로그인Alana seorang gadis tuna wicara terpaksa menikah dengan Aro demi wasiat. Selama pernikahan, Aro selalu bersikap dingin. Sedang Lana lebih menerima tanpa banyak protes. Semua orang piķir Lana begitu patuh pada Aro karena gadis itu mencintai Aro. Lana bahkan diam saja saat Aro bermesraan dengan kekasihnya. Sampai semua orang dibuat kaget. Ketika suatu hari Lana dengan santai meninggalkan rumah. Saat itu Aro hanya berkata, "Gadis bisu sepertinya mana bisa hidup di luar sana." Namun yang terjadi kemudian, hidup Aro yang biasanya tenang berubah kacau. Hingga dia diam-diam mengikuti sang istri. Betapa terkejutnya Aro, saat tahu Lana hidup sangat baik. Bahkan dia lihat seorang pria dekat dengan sang istri. Mulai detik itu, Aro yang arogan mengambil keputusan besar. "Kembali padaku, atau kubuat hidupmu menderita!"
더 보기"Kau tahu apa akibatnya jika menerima pernikahan ini?"
Pertanyaan itu terlontar begitu suara langkah berhenti tepat di belakangnya. Pria itu segera membalikkan badan. Hingga paras tampannya terlihat oleh gadis cantik di depannya. "Saya tahu." Gadis tadi menjawab dengan bahasa isyarat menggunakan tangan. Sosok di depan sang gadis memahaminya. Dua tahun tinggal bersama cukup untuk membuatnya paham arti isyarat tangan. "Dengar, Lana. Aku punya kekasih. Aku sangat mencintainya." "Saya tahu." Lelaki di depan Lana memicingkan mata. "Kau sangat menyukaiku ternyata," katanya sinis. Gadis yang dipanggil Lana barusan terbelalak. Dia terkejut, tapi tidak lama. Sesaat kemudian senyum tipis terbit di bibir Lana. Senyum yang membuat kecantikan Lana tampak lebih jelas. "Tuan Aro yang terhormat. Anda jangan salah paham. Saya sama sekali tidak punya perasaan pada Anda. Saya hanya mengikuti wasiat dari Kakek." Aro mendengkus. "Wasiat? Kau hanya menginginkan uang, harta dan pastinya status yang memungkinkan kau tinggal di sisiku. Aku heran, apa yang Kakek lihat darimu." Cibiran tersirat jelas dalam tiap kata yang Aro ucapkan. Lana, dibawa pulang oleh sang kakek dua tahun lalu. Entah apa yang Lana lakukan hingga sang kakek sangat menyayanginya. Bahkan sampai memberi Aro wasiat agar menikahi Lana saat dia meninggal. Jika tidak, dia tidak akan mendapatkan harta sepeserpun. "Karena beliau tahu saya orang baik." Lana menjawab penuh percaya diri. "Kau ingin mengatakan kalau April itu jahat. Dengar, April adalah wanita baik hati. Dia tidak mungkin memanfaatkan kebaikan orang lain untuk kepentingan pribadi. Tidak sepertimu." "Wanita baik katamu. Tuan sudah buta ya." Detik setelahnya Lana memejamkan mata. Jemari tangan Aro saat ini sedang mencekik lehernya. Pria di depan Lana, memang punya temperamen yang buruk. Hanya April yang mampu menenangkan jika emosi Aro meledak. "Kau berani menghinaku?!" Desis Aro penuh amarah. "Itu fakta. Jika Tuan tidak merasa, Anda tidak perlu marah." Napas Lana tersengal, Aro baru saja membebaskan dirinya. Wajah sang tuan muda memerah. Dia jelas tersinggung oleh ucapan Lana. Hanya Lana yang berani melawannya. "Kau pikir akan ada yang melindungimu. Tidak, setelah Kakek tidak ada. Akulah pemimpin keluarga ini. Jika kau tidak patuh padaku, aku bisa membuat hidupmu seperti di neraka." Lana menyeringai samar mendengar ancaman Aro. Neraka? Dia sudah merasakannya, hampir tiap hari. Selain kakek Aro, tak seorangpun berlaku baik padanya. "Jangan salah, masih ada Tuan Laiv. Jika Anda tidak mematuhi wasiat Kakek. Tuan Laiv akan mengambil alih semua." "Kau mengancamku?" Pertanyaan Aro mengalun dingin dan tajam. Lana mundur dua langkah, menghindari jangkauan tangan panjang Aro. Lana tahu hanya Laiv yang bisa membuat Aro gentar. "Tidak, saya hanya memberitahu yang saya tahu." Rahang Aro mengatup rapat. Tangannya terkepal. Laiv, nama itu adalah penghalang utama untuk tujuannya. Dan Lana adalah hal lain yang perlu dia atasi. Sebelum April meledak karena tidak menyukai rencana kakek Aro. "Oke, mari buat kesepakatan." Akhirnya Aro mengalah. Lana ternyata lebih keras kepala dari yang dia duga. "Kita akan menikah, tapi itu hanya formalitas. Kau bebas menjalani hidupmu. Aku juga. Kau sama sekali tidak boleh mengganggu hubunganku dengan April." Lelaki di depan Lana itu pikir kalau sang gadis akan menyerah, mundur teratur. Siapa sangka jika Lana langsung menjawab iya. "Kau benar-benar matre rupanya," cibir Aro dengan sorot mata tajam memindai tubuh Lana yang terbalut pakaian sangat sederhana. Begitu kontras jika dibandingkan dengannya. Aura mahal menguar kuat dari tubuh Aro. "Tuan bisa lihat, apa yang saya dapatkan dari memenuhi wasiat Kakek." Aro bungkam. Dia tahu benar apa yang Lana peroleh. Tidak ada seujung kuku dari apa yang sang kakek janjikan untuknya. Sudut bibir pria itu tertarik sesaat kemudian. "Pergilah, pernikahan ini akan aku urus. Kau hanya perlu menurut padaku. Dan satu lagi, pernikahan ini rahasia. Tidak akan dipublikasikan. Satu lagi, jangan berharap lebih pada pernikahan ini." Lana mengangguk, lalu tanpa ragu berbalik, pergi meninggalkan ruangan yang membuatnya mendengkus tidak suka. Aro telah menyita waktunya yang berharga. Begitu kembali ke kamar. Lana langsung mencari ponselnya. Mengirim pesan pada seseorang. "Berapa lama saya harus bertahan di sini?" Balasan datang secepat pesan itu terkirim. "Tiga bulan, Nona. Jika Tuan masih tidak berubah Anda bebas pergi." "Tiga bulan, sabar Lana. Tiga bulan itu hanya sebentar. Tetaplah patuh, biarkan saja mereka menganggap kamu menyukai tuan arogan itu," gumam Lana dalam hati. Beberapa waktu kemudian hal itu tersebar seantero kediaman Pratama. Lana menikah dengan tuan muda keluarga itu. Sesuatu yang membuat seisi rumah mencibir kian tajam pada Lana. Semakin banyak haters yang harus Lana hadapi. Gadis itu memang dipanggil nyonya tapi tak pernah dapat perlakuan seperti layaknya seorang nyonya. Hidup Lana lebih buruk dari seorang pembantu. Pembantu saja masih dapat jatah istirahat dan gaji. Sedang Lana, tidak. Mereka semua seolah berlomba ingin membalas dendam pada Lana karena menikahi tuan muda mereka yang tampan dan terhormat. "Jadi orang itu harus sadar diri. Sudah miskin, hina masih saja berharap jadi nyonya besar." Seorang pelayan tanpa ragu mencaci Lana petang itu. Saat sang nyonya diberi tugas tidak masuk akal. Mencabuti rumput di halaman. Padahal tempat itu sudah rapi. Kalaupun perlu perawatan akan ada tukang kebun khusus yang ditugaskan untuk mengerjakannya. Tapi dasar kepala pelayan adalah salah satu haters Lana garis keras. Maka dia suruh saja Lana melakukannya. Apalagi si kepala pelayan dapat dukungan penuh dari adik Aro dan April. Makin semena-menalah dia bertindak. "He! Itu! Di sana! Rumputnya masih tinggi!" "Tinggi kepalamu!" Lana mengumpat dalam hati. Meski menggerutu, Lana menyeret tubuhnya dengan malas ke arah tempat yang ditunjuk kepala pelayan tadi. Tempat yang paling panas karena mentari lebih banyak menyorot area itu dibanding lokasi lain. Saat semua pelayan menertawakan dan mengolok-olok nasib Lana yang menyedihkan. Mobil Aro datang. Pria itu hanya melihat sekilas pada sang istri yang jadi bahan bulian para pembantunya. Sama sekali tidak ada niat untuk menghentikan apalagi membela. Pria itu berlalu dengan April menggamit mesra lengan Aro. Tatapannya sinis, penuh kebencian. Pandangan April dan si kepala pelayan bertemu. Perempuan paruh baya itu mengangguk penuh makna. Ketika Aro dan April menghilang di pintu utama. Si kepala pelayan langsung berujar, "Selesaikan cepat. Lalu bantu menghidangkan makan malam." Seringai tipis muncul di bibir kepala pelayan. "Kau akan merasakan apa itu neraka, Lana."Aro hampir menyentuh bibir Lana ketika pintu dibuka dari luar. Lana terkejut, tapi tidak dengan Aro. "Apa yang kalian lakukan?!" April histeris melihat Aro hampir menindih Lana.Aro sendiri dengan santai berdiri. Terlihat tenang. Seolah dia tidak melakukan apa-apa. Beda dengan Lana yang dadanya berdebar kencang. Dia memandang tajam pada Aro.Sosok yang tersenyum tipis kala beradu pandang dengan Lana. Pria itu dengan gerakan terukur dan tenang mengenakan kembali kemejanya."Kamu ngapain?" April mendekati Aro. Tampak cemas dan takut."Si bisu itu pasti menggoda kakakku!" Suara Gita membuat amarah April meledak. Tapi dia sekuat tenaga menahannya. "Aro apa itu benar?"Air mata menggenang di mata April. Dia tampak sedih. Tersakiti juga teraniaya. "Tidak." Aro membalas datar."Tentu saja. Kakakku tidak akan pernah menyentuh gadis bisu itu," sambar Gita menggebu-gebu.Tanpa ragu dia menampar Lana. Gadis itu menjerit tanpa suara."Aku tidak menggodanya. Di sendiri yang datang ke kamarku!"
"Terserah Tuan mau menilai saya seperti apa."Jawaban Lana kian mematik amarah Aro lebih besar. Lana berhasil mendorong Aro hingga pria tersebut menjauh darinya."Kamu memang benalu. Hidup hanya untuk menyusahkan orang lain. Kakekku pasti buta saat membawamu pulang.""Justru Kakek adalah orang yang paling waras di antara kalian."Tangan Aro mengepal. Giginya bergeletuk menahan emosi. Lana pandai sekali memancing kemarahannya. Jika Aro marah, tidak ada seorangpun yang bisa menjinakkannya. Kecuali April. Karena itu, penghuni rumah besar tersebut lebih memilih mengalah. Dari pada ribut besar.Namun Lana lain. Gadis di depan Aro dengan lantang menantang sisi buruk dalam dirinya. Sejurus kemudian, dia menemukannya. Cara untuk membuat Lana patuh padanya. "Mau apa?" Lana mulai waspada ketika Aro mendekat. Tubuh Lana masih sakit. Ingin sekali dia tidur atau setidaknya sendirian. Ditambah kepalanya masih berdenyut nyeri. Apalagi kakinya. Sepertinya berdarah lagi.Lana beringsut mundur, tapi
"Menyusahkan saja," gerutu Lana tanpa suara.Gadis itu sok sibuk berada di dapur. Tak seorangpun berada di sana. Begitu mendengar perintah Aro, tak ada yang sudi membantu Lana. Mereka biarkan saja Lana menghadapi kemarahan Aro sendirian. Mereka tidak mau terlibat.Di tempat itu Lana bukannya masak, tapi memainkan ponsel. Panci berisi air dan beras memang berada di atas kompor. Tapi dia tak berniat memasak untuk Aro. "Selesai." Lana tersenyum. Sepagi ini sudah dapat dua bab, nanti tinggal tambah sedikit. Dia sudah punya bab untuk diupload.Bersamaan dengan itu suara pintu diketuk terdengar. "Terima kasih," ucapnya pada Radit yang mengangguk sebelum berbalik pergi.Lana buru-buru membuang panci beserta isinya. Lalu menata bubur yang tadi dibawa Radit. Setelahnya dia beranjak ke ruang makan. Kebetulan sekali, si tuan muda sudah duduk di sana.Gadis itu meletakkan bubur di depan Aro. Sedang sang tuan muda memicing tajam padanya. Lana pilih mundur, dia biarkan saja Aro dengan buburnya.Ar
Suara decap basah terdengar di tempat itu. Di sana, di balik meja. Ada April yang duduk di pangkuan Aro. Bibir keduanya bertaut sejak tadi. Saling memagut dengan intens juga panas.Pria itu, sosok yang selalu tampak dingin dan datar. Kini berubah. Di hadapan April hanya ada seorang Aro yang lembut dan penuh cinta."Aro, aku mau lebih."Rengek April manja, penuh godaan. Sekaligus jebakan. Aro menulikan telinga. Dia asyik sendiri menikmati leher April yang jenjang. Untuk beberapa waktu, pria itu hanyut dalam permainannya sendiri.Sampai sebuah kilasan di kepala membuat Aro berhenti. Hal itu bersamaan dengan tangan April bergerak di bawah sana."Kamu lupa aturannya.""Tidak ada yang tahu. Aku hanya ingin membuktikan kalau aku sungguh mencintaimu." April menggigit bibir, dadanya yang setengah terbuka menempel pada Aro. Menggeseknya perlahan."Aturan tetaplah aturan, April. Aku tidak mau melanggarnya."Ada binar kecewa di mata April. Tiga tahun menjalin kasih. Namun pria di hadapannya sep
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.