Bukan Pemuas Nafsu Dokter

Bukan Pemuas Nafsu Dokter

last updateLast Updated : 2026-08-05
By:  Ardina whina Updated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
6Chapters
9views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Perjodohan akibat wasiat keluarga menyatukan Alan, dokter spesialis bertangan dingin, dengan Luna, gadis polos berusia 19 tahun. Di mata Alan, Luna adalah satu-satunya wanita yang mampu membakar hasratnya. Namun, gengsi tinggi membuat Alan enggan mengungkapkan rasa, hingga melampiaskan gairahnya secara dominan dan kasar. Luna yang merindukan pernikahan hangat hanya bisa pasrah menahan luka batin. Titik balik terjadi saat cemburu buta membakar Alan ketika melihat Luna tersenyum lepas bersama teman prianya. Saat mata Luna meredup hampa akibat sikap kasarnya, sang dokter panik luar biasa. Alan harus menurunkan egonya demi memenangkan kembali hati sang istri.

View More

Chapter 1

bab 1

BRAKK

"Ada apa mas?"

Tiba-tiba, suara pintu depan yang terhempas cukup keras memecah keheningan rumah.

Pintu kamar terdorong kasar. Alan Raditya berdiri di ambang pintu. Dokter spesialis bedah berusia tiga puluh tahun itu tampak sangat lelah. Jas dokternya sudah hilang menyisakan kemeja putihnya yang kusut dengan dua kancing atas yang terbuka. Dasinyapun sudah tergantung longgar di leher. Namun, tatapan matanya yang tajam dan gelap langsung mengunci keberadaan Luna di dekat lemari. Tidak ada jabawan dari pertanyaan Luna yang terkejut.

"Mas Alan...? Apa yang terjadi?" tanya Luna lembut, mencoba menyunggingkan senyum hangat. "Mas mau mandi dulu? Aku baru saja mau siapkan... "

Ucapan Luna terputus seketika. Tanpa mengeluar kata sepatah pun, Alan melangkah lebar mendekatinya. Wajah tegasnya memancarkan aura dominansi yang begitu pekat.

Luna tidak sempat mengatur nafasnya dan beradaptasi dengan keadaan itu. Tangan kokoh Alan meraih pergelangan tangannya. Ia menahannya dengan cengkeraman kuat namun pas.

"Mas Alan, ada apa?" cicit Luna panik saat Alan menyeretnya melangkah menuju kamar mandi utama.

"Diam, Luna!" suara Alan terdengar berat, serak dan penuh desakan yang tak bisa dibantah.

Alan mendorong pintu kamar mandi hingga terbuka lebar. Ia membawa Luna masuk ke dalam ruangan luas berlantai marmer tersebut.

Suasana kamar mandi terasa hangat oleh uap air panas. Alan menekan tubuh mungil Luna ke dinding marmer yang dingin dengan menggebu-gebu.

"Mas... lepas, Mas. Ada apa sebenarnya?" cicit Luna. Napasnya mulai tercekat saat mencium aroma maskulin Alan yang bercampur dengan bau khas rumah sakit.

"Aku lelah seharian di rumah sakit." bisik Alan di depan wajah Luna. Hembusan napasnya yang panas menerpa kulit leher istrinya. Sentuhan Alan membuat bulu kuduk Luna berdiri tegak. "Dan aku cuma butuh kamu malam ini."

"Tapi Mas, kita bisa ke tempat tidurkan?"

"Tidak perlu." potong Alan dingin dan tegas.

Tangan Alan yang bebas meraup tengkuk Luna. Alan menuntun penyatuan bibir mereka dalam ciuman yang dalam, kasar, dan menuntut. Luna membelalakkan matanya sekilas sebelum akhirnya terpejam. Ia hanya bisa pasrah dalam cengkeraman sang suami.

Lidah Alan menyapu tanpa ampun. Tidak ada lagi perlawanan dari Luna dalam hitungan detik berikutnya.

Gairah Alan malam ini terasa begitu terbakar. Seolah pria itu sedang melampiaskan seluruh ketegangan kerjanya langsung kepada sang istri. Tangan Alan bergerak cepat menyibak gaun tidur sutra Luna. Ia meremas pinggang ramping gadis itu dengan erat dan mengangkatnya sedikit agar sejajar dengan posisinya.

"Ngh... Mas Alan..." rintih Luna di sela ciuman mereka. Tangannya refleks mencengkeram bahu kokoh Alan. Berusaha mencari pegangan di tengah gejolak panas yang menguasai tubuhnya.

Alan melepaskan tautan bibir mereka. Lalu menjatuhkan ciumannya ke leher jenjang Luna. Alan meninggalkan jejak-jejak kemerahan yang pekat di sana. Napas mereka saling memburu, beradu dengan suara gemericik air dari pancuran yang sengaja dinyalakan Alan untuk menyamarkan suara desahan mereka.

Di bawah guyuran uap air dan kehangatan yang memenuhi ruangan marmer itu, Alan mengambil alih seluruh kendali.

Alan menuntut kewajiban istrinya dengan kungkungan yang teramat tinggi. Tanpa memberikan ruang bagi Luna untuk bernapas atau berpikir.

Luna menyerahkan dirinya pada Alan. Luan siap di masukin kapanpun suaminya itu mau. Mereka bersatu dalam nafsu yang sama-sama membara. Alan bergerak semakin intens dan cepat. Luna menyembunyikan rintihan dan desahannya di dada bidang sang suami. Tubuh indah Luna menjadi candu yang tidak bisa di gantikan oleh siapapun bagi Alan.

Satu jam berlalu. Gelombang gairah yang membakar akhirnya mereda.

Mereka sudah berbaring di atas tempat tidur berukuran king size. Alan berbaring terlentang dengan dada bidang yang naik turun teratur. Bulir air masih membasahi kulitnya. Pria itu memejamkan mata setelah pelepasannya tadi. Napasnya perlahan melambat hingga menjadi ketukan yang stabil.

Rasa lelah fisik dan kepuasan batin baru saja menidurkannya dengan sangat lelap.

Di sampingnya, Luna terbaring miring. Luna menyelimuti tubuhnya hingga ke dada. Rambut hitamnya yang masih agak basah berantakan di atas bantal. Rasa pegal di seluruh persendiannya tak sebanding dengan rasa hancur di dalam dadanya.

Luna menatap punggung tegap suaminya yang membelakanginya. Alan tertidur pulas tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Tidak ada pelukan pelindung seperti yang Luna sering bayangkan. Tidak ada usapan di kepala seperti yang Luna harapkan.

Apalagi pertanyaan apakah Luna baik-baik saja dan bagaimana harinya. Setelah pelampiasan hasrat Alan yang tinggi tersalurkan. Alan kembali membuangnya ke dalam ruang kesepian. Luna hanyalah istri sebagai bahan penyaluran hasratnya saja.

"Mas Alan..." bisik Luna lirih. Suaranya serak dan tenggelam dalam keheningan kamar.

Tidak ada jawaban. Hanya deru napas halus Alan yang terdengar. Air mata Luna akhirnya menetes membasahi kain bantal yang dingin.

Tiba-tiba, keheningan malam pukul dua dini hari itu terpecah.

Bzzzt... Bzzzt... Bzzzt...

Ponsel milik Alan yang tergeletak di atas meja nakas bergetar hebat. Layarnya menyala terang yang memancarkan cahaya kebiruan. Cahaya dari ponsel itu samar menerangi ruangan kamar yang remang itu.

Luna yang belum tertidur perlahan membuka matanya yang sembab. Dia menoleh ke arah meja nakas di sisi tempat tidur Alan. Suaminya sama sekali tidak bergeming. Alan tertidur sangat lelap karena kelelahan.

Ding!

Getaran ponsel berhenti dan digantikan notifikasi pesan masuk. Sudut layar yang mengarah ke atas membuat pandangan Luna mengarah ke ponsel itu.

Luna berdiri dari tempat tidurnya. Berjalan mendekati nakas yang berada di sisi lain tempat tidurnya. Rasa penasarannya teramat tinggi. Luna fikir itu adalah panggilan darurat dari rumah sakit untuk suaminya.

Ia meraih ponsel itu. Membuka kunci ponsel dengan ingatannya. Ternyata Alan belum juga mengganti kunci ponselnya setelah tiga tahun.

Mata jernih Luna membulat seketika.

[ Maya ]

Mas Alan, maafkan aku.

Aku seharusnya tidak seperti itu. Sekali lagi aku tau kesalahanku dan aku tidak berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Jangan menjauh dariku ya.

Darah Luna seolah berhenti mengalir.

Maya. Dokter cantik, dewasa, dan rekan kerja yang selalu berada di dekat Alan di rumah sakit.

Layar ponsel itu perlahan meredup dan mati. Menyisakan Luna yang membeku dalam kegelapan. Luna menatap tubuh suaminya dengan napas yang terasa makin sesak dan air mata yang kian deras mengalir.

Ding!

Getaran ponsel itu kembali berbunyi.

[ Maya ]

Mas bisakah kita bertemu sekarang? Aku harus menjelaskan padamu tentang apa yang terjadi tadi.

Luna meremas ponsel itu. Kakinya mendadak tidak memiliki kekuatan untuk menahan tubuhnya.

"Ada hubungan apa selama ini Mas Alan dan Maya? Mengapa Maya ingin menemuinya tengah malam seperti ini."

Batin Luna ingin menjerit. Apa ini alasan selama ini Alana bersikap dingin padanya.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
6 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status