เข้าสู่ระบบ"Minggir." Suara Yusuf yang tiba-tiba terdengar membuat Citra tersentak.
"Hah?" Citra bingung dengan maksudnya. Yusuf berjalan mendekat. Lebih dekat. Satu langkah. Dua langkah. Hingga akhirnya ia berdiri tepat di depan Citra. Karena perbedaan tinggi badan mereka, Citra terpaksa sedikit mendongak. "A-ada apa?" tanyanya bingung. Namun, Yusuf tidak menjawab. Ia hanya mengangkat satu tangannya. Refleks, Citra menahan napas. Dan ada banyak kecurigaan yang muncul di benaknya sekarang Jangan-jangan. Pria ini marah karena riasannya? Atau... Jangan-jangan dia mau menodainya... Bruk! Dengan gerakan santai, Yusuf mendorong pelan bahu Citra ke samping agar menyingkir dari jalannya. Karena tidak siap, Citra kehilangan keseimbangan dan jatuh terduduk di atas ranjang. Citra membelalak. Sementara Yusuf sama sekali tidak memedulikannya. Ia hanya mengambil ponsel yang terletak di meja kecil di sisi tempat tidur. Ternyata sejak tadi, Citra berdiri tepat di depannya. Setelah mendapatkan ponselnya, Yusuf menoleh. Tatapannya bertemu dengan Citra yang masih terduduk di atas ranjang dengan ekspresi syok. Sesaat hanya ada keheningan diantara mereka berdua. Yusuf mengangkat sebelah alisnya. "Kenapa?" Citra berkedip beberapa kali. "T-tidak ada." Yusuf menatapnya sejenak, lalu mengalihkan pandangan. Sedangkan Citra langsung memegangi dadanya sendiri. 'Ya ampun, aku kira dia mau ngapain...' batinnya. Lalu matanya menyipit ke arah Yusuf. 'Orang ini benar-benar tidak bisa ditebak.' Lalu ia pun mengambil satu bantal dan selimut dari atas ranjang. Kemudian berjalan menuju sofa di sudut kamar. Bruk. Ia menjatuhkan dirinya ke atas sofa dan menarik selimut hingga menutupi tubuhnya. Tatapannya menatap langit-langit kamar. 'Sedih banget sih nasib aku sekarang,' batinnya. Ia mengembuskan napas pelan. 'Kalau saja aku punya uang sendiri, aku pasti nggak akan menikah dengan pria asing begini.' Bukan karena keluarganya miskin. Papanya memang kaya dan selama ini tidak pernah kekurangan materi. Namun, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Citra menyadari satu hal. Ia tidak punya kebebasan finansialnya sendiri sekarang. Sungguh ia sangat menyesal sudah menabrak Yusuf kala itu. Dan hukuman ini terlalu berat. Ia segera membalikkan tubuhnya, membelakangi Yusuf. Sementara itu, Yusuf mengangkat pandangannya dari ponsel. Tatapannya jatuh pada sosok kecil yang meringkuk di sofa. Ada senyum samar yang muncul di bibirnya. Dan beberapa saat yang lalu, wanita itu masih menggerutu, memakai riasan aneh, dan membuatnya bingung. *** Pagi harinya, Citra terbangun perlahan. Matanya masih tertutup rapat. Kepalanya terasa sedikit berat karena semalam tidur terlalu larut. Namun, ada sesuatu yang terasa aneh. Rasanya seperti empuk. Dan... hangat. "Sofanya nyaman banget," gumamnya pelan sambil meraba-raba permukaan di sekitarnya. Tangannya menyentuh sesuatu yang lembut. Tapi seperti bukan sandaran sofa. Ia meraba lagi, dan rasanya hangat, kemudian keras di bagian tertentu. Keningnya sedikit berkerut. 'Sejak kapan sofa punya tekstur aneh begini?' batinnya. Tangannya bergerak lagi memastikan dant iba-tiba terdengar suara. "Sudah selesai merabanya?" Sebuah suara berat terdengar tepat di dekatnya. Mata Citra langsung terbuka lebar. Lalu, ia membeku. Pupil matanya membesar. Karena yang ada di hadapannya bukanlah sofa. Melainkan Yusuf. Pria itu sedang berbaring di sampingnya, menatapnya dengan wajah datar. Sementara tangan Citra masih berada di dadanya. Hening Citra menutup matanya sesaat, ia menahan malu yang tak dapat hanya diungkapkan oleh kata. Dan sekarang harus bagaimana? Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Citra berkedip. Lalu menoleh ke kanan. Menoleh ke kiri dan baru menyadari ia tidak lagi berada di sofa melainkan di atas ranjang. Perlahan, lehernya bergerak kembali menatap Yusuf. "K-kenapa aku ada di sini?" tanyanya terbata-bata. Detik berikutnya, ia bergerak cepat turun dari ranjang. Ia menunduk, mengamati piyamanya dari atas sampai bawah, memastikan semuanya baik-baik saja. Kalau benar pria itu melakukan sesuatu padanya ia bersumpah akan melenyapkan Yusuf. "Kamu kenapa?" tanya Yusuf datar. Citra langsung mengangkat kepala. Tatapan keduanya bertemu. "Kamu..." tunjuk Citra dengan wajah waspada. "Kamu ngapain aku bisa ada di atas ranjang?" Yusuf menatapnya beberapa detik. Ekspresinya tetap datar. "Kamu yang tiba-tiba naik ke atas ranjang dan memelukku. Kamu lupa?" "Hah?" Citra membeku. Wajahnya menunjukkan ketidakpercayaan penuh. "Aku... meluk kamu?" "Iya." "Tidak mungkin!" Yusuf mengangkat sebelah alis. "Kamu juga menciumku semalam." Mata Citra membulat. "Nggak mungkin, jangan gila kamu!!" kata Citra panik. Tanpa mengubah ekspresinya sedikit pun, Yusuf turun dari ranjang. Ia berjalan melewati Citra yang masih membeku di tempat. Saat melewatinya, ia berhenti sejenak. "Dan kamu tidur sambil mendengkur keras, telingaku sakit!" "Aku tidak mendengkur!" Yusuf tidak menjawab. Ia kembali melangkah dan masuk ke kamar mandi. Klik. Pintu tertutup. Citra masih berdiri di tempatnya. Beberapa detik kemudian ia kembali tersadar, "Astaga..." gumamnya pelan sambil memegangi kepalanya. "Aku benar-benar meluk om-om itu?" Citra pun mengacak rambutnya tak terima dengan semua isi pikirannya sendiri, bahkan tak percaya dengan apa yang terjadi pagi ini. "Nggak mungkin aku peluk dia. Nggak mungkin aku seperti yang dia tuduhkan." Citra menggeleng kuat-kuat. "Aku yakin dia yang jahat. Iya, itu benar." Ia mengangguk mantap pada dirinya sendiri. Saat itulah pintu kamar mandi terbuka. Citra segera membalikkan badan. "Ini semua ulah kamu, kan?" tuduhnya sambil menunjuk Yusuf. "Kamu yang memindahkan aku ke ranjang, kamu yang peluk aku! Atau..." Matanya menyipit curiga. "Sebenarnya kamu suka aku?!" Yusuf menatapnya. Ia kemudian melipat kedua tangan di dada, seolah tidak terusik sedikit pun oleh tuduhan itu. Ekspresinya tetap datar. Dan itu hanya membuat emosi Citra semakin mendidih. "Ngapain aja kamu semalam?" tanya Citra lagi. Ia mengambil bantal di atas ranjang dan melemparkannya ke arah Yusuf. Buk! Bantal itu mengenai dada pria tersebut. Citra benar-benar kesal sekarang sangat kesal tingkat dewa. Yusuf menangkap bantal itu, lalu melemparkannya kembali ke atas ranjang. "Jangan sembarangan menuduh," katanya dingin. Setelah itu, ia berbalik dan berjalan menuju lemari. Citra melongo. Dia... diabaikan? Seketika emosinya semakin memuncak. Rasanya, kalau bisa, tanduk sudah tumbuh di kepalanya. Ia berjalan cepat menghampiri Yusuf. "Dasar orang asing gila!" katanya geram. Yusuf yang mendengarnya langsung berbalik dan menatapnya tajam. Citra yang berjalan cepat ternyata kehilangan keseimbangan, lalu tiba-tiba tangannya memegang handuk Yusuf dan demi menyelamatkan diri agar tidak terjatuh ia malah menariknya. Lalu... "Aaaaa!!!" Citra menjerit histeris dan langsung menutup kedua matanya dengan kedua tangan."Selamat," Yusuf mengulurkan tangannya. Citra pun membalasnya, "Terimakasih," kata Citra, kemudian ia menerima seikat bunga mawar berwarna merah. "Hay," sapa seseorang. Citra pun menoleh, "Pak Darren?" kata Citra tak menyangka jika Darren akan datang. "Selamat, ya. Ini bunga kesukaan kamu, bunga aster," kata Darren. "Terimakasih," Citra pun memberikan bunga ditangannya pada Ara, kemudian menerima bunga dari Darren, "Pak Darren, dapat dimana? Kemarin saya udah cari dibeberapa toko bunga tapi lagi kosong semua," ujar Citra. "Adalah, yang pastinya buat kamu," balas Darren. "Terimakasih..." kata Citra lagi. *** Citra sampai di rumah bersama dengan yang lainnya, karena hari ini untuk merayakan kelulusannya akan ada makan bersama di rumah. Tapi saat Citra turun dari mobil ia melihat ada banyak bunga di ruang tamu, bahkan ruang tamu hampir penuh. "Banyak sekali?" tanya Miya yang juga bingung. "Bik, siapa yang berikan bunga sebanyak ini?" tanya Citra sambil melihat bun
Satu minggu kemudian... Citra tersenyum bahagia. Hari ini, ia berdiri mengenakan toga dengan ijazah yang tergenggam erat di tangannya. Setelah melewati begitu banyak perjuangan, akhirnya ia berhasil menyelesaikan pendidikannya dan resmi menyandang gelar sarjana. Ia menatap ijazah itu beberapa saat, seolah masih tidak percaya bahwa semua perjuangannya benar-benar telah sampai di titik ini. Dulu, ia sering merasa dirinya adalah orang paling bodoh sedunia. Ia bahkan sempat meragukan kemampuan dirinya sendiri. Namun hari ini, Citra akhirnya membuktikan bahwa ia tidak seburuk yang selama ini ia pikirkan. Ia tersenyum lebih lebar. Setidaknya, hari ini ia boleh bangga pada dirinya sendiri. Begitu keluar dari barisan wisudawan, mata Citra langsung mencari sosok yang sejak tadi menunggunya. Begitu melihat ayah dan ibunya berdiri di antara kerumunan, wajah Citra seketika berbinar. “Papa!” Citra langsung berlari menghampiri. Tanpa peduli toga yang sedikit berantakan, ia seger
Sidang perceraian. Setelah mediasi gagal akhirnya keputusan cerai pun dikabulkan Yusuf terlihat lesu karena keputusan ini terlalu menyakitinya, bahkan tak menyangka pada akhirnya cerailah yang dipilih oleh Citra. "Citra," panggil Yusuf saat melihat wanita itu keluar dari kantor pengadilan. Citra terpaksa menghentikan langkah kakinya dan menoleh. Yusuf pun mendekati dan hendak meraih tangannya tapi Citra mundur selangkah. Jelas itu adalah sebuah penolakan. Yusuf merasa begitu sakit, "Citra, sejujurnya aku nggak bisa hidup tanpamu," kata Yusuf. Citra menarik nafas panjang mendegarnya, jika dulu Yusuf seperti ini mungkin ia akan sangat hahaha. Tapi sekarang? Ia malah merasa muak. Ia memilih melihat kesekitarnya seakan tak menanggapi sama sekali. "Citra, bukankah Naya pun mau kita tetap bersama?" tanya Yusuf penuh harap. Lalu kali ini Citra pun menatapnya. "Iya, kan?" tanya Yusuf setengah memohon. "Aku nggak suka suami sumbangan orang, cari aja perempuan lain.
Polisi datang ke kediaman Adithama, berdasarkan laporan pengacara. Aldo Adithama, ayah kandung Yusuf. Santi dan Zia terbukti telah merencanakan kecelakaan beberapa tahun yang lalu terhadap Naya saat pernikahan mereka akan dilangsungkan. "Yusuf, kamu mau mencoreng nama baik Adithama? Kamu mau bikin saham anjlok, hah?! Bagaimana dengan Kakek dan Nenekmu?!" tanya Aldo. Mungkin pria paruh baya itu tak pernah membayangkan hari ini akan tiba juga, karena ia pikir Yusuf tak akan melaporkan dirinya sebab yang menjadi pertimbangan adalah Kakek dan Nenek, serta Maya. Ditambah lagi kehancuran keluarga yang dipandang sebagai keluarga harmonis. "Kau yang mencoreng nama baik keluarga! Bahkan aku tidak mengerti mengapa ada orang sepertimu! Kau ikut menghancurkan kebahagiaan anakmu sendiri!" balas Yusuf. Saat itu Maya pun kembali, kini semua mata tertuju padanya. "Maya, tolong Mama...Yusuf melaporkan kami ke penjara. Dia tidak memandangmu sebagai adik, padahal kamu selalu menganggap dia sebagai
Rumah Citra. Sudah hampir dua jam Yusuf duduk di ruang tamu, ia datang memang untuk melihat anaknya. Tetapi yang paling ia tuju adalah Citra, istrinya. Yusuf masih ingin berbicara dan memperbaiki hubungan mereka, ia tak ingin semuanya berakhir begitu saja. Meski begitu sulit untuk bertemu dengan wanita itu ia akan tetap berusaha. Hingga akhirnya terdengar suara langkah kaki. Tap tap tap... Yusuf menatap ke arah pintu dan ternyata yang ditunggu akhirnya kembali. Ia segera bangkit dari duduknya. Dan Citra juga melihatnya, tatapi ia terlihat tidak peduli sama sekali. Justru ia terus melangkah hingga Yusuf menghentikan langkah kakinya. "Citra," panggil Yusuf tiba-tiba sudah berdiri di hadapannya. "Ya? Mau ketemu Reyhan dan Reyna? Kamar mereka disebelah sana," kata Citra menujuk arah kamar anak-anak mereka. Karena Citra tidak pernah ingkar pada janjinya, ia mempersilahkan Yusuf untuk bertemu kedua anaknya. Kapanpun. Begitu juga dengan kali ini yang diyakini Citra
Dreettt... Suara ponsel Citra berdering. "Halo," jawabnya. "Benar ini dengan Ibu Citra?" tanya seseorang dari seberang sana. "Benar, ada apa?" tanya Citra. "Ibu Citra bisa tolong ke rumah sakit sekarang." "Rumah sakit?" tanya Citra terkejut. "Bu Naya ingin bertemu anda, keadaannya sangat mengkhawatirkan," kata perawat itu. "Tapi aku tidak ada urusan dengan dia," tolak Citra. "Bu Citra, anggap saja ini untuk yang terakhir kalinya," kata perawat lagi. Lalu panggilan pun berakhir. Citra menatap ponselnya, ia bingung harus pergi atau tidak. "Nggak usah pergi deh, lebay banget...pasti dia mau bilang dia salah dan minta kamu balikan sama Pak Yusuf. Basi," cibir Ara. Citra pun mempertimbangkan ucapan Ara, dan apapun yang terjadi ia tak mau dikasihani sekaligus tidak mau memaksakan siapapun dalam hidupnya. Lagi pula sudah tidak ada tempat untuk Yusuf lagi dihatinya, menurutnya bertemu dengan Yusuf bukan kesalahan, tapi hanya sekedar bertemu karena sebuah takdir yan







