登入Perjodohan akibat wasiat keluarga menyatukan Alan, dokter spesialis bertangan dingin, dengan Luna, gadis polos berusia 19 tahun. Di mata Alan, Luna adalah satu-satunya wanita yang mampu membakar hasratnya. Namun, gengsi tinggi membuat Alan enggan mengungkapkan rasa, hingga melampiaskan gairahnya secara dominan dan kasar. Luna yang merindukan pernikahan hangat hanya bisa pasrah menahan luka batin. Titik balik terjadi saat cemburu buta membakar Alan ketika melihat Luna tersenyum lepas bersama teman prianya. Saat mata Luna meredup hampa akibat sikap kasarnya, sang dokter panik luar biasa. Alan harus menurunkan egonya demi memenangkan kembali hati sang istri.
查看更多BRAKK
"Ada apa mas?" Tiba-tiba, suara pintu depan yang terhempas cukup keras memecah keheningan rumah. Pintu kamar terdorong kasar. Alan Raditya berdiri di ambang pintu. Dokter spesialis bedah berusia tiga puluh tahun itu tampak sangat lelah. Jas dokternya sudah hilang menyisakan kemeja putihnya yang kusut dengan dua kancing atas yang terbuka. Dasinyapun sudah tergantung longgar di leher. Namun, tatapan matanya yang tajam dan gelap langsung mengunci keberadaan Luna di dekat lemari. Tidak ada jabawan dari pertanyaan Luna yang terkejut. "Mas Alan...? Apa yang terjadi?" tanya Luna lembut, mencoba menyunggingkan senyum hangat. "Mas mau mandi dulu? Aku baru saja mau siapkan... " Ucapan Luna terputus seketika. Tanpa mengeluar kata sepatah pun, Alan melangkah lebar mendekatinya. Wajah tegasnya memancarkan aura dominansi yang begitu pekat. Luna tidak sempat mengatur nafasnya dan beradaptasi dengan keadaan itu. Tangan kokoh Alan meraih pergelangan tangannya. Ia menahannya dengan cengkeraman kuat namun pas. "Mas Alan, ada apa?" cicit Luna panik saat Alan menyeretnya melangkah menuju kamar mandi utama. "Diam, Luna!" suara Alan terdengar berat, serak dan penuh desakan yang tak bisa dibantah. Alan mendorong pintu kamar mandi hingga terbuka lebar. Ia membawa Luna masuk ke dalam ruangan luas berlantai marmer tersebut. Suasana kamar mandi terasa hangat oleh uap air panas. Alan menekan tubuh mungil Luna ke dinding marmer yang dingin dengan menggebu-gebu. "Mas... lepas, Mas. Ada apa sebenarnya?" cicit Luna. Napasnya mulai tercekat saat mencium aroma maskulin Alan yang bercampur dengan bau khas rumah sakit. "Aku lelah seharian di rumah sakit." bisik Alan di depan wajah Luna. Hembusan napasnya yang panas menerpa kulit leher istrinya. Sentuhan Alan membuat bulu kuduk Luna berdiri tegak. "Dan aku cuma butuh kamu malam ini." "Tapi Mas, kita bisa ke tempat tidurkan?" "Tidak perlu." potong Alan dingin dan tegas. Tangan Alan yang bebas meraup tengkuk Luna. Alan menuntun penyatuan bibir mereka dalam ciuman yang dalam, kasar, dan menuntut. Luna membelalakkan matanya sekilas sebelum akhirnya terpejam. Ia hanya bisa pasrah dalam cengkeraman sang suami. Lidah Alan menyapu tanpa ampun. Tidak ada lagi perlawanan dari Luna dalam hitungan detik berikutnya. Gairah Alan malam ini terasa begitu terbakar. Seolah pria itu sedang melampiaskan seluruh ketegangan kerjanya langsung kepada sang istri. Tangan Alan bergerak cepat menyibak gaun tidur sutra Luna. Ia meremas pinggang ramping gadis itu dengan erat dan mengangkatnya sedikit agar sejajar dengan posisinya. "Ngh... Mas Alan..." rintih Luna di sela ciuman mereka. Tangannya refleks mencengkeram bahu kokoh Alan. Berusaha mencari pegangan di tengah gejolak panas yang menguasai tubuhnya. Alan melepaskan tautan bibir mereka. Lalu menjatuhkan ciumannya ke leher jenjang Luna. Alan meninggalkan jejak-jejak kemerahan yang pekat di sana. Napas mereka saling memburu, beradu dengan suara gemericik air dari pancuran yang sengaja dinyalakan Alan untuk menyamarkan suara desahan mereka. Di bawah guyuran uap air dan kehangatan yang memenuhi ruangan marmer itu, Alan mengambil alih seluruh kendali. Alan menuntut kewajiban istrinya dengan kungkungan yang teramat tinggi. Tanpa memberikan ruang bagi Luna untuk bernapas atau berpikir. Luna menyerahkan dirinya pada Alan. Luan siap di masukin kapanpun suaminya itu mau. Mereka bersatu dalam nafsu yang sama-sama membara. Alan bergerak semakin intens dan cepat. Luna menyembunyikan rintihan dan desahannya di dada bidang sang suami. Tubuh indah Luna menjadi candu yang tidak bisa di gantikan oleh siapapun bagi Alan. Satu jam berlalu. Gelombang gairah yang membakar akhirnya mereda. Mereka sudah berbaring di atas tempat tidur berukuran king size. Alan berbaring terlentang dengan dada bidang yang naik turun teratur. Bulir air masih membasahi kulitnya. Pria itu memejamkan mata setelah pelepasannya tadi. Napasnya perlahan melambat hingga menjadi ketukan yang stabil. Rasa lelah fisik dan kepuasan batin baru saja menidurkannya dengan sangat lelap. Di sampingnya, Luna terbaring miring. Luna menyelimuti tubuhnya hingga ke dada. Rambut hitamnya yang masih agak basah berantakan di atas bantal. Rasa pegal di seluruh persendiannya tak sebanding dengan rasa hancur di dalam dadanya. Luna menatap punggung tegap suaminya yang membelakanginya. Alan tertidur pulas tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Tidak ada pelukan pelindung seperti yang Luna sering bayangkan. Tidak ada usapan di kepala seperti yang Luna harapkan. Apalagi pertanyaan apakah Luna baik-baik saja dan bagaimana harinya. Setelah pelampiasan hasrat Alan yang tinggi tersalurkan. Alan kembali membuangnya ke dalam ruang kesepian. Luna hanyalah istri sebagai bahan penyaluran hasratnya saja. "Mas Alan..." bisik Luna lirih. Suaranya serak dan tenggelam dalam keheningan kamar. Tidak ada jawaban. Hanya deru napas halus Alan yang terdengar. Air mata Luna akhirnya menetes membasahi kain bantal yang dingin. Tiba-tiba, keheningan malam pukul dua dini hari itu terpecah. Bzzzt... Bzzzt... Bzzzt... Ponsel milik Alan yang tergeletak di atas meja nakas bergetar hebat. Layarnya menyala terang yang memancarkan cahaya kebiruan. Cahaya dari ponsel itu samar menerangi ruangan kamar yang remang itu. Luna yang belum tertidur perlahan membuka matanya yang sembab. Dia menoleh ke arah meja nakas di sisi tempat tidur Alan. Suaminya sama sekali tidak bergeming. Alan tertidur sangat lelap karena kelelahan. Ding! Getaran ponsel berhenti dan digantikan notifikasi pesan masuk. Sudut layar yang mengarah ke atas membuat pandangan Luna mengarah ke ponsel itu. Luna berdiri dari tempat tidurnya. Berjalan mendekati nakas yang berada di sisi lain tempat tidurnya. Rasa penasarannya teramat tinggi. Luna fikir itu adalah panggilan darurat dari rumah sakit untuk suaminya. Ia meraih ponsel itu. Membuka kunci ponsel dengan ingatannya. Ternyata Alan belum juga mengganti kunci ponselnya setelah tiga tahun. Mata jernih Luna membulat seketika. [ Maya ] Mas Alan, maafkan aku. Aku seharusnya tidak seperti itu. Sekali lagi aku tau kesalahanku dan aku tidak berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Jangan menjauh dariku ya. Darah Luna seolah berhenti mengalir. Maya. Dokter cantik, dewasa, dan rekan kerja yang selalu berada di dekat Alan di rumah sakit. Layar ponsel itu perlahan meredup dan mati. Menyisakan Luna yang membeku dalam kegelapan. Luna menatap tubuh suaminya dengan napas yang terasa makin sesak dan air mata yang kian deras mengalir. Ding! Getaran ponsel itu kembali berbunyi. [ Maya ] Mas bisakah kita bertemu sekarang? Aku harus menjelaskan padamu tentang apa yang terjadi tadi. Luna meremas ponsel itu. Kakinya mendadak tidak memiliki kekuatan untuk menahan tubuhnya. "Ada hubungan apa selama ini Mas Alan dan Maya? Mengapa Maya ingin menemuinya tengah malam seperti ini." Batin Luna ingin menjerit. Apa ini alasan selama ini Alana bersikap dingin padanya."Luna tidak boleh tahu soal ini, Alan," kata Maya lagi. Ia berdiri, melangkah mendekati Alan dan menyentuh lengan pria itu pelan."Tapi kamu tahu resikonya? Dia sedang frustasi menjawab semua teka-teki ini. Dia pasti tidak akan tinggal diam begitu saja. Dia pasti akan mencari cara bagaimanapun untuk mengorek masa lalu. Jika rahasia ini terbongkar, rumah sakit bakal hancur, dan kamu... kamu bakal kehilangan izin praktilmu."Alan menatap tangan Maya di lengannya, lalu menatap mata wanita itu."Apa mau kamu sebenarnya, Maya?""Tinggalkan dia," jawab Maya tanpa ragu."Ceraikan Luna. Biarkan dia masuk fasilitas rehabilitasi jiwa. Itu tempat yang paling cocok untuknya."***Keesokan harinya.Alan duduk di sisi Luna yang hanya memainkan roti tawar di piringnya."Aku mau ke pemakaman Ayah hari ini," kata Luna tiba-tiba. Suaranya datar, tanpa emosi.Alan menoleh kaget."Hari ini? Tapi kamu baru saja sembuh, Luna. Kita ganti besok saja. Hari ini ramalan cuacanya akan turun hujan.""Aku tidak mi
"Kenapa?" Tanya Luna lirih melihat perubahan raut muka Alan. Ia mendekat mengambil ponsel alan dengan cepat. Ini tidak pernah Luna lakukan sebelumnya. Tubuhnya menegang membaca pesan itu."Jelaskan padaku, Alan! Apa maksud pesan ini?!"Alan cemas luar biasa. Ponsel yang dipegangnya bergetar hebat di bawah cengkeraman jarinya yang membeku. Di hadapannya, Luna tidak lagi berbaring di bawah selimut. Wanita itu berdiri tegap, matanya yang sembap kini terlihat penuh amarah."Kembali ponsel milikku. Aku tidak tahu juga maksdu dari pengirim itu."Jangan berakting!" Luna menahan ponsel alan yang berada di tangannya ketika Alan ingin mengambilnya kembali.Jarinya menunjuk layar yang masih menyala. "Siapa pengirim pesan ini? Kenapa dia bicara soal rahasia delapan tahun lalu?!"Alan menelan ludah. "Aku tidak tahu. Itu nomor asing.""Bohong!" Suara Luna tertahan. Suara tawa yang begitu pahit keluar dari mulutnya."Delapan tahun lalu... itu tahun saat ayahku dinyatakan depresi berat lalu bunuh dir
"Masuk!" ujar Luna pelan.Pintu terbuka. Bukan Alan yang masuk, melainkan Maya. Wanita itu tampil anggun dengan mantel krem dan tas bermerek yang menggantung di lengannya."Kenapa kamu bisa masuk ke sini?" tanga Luna terkejut karena yang dilihatnya bukanlah Alan."Alan yang memintaku datang," jawab Maya tenang sambil melangkah mendekati tempat tidur. Tangannya membawa sebuah map tipis berisi dokumen rekam medis."Dia minta aku mengantarkan berkas evaluasi kesehatanmu yang terbaru."Luna tertawa sumbang. "Apa dia terlalu penakut untuk menatap mataku sendiri?""Alan sangat menyayangimu, Luna. Hanya saja caranya mungkin salah." kata Maya, mengambil posisi duduk di kursi samping kasur. Suaranya terdengar begitu manis, namun matanya memancarkan kehangatan yang palsu."Tapi dia juga manusia biasa. Dia juga merasa stres berat memikirkan kondisimu... Apalagi mendengarkan tuduhan-tuduhanmu untuknya.""Tuduhan?" Luna menatap Maya tajam. "Kamu sendiri yang membawa kertas laboratorium itu tiga ha
"Bukan aku yang menulis resep ini!"Suara Alan menggelegar di kamar rawat VVIP. Dia menolak dan terkejut. Jemarinya mencengkeram erat kertas hasil laboratorium yang disodorkan Maya. Buku-buku jarinya memutih, untung saja dia tahu batasan ketika berada di rumah sakit.Maya menatap Alan dengan raut wajah prihatin. Itu bukan wajah aslinya, itu hanyalah topeng yang selalu digunakannya ketika bersama Alan."Alan, aku hanya menyampaikan hasil dari laboratorium pusat. Tanda tangan dan nomor registrasi medis di lembar resep itu atas namamu.""Bohong!" Alan semakin geram. Ia melangkah maju, mendekatkan tubuhnya, menaikan jari telunjuknya tepat di wajah Maya. Matanya berkilat penuh ancaman."Kamu tahu persis, aku tidak pernah meresepkan zat neuro-suppressant ini untuk Luna! Siapa yang memalsukannya, Maya?!""Cukup!" Satu kata dari Luna menghentikan pertikaian itu. Suaranya tidak kencang, tetapi cukup membuat pertikaian itu berhenti.Alan seketika membalikkan badan, menatap istrinya dengan tatap












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.