แชร์

Bab 6

ผู้เขียน: Ipak Munthe
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-28 10:22:24

"Minggir." Suara Yusuf yang tiba-tiba terdengar membuat Citra tersentak.

"Hah?" Citra bingung dengan maksudnya.

Yusuf berjalan mendekat. Lebih dekat.

Satu langkah.

Dua langkah.

Hingga akhirnya ia berdiri tepat di depan Citra.

Karena perbedaan tinggi badan mereka, Citra terpaksa sedikit mendongak. "A-ada apa?" tanyanya bingung.

Namun, Yusuf tidak menjawab. Ia hanya mengangkat satu tangannya.

Refleks, Citra menahan napas. Dan ada banyak kecurigaan yang muncul di benaknya sekarang Jangan-jangan. Pria ini marah karena riasannya?

Atau...

Jangan-jangan dia mau menodainya...

Bruk!

Dengan gerakan santai, Yusuf mendorong pelan bahu Citra ke samping agar menyingkir dari jalannya.

Karena tidak siap, Citra kehilangan keseimbangan dan jatuh terduduk di atas ranjang.

Citra membelalak.

Sementara Yusuf sama sekali tidak memedulikannya. Ia hanya mengambil ponsel yang terletak di meja kecil di sisi tempat tidur.

Ternyata sejak tadi, Citra berdiri tepat di depannya.

Setelah mendapatkan ponselnya, Yusuf menoleh. Tatapannya bertemu dengan Citra yang masih terduduk di atas ranjang dengan ekspresi syok.

Sesaat hanya ada keheningan diantara mereka berdua.

Yusuf mengangkat sebelah alisnya. "Kenapa?"

Citra berkedip beberapa kali. "T-tidak ada."

Yusuf menatapnya sejenak, lalu mengalihkan pandangan.

Sedangkan Citra langsung memegangi dadanya sendiri. 'Ya ampun, aku kira dia mau ngapain...' batinnya. Lalu matanya menyipit ke arah Yusuf. 'Orang ini benar-benar tidak bisa ditebak.'

Lalu ia pun mengambil satu bantal dan selimut dari atas ranjang. Kemudian berjalan menuju sofa di sudut kamar.

Bruk.

Ia menjatuhkan dirinya ke atas sofa dan menarik selimut hingga menutupi tubuhnya. Tatapannya menatap langit-langit kamar. 'Sedih banget sih nasib aku sekarang,' batinnya.

Ia mengembuskan napas pelan. 'Kalau saja aku punya uang sendiri, aku pasti nggak akan menikah dengan pria asing begini.'

Bukan karena keluarganya miskin. Papanya memang kaya dan selama ini tidak pernah kekurangan materi. Namun, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Citra menyadari satu hal.

Ia tidak punya kebebasan finansialnya sendiri sekarang. Sungguh ia sangat menyesal sudah menabrak Yusuf kala itu. Dan hukuman ini terlalu berat.

Ia segera membalikkan tubuhnya, membelakangi Yusuf. Sementara itu, Yusuf mengangkat pandangannya dari ponsel.

Tatapannya jatuh pada sosok kecil yang meringkuk di sofa. Ada senyum samar yang muncul di bibirnya. Dan beberapa saat yang lalu, wanita itu masih menggerutu, memakai riasan aneh, dan membuatnya bingung.

***

Pagi harinya, Citra terbangun perlahan.

Matanya masih tertutup rapat. Kepalanya terasa sedikit berat karena semalam tidur terlalu larut. Namun, ada sesuatu yang terasa aneh.

Rasanya seperti empuk. Dan... hangat.

"Sofanya nyaman banget," gumamnya pelan sambil meraba-raba permukaan di sekitarnya. Tangannya menyentuh sesuatu yang lembut.

Tapi seperti bukan sandaran sofa. Ia meraba lagi, dan rasanya hangat, kemudian keras di bagian tertentu. Keningnya sedikit berkerut. 'Sejak kapan sofa punya tekstur aneh begini?' batinnya.

Tangannya bergerak lagi memastikan dant iba-tiba terdengar suara.

"Sudah selesai merabanya?" Sebuah suara berat terdengar tepat di dekatnya.

Mata Citra langsung terbuka lebar. Lalu, ia membeku. Pupil matanya membesar. Karena yang ada di hadapannya bukanlah sofa. Melainkan Yusuf.

Pria itu sedang berbaring di sampingnya, menatapnya dengan wajah datar.

Sementara tangan Citra masih berada di dadanya.

Hening

Citra menutup matanya sesaat, ia menahan malu yang tak dapat hanya diungkapkan oleh kata. Dan sekarang harus bagaimana?

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

Citra berkedip. Lalu menoleh ke kanan. Menoleh ke kiri dan baru menyadari ia tidak lagi berada di sofa melainkan di atas ranjang. Perlahan, lehernya bergerak kembali menatap Yusuf. "K-kenapa aku ada di sini?" tanyanya terbata-bata.

Detik berikutnya, ia bergerak cepat turun dari ranjang.

Ia menunduk, mengamati piyamanya dari atas sampai bawah, memastikan semuanya baik-baik saja.

Kalau benar pria itu melakukan sesuatu padanya ia bersumpah akan melenyapkan Yusuf.

"Kamu kenapa?" tanya Yusuf datar.

Citra langsung mengangkat kepala. Tatapan keduanya bertemu. "Kamu..." tunjuk Citra dengan wajah waspada. "Kamu ngapain aku bisa ada di atas ranjang?"

Yusuf menatapnya beberapa detik. Ekspresinya tetap datar. "Kamu yang tiba-tiba naik ke atas ranjang dan memelukku. Kamu lupa?"

"Hah?" Citra membeku. Wajahnya menunjukkan ketidakpercayaan penuh. "Aku... meluk kamu?"

"Iya."

"Tidak mungkin!"

Yusuf mengangkat sebelah alis. "Kamu juga menciumku semalam."

Mata Citra membulat. "Nggak mungkin, jangan gila kamu!!" kata Citra panik.

Tanpa mengubah ekspresinya sedikit pun, Yusuf turun dari ranjang.

Ia berjalan melewati Citra yang masih membeku di tempat. Saat melewatinya, ia berhenti sejenak. "Dan kamu tidur sambil mendengkur keras, telingaku sakit!"

"Aku tidak mendengkur!"

Yusuf tidak menjawab. Ia kembali melangkah dan masuk ke kamar mandi.

Klik.

Pintu tertutup.

Citra masih berdiri di tempatnya. Beberapa detik kemudian ia kembali tersadar, "Astaga..." gumamnya pelan sambil memegangi kepalanya. "Aku benar-benar meluk om-om itu?"

Citra pun mengacak rambutnya tak terima dengan semua isi pikirannya sendiri, bahkan tak percaya dengan apa yang terjadi pagi ini.

"Nggak mungkin aku peluk dia. Nggak mungkin aku seperti yang dia tuduhkan." Citra menggeleng kuat-kuat. "Aku yakin dia yang jahat. Iya, itu benar." Ia mengangguk mantap pada dirinya sendiri.

Saat itulah pintu kamar mandi terbuka.

Citra segera membalikkan badan. "Ini semua ulah kamu, kan?" tuduhnya sambil menunjuk Yusuf. "Kamu yang memindahkan aku ke ranjang, kamu yang peluk aku! Atau..." Matanya menyipit curiga. "Sebenarnya kamu suka aku?!"

Yusuf menatapnya. Ia kemudian melipat kedua tangan di dada, seolah tidak terusik sedikit pun oleh tuduhan itu. Ekspresinya tetap datar.

Dan itu hanya membuat emosi Citra semakin mendidih. "Ngapain aja kamu semalam?" tanya Citra lagi.

Ia mengambil bantal di atas ranjang dan melemparkannya ke arah Yusuf.

Buk!

Bantal itu mengenai dada pria tersebut.

Citra benar-benar kesal sekarang sangat kesal tingkat dewa.

Yusuf menangkap bantal itu, lalu melemparkannya kembali ke atas ranjang. "Jangan sembarangan menuduh," katanya dingin. Setelah itu, ia berbalik dan berjalan menuju lemari.

Citra melongo.

Dia... diabaikan?

Seketika emosinya semakin memuncak. Rasanya, kalau bisa, tanduk sudah tumbuh di kepalanya. Ia berjalan cepat menghampiri Yusuf. "Dasar orang asing gila!" katanya geram.

Yusuf yang mendengarnya langsung berbalik dan menatapnya tajam.

Citra yang berjalan cepat ternyata kehilangan keseimbangan, lalu tiba-tiba tangannya memegang handuk Yusuf dan demi menyelamatkan diri agar tidak terjatuh ia malah menariknya.

Lalu...

"Aaaaa!!!"

Citra menjerit histeris dan langsung menutup kedua matanya dengan kedua tangan.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Miliarder Dingin Jatuh Cinta   Bab 75

    Yusuf berjalan mendekat lalu duduk di sofa yang berhadapan dengan Citra. Tatapannya tetap tertuju pada tangan Citra yang masih memegang dasi pria di sampingnya. "Teruskan," ucap Yusuf datar. Citra mengerutkan kening. "Apa?" Yusuf menyandarkan tubuhnya pada sofa. Deg. Citra menutup mata sesaat setelah menyadari suara barusan. Yusuf? Ia benar-benar sangat takut sekali, bagaimana jika Yusuf menghukumnya? Mengambil kembali kartunya? Tapikan Yusuf sudah berjanji untuk tidak mengambilnya lagi, apakah dia akan menepati janjinya? "Tadi kamu melakukan sesuatu pada dia, bukan?" tanya Yusuf. Ia memantik rokoknya dan menghisapnya perlahan. Citra langsung melepaskan dasi yang sejak tadi dipegangnya. "Enggak..." katanya, "ehem..." ia berdehem pelan sambil menatap Yusuf. Deg. Benar, itu Yusuf. Ia menggigit bibir bawahnya dan baru sadar Maya tidak ada di tempatnya lagi yang ada hanya Yusuf saja. "Sini," Yusuf mengerjakan jarinya meminta Citra untuk mendekat kearahnya.

  • Miliarder Dingin Jatuh Cinta   Bab 74

    Citra menatap jam dinding. "Jam delapan," gumamnya. Ia kemudian meraih tasnya dan berjalan keluar dari apartemen. Namun, baru saja membuka pintu, Citra langsung dikejutkan oleh kehadiran Maya yang sudah berdiri di depan pintu. "Maya?!" seru Citra sambil mengelus dadanya. "Aku bikin kamu terkejut, ya?" tanya Maya merasa bersalah. Namun, tatapan Maya kemudian beralih memperhatikan penampilan Citra. "Mau ke mana? Aku baru aja mau ketemu kamu," katanya. "Aku mau keluar. Mau ikut nggak?" tawar Citra. "Kemana?" Maya bertanya bingung. "Cari model tampan," jawab Citra sambil tersenyum lebar. Maya langsung mengernyitkan kening. "Cari model?" "Iya. Ayo, kamu juga udah waktunya mengakhiri masa jomblo." Tanpa menunggu jawaban, Citra langsung menarik tangan Maya. "Eh... Citra!" Maya tersentak, tetapi akhirnya ikut berjalan karena Citra sudah menarik tangannya dengan penuh semangat. *** Suasana klub begitu ramai. Alunan musik terdengar keras, sementara lampu-lampu be

  • Miliarder Dingin Jatuh Cinta   Bab 73

    Tama pun langsung masuk. Citra mendorong Yusuf sekuat tenaga, pria itu tersenyum lalu mundur. Cepat-cepat Citra turun dari meja dan merapikan kemejanya. "Bos, ini berkas proyek yang anda minta," kata Tama menyerahkan sebuah map. Yusuf pun menerimanya, ia bersandar pada meja lalu membuka map itu sesaat. Tak lama kemudian kembali menutupnya dan melirik Citra. "Aku permisi dulu, Bos," pamit Tama lalu ia pergi. Yusuf pun memberikan map di tangannya pada Citra. Citra menerimanya dan membukanya, matanya langsung berbinar karena itu adalah proyek untuknya. "Mas?" tanyanya seakan belum percaya. Yusuf pun tersenyum melihat wajah bahagia Citra. "Makasih, aku bakalan buktikan ke Papa dan Mama kalau aku ini sebenarnya bisa," katanya penuh semangat. Yusuf pun menarik pinggang Citra hingga begitu dekat dengannya. "Mas, ih?!" kesal Citra sambil berusaha untuk melepaskan dirinya. "Kenapa? Kamu mau pergi begitu saja?" tanya Yusuf. "Ini kantor!" protes Citra. "Berarti di r

  • Miliarder Dingin Jatuh Cinta   Bab 72

    “Ya ampun, badan aku remuk semua...” Citra memegang punggungnya yang terasa pegal. “Kamu kenapa?” tanya Maya yang baru saja datang. “Nggak apa-apa,” jawab Citra malas. Padahal, Citra masih ingat betul apa yang terjadi semalam. Yusuf benar-benar membuat tubuhnya terasa lelah. Maya yang merasa ada sesuatu mulai memperhatikan Citra dari atas sampai bawah. “Apa sih?” tanya Citra bingung. “Abis ngapain kalian tadi malam?” goda Maya dengan senyum jahil. Citra langsung menutup mulut Maya dengan telapak tangannya. Ia buru-buru melihat ke sekeliling. Untung saja kantor masih cukup sepi. Maya melepaskan tangan Citra sambil terkikik. “Aku tahu...” katanya lagi dengan senyum penuh arti. “Ih, apaan sih!” Citra langsung kesal. Belum sempat Maya menjawab, terdengar suara langkah kaki dari kejauhan. Beberapa karyawan yang melihat sosok itu langsung berdiri dan memberikan salam hormat. Citra ikut menoleh. Yusuf. Pria itu berjalan dengan wajah datarnya seperti biasa. Citra

  • Miliarder Dingin Jatuh Cinta   Bab 71

    Citra benar-benar kesal setelah mendengar kekonyolan sang ayah dan ibu. Ia pun memutuskan untuk kembali ke kamarnya. “Dasar Mama sama Papa! Aku sampai percaya kalau aku anak pungut!” gerutunya. Yusuf yang sedang duduk di sofa menatapnya bingung. “Anak pungut?” Citra langsung sadar kalau Yusuf mendengar semuanya. “Bukan urusan kamu!” Yusuf malah tersenyum tipis. “Jadi kamu tadi diusir dari kamar orang tuamu?” “Bukan diusir!” “Lalu?” “Mereka yang menyuruh aku tidur sama suamiku.” Yusuf terdiam. Citra juga terdiam. Lalu keduanya saling pandang. Citra langsung menunjuk ranjang. “Aku tidur di sana. Kamu di sofa!” “Kalau begitu, aku akan tidur di ranjang.” kata Yusuf. “Hey? Kenapa?” tanya Citra bingung. “Karena aku suamimu.” ucap Yusuf seakan menegaskan posisinya sebagai suami Citra. Citra langsung melotot. “Jangan pakai status suami terus!” geramnya sekaligus memberikan peringatan. “Bukannya tadi Mama dan Papamu yang menyuruh kamu tidur dengan suamimu?” tany

  • Miliarder Dingin Jatuh Cinta   Bab 70

    Satu jam, dua jam, tiga jam. Waktu berlalu terasa begitu cepat, Yusuf menatap jam di dinding menunjukkan pukul sepuluh malam. Rasanya jarum jam berpindah begitu lambat, kemudian ia pun meraih ponselnya dan menghubungi Tama. "Halo, Bos," jawab Tama dari seberang sana. "Katakan pada Pak Handoko untuk mengembalikan istriku!" perintah Yusuf. Bip. Panggilan berakhir. *** Tama yang duduk di kamarnya syok menatap layar ponselnya. Bagaimana mungkin ada perintah seperti ini? Apakah bosnya sudah gila? Apakah mungkin bosnya itu tidak berpikir sama sekali, dan Pak Handoko? Tama tau itu adalah nama Ayah Citra, "Susah sekali kalau orang sedang dimabuk asmara, ah...bahasa sekarang namanya bucin," gumam Tama. *** “Citra, ini sudah jam sepuluh. Kamu kok masih di sini?” tanya Miya. Citra yang sedang berbaring di ranjang sambil memeluk ibunya pun terlihat bingung. “Memangnya kenapa? Biasanya juga Citra boleh tidur sama Mama dan Papa.” “Citra, sekarang kamu sudah punya suami. N

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status