Share

Bab 65

Author: Ipak Munthe
last update Petsa ng paglalathala: 2026-08-12 07:35:04

"Astaga, iblis sialan!" umpatnya penuh kekesalan.

Pagi ini sekujur tubuh Citra terasa remuk, bahkan untuk bergerak saja rasanya sangat sulit. Tangannya bergerak meraih lampu tidur kemudian hendak memukulnya ke kepala Yusuf.

Tapi ternyata ranjang di sampingnya kosong, tidak ada Yusuf disana. Dengan kecewa ia pun kembali meletakkan lampu tidur di atas meja nakas.

Ia melirik pintu kamar mandi, ia yakin pria itu ada disana. Ia perlahan turun dari ranjang lalu berjalan ke arah kamar mandi.

T
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Miliarder Dingin Jatuh Cinta   Bab 75

    Yusuf berjalan mendekat lalu duduk di sofa yang berhadapan dengan Citra. Tatapannya tetap tertuju pada tangan Citra yang masih memegang dasi pria di sampingnya. "Teruskan," ucap Yusuf datar. Citra mengerutkan kening. "Apa?" Yusuf menyandarkan tubuhnya pada sofa. Deg. Citra menutup mata sesaat setelah menyadari suara barusan. Yusuf? Ia benar-benar sangat takut sekali, bagaimana jika Yusuf menghukumnya? Mengambil kembali kartunya? Tapikan Yusuf sudah berjanji untuk tidak mengambilnya lagi, apakah dia akan menepati janjinya? "Tadi kamu melakukan sesuatu pada dia, bukan?" tanya Yusuf. Ia memantik rokoknya dan menghisapnya perlahan. Citra langsung melepaskan dasi yang sejak tadi dipegangnya. "Enggak..." katanya, "ehem..." ia berdehem pelan sambil menatap Yusuf. Deg. Benar, itu Yusuf. Ia menggigit bibir bawahnya dan baru sadar Maya tidak ada di tempatnya lagi yang ada hanya Yusuf saja. "Sini," Yusuf mengerjakan jarinya meminta Citra untuk mendekat kearahnya.

  • Miliarder Dingin Jatuh Cinta   Bab 74

    Citra menatap jam dinding. "Jam delapan," gumamnya. Ia kemudian meraih tasnya dan berjalan keluar dari apartemen. Namun, baru saja membuka pintu, Citra langsung dikejutkan oleh kehadiran Maya yang sudah berdiri di depan pintu. "Maya?!" seru Citra sambil mengelus dadanya. "Aku bikin kamu terkejut, ya?" tanya Maya merasa bersalah. Namun, tatapan Maya kemudian beralih memperhatikan penampilan Citra. "Mau ke mana? Aku baru aja mau ketemu kamu," katanya. "Aku mau keluar. Mau ikut nggak?" tawar Citra. "Kemana?" Maya bertanya bingung. "Cari model tampan," jawab Citra sambil tersenyum lebar. Maya langsung mengernyitkan kening. "Cari model?" "Iya. Ayo, kamu juga udah waktunya mengakhiri masa jomblo." Tanpa menunggu jawaban, Citra langsung menarik tangan Maya. "Eh... Citra!" Maya tersentak, tetapi akhirnya ikut berjalan karena Citra sudah menarik tangannya dengan penuh semangat. *** Suasana klub begitu ramai. Alunan musik terdengar keras, sementara lampu-lampu be

  • Miliarder Dingin Jatuh Cinta   Bab 73

    Tama pun langsung masuk. Citra mendorong Yusuf sekuat tenaga, pria itu tersenyum lalu mundur. Cepat-cepat Citra turun dari meja dan merapikan kemejanya. "Bos, ini berkas proyek yang anda minta," kata Tama menyerahkan sebuah map. Yusuf pun menerimanya, ia bersandar pada meja lalu membuka map itu sesaat. Tak lama kemudian kembali menutupnya dan melirik Citra. "Aku permisi dulu, Bos," pamit Tama lalu ia pergi. Yusuf pun memberikan map di tangannya pada Citra. Citra menerimanya dan membukanya, matanya langsung berbinar karena itu adalah proyek untuknya. "Mas?" tanyanya seakan belum percaya. Yusuf pun tersenyum melihat wajah bahagia Citra. "Makasih, aku bakalan buktikan ke Papa dan Mama kalau aku ini sebenarnya bisa," katanya penuh semangat. Yusuf pun menarik pinggang Citra hingga begitu dekat dengannya. "Mas, ih?!" kesal Citra sambil berusaha untuk melepaskan dirinya. "Kenapa? Kamu mau pergi begitu saja?" tanya Yusuf. "Ini kantor!" protes Citra. "Berarti di r

  • Miliarder Dingin Jatuh Cinta   Bab 72

    “Ya ampun, badan aku remuk semua...” Citra memegang punggungnya yang terasa pegal. “Kamu kenapa?” tanya Maya yang baru saja datang. “Nggak apa-apa,” jawab Citra malas. Padahal, Citra masih ingat betul apa yang terjadi semalam. Yusuf benar-benar membuat tubuhnya terasa lelah. Maya yang merasa ada sesuatu mulai memperhatikan Citra dari atas sampai bawah. “Apa sih?” tanya Citra bingung. “Abis ngapain kalian tadi malam?” goda Maya dengan senyum jahil. Citra langsung menutup mulut Maya dengan telapak tangannya. Ia buru-buru melihat ke sekeliling. Untung saja kantor masih cukup sepi. Maya melepaskan tangan Citra sambil terkikik. “Aku tahu...” katanya lagi dengan senyum penuh arti. “Ih, apaan sih!” Citra langsung kesal. Belum sempat Maya menjawab, terdengar suara langkah kaki dari kejauhan. Beberapa karyawan yang melihat sosok itu langsung berdiri dan memberikan salam hormat. Citra ikut menoleh. Yusuf. Pria itu berjalan dengan wajah datarnya seperti biasa. Citra

  • Miliarder Dingin Jatuh Cinta   Bab 71

    Citra benar-benar kesal setelah mendengar kekonyolan sang ayah dan ibu. Ia pun memutuskan untuk kembali ke kamarnya. “Dasar Mama sama Papa! Aku sampai percaya kalau aku anak pungut!” gerutunya. Yusuf yang sedang duduk di sofa menatapnya bingung. “Anak pungut?” Citra langsung sadar kalau Yusuf mendengar semuanya. “Bukan urusan kamu!” Yusuf malah tersenyum tipis. “Jadi kamu tadi diusir dari kamar orang tuamu?” “Bukan diusir!” “Lalu?” “Mereka yang menyuruh aku tidur sama suamiku.” Yusuf terdiam. Citra juga terdiam. Lalu keduanya saling pandang. Citra langsung menunjuk ranjang. “Aku tidur di sana. Kamu di sofa!” “Kalau begitu, aku akan tidur di ranjang.” kata Yusuf. “Hey? Kenapa?” tanya Citra bingung. “Karena aku suamimu.” ucap Yusuf seakan menegaskan posisinya sebagai suami Citra. Citra langsung melotot. “Jangan pakai status suami terus!” geramnya sekaligus memberikan peringatan. “Bukannya tadi Mama dan Papamu yang menyuruh kamu tidur dengan suamimu?” tany

  • Miliarder Dingin Jatuh Cinta   Bab 70

    Satu jam, dua jam, tiga jam. Waktu berlalu terasa begitu cepat, Yusuf menatap jam di dinding menunjukkan pukul sepuluh malam. Rasanya jarum jam berpindah begitu lambat, kemudian ia pun meraih ponselnya dan menghubungi Tama. "Halo, Bos," jawab Tama dari seberang sana. "Katakan pada Pak Handoko untuk mengembalikan istriku!" perintah Yusuf. Bip. Panggilan berakhir. *** Tama yang duduk di kamarnya syok menatap layar ponselnya. Bagaimana mungkin ada perintah seperti ini? Apakah bosnya sudah gila? Apakah mungkin bosnya itu tidak berpikir sama sekali, dan Pak Handoko? Tama tau itu adalah nama Ayah Citra, "Susah sekali kalau orang sedang dimabuk asmara, ah...bahasa sekarang namanya bucin," gumam Tama. *** “Citra, ini sudah jam sepuluh. Kamu kok masih di sini?” tanya Miya. Citra yang sedang berbaring di ranjang sambil memeluk ibunya pun terlihat bingung. “Memangnya kenapa? Biasanya juga Citra boleh tidur sama Mama dan Papa.” “Citra, sekarang kamu sudah punya suami. N

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status