แชร์

Bab 5

ผู้เขียน: Ipak Munthe
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-28 09:05:09

Pintu kamar mandi terbuka sedikit.

Citra mengintip dari celah pintu.

Ia masih mengenakan handuk kimono putih yang membungkus tubuhnya. Rambutnya basah dan beberapa helai menempel di pipinya.

Tatapannya tertuju pada Yusuf.

Pria itu sedang duduk di sofa dekat jendela. Satu kaki disilangkan, sementara tangannya memegang segelas minuman. Tatapannya lurus ke depan, dingin dan sulit ditebak.

Meski hanya mengenakan kemeja dan celana bahan, auranya tetap begitu berwibawa dan berkharisma.

Citra mengedip beberapa kali.

Lalu...

"Ssst!"

Suara pelan itu membuat Yusuf menoleh.

Tatapan dinginnya langsung bertemu dengan wajah Citra yang menyembul dari balik pintu.

Yusuf mengernyit. "Ada apa?"

Citra tersenyum canggung. "Ambilin baju aku di koper, dong. Aku lupa bawa tadi."

Yusuf hanya menatapnya. Diam. Tatapannya bahkan tidak berubah sedikit pun.

Citra berkedip.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

"Astaga, aku cuma minta tolong aja. Wajahmu biasa aja, sih."

Yusuf masih diam.

Citra mengembuskan napas. "Om-om ini memang agak lain. Dari namanya aja udah jelas kuno."

Dahi Yusuf langsung berkerut. "Om-om?" ulangnya datar.

"Iya. Kamu terlalu serius buat dipanggil mas."

Yusuf: "..."

"Aku baru pertama kali lihat orang yang mukanya sedingin lemari pendingin." kesal Citra.

Tatapan Yusuf semakin datar.

Entah kenapa, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ada seseorang yang begitu santai berbicara kepadanya.

Bahkan... memanggilnya om-om.

"Ambil sendiri."

"Hah?"

"Itu kopermu."

Citra melongo. "Lah, kalau aku bisa ambil sendiri, kenapa aku minta tolong?"

Yusuf menatapnya beberapa detik, lalu meletakkan gelas di atas meja. Lalu bangkit dari duduknya.

Citra tersenyum lebar. "Nah, gitu dong. Menolong sesama itu—" Namun, kalimatnya terputus.

Karena Yusuf justru berjalan melewatinya dan masuk ke kamar mandi. Lalu mendorongnya keluar,

Citra membeku.

Pintu kamar mandi ditutup.

Klik.

Citra mendadak kehabisan kata-kata karena Yusuf.

Beberapa detik kemudian, terdengar suara Yusuf dari dalam. "Kopermu di sebelah lemari."

Sudut bibir Citra berkedut. "Ya ampun... ternyata bukan om-om dingin, tapi om-om nyebelin. Malang sekali hidupku bertemu dia."

***

Citra selesai mengenakan piyamanya, lalu menjatuhkan diri ke atas ranjang.

Ia mengambil ponselnya dan menatap layar beberapa saat.

"Papa kok bisa-bisanya menikahkan aku dengan pria asing? Gimana kalau aku diapa-apain, gimana kalau dia jahat? Psikopat?" gumamnya pelan bergidik ngeri.

Beberapa detik kemudian, ia mendadak bangkit.

"Astaga! Aku kan lupa!"

Ia segera membuka tas kecilnya dan mengeluarkan beberapa alat rias.

Dengan cekatan, ia merias dirinya secara berlebihan. Bedak dibuat terlalu tebal, alis dibuat tidak simetris, dan lipstik dipoles melewati garis bibir.

Setelah selesai, ia menatap pantulan dirinya di cermin.

"Nah, gini lebih aman," katanya puas. "Kalau lihat aku begini, pasti dia langsung ilfeel."

Saat itu, pintu kamar mandi terbuka.

Citra refleks menoleh.

Lalu... Ia membeku.

Yusuf keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih sedikit basah. Di pinggangnya hanya melilit handuk, sementara tetesan air masih terlihat di leher dan bahunya.

Postur tubuhnya tinggi dan tegap. Bahunya bidang, dadanya lebar, dan garis otot di lengan serta perutnya terlihat jelas meski tidak berlebihan.

Ia berjalan dengan santai, seolah sama sekali tidak menyadari tatapan Citra. Atau mungkin ia memang terbiasa menjadi pusat perhatian.

Citra berkedip sekali.

Dua kali.

Lalu buru-buru mengalihkan pandangannya.

'Demi apa... ini orang memang tampangnya dingin, tapi paket lengkap juga,' batinnya. Namun, sedetik kemudian ia menggeleng kuat-kuat. 'Tidak, Citra! Jangan tertipu wajah! Ingat, dia orang asing!'

Yusuf yang sedang mengeringkan rambutnya kemudian melirik ke arah Citra.

Tatapannya berhenti. Dahi pria itu perlahan berkerut. Ia menatap Citra beberapa detik. Lalu bertanya, "Apa yang terjadi dengan wajahmu?"

Citra langsung tersadar. Ia buru-buru mengangkat dagunya. "Oh, ini? Memang gaya make-up aku, aku cantikkan?" tanyanya berusaha terlihat menyebalkan.

Yusuf terdiam. Tatapannya berpindah dari alis yang tidak simetris, ke lipstik yang keluar garis, lalu kembali ke wajah Citra. Beberapa detik berlalu. "Seleramu... unik."

Citra tersenyum lebar. "Terimakasih," katanya, 'jangan bilang dia suka yang dandanan aneh begini?' batinnya kesal, padahal ia ingin dihina dan dicacimaki agar terlihat Yusuf kesal dan ia bisa menelpon Papanya dan bercerita tentang Yusuf dan mungkin langsung cerai.

Sialnya ia tidak mendapat hinaan itu, sungguh Citra sedikit kecewa. Tapi masih ada waktu untuk berjuang lagi dan mendapatkan hinaan.

Tapi Citra bingung saat Yusuf naik ke atas ranjang, ya pria itu memang sudah mengenakan piama tapi tetap saja ini tidak mungkin.

"Kamu kok naik ke ranjang?" tanya Citra bingung.

"Ini kamarku, ini ranjangku," jawab Yusuf santai sambil menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang.

"Terus aku tidur dimana?" tanya Citra panik.

"Terserah padamu, bisa di lantai atau di toilet," balas Yusuf.

"Apa?!" pekik Citra syok, "aku ini perempuan!" kata Citra.

"Lalu?" tanya Yusuf seorang tak peduli.

"Atau aku tidur di kamar lain!" kata Citra lagi memberikan ide.

"Satu malam lima juta," kata Yusuf enteng.

"APA?!" Pekik Citra syok, 'kalau aku punya uang aku lebih milih nginep di hotel daripada menikah denganmu, dasar!' batin Citra.

"Tidur di sini!" Yusuf menunjuk ranjang kosong di sampingnya.

"APA?!" Pekik Citra semakin syok.

Lalu Yusuf pun melemparkan bantal pada Citra, "Bicara dengan nada pelan saja!" katanya.

"Ih, nyebelin!" Gerutunya, kemudian ia menyilangkan tangannya di dada, "aku tau, jangan-jangan kamu mau ngapa-ngapain aku ya?" katanya penuh tuduhan.

Lalu Yusuf pun bangkit dan berjalan ke arahnya, menatapnya dari atas sampai ke bawah.

"Eh, kamu...kamu, jangan macam-macam!" ancam Citra gemeteran.

Tapi Yusuf semakin berjalan ke arahnya.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Miliarder Dingin Jatuh Cinta   Bab 152

    "Selamat," Yusuf mengulurkan tangannya. Citra pun membalasnya, "Terimakasih," kata Citra, kemudian ia menerima seikat bunga mawar berwarna merah. "Hay," sapa seseorang. Citra pun menoleh, "Pak Darren?" kata Citra tak menyangka jika Darren akan datang. "Selamat, ya. Ini bunga kesukaan kamu, bunga aster," kata Darren. "Terimakasih," Citra pun memberikan bunga ditangannya pada Ara, kemudian menerima bunga dari Darren, "Pak Darren, dapat dimana? Kemarin saya udah cari dibeberapa toko bunga tapi lagi kosong semua," ujar Citra. "Adalah, yang pastinya buat kamu," balas Darren. "Terimakasih..." kata Citra lagi. *** Citra sampai di rumah bersama dengan yang lainnya, karena hari ini untuk merayakan kelulusannya akan ada makan bersama di rumah. Tapi saat Citra turun dari mobil ia melihat ada banyak bunga di ruang tamu, bahkan ruang tamu hampir penuh. "Banyak sekali?" tanya Miya yang juga bingung. "Bik, siapa yang berikan bunga sebanyak ini?" tanya Citra sambil melihat bun

  • Miliarder Dingin Jatuh Cinta   Bab 151

    Satu minggu kemudian... Citra tersenyum bahagia. Hari ini, ia berdiri mengenakan toga dengan ijazah yang tergenggam erat di tangannya. Setelah melewati begitu banyak perjuangan, akhirnya ia berhasil menyelesaikan pendidikannya dan resmi menyandang gelar sarjana. Ia menatap ijazah itu beberapa saat, seolah masih tidak percaya bahwa semua perjuangannya benar-benar telah sampai di titik ini. Dulu, ia sering merasa dirinya adalah orang paling bodoh sedunia. Ia bahkan sempat meragukan kemampuan dirinya sendiri. Namun hari ini, Citra akhirnya membuktikan bahwa ia tidak seburuk yang selama ini ia pikirkan. Ia tersenyum lebih lebar. Setidaknya, hari ini ia boleh bangga pada dirinya sendiri. Begitu keluar dari barisan wisudawan, mata Citra langsung mencari sosok yang sejak tadi menunggunya. Begitu melihat ayah dan ibunya berdiri di antara kerumunan, wajah Citra seketika berbinar. “Papa!” Citra langsung berlari menghampiri. Tanpa peduli toga yang sedikit berantakan, ia seger

  • Miliarder Dingin Jatuh Cinta   Bab 150

    Sidang perceraian. Setelah mediasi gagal akhirnya keputusan cerai pun dikabulkan Yusuf terlihat lesu karena keputusan ini terlalu menyakitinya, bahkan tak menyangka pada akhirnya cerailah yang dipilih oleh Citra. "Citra," panggil Yusuf saat melihat wanita itu keluar dari kantor pengadilan. Citra terpaksa menghentikan langkah kakinya dan menoleh. Yusuf pun mendekati dan hendak meraih tangannya tapi Citra mundur selangkah. Jelas itu adalah sebuah penolakan. Yusuf merasa begitu sakit, "Citra, sejujurnya aku nggak bisa hidup tanpamu," kata Yusuf. Citra menarik nafas panjang mendegarnya, jika dulu Yusuf seperti ini mungkin ia akan sangat hahaha. Tapi sekarang? Ia malah merasa muak. Ia memilih melihat kesekitarnya seakan tak menanggapi sama sekali. "Citra, bukankah Naya pun mau kita tetap bersama?" tanya Yusuf penuh harap. Lalu kali ini Citra pun menatapnya. "Iya, kan?" tanya Yusuf setengah memohon. "Aku nggak suka suami sumbangan orang, cari aja perempuan lain.

  • Miliarder Dingin Jatuh Cinta   Bab 149

    Polisi datang ke kediaman Adithama, berdasarkan laporan pengacara. Aldo Adithama, ayah kandung Yusuf. Santi dan Zia terbukti telah merencanakan kecelakaan beberapa tahun yang lalu terhadap Naya saat pernikahan mereka akan dilangsungkan. "Yusuf, kamu mau mencoreng nama baik Adithama? Kamu mau bikin saham anjlok, hah?! Bagaimana dengan Kakek dan Nenekmu?!" tanya Aldo. Mungkin pria paruh baya itu tak pernah membayangkan hari ini akan tiba juga, karena ia pikir Yusuf tak akan melaporkan dirinya sebab yang menjadi pertimbangan adalah Kakek dan Nenek, serta Maya. Ditambah lagi kehancuran keluarga yang dipandang sebagai keluarga harmonis. "Kau yang mencoreng nama baik keluarga! Bahkan aku tidak mengerti mengapa ada orang sepertimu! Kau ikut menghancurkan kebahagiaan anakmu sendiri!" balas Yusuf. Saat itu Maya pun kembali, kini semua mata tertuju padanya. "Maya, tolong Mama...Yusuf melaporkan kami ke penjara. Dia tidak memandangmu sebagai adik, padahal kamu selalu menganggap dia sebagai

  • Miliarder Dingin Jatuh Cinta   Bab 148

    Rumah Citra. Sudah hampir dua jam Yusuf duduk di ruang tamu, ia datang memang untuk melihat anaknya. Tetapi yang paling ia tuju adalah Citra, istrinya. Yusuf masih ingin berbicara dan memperbaiki hubungan mereka, ia tak ingin semuanya berakhir begitu saja. Meski begitu sulit untuk bertemu dengan wanita itu ia akan tetap berusaha. Hingga akhirnya terdengar suara langkah kaki. Tap tap tap... Yusuf menatap ke arah pintu dan ternyata yang ditunggu akhirnya kembali. Ia segera bangkit dari duduknya. Dan Citra juga melihatnya, tatapi ia terlihat tidak peduli sama sekali. Justru ia terus melangkah hingga Yusuf menghentikan langkah kakinya. "Citra," panggil Yusuf tiba-tiba sudah berdiri di hadapannya. "Ya? Mau ketemu Reyhan dan Reyna? Kamar mereka disebelah sana," kata Citra menujuk arah kamar anak-anak mereka. Karena Citra tidak pernah ingkar pada janjinya, ia mempersilahkan Yusuf untuk bertemu kedua anaknya. Kapanpun. Begitu juga dengan kali ini yang diyakini Citra

  • Miliarder Dingin Jatuh Cinta   Bab 147

    Dreettt... Suara ponsel Citra berdering. "Halo," jawabnya. "Benar ini dengan Ibu Citra?" tanya seseorang dari seberang sana. "Benar, ada apa?" tanya Citra. "Ibu Citra bisa tolong ke rumah sakit sekarang." "Rumah sakit?" tanya Citra terkejut. "Bu Naya ingin bertemu anda, keadaannya sangat mengkhawatirkan," kata perawat itu. "Tapi aku tidak ada urusan dengan dia," tolak Citra. "Bu Citra, anggap saja ini untuk yang terakhir kalinya," kata perawat lagi. Lalu panggilan pun berakhir. Citra menatap ponselnya, ia bingung harus pergi atau tidak. "Nggak usah pergi deh, lebay banget...pasti dia mau bilang dia salah dan minta kamu balikan sama Pak Yusuf. Basi," cibir Ara. Citra pun mempertimbangkan ucapan Ara, dan apapun yang terjadi ia tak mau dikasihani sekaligus tidak mau memaksakan siapapun dalam hidupnya. Lagi pula sudah tidak ada tempat untuk Yusuf lagi dihatinya, menurutnya bertemu dengan Yusuf bukan kesalahan, tapi hanya sekedar bertemu karena sebuah takdir yan

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status