mengambil tanggung jawab demi menyelamatkan reputasiku. Dia menanggung semua aib itu, dan nggak pernah mengeluh. Sebaliknya, kamu dengan nyaman menikmati simpati dan belas kasihan dari semua orang."Air mata Sonia langsung menggenang, dan suaranya dipenuhi rasa putus asa."Hans, jangan seperti ini ... jangan bicara lagi .... Aku mengakui kesalahanku sekarang .... Aku mengakui kesalahanku ....""Kamu mengakui kesalahan?

  • Merangkai Doa untuk Kebahagiaanmu   Bab 18

    "Lantas, kenapa dia nggak balas pesan yang kukirim? Dulu dia selalu balas setiap pesan yang kukirim dengan cepat." Sonia masih merasa sedikit gelisah."Dia nggak balas pesan pasti karena sibuk mempersiapkan jas dan cincin pernikahan. Lagian, pernikahan kalian terlalu mendadak, dan dia pasti ingin memberikan yang terbaik untukmu."Setelah mendengar itu, Sonia baru merasa sedikit lebih tenang.Untungnya, waktu masih belum tiba. Dia bisa dengan sabar menunggu kemunculan pria itu.Sonia yakin betapa besar cinta Hans padanya.Jadi, apa pun yang terjadi, pria itu pasti akan datang.Entah sudah berapa berlalu, dan waktu sekarang telah menunjukkan hampir jam sembilan. Mereka mengundang banyak orang kali ini, dan kerumunan di bawah mulai sibuk berbisik-bisik.Tepat ketika dia mulai merasa tidak nyaman lagi, pintu tiba-tiba terbuka dengan keras.Dia mendongak, dan senyumnya menjadi makin cerah saat melihat Hans muncul.Hans mengenakan setelan hitam, memasang ekspresi dingin dan tatapannya tajam.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status