แชร์

Bab 4

ผู้เขียน: Ipak Munthe
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-28 08:23:05

Mobil berhenti. Yusuf turun lebih dulu tanpa mengucapkan sepatah kata pun, membuat Citra hanya bisa menatap punggung pria itu dengan bingung.

Tak lama kemudian, sang sopir membukakan pintu untuknya.

"Ini rumahnya?" tanya Citra sambil mengerutkan kening.

"Iya, Nona," jawab sopir itu sopan.

"Terus aku?" Citra menunjuk dirinya sendiri. Wajahnya masih dipenuhi kebingungan. Memang benar ia sudah menikah dengan Yusuf, tetapi jangan lupakan satu hal—mereka bahkan nyaris tidak saling mengenal.

"Mulai sekarang, Nona tinggal di sini bersama Bos," jawab sang sopir.

Citra mengangguk kaku. Ia masih belum bisa mencerna semuanya. "Bisakah bosmu itu bicara seperti manusia normal?" gerutunya kesal.

Sang sopir langsung menahan tawa. "Maaf, Nona. Bos memang orangnya pendiam."

"Pendiam? Itu sih bukan pendiam, tapi seperti patung hidup!" protes Citra.

Sopir itu benar-benar harus menggigit bibirnya agar tidak tertawa.

Citra mengembuskan napas panjang, lalu mengangkat koper kecilnya dan melangkah masuk ke dalam rumah besar itu.

Begitu melewati pintu utama, langkah Citra terhenti. Matanya memperhatikan interior rumah itu yang begitu mewah dan elegan.

Namun, belum sempat ia mengaguminya lebih lama, sebuah suara terdengar.

"Oh, ini istrimu?" tanya seorang wanita paruh baya.

Citra menoleh. Ternyata di ruang tamu sudah ada seorang wanita paruh baya yang duduk di sofa bersama suaminya. Keduanya menatapnya dengan sorot menyelidik.

Dan yang membuat Citra canggung, ia sama sekali tidak mengenal mereka.

"Apakah asal-usul wanita ini jelas?" tanya wanita itu lagi dengan nada sinis. Ia melihat penampilan Citra yang sederhana, bahkan rambut dikepang dan kaca mata tebal.

Ini Citra lakukan agar Yusuf tidak suka padanya lalu menceraikannya. Lalu ia hidup dengan bebas lagi.

Citra mengernyit.

'Astaga, drama macam apa ini? Baru masuk rumah sudah ditanyai asal-usul,' batinnya.

Ia memang datang tanpa membawa banyak barang dan mengenakan pakaian sederhana hari itu, tetapi bukan berarti ia berasal dari keluarga sembarangan. Papanya juga seorang pengusaha sukses. Hanya saja, ia sedang menjalani masa hukumannya.

Belum sempat ia menjawab, tiba-tiba sebuah tangan melingkar di bahunya.

Citra menoleh dan mendapati Yusuf sudah berdiri di sampingnya. "Mau seperti apa pun asal-usulnya, yang jelas dia adalah istriku," ucap Yusuf tegas. Tatapannya beralih pada wanita itu. "Kalau ada yang tidak senang, silakan keluar dari rumah ini."

Citra sampai terperangah. Ia benar-benar tidak menyangka Yusuf akan berbicara seperti itu.

"Kamu bicara seperti itu pada kami demi wanita yang baru saja masuk ke rumah ini?" tanya wanita paruh baya itu tidak percaya. Dia Santi, ibu tiri Yusuf.

Namun, sebelum Yusuf menjawab, terdengar suara lain dari arah dalam rumah. "Cucu menantu? Apakah dia cucu menantuku?"

Semua orang menoleh.

Seorang wanita tua berjalan perlahan dari dalam rumah dengan bantuan tongkat. Meski rambutnya telah memutih, senyumnya terlihat hangat.

Yusuf segera menghampirinya. "Dia istriku, Nek. Memangnya Kakek ke mana?" tanya Yusuf.

"Kakekmu pergi ke rumah sakit. Hari ini jadwal pemeriksaannya." Wanita tua itu tersenyum lebar. "Dia pasti sangat senang melihatmu membawa cucu menantu pulang."

Wanita tua itu langsung mendekati Citra, lalu meraih kedua tangannya dan menggenggamnya erat. "Cantik sekali..." gumamnya penuh suka. "Akhirnya cucuku menikah juga."

Citra tersenyum tipis, masih sedikit canggung.

Wanita tua itu mengusap punggung tangannya dengan lembut. "Mulai sekarang, anggap rumah ini rumahmu juga, Nak."

'Wah, neneknya baik banget. Nggak seperti wanita itu,' batin Citra.

Namun, suasana hangat itu tidak berlangsung lama.

"Kamu berasal dari keluarga mana?" tanya Santi lagi, kali ini dengan nada yang terdengar seperti sedang menginterogasi.

Citra mengangkat sebelah alisnya. Pertanyaan itu terdengar tidak sopan di telinganya.

Ia memang tidak mengenal keluarga Yusuf, tetapi bukan berarti ia akan diam jika direndahkan.

Sayangnya, sebelum ia sempat menjawab, Yusuf sudah lebih dulu bersuara. "Bukan urusanmu."

Nada suaranya dingin dan tegas. Seketika ruang tamu menjadi hening.

Wajah Santi langsung menegang. Ia jelas tidak menyangka Yusuf akan membantahnya secara terang-terangan.

Sementara Citra hanya melirik pria di sampingnya. Ia masih bingung dengan situasi di rumah ini.

Kenapa wanita itu tampak tidak menyukainya sejak awal?

Dan kenapa Yusuf justru membelanya, padahal pernikahan mereka terjadi begitu tiba-tiba dan mereka bahkan belum saling mengenal dengan baik?

"Nek, kami ke kamar dulu," pamit Yusuf.

"Iya." Nenek tersenyum hangat. "Besok pagi Nenek dan Kakek akan pulang ke kampung. Nanti kalian menyusul, ya."

Yusuf mengangguk singkat.

Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik dan merarik tangan Citra lalu melangkah menuju tangga.

Citra pun mengikuti sedikit dibelakangnya.

Mereka menaiki tangga menuju lantai dua, lalu berhenti di depan sebuah pintu.

Yusuf membuka pintu dan masuk lebih dulu.

Citra ikut masuk dan mengedarkan pandangannya ke seisi kamar.

Kamarnya luas, tertata rapi, dan didominasi warna gelap yang elegan. Selera pemiliknya terlihat jelas—minimalis, tenang, dan sangat mencerminkan kepribadian Yusuf.

Tidak ada keterkejutan berlebihan di wajah Citra. Ia hanya mengamati ruangan itu dengan tenang sebelum mengalihkan pandangannya pada Yusuf.

"Wanita tadi namanya Santi. Dia istri ayahku, dan kau tidak perlu menghormatinya," kata Yusuf tiba-tiba.

Citra berkedip pelan.

'Eh? Dia sedang menjelaskan sesuatu?' batinnya bingung.

Padahal ia tidak bertanya. Jujur saja, ia juga tidak terlalu peduli dengan urusan keluarga Yusuf.

Baginya, pernikahan ini terjadi terlalu mendadak. Mereka bahkan orang asing satu sama lain.

Yang ada di pikirannya sekarang justru bagaimana membuat pria itu tidak tahan hidup bersamanya hingga akhirnya mereka bercerai.

Untuk sementara, anggap saja ia sedang menumpang hidup. Setidaknya, itu lebih baik daripada menjadi gelandangan yang terlunta-lunta di jalan.

"Oh..." jawab Citra singkat.

Yusuf menatapnya beberapa detik.

Hanya itu?

Biasanya, orang akan penasaran dan bertanya lebih jauh mengenai keluarganya. Namun, wanita di hadapannya justru terlihat sangat tenang, seolah penjelasannya barusan tidak penting.

"Kenapa?" tanya Citra ketika menyadari Yusuf terus menatapnya.

"Tidak ada."

Yusuf mengalihkan pandangannya.

Citra mengangkat bahu acuh.

Ia kemudian berjalan ke arah jendela besar dan melihat pemandangan taman di belakang rumah.

"Kalau tidak ada yang ingin dibicarakan, aku mau mandi."

Yusuf kembali menatapnya.

Wanita ini... benar-benar aneh.

Tidak bertanya siapa dirinya, tidak bertanya tentang keluarganya, bahkan tidak menunjukkan rasa ingin tahu sedikit pun.

Sementara Citra sendiri sedang berpikir hal lain.

'Baiklah, Citra. Untuk sementara, tinggal saja dengan damai di sini. Setelah semuanya stabil, cari cara supaya pernikahan ini berakhir baik-baik biar kamu nggak kena masalah lagi. Lagi pula, menikah dengan orang asing mana mungkin bertahan lama?' batinnya.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Miliarder Dingin Jatuh Cinta   Bab 152

    "Selamat," Yusuf mengulurkan tangannya. Citra pun membalasnya, "Terimakasih," kata Citra, kemudian ia menerima seikat bunga mawar berwarna merah. "Hay," sapa seseorang. Citra pun menoleh, "Pak Darren?" kata Citra tak menyangka jika Darren akan datang. "Selamat, ya. Ini bunga kesukaan kamu, bunga aster," kata Darren. "Terimakasih," Citra pun memberikan bunga ditangannya pada Ara, kemudian menerima bunga dari Darren, "Pak Darren, dapat dimana? Kemarin saya udah cari dibeberapa toko bunga tapi lagi kosong semua," ujar Citra. "Adalah, yang pastinya buat kamu," balas Darren. "Terimakasih..." kata Citra lagi. *** Citra sampai di rumah bersama dengan yang lainnya, karena hari ini untuk merayakan kelulusannya akan ada makan bersama di rumah. Tapi saat Citra turun dari mobil ia melihat ada banyak bunga di ruang tamu, bahkan ruang tamu hampir penuh. "Banyak sekali?" tanya Miya yang juga bingung. "Bik, siapa yang berikan bunga sebanyak ini?" tanya Citra sambil melihat bun

  • Miliarder Dingin Jatuh Cinta   Bab 151

    Satu minggu kemudian... Citra tersenyum bahagia. Hari ini, ia berdiri mengenakan toga dengan ijazah yang tergenggam erat di tangannya. Setelah melewati begitu banyak perjuangan, akhirnya ia berhasil menyelesaikan pendidikannya dan resmi menyandang gelar sarjana. Ia menatap ijazah itu beberapa saat, seolah masih tidak percaya bahwa semua perjuangannya benar-benar telah sampai di titik ini. Dulu, ia sering merasa dirinya adalah orang paling bodoh sedunia. Ia bahkan sempat meragukan kemampuan dirinya sendiri. Namun hari ini, Citra akhirnya membuktikan bahwa ia tidak seburuk yang selama ini ia pikirkan. Ia tersenyum lebih lebar. Setidaknya, hari ini ia boleh bangga pada dirinya sendiri. Begitu keluar dari barisan wisudawan, mata Citra langsung mencari sosok yang sejak tadi menunggunya. Begitu melihat ayah dan ibunya berdiri di antara kerumunan, wajah Citra seketika berbinar. “Papa!” Citra langsung berlari menghampiri. Tanpa peduli toga yang sedikit berantakan, ia seger

  • Miliarder Dingin Jatuh Cinta   Bab 150

    Sidang perceraian. Setelah mediasi gagal akhirnya keputusan cerai pun dikabulkan Yusuf terlihat lesu karena keputusan ini terlalu menyakitinya, bahkan tak menyangka pada akhirnya cerailah yang dipilih oleh Citra. "Citra," panggil Yusuf saat melihat wanita itu keluar dari kantor pengadilan. Citra terpaksa menghentikan langkah kakinya dan menoleh. Yusuf pun mendekati dan hendak meraih tangannya tapi Citra mundur selangkah. Jelas itu adalah sebuah penolakan. Yusuf merasa begitu sakit, "Citra, sejujurnya aku nggak bisa hidup tanpamu," kata Yusuf. Citra menarik nafas panjang mendegarnya, jika dulu Yusuf seperti ini mungkin ia akan sangat hahaha. Tapi sekarang? Ia malah merasa muak. Ia memilih melihat kesekitarnya seakan tak menanggapi sama sekali. "Citra, bukankah Naya pun mau kita tetap bersama?" tanya Yusuf penuh harap. Lalu kali ini Citra pun menatapnya. "Iya, kan?" tanya Yusuf setengah memohon. "Aku nggak suka suami sumbangan orang, cari aja perempuan lain.

  • Miliarder Dingin Jatuh Cinta   Bab 149

    Polisi datang ke kediaman Adithama, berdasarkan laporan pengacara. Aldo Adithama, ayah kandung Yusuf. Santi dan Zia terbukti telah merencanakan kecelakaan beberapa tahun yang lalu terhadap Naya saat pernikahan mereka akan dilangsungkan. "Yusuf, kamu mau mencoreng nama baik Adithama? Kamu mau bikin saham anjlok, hah?! Bagaimana dengan Kakek dan Nenekmu?!" tanya Aldo. Mungkin pria paruh baya itu tak pernah membayangkan hari ini akan tiba juga, karena ia pikir Yusuf tak akan melaporkan dirinya sebab yang menjadi pertimbangan adalah Kakek dan Nenek, serta Maya. Ditambah lagi kehancuran keluarga yang dipandang sebagai keluarga harmonis. "Kau yang mencoreng nama baik keluarga! Bahkan aku tidak mengerti mengapa ada orang sepertimu! Kau ikut menghancurkan kebahagiaan anakmu sendiri!" balas Yusuf. Saat itu Maya pun kembali, kini semua mata tertuju padanya. "Maya, tolong Mama...Yusuf melaporkan kami ke penjara. Dia tidak memandangmu sebagai adik, padahal kamu selalu menganggap dia sebagai

  • Miliarder Dingin Jatuh Cinta   Bab 148

    Rumah Citra. Sudah hampir dua jam Yusuf duduk di ruang tamu, ia datang memang untuk melihat anaknya. Tetapi yang paling ia tuju adalah Citra, istrinya. Yusuf masih ingin berbicara dan memperbaiki hubungan mereka, ia tak ingin semuanya berakhir begitu saja. Meski begitu sulit untuk bertemu dengan wanita itu ia akan tetap berusaha. Hingga akhirnya terdengar suara langkah kaki. Tap tap tap... Yusuf menatap ke arah pintu dan ternyata yang ditunggu akhirnya kembali. Ia segera bangkit dari duduknya. Dan Citra juga melihatnya, tatapi ia terlihat tidak peduli sama sekali. Justru ia terus melangkah hingga Yusuf menghentikan langkah kakinya. "Citra," panggil Yusuf tiba-tiba sudah berdiri di hadapannya. "Ya? Mau ketemu Reyhan dan Reyna? Kamar mereka disebelah sana," kata Citra menujuk arah kamar anak-anak mereka. Karena Citra tidak pernah ingkar pada janjinya, ia mempersilahkan Yusuf untuk bertemu kedua anaknya. Kapanpun. Begitu juga dengan kali ini yang diyakini Citra

  • Miliarder Dingin Jatuh Cinta   Bab 147

    Dreettt... Suara ponsel Citra berdering. "Halo," jawabnya. "Benar ini dengan Ibu Citra?" tanya seseorang dari seberang sana. "Benar, ada apa?" tanya Citra. "Ibu Citra bisa tolong ke rumah sakit sekarang." "Rumah sakit?" tanya Citra terkejut. "Bu Naya ingin bertemu anda, keadaannya sangat mengkhawatirkan," kata perawat itu. "Tapi aku tidak ada urusan dengan dia," tolak Citra. "Bu Citra, anggap saja ini untuk yang terakhir kalinya," kata perawat lagi. Lalu panggilan pun berakhir. Citra menatap ponselnya, ia bingung harus pergi atau tidak. "Nggak usah pergi deh, lebay banget...pasti dia mau bilang dia salah dan minta kamu balikan sama Pak Yusuf. Basi," cibir Ara. Citra pun mempertimbangkan ucapan Ara, dan apapun yang terjadi ia tak mau dikasihani sekaligus tidak mau memaksakan siapapun dalam hidupnya. Lagi pula sudah tidak ada tempat untuk Yusuf lagi dihatinya, menurutnya bertemu dengan Yusuf bukan kesalahan, tapi hanya sekedar bertemu karena sebuah takdir yan

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status