เข้าสู่ระบบMobil berhenti. Yusuf turun lebih dulu tanpa mengucapkan sepatah kata pun, membuat Citra hanya bisa menatap punggung pria itu dengan bingung.
Tak lama kemudian, sang sopir membukakan pintu untuknya. "Ini rumahnya?" tanya Citra sambil mengerutkan kening. "Iya, Nona," jawab sopir itu sopan. "Terus aku?" Citra menunjuk dirinya sendiri. Wajahnya masih dipenuhi kebingungan. Memang benar ia sudah menikah dengan Yusuf, tetapi jangan lupakan satu hal—mereka bahkan nyaris tidak saling mengenal. "Mulai sekarang, Nona tinggal di sini bersama Bos," jawab sang sopir. Citra mengangguk kaku. Ia masih belum bisa mencerna semuanya. "Bisakah bosmu itu bicara seperti manusia normal?" gerutunya kesal. Sang sopir langsung menahan tawa. "Maaf, Nona. Bos memang orangnya pendiam." "Pendiam? Itu sih bukan pendiam, tapi seperti patung hidup!" protes Citra. Sopir itu benar-benar harus menggigit bibirnya agar tidak tertawa. Citra mengembuskan napas panjang, lalu mengangkat koper kecilnya dan melangkah masuk ke dalam rumah besar itu. Begitu melewati pintu utama, langkah Citra terhenti. Matanya memperhatikan interior rumah itu yang begitu mewah dan elegan. Namun, belum sempat ia mengaguminya lebih lama, sebuah suara terdengar. "Oh, ini istrimu?" tanya seorang wanita paruh baya. Citra menoleh. Ternyata di ruang tamu sudah ada seorang wanita paruh baya yang duduk di sofa bersama suaminya. Keduanya menatapnya dengan sorot menyelidik. Dan yang membuat Citra canggung, ia sama sekali tidak mengenal mereka. "Apakah asal-usul wanita ini jelas?" tanya wanita itu lagi dengan nada sinis. Ia melihat penampilan Citra yang sederhana, bahkan rambut dikepang dan kaca mata tebal. Ini Citra lakukan agar Yusuf tidak suka padanya lalu menceraikannya. Lalu ia hidup dengan bebas lagi. Citra mengernyit. 'Astaga, drama macam apa ini? Baru masuk rumah sudah ditanyai asal-usul,' batinnya. Ia memang datang tanpa membawa banyak barang dan mengenakan pakaian sederhana hari itu, tetapi bukan berarti ia berasal dari keluarga sembarangan. Papanya juga seorang pengusaha sukses. Hanya saja, ia sedang menjalani masa hukumannya. Belum sempat ia menjawab, tiba-tiba sebuah tangan melingkar di bahunya. Citra menoleh dan mendapati Yusuf sudah berdiri di sampingnya. "Mau seperti apa pun asal-usulnya, yang jelas dia adalah istriku," ucap Yusuf tegas. Tatapannya beralih pada wanita itu. "Kalau ada yang tidak senang, silakan keluar dari rumah ini." Citra sampai terperangah. Ia benar-benar tidak menyangka Yusuf akan berbicara seperti itu. "Kamu bicara seperti itu pada kami demi wanita yang baru saja masuk ke rumah ini?" tanya wanita paruh baya itu tidak percaya. Dia Santi, ibu tiri Yusuf. Namun, sebelum Yusuf menjawab, terdengar suara lain dari arah dalam rumah. "Cucu menantu? Apakah dia cucu menantuku?" Semua orang menoleh. Seorang wanita tua berjalan perlahan dari dalam rumah dengan bantuan tongkat. Meski rambutnya telah memutih, senyumnya terlihat hangat. Yusuf segera menghampirinya. "Dia istriku, Nek. Memangnya Kakek ke mana?" tanya Yusuf. "Kakekmu pergi ke rumah sakit. Hari ini jadwal pemeriksaannya." Wanita tua itu tersenyum lebar. "Dia pasti sangat senang melihatmu membawa cucu menantu pulang." Wanita tua itu langsung mendekati Citra, lalu meraih kedua tangannya dan menggenggamnya erat. "Cantik sekali..." gumamnya penuh suka. "Akhirnya cucuku menikah juga." Citra tersenyum tipis, masih sedikit canggung. Wanita tua itu mengusap punggung tangannya dengan lembut. "Mulai sekarang, anggap rumah ini rumahmu juga, Nak." 'Wah, neneknya baik banget. Nggak seperti wanita itu,' batin Citra. Namun, suasana hangat itu tidak berlangsung lama. "Kamu berasal dari keluarga mana?" tanya Santi lagi, kali ini dengan nada yang terdengar seperti sedang menginterogasi. Citra mengangkat sebelah alisnya. Pertanyaan itu terdengar tidak sopan di telinganya. Ia memang tidak mengenal keluarga Yusuf, tetapi bukan berarti ia akan diam jika direndahkan. Sayangnya, sebelum ia sempat menjawab, Yusuf sudah lebih dulu bersuara. "Bukan urusanmu." Nada suaranya dingin dan tegas. Seketika ruang tamu menjadi hening. Wajah Santi langsung menegang. Ia jelas tidak menyangka Yusuf akan membantahnya secara terang-terangan. Sementara Citra hanya melirik pria di sampingnya. Ia masih bingung dengan situasi di rumah ini. Kenapa wanita itu tampak tidak menyukainya sejak awal? Dan kenapa Yusuf justru membelanya, padahal pernikahan mereka terjadi begitu tiba-tiba dan mereka bahkan belum saling mengenal dengan baik? "Nek, kami ke kamar dulu," pamit Yusuf. "Iya." Nenek tersenyum hangat. "Besok pagi Nenek dan Kakek akan pulang ke kampung. Nanti kalian menyusul, ya." Yusuf mengangguk singkat. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik dan merarik tangan Citra lalu melangkah menuju tangga. Citra pun mengikuti sedikit dibelakangnya. Mereka menaiki tangga menuju lantai dua, lalu berhenti di depan sebuah pintu. Yusuf membuka pintu dan masuk lebih dulu. Citra ikut masuk dan mengedarkan pandangannya ke seisi kamar. Kamarnya luas, tertata rapi, dan didominasi warna gelap yang elegan. Selera pemiliknya terlihat jelas—minimalis, tenang, dan sangat mencerminkan kepribadian Yusuf. Tidak ada keterkejutan berlebihan di wajah Citra. Ia hanya mengamati ruangan itu dengan tenang sebelum mengalihkan pandangannya pada Yusuf. "Wanita tadi namanya Santi. Dia istri ayahku, dan kau tidak perlu menghormatinya," kata Yusuf tiba-tiba. Citra berkedip pelan. 'Eh? Dia sedang menjelaskan sesuatu?' batinnya bingung. Padahal ia tidak bertanya. Jujur saja, ia juga tidak terlalu peduli dengan urusan keluarga Yusuf. Baginya, pernikahan ini terjadi terlalu mendadak. Mereka bahkan orang asing satu sama lain. Yang ada di pikirannya sekarang justru bagaimana membuat pria itu tidak tahan hidup bersamanya hingga akhirnya mereka bercerai. Untuk sementara, anggap saja ia sedang menumpang hidup. Setidaknya, itu lebih baik daripada menjadi gelandangan yang terlunta-lunta di jalan. "Oh..." jawab Citra singkat. Yusuf menatapnya beberapa detik. Hanya itu? Biasanya, orang akan penasaran dan bertanya lebih jauh mengenai keluarganya. Namun, wanita di hadapannya justru terlihat sangat tenang, seolah penjelasannya barusan tidak penting. "Kenapa?" tanya Citra ketika menyadari Yusuf terus menatapnya. "Tidak ada." Yusuf mengalihkan pandangannya. Citra mengangkat bahu acuh. Ia kemudian berjalan ke arah jendela besar dan melihat pemandangan taman di belakang rumah. "Kalau tidak ada yang ingin dibicarakan, aku mau mandi." Yusuf kembali menatapnya. Wanita ini... benar-benar aneh. Tidak bertanya siapa dirinya, tidak bertanya tentang keluarganya, bahkan tidak menunjukkan rasa ingin tahu sedikit pun. Sementara Citra sendiri sedang berpikir hal lain. 'Baiklah, Citra. Untuk sementara, tinggal saja dengan damai di sini. Setelah semuanya stabil, cari cara supaya pernikahan ini berakhir baik-baik biar kamu nggak kena masalah lagi. Lagi pula, menikah dengan orang asing mana mungkin bertahan lama?' batinnya.Citra benar-benar kesal setelah mendengar kekonyolan sang ayah dan ibu. Ia pun memutuskan untuk kembali ke kamarnya. “Dasar Mama sama Papa! Aku sampai percaya kalau aku anak pungut!” gerutunya. Yusuf yang sedang duduk di sofa menatapnya bingung. “Anak pungut?” Citra langsung sadar kalau Yusuf mendengar semuanya. “Bukan urusan kamu!” Yusuf malah tersenyum tipis. “Jadi kamu tadi diusir dari kamar orang tuamu?” “Bukan diusir!” “Lalu?” “Mereka yang menyuruh aku tidur sama suamiku.” Yusuf terdiam. Citra juga terdiam. Lalu keduanya saling pandang. Citra langsung menunjuk ranjang. “Aku tidur di sana. Kamu di sofa!” “Kalau begitu, aku akan tidur di ranjang.” kata Yusuf. “Hey? Kenapa?” tanya Citra bingung. “Karena aku suamimu.” ucap Yusuf seakan menegaskan posisinya sebagai suami Citra. Citra langsung melotot. “Jangan pakai status suami terus!” geramnya sekaligus memberikan peringatan. “Bukannya tadi Mama dan Papamu yang menyuruh kamu tidur dengan suamimu?” tany
Satu jam, dua jam, tiga jam. Waktu berlalu terasa begitu cepat, Yusuf menatap jam di dinding menunjukkan pukul sepuluh malam. Rasanya jarum jam berpindah begitu lambat, kemudian ia pun meraih ponselnya dan menghubungi Tama. "Halo, Bos," jawab Tama dari seberang sana. "Katakan pada Pak Handoko untuk mengembalikan istriku!" perintah Yusuf. Bip. Panggilan berakhir. *** Tama yang duduk di kamarnya syok menatap layar ponselnya. Bagaimana mungkin ada perintah seperti ini? Apakah bosnya sudah gila? Apakah mungkin bosnya itu tidak berpikir sama sekali, dan Pak Handoko? Tama tau itu adalah nama Ayah Citra, "Susah sekali kalau orang sedang dimabuk asmara, ah...bahasa sekarang namanya bucin," gumam Tama. *** “Citra, ini sudah jam sepuluh. Kamu kok masih di sini?” tanya Miya. Citra yang sedang berbaring di ranjang sambil memeluk ibunya pun terlihat bingung. “Memangnya kenapa? Biasanya juga Citra boleh tidur sama Mama dan Papa.” “Citra, sekarang kamu sudah punya suami. N
"Kamarku..." seru Citra saat ia membuka pintu kamarnya, lalu merentangkan kedua tangannya kemudian berlari masuk dan meloncat ke atas ranjang. Ia berguling-guling di atas ranjangnya, ia sangat bahagia karena sudah lama tak merasakan kenyamanan ranjangnya. "Akhirnya aku bisa tidur di ranjangku lagi," katanya. Kemudian ia pun turun dari ranjangnya dan berjalan ke arah sudut kamarnya dan menatap gitarnya yang diletakkan di atas meja. Ia menatapnya begitu lama, lalu tangannya terangkat dan menyentuhnya perlahan. "Kamu bisa main gitar?" tanya Yusuf. Citra pun menoleh, ia baru sadar ternyata Yusuf sudah masuk ke kamarnya, "Masih belajar, tapi susah banget," jawab Citra dengan perasaan sedih. Lalu Yusuf pun mengambilnya, kemudian membawanya duduk di sofa. Arah pandang Citra mengikuti Yusuf, ia tampaknya masih bingung apa yang hendak dilakukan oleh Yusuf. Apakah Yusuf bisa bermain gitar? Tapi kemudian Yusuf mulai memetik tali senar, terdengar suara yang begitu indah dan me
"Mas?" Mata Citra langsung berbinar ketika mobil Yusuf menepi di depan rumahnya, rumah orang tuanya tempatnya dibesarkan. Ia sangat merindukan rumah itu, sangat merindukan kedua orang tuanya. Tapi tiba-tiba saja senyum dibibirnya menghilang, ia menatap Yusuf dalam diam. "Ada apa?" tanya Yusuf menyadari perubahan ekpresi Citra yang tiba-tiba. "Tapi, Papakan lagi marah. Aku udah di coret dari Kartu Keluarga," katanya dengan lesu. Yusuf pun menyentil dahi Citra dengan gemas. "Mas, ih?!" protesnya sambil menggosok dahinya. "Nama kamu bukan di coret tapi dikeluarkan," ucap Yusuf. "Nahkan? Sama aja!" ucap Citra semakin kesal. "Kan kita sudah menikah, jadi kita berdua di dalam kartun keluarga yang sama," jelas Yusuf. Citra mengangguk sambil menatap Yusuf penuh arti. "Apa yang dipikirkan otak kosongmu ini?" tanya Yusuf sambil menunjuk kepada Citra. "Kalau otak kosong berarti nggak bisa mikir, gimana sih?" gerutunya. "Ayo turun," kata Yusuf lalu turun terlebih dahulu ba
"Masih marah?" tanya Yusuf yang duduk disisi ranjang dan memperhatikan dada Citra yang setengahnya menyebul keluar. Citra yang menyadari hal itu segera menarik selimut dan menutupi dirinya dengan panik, "Kamu mesum banget sih? Mana nggak ada rasa bersalahnya lagi!" omel Citra. Yusuf hanya bisa tersenyum mendegar keluhan Citra, saat itu ponsel Citra pun berdering. Ia meraih ponselnya susah payah di atas meja nakas, tapi Yusuf tidak membiarkan begitu saja. Ia langsung meraihnya dan memberikan pada Citra. Tentunya Citra menerimanya dengan kesal, bahkan tatapan yang jelas ingin membunuh. Tapi berbeda dengan Yusuf yang hanya tersenyum gemes melihat wajah istrinya itu. "Halo," jawab Citra. "Citra, kok kamu membatalkan diri ikut balap sih?" tanya Ara dari seberang sana. "Siapa yang batalkan?" tanya Citra bingung, tapi kemudian ia menatap Yusuf penuh curiga, "nanti aku telpon lagi," katanya lalu mengakhiri penggilan telepon. Ia tau ada yang harus diurus dengan Yusuf, ia curi
Citra juga kembali berbaring terlungkup dan keduanya pun benar-benar menikmati pijatan bersama. "Mbak, udah menikah belom?" tanya Citra pada petugas spa yang memijatnya. "Sudah, Nyonya," jawabnya. "Panggil Citra aja, risih banget pangilan kamu. Biar aktab juga," kata Citra, "kenapa kamu mau menikah? Terus gimana malam pertamanya?" tanya Citra penasaran. "Malam pertama agak perih, tapi," petugas spa itupun tersenyum malu. Citra meliriknya sesaat, "Ck, tapi apa?" tanya Citra makin penasaran. "Nona, bukannya setelah menikah keromantisan itu wajar," katanya lagi sambil melihat banyak tanda merah di tubuh Citra. "Wajar apanya? Remuk badan aku!" keluh Citra. "Memangnya, kamu nggak menikmati?" tanyanya lagi. "Apa yang dinikmati? Penderitaan?!" kesal Citra. "Citra, kamu jangan nakutin aku dong...makin kecil keinginan aku untuk menikah kalau begini," sela Maya. "Nggak usah nikah, May. Nggak enak!" keluh Citra. "Tapi masa iya aku mau jadi perawan tua?" tanya Maya dengan







